Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Sunmor UGM Buka Lagi, Ratusan Pedagang Antusias meski Kegelisahan Tetap Membayangi

Moddie Alvianto W. oleh Moddie Alvianto W.
8 Januari 2024
A A
Sunmor UGM Buka Lagi setelah 3,5 Tahun Membeku MOJOK.CO

Ilustrasi Sunmor UGM Buka Lagi setelah 3,5 Tahun Membeku. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sunmor UGM adalah bentuk wisata baru untuk Sleman dan Jogja

Bagas Priyanto, Ketua RW 02 Karang Malang, Caturtunggal, Depok, Sleman mendukung atas berjualannya kembali para eks pedagang sunmor UGM. Ya, saya pribadi, sih, setuju juga kalau aktivitas menyenangkan ini kembali ada. Kamu bisa olahraga, jajan, sambil piknik sekaligus bersama keluarga. Murah meriah lagi.

Artinya, sunmor UGM adalah “wahana rekreasi” bagi banyak orang. Meski jalanan jadi padat, tetapi warga mendapatkan banyak hal dari aktivitas ini. Jalan Notonegoro hingga kawasan Fakultas Peternakan UGM adalah ruas jalan yang strategis. Posisinya sudah berada di dalam arena olahraga yang bisa dimanfaatkan warga secara gratis. Sudah begitu, kalau mau beranjak ke Sleman bagian utara atau menuju Kota Jogja, juga dekat.

Dulu, mahasiswa juga memanfaatkan aktivitas ini untuk menggalang dana. Ada yang mengumpulkan uang untuk program KKN, misalnya. Mereka membuat jajanan, makan berat, hingga minuman. Jadi, bentuknya bukan yang “nyanyi-nyanyi” kayak di perempatan jalan, rombongan, dan malah bikin nggak nyaman pengendara. Namun, seiring waktu, ada juga yang “ngamen”.

Kalau bagi saya, kreativitas mahasiswa untuk jualan di sunmor UGM sangat layak diapresiasi. Mereka jadi bisa mandiri dan kreatif menemukan solusi. Selain itu, warga juga mendapatkan banyak alternatif jajanan. Sama-sama senang. Hal-hal seperti ini yang saya rasa ikut hilang seiring sunmor yang membeku.

Kegelisahan yang muncul secara spontan

Secara pribadi, saya mendukung sunmor UGM ada lagi. Apalagi sekarang jajanan dan produk yang dijual sudah sangat beragam. Saya belum mengecek harga-harga produk tersebut. Semoga tidak terlalu mahal karena aktivitas ini dulu terkenal dengan harga yang murah dan bisa menyenangkan banyak orang.

Namun, ketika melintas di Jalan Notonegoro hingga kawasan Fakultas Peternakan UGM, ada sebuah kegelisahan yang muncul secara spontan. Saya memang sengaja memelankan motor ketika melintas. Selain sudah cukup padat di pukul 06:30, saya sibuk mendeteksi di mana saja kendaraan pengunjung parkir dan bagaimana arus jalan dari arah utara ke selatan dan sebaliknya.

Jawabannya adalah sebuah kegelisahan akan kemacetan yang cukup mengganggu. Jalanan di Jalan Notonegoro hingga kawasan Fakultas Peternakan itu nggak kayak dulu lagi. Sekarang terasa lebih sempit karena trotoar di barat jalan semakin lebar. Yang mana ini baik karena memikirkan pejalan kaki banget.

Sayangnya, saat ini, pedagang tidak hanya menggelar lapar di trotoar tersebut. Banyak pedagang yang jualan di tepi jalan. Bahkan tidak sedikit yang lapaknya hampir memakan separuh jalan. Jadi, pengendara yang jalan dari selatan, kudu mlipir banget ke tengah. Sementara dari utara, ya kudu mengalah, karena tidak punya pilihan.

Sementara itu, trotoar di sisi kanan jalan (kalau jalan dari selatan), banyak dimanfaatkan untuk parkir. Pukul 06:30, tempat parkir sudah terlihat penuh. Bagaimana di pukul 08:30? Bagaimana dengan minggu depan ketika kabar sunmor UGM bangkit lagi sudah menyebar? Saya yakin pasti akan terjadi kemacetan di sana.

Selain izin, posisi pedagang perlu dipikirkan. Plus, lokasi parkir juga bisa jadi PR yang merepotkan.

Jadi kawasan bebas kendaraan?

Sunmor UGM jadi kawasan bebas kendaraan itu lucu juga. Sudah pasti bebas polusi dan pengunjung bisa jalan-jalan sambil ngemil dengan santai. Namun, ada beberapa aturan main yang kudu disepakati, sih, kalau menurut saya.

Pertama, kendaraan di sini harus mencakup juga sepeda. Gimana, ya, pesepeda kalau rombongan itu bisa jadi menyebalkan juga kayak geng motor. Nggak perlu sewot gitu karena semua yang rombongan biasanya jadi agak nyebelin, kok. Jadi ya, biar adil, kan. Semua jalan kaki.

Kedua, jika kelak mendapatkan izin resmi, UGM dan UNY bisa berbagi lokasi parkir. Tentu saja yang mengelola adalah warga sekitar dengan pembagian yang win-win. Aman aja, lah.

Ketiga, pengelola dan pedagang, serta pengunjung kudu seirama mengurusi sampah. Maklum, di Jogja, nggak ada masalah yang lebih besar selain sampah. Buang sampah aja sampai ngantri. Di Jogja nggak ada yang namanya korupsi atau kekerasan jalanan. Pokoknya cuma sampah aja masalahnya di sini.

Iklan

Jalan Notonegoro hingga kawasan Fakultas Peternakan UGM itu panjang, lho. Nggak semua orang akan betah jalan kaki bolak-balik. Namun, demi kelancaran dan kenyamanan, saya rasa sunmor UGM bebas kendaraan (dan tertib) itu udah paling pas.

Yah, semoga sunmor kali ini awet, ya. Biar menjadi berkah bagi semua orang yang bisa memanfaatkan lokasi secara bijak dan bermanfaat.

Penulis: Moddie Alvianto W.

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Kisah Penantian 3 Tahun Pedagang Sunmor UGM: Kami Baru Lega Setelah Lapak Kembali Buka dan analisis menarik lainnya di rubrik ESAI.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 8 Januari 2024 oleh

Tags: kenapa sunmor ugm tutuppeternakan ugmpilihan redaksisunmorsunmor ugmsunmor ugm belum berizinsunmor ugm tutupUGMuny
Moddie Alvianto W.

Moddie Alvianto W.

Analis di RKI. Tinggal di Yogyakarta.

Artikel Terkait

Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana
Edumojok

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar.MOJOK.CO
Lipsus

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar

16 Maret 2026
Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK MOJOK.CO
Sehari-hari

Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

16 Maret 2026
merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO
Urban

Kebahagiaan Semu Gaji 5 Juta di Jakarta: Dianggap “Sultan” di Desa, Padahal Kelaparan dan Menderita di Kota

15 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan Mojok.co

Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan

15 Maret 2026
Suasana Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten. MOJOK.CO

“Jajanan Murah” yang Tak Pernah Surut Pembeli di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten

17 Maret 2026
mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah ISI Jogja dihujat. MOJOK.CO

Sisi Lain Penerima KIP Kuliah yang Tak Dipahami Para Mahasiswa “Polisi Moral”, Dituntut Untuk Selalu Terlihat Miskin dan Menderita

12 Maret 2026
Rif'an lulus sarjana UGM dengan beasiswa. MOJOK.CO

Alumnus Beasiswa UGM Kerap Minum Air Mentah Saat Kuliah, hingga Utang Puluhan Juta ke Kyai untuk Lanjut S3 di Belanda

15 Maret 2026
Orang Jombang iri dengan Tuban, daerah tetangga sesama plat S yang semakin gemerlap dan banyak wisata alam buat healing MOJOK.CO

Sebagai Orang Jombang Saya Iri sama Kehidupan di Tuban, Padahal Tetangga tapi Terasa Jomplang

12 Maret 2026
Sekolah penerima manfaat beasiswa JPD Pemkot Jogja

Beasiswa JPD Jadi Harapan Siswa di Jogja untuk Sekolah, padahal Hampir Berhenti karena Broken Home

17 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.