MOJOK.CO – Puasa Ramadan sebenarnya jadi waktu untuk mengendalikan nafsu atau jadi kesempatan scroll promo berburu diskon yang nggak berkesudahan, sih?
Setiap Ramadan tiba, kita seolah memasuki sebuah negeri ajaib, semacam taman hiburan spiritual dengan tiket masuk bernama niat. Di pintu gerbang, seorang pemandu berkata lirih, “Selamat berpuasa, silakan menahan diri.”
Namun, lima langkah kemudian, pengeras suara menyahut riang: “Promo Ramadan! Diskon iman hingga 70%!”
Di negeri ini, lapar dan haus diangkat sebagai slogan moral, sementara diskon dan cashback naik derajat menjadi rukun tambahan. Spanduk “Marhaban Ya Ramadan” berdampingan mesra dengan baliho “Beli Dua Gratis Pahala (versi member).” Puasa, yang sejatinya latihan asketisme, harus berbagi panggung dengan hasrat belanja yang tak pernah ikut berpuasa.
Kapitalisme Religius saat puasa Ramadan tidak anti-ibadah, asal ibadah bisa dikemas
Puasa, kata alim ulama, adalah seni mengendalikan nafsu. Di pusat perbelanjaan, ia berubah menjadi seni mengendalikan saldo. Jam menunjukkan pukul empat sore. Orang-orang tampak lemas, bukan karena kekurangan energi spiritual, melainkan karena baterai ponsel hampir habis akibat scroll promo tak berkesudahan.
Menahan lapar? Bisa. Menahan notifikasi “Flash Sale 15 Menit Lagi”? Itu ujian iman tingkat lanjut. Ada yang khusyuk menatap jam, menunggu azan. Ada pula yang khusyuk menatap keranjang belanja, menunggu ongkir gratis.
Kapitalisme religius bekerja dengan sangat santun, bahkan terkesan saleh. Ia tak pernah berkata, “Belanjalah tanpa batas.” Ia memilih bahasa yang lebih lembut: “Untuk menyempurnakan ibadah Anda.”
Maka, sajadah hadir dalam lima motif limited edition, sarung dibungkus narasi hijrah premium, dan kurma diberi label “kurma sunnah plus”. Entah apa makna plus-nya, selain plus harga. Iman pun tampil rapi, berkilau, dan siap difoto, yang tak sempat difoto seolah belum sah.
Yang menarik, kapitalisme religius tidak anti-ibadah. Ia justru sangat mendukung, asal ibadah itu bisa dikemas. Buka puasa bersama menjadi ajang silaturahim dan validasi sosial: siapa datang ke mana, dengan menu apa, dan difoto dari sudut paling syar’i.
Tadarus tetap jalan, tentu setelah unboxing mushaf baru yang kertasnya lembut seperti janji-janji diskon. Sedekah pun makin kreatif: tinggal klik, transfer, lalu bagikan tangkapan layar, amal saleh versi shareable. Niat baik tak dilarang, asal resolusinya HD.
Puasa Ramadan itu unik, diajak mengosongkan perut, tapi pikiran dijejali keinginan
Di titik ini, puasa seperti mengalami nasib unik: ia diminta mengurus batin di tengah hiruk-pikuk etalase. Kita diajak mengosongkan perut, tapi pikiran dijejali keinginan.
Kita dilatih sederhana, tapi dirayu untuk tampil sederhana yang estetik. Bahkan zuhud pun tampaknya perlu strategi branding. Seolah-olah kesalehan harus punya logo, slogan, dan kampanye musiman agar tetap relevan di linimasa.
Humornya, kapitalisme religius sering kali lebih khusyuk daripada kita. Ia bekerja 24 jam tanpa kantuk, sementara kita baru semangat ibadah ketika masjid menyediakan takjil favorit.
Ia menghafal kalender hijriah dengan presisi, tahu kapan harus menaikkan harga sebelum menurunkannya kembali. Ia paham betul psikologi pahala dan rasa bersalah, dua komoditas paling laku di bulan suci.
Ketika rasa bersalah meningkat menjelang maghrib, promo pun ikut naik, seolah berkata: “Tenang, belanja ini menenangkan.”
Tak berhenti di situ, bahasa religius dipinjam dengan penuh hormat. Kata “berkah” menjadi metafora elastis yang bisa memeluk apa saja. Diskon disebut berkah, cicilan nol persen disebut berkah, bahkan keterlambatan pengiriman pun kadang dimaknai berkah, agar kita belajar sabar.
Puasa yang menuntut kesunyian batin, tetapi dikerumuni kebisingan publik
Di sisi lain, kesabaran yang diminta puasa Ramadan justru diuji oleh algoritma yang tahu persis jam-jam kita rapuh: menjelang berbuka, selepas tarawih, dan dini hari ketika mata setengah terpejam tetapi jari tetap lincah.
Puasa Ramadan pun terjebak dalam paradoks performatif. Ia menuntut kesunyian batin, tetapi dikerumuni kebisingan publik.
Ia mengajarkan menahan diri, tetapi dipromosikan dengan pesta. Ia mengundang refleksi, tetapi disajikan sebagai konten.
Kita berpuasa dengan niat tulus, lalu bertanya: “Sudahkah cukup menarik untuk dibagikan?”. Di sini, yang diuji bukan hanya perut, melainkan juga ego: apakah ia ikut berpuasa atau justru ikut pesta.
Tentu, tidak semua konsumsi adalah dosa, dan tidak semua kemasan adalah tipu daya. Manusia tetap perlu makan, berpakaian, dan berinteraksi. Masalahnya muncul ketika makna beralih fungsi: dari sarana menjadi tujuan.
Puasa yang paling revolusioner sekarang bukanlah yang paling viral, melainkan yang paling sunyi
Ketika ibadah dipakai untuk membenarkan hasrat, dan hasrat dipoles agar tampak ibadah. Ketika puasa lebih sibuk mengatur jadwal konten daripada jadwal kontemplasi. Ketika pertanyaan “Apa makna Ramadan bagiku?” kalah oleh “Apa yang paling laku Ramadan ini?”
Di baik itu semua, sebenarnya ada cermin yang menatap kita tanpa menghakimi. Puasa sebenarnya sedang bertanya dengan suara lirih: “Masihkah aku tentang menahan diri, atau sekadar menahan diri dari belanja yang belum gajian?”
Ia mengajak kita tertawa kecil, lalu merenung: jangan-jangan kita terlalu sibuk mempercantik ritual, sampai lupa merawat maknanya. Jangan-jangan kita telah mengganti sunyi dengan sorak, dan mengganti cukup dengan lebih.
Barangkali, puasa yang paling revolusioner hari ini bukanlah yang paling viral, melainkan yang paling sunyi. Yang berani menutup aplikasi belanja saat azan maghrib, dan membuka ruang batin setelahnya.
Yang memilih kenyang secukupnya, lalu berbagi tanpa perlu pengumuman. Yang menggeser fokus dari apa yang terlihat ke apa yang terasa. Yang menjadikan Ramadan bukan sekadar musim belanja religius, melainkan musim pulang ke diri sendiri.
Jika kapitalisme religius terus membayang-bayangi, biarlah puasa menyalakan lampu kecil di dalam dada. Tidak perlu terang benderang. Cukup agar kita tahu: mana kebutuhan, mana keinginan; mana ibadah, mana etalase.
Sebab pada akhirnya, puasa bukan soal apa yang kita beli, melainkan apa yang berhasil kita lepaskan. Bukan tentang seberapa meriah buka puasa, melainkan seberapa jujur kita pada diri sendiri.
Dan kini, di tengah gemerlap promo dan kesalehan yang tampil rapi, pertanyaannya tinggal satu: masihkah puasa Ramadan kita menjadi latihan pembebasan, atau justru ikut terserap menjadi bagian dari katalog?
Penulis: Mizanul Akrom
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Mistisisme Jawa dalam Bersih-bersih sebelum Puasa Ramadan dan ulasan menarik lainnya di rubrik ESAI.














