Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Pengantar Gendeng Wiro Sableng 212 untuk Abad yang Akan Datang

Eka Kurniawan oleh Eka Kurniawan
19 Februari 2018
A A
wiro-sableng-212-mojok.co
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

[MOJOK.CO] “Mengorek formula cerita silat yang dipakai Wiro Sableng lewat jilid pertamanya.”

Siapa tahu dalam satu abad ke depan catatan ini masih terselamatkan dan seseorang masih menemukan beberapa jilid atau satu seri lengkap (menurut catatan, mencapai 191 judul) kisah Wiro Sableng, Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. Pada masa itu mungkin saja cerita silat merupakan sesuatu yang asing, dan siapa tahu bahkan nyaris tak ada orang yang membaca novel.

Bagi yang asing dengan cerita silat, di masa lalu kami menyebutnya cersil. Ia memang masih memiliki elemen-elemen cersil yang bisa kita bayangkan. Ada seorang kesatria yang memiliki kemampuan bela diri, dalam hal ini sosok utamanya tentu saja Wiro Sableng. Ada koreografi pertarungan, meskipun Bastian Tito sang penulis lebih menyukai adegan-adegan slapstik nan konyol daripada gerakan-gerakan sulit yang dibawakan dengan bahasa yang indah. Bagaimanapun, Wiro seorang pendekar yang rada gendeng seperti gurunya, dan bukan atlet senam irama.

Demikian pula ada konflik kebaikan melawan kebatilan, yang merupakan moral umum dari kisah jenis ini, dengan beragam filosofi bawaannya. Tentu tak ketinggalan beragam wejangan tentang tuntunan hidup, etika pribadi maupun masyarakat, meskipun dalam kasus Wiro Sableng, petatah-petitih ini hadir seadanya, dan saya merasa itu adalah salah satu hal yang baik.

Di masa sekarang, mungkin tak terbayangkan bahwa buku ini didistribusikan sebagian besar melalui taman bacaan, semacam perpustakaan kecil di mana orang membayar untuk meminjam buku selama satu atau dua hari. Wiro Sableng, sebagaimana novel-novel silat Asmaraman S. Kho Ping Hoo, novel horor Abdullah Harahap, maupun novel romansa Fredy S., juga komik-komik silat, lahir dalam tradisi seperti itu.

Berbeda dengan kebanyakan cersil, Wiro Sableng merupakan serial. Setiap judul baru terbit, para penggemarnya sudah menunggu dan berebutan. Siapa cepat dia dapat. Dan kalau dapat lebih dulu, biasanya hanya boleh baca dalam waktu singkat. Apa yang membuatnya demikian populer di tahun ’80-an? Untuk melihat formulanya, saya rasa kita bisa menengok saja ke judul pertama seri ini, 4 Berewok dari Goa Senggreng. Hampir segala yang dinikmati pembaca di berbagai judul Wiro Sableng, bisa kita lihat cikal bakalnya di judul ini.

Baiklah, serial ini sebenarnya dibuka dengan beragam klise, bahkan fastiche, dari formula yang umum di kisah-kisah sejenis. Pernah membaca kisah tentang seorang anak yang kedua orangtuanya dibunuh (atau ibunya diperkosa sebelum bunuh diri), lalu si anak (atau orok) diselamatkan seseorang, diajari ilmu bela diri, dan setelah dewasa turun gunung dan menuntut balas? Dalam banyak cersil, formula ini umum. Wiro Sableng salah satunya. Ia orok yang nyaris mati terbakar dan diselamatkan Sinto Gendeng.

Dan bagaimana dengan kisah seorang guru yang mengambil murid, tapi muridnya kemudian menjadi bengis dan jahat? Si guru merasa punya tanggung jawab untuk menghukum murid ini, dan mendidik murid baru untuk melawan si murid durhaka. Murid durhaka bisa ditemui juga di banyak cersil, bahkan jika satu abad ke depan orang masih menonton Star Wars, mereka juga bisa menemukannya di film itu. Penjahat terbesar di buku pertama (dan kedua) Wiro Sableng adalah murid durhaka Sinto Gendeng, sekaligus pembunuh orang tua Wiro.

Formula ketiga, sang pendekar bertemu gadis cantik. Seorang gadis cantik yang nyaris direnggut kehormatannya oleh seorang atau segerombol penjahat. Ia menolongnya, kemudian ia tahu, gadis itu anak dari musuhnya. Jika saya tak salah ingat, formula ini juga ada di komik Panji Tengkorak, dan tentu di berbagai cersil lainnya. Di buku ini Wiro bertemu dan menyelamatkan Nilamsuri, anak dari salah satu musuhnya, anak buah pembunuh bapaknya.

Soal Nilamsuri ini, agak brengsek juga si Wiro. Ketika tahu si gadis jatuh hati padanya, tanpa menimbang urusan dengan bapak si gadis, Wiro membawanya ke dangau di tengah sawah. Di sanalah pertama kali mereka menikmati gairah manusia (heh, kalian belum menikah! Pacaran saja belum!). Setelah itu, dengan dingin, ia bertarung dengan ayah si gadis, memotong tangannya, walau si gadis memohon, “Wiro, jangan. Itu ayahku!” Wiro memperoleh kedua-duanya: tubuh si gadis dan pembalasan dendam.

Urusan asmara yang agak jelimet ini tentu saja harus diselesaikan dengan mudah: Nilamsuri akhirnya mati dalam bopongannya. Enak sekali jadi lelaki dan pendekar, ya? Kelakuan Wiro yang genit ini memang berubah ketika ia semakin dewasa di jilid-jilid selanjutnya, ketika ia digambarkan semakin bijak.

Baiklah, semua formula itu muncul di buku pertama, dan menurut saya di sanalah keberhasilan serial ini. Keberhasilan yang bahkan bisa dilihat secara angka: judul-judulnya terjual rata-rata ratusan ribu kopi. Angka yang menurut ukuran pengarang sekarang, yang barangkali baru menerbitkan beberapa judul buku saja, mungkin bikin petentengan dan merasa sudah menjadi raja penulis.

Di abad yang akan datang, formula ini bisa saja tak pernah basi, sebagaimana Wiro Sableng membuktikannya sebelum ini. Tak ada yang baru di kolong langit, kata pepatah, asal kau tahu bagaimana mengolahnya. Satu hal yang membuatnya segar di tengah iklim dunia persilatan tanah air adalah gaya bahasanya yang konyol. Ia tak meromantisir dendam, pengelanaan, dan romansa yang terputus-putus. Dalam banyak cersil, pengembaraan sang pendekar sering kali memberi sejenis melankolia tentang ketercerabutan, ketiadaan “rumah” (dalam arti harfiah, kampung halaman, atau hati untuk berlabuh). Wiro memiliki aspek-aspek ketercerabutan atas rumah itu, tapi tidak membuatnya menjadi sejenis melankolia.

Itu terjadi karena kekonyolan bahasa (bahkan terasa kekinian, melawan bahasa realis di umumnya cersil), deksripsi tokoh-tokohnya yang sering kali grotesk (bayangkan, Sinto Gendeng digambarkan berambut tipis, tapi memiliki konde yang ditusukkan langsung ke kulit kepalanya), dan sekali lagi, koreografi pertarungan yang sering slapstik (biji kemaluan yang kena hantam, misalnya).

Iklan

Terakhir, munculnya kode angka “212” merupakan strategi yang juga jitu, sejenis branding nama pendekar. Barangkali serupa angka “007” untuk James Bond. Anak zaman sekarang mungkin tak tahu atau tak peduli makna di belakang angka tersebut, dan sesederhana menganggapnya sebagai angka cantik. Dan pembaca di abad mendatang mungkin melihatnya sebagai kode biner yang aneh, sejenis kode biner yang mereka lebih akrab: angka 0 dan 1.

Tapi, itu memang sejenis kode biner, sejenis filosofi di belakang kisah Wiro Sableng. Sinto Gendenglah yang mengkhotbahkan tentang 212 ini, sekaligus saya kira merupakan landasan moral serial ini. Bahwa dunia ini hadir senantiasa berpasang-pasangan. Ada lelaki, ada perempuan. Baik dan jahat. Atas dan bawah. Itu berarti 2. Dan di atas segalanya, ada satu yang tertinggi. Gusti Allah. Angka 1. Agak Hegelian, kan?

Dan khotbah semacam ini, bahkan sampai hari ini, tampaknya masih disukai orang. Terutama, saya pikir, aman juga, mengingat di masa itu buku bacaan masyarakat semacam ini sering diawasi dengan saksama oleh negara melalui tentara dan berbagai perangkatnya. Coba apa jadinya kalau di masa itu, sebuah cersil berkhotbah tentang perjuangan kelas. Bahwa 212 bisa ditafsir sebagai pertarungan penindas melawan tertindas (2) yang menghasilkan masyarakat yang adil dan saling menghormati (1).

Yang penting, seperti kebanyakan cersil, memang harus ada sedikit khotbah, selain pertarungan dan romansa.

Terakhir diperbarui pada 19 Februari 2018 oleh

Tags: analisiscerita silatEka Kurniawanformulanovelsinopsiswiro sableng
Eka Kurniawan

Eka Kurniawan

Artikel Terkait

Kiat Menemukan Alasan untuk Tetap Hidup dalam Seporsi Mie Ayam ala Brian Khrisna
Video

Kiat Menemukan Alasan untuk Tetap Hidup dalam Seporsi Mie Ayam ala Brian Khrisna

4 Maret 2025
Uneg-uneg dari Penulis Novel “Bismillah Kunikahi Suamimu” tentang Tensi 143/165  MOJOK.CO
Kilas

Uneg-uneg dari Penulis Novel “Bismillah Kunikahi Suamimu” tentang Tensi 143/165 

2 September 2023
Cerita Mahasiswa Surabaya yang Rela Lapar Demi Beli Buku. MOJOK.CO
Liputan

Cerita Mahasiswa Surabaya yang Rela Lapar Demi Beli Buku

6 Juli 2023
Novel Fredy S yang lolos sensor ormas dan institusi negara.
Geliat Warga

Anak-anak Muda yang Membincangkan Fredy S, Mengapa Novelnya Nggak Disensor Ormas? 

20 Januari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bukber, ASN, kantor.MOJOK.CO

Ikut Bukber Kantor di Acara ASN Itu Bikin Muak: Isinya Orang Cringe dan Seksis yang Bikin Risih, tapi “Haram” Buat Ditolak

22 Februari 2026
Mie ayam surabaya untuk quality time. MOJOK.CO

Makan Mie Ayam, “Quality Time” Orang Surabaya dan Balas Dendam Terbaik untuk Melampiaskan Getirnya Hidup

25 Februari 2026
Siksaan naik bus ekonomi Surabaya Semarang seperti Indonesia dan Sinar Mandiri MOJOK.CO

Siksaan di Bus Ekonomi Rute Surabaya Semarang bikin Frustrasi dan Kapok Naik Lagi: Murah tapi Harus Pasrah Jadi “Ikan Pindang” Sepanjang Jalan

22 Februari 2026
Pemuda Jakarta kerja di Jepang untuk bayar utang keluarga. MOJOK.CO

Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga

26 Februari 2026
Muhammadiyah selamatkan saya dari tabiat buruk orang NU. MOJOK.CO

Saya Bukan Muhammadiyah atau NU, tapi Pilih Tinggal di Lingkungan Ormas Bercorak Biru agar Terhindar dari Tetangga Toxic

25 Februari 2026
merantau di Jogja.MOJOK.CO

Cerita Perantau Jatim: Diremehkan karena Tinggal di Kos Kumuh Jogja, Bungkam Mulut Tetangga dengan Membangun Rumah Besar di Desa

25 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.