Kok bisa masuk Desil 9 padahal berhenti kerja
Keheranan saya terhadap pemetaan desil semakin besar setelah mengetahui posisi beberapa orang terdekat.
Saya memiliki saudara ipar yang bekerja sebagai kontraktor jalan. Pekerjaannya mengharuskan dia sering bepergian ke luar kota, bahkan ke luar pulau.
Namun, karena persoalan ekonomi dan pembayaran gaji yang tidak menentu, untuk sementara waktu ia memutuskan berhenti bekerja.
Setelah datanya diperiksa, dia ternyata masuk Desil 9.
Saya mengetahui perjalanan pekerjaannya dan bagaimana kondisi pemasukannya. Karena itu, sulit bagi saya membayangkan adik ipar saya sebagai seseorang yang berada dalam kelompok dengan tingkat kesejahteraan hampir paling tinggi.
Bukan berarti ia tidak pernah mempunyai penghasilan atau aset. Bisa jadi ada indikator tertentu yang membuatnya masuk Desil 9.
Namun, kondisi ekonominya saat ini jelas tidak sedang semewah bayangan yang muncul ketika kita mendengar angka sembilan dari sepuluh.
Jika masyarakat dalam Desil 5 masih dapat diusulkan sebagai peserta PBI-JK, bagaimana dengan mereka yang masuk Desil 9?
Apakah orang dalam Desil 9 otomatis hidup berkecukupan? Bagaimana jika penghasilan orang tersebut sudah berubah atau bahkan hilang?
Saya juga memiliki tetangga ibu-ibu yang berusia sekitar 55 tahun dan tinggal di Dusun Wareng Kidul. Beliau merupakan penyandang disabilitas, tetapi tetap bekerja keras dengan membuka usaha jahit dari rumah.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia harus mencari penghasilan dari berbagai pekerjaan. Anaknya bahkan sedang menempuh pendidikan di Universitas Airlangga.
Akan tetapi, karena tercatat masuk Desil 9, bantuan dan keringanan biaya yang diharapkan tidak kunjung diperoleh.
Sekali lagi, saya tidak mengetahui secara persis indikator yang membuat beliau masuk Desil 9. Saya hanya mengetahui kondisi yang saya saksikan sehari-hari: beliau tetap harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup dan membiayai pendidikan anaknya.
Ketika angka tidak mengikuti perubahan hidup
Saya tidak sedang menyimpulkan bahwa data pemerintah pasti salah. Bisa jadi ada sejumlah indikator yang tidak saya ketahui dan tidak dapat terlihat hanya dengan mengamati kehidupan sehari-hari seseorang.
Aset, kondisi tempat tinggal, pekerjaan, jumlah anggota keluarga, serta berbagai variabel lain mungkin memengaruhi penetapan desil.
Namun, persoalannya bukan semata-mata indikator apa yang digunakan. Kondisi ekonomi manusia dapat berubah jauh lebih cepat daripada pembaruan data.
Seseorang mungkin pernah memiliki pendapatan tinggi, tetapi kemudian kehilangan pekerjaan. Ada keluarga yang tampak mempunyai aset, tetapi penghasilannya habis untuk biaya pendidikan, pengobatan, cicilan, atau utang.
Ada pula orang yang secara administratif dianggap sejahtera, padahal pemasukan bulanannya tidak menentu.
Jika perubahan-perubahan tersebut tidak segera tercatat, desil berisiko berubah dari alat untuk membaca kenyataan menjadi angka yang tertinggal dari kenyataan.
Di satu sisi, saya masuk Desil 5 dan masih hidup serba pas-pasan. Di sisi lain, orang-orang yang saya kenal harus berjibaku memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi justru tercatat dalam Desil 9.
Lantas, mana yang harus dipercaya: angka dalam sistem atau kondisi yang terlihat di depan mata? Rasanya wajar jika muncul satu pertanyaan sederhana: lalu, indikator desil apa dong?
Masyarakat tidak hidup di dalam tabel. Mereka hidup dari uang yang masuk setiap bulan, harga beras yang harus dibayar, biaya sekolah anak, ongkos berobat ketika sakit, cicilan dan utang yang belum lunas, serta pekerjaan yang belum tentu masih tersedia esok pagi.
Kita memang membutuhkan desil untuk membaca kondisi ekonomi masyarakat. Namun, pemerintah juga harus terus membaca kehidupan masyarakat agar data desil tidak kehilangan hubungannya dengan kenyataan.
Penulis: Purwoko Ajie
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai.
