Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kolom

Menjadi Iri pada Jacinda Ardern, Menjadi Maklum pada Jokowi

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
20 Oktober 2020
A A
jacinda ardern
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kabar yang tak terlalu mengagetkan datang dari Selandia Baru. Negeri di mana Tantowi “Steven Seagal” Yahya bertugas menjadi duta besar itu secara resmi mengumumkan bahwa petahana Perdana Menteri Jacinda Ardern memenangkan pemilu dan terpilih kembali menjadi Perdana Menteri untuk periode kedua.

Jacinda Ardern, yang maju lewat partai buruh liberal, berhasil mengalahkan partai nasional konservatif dengan meraup 49% suara.

Sekali lagi, kabar tersebut tentu saja tiada mengagetkan. Jacinda Ardern, dengan segenap kepemimpinannya di periode pertama sebagai seorang perdana menteri, memang layak jika terpilih kembali menjadi perdana menteri. Sebagai seorang perdana menteri, Jacinda memang dinilai mampu membawa perubahan besar bagi Selandia Baru.

Justru akan sangat mengagetkan jika sampai Jacinda gagal terpilih kembali menjadi perdana menteri.

Banyak faktor yang membuat dirinya berhasil mengumpulkan dukungan dan juga simpati dari rakyat Selandia Baru selama menjabat. Salah satunya tentu saja adalah keberaniannya untuk langsung membentuk undang-undang terkait pelarangan kepemilikan senjata semiotomatis paskainsiden penembakan di Masjid Christchurch yang menewaskan 50 orang itu.

Insiden tersebut, tanpa mengurangi rasa keprihatinan terhadap para korban, tak bisa dimungkiri memang membuat nama Jacinda Ardern semakin harum. Setelah insiden tersebut, Jacinda, berhasil memperlihatkan bagaimana seorang pemimpin bekerja. Ia membagikan empatinya dan menggunakan kekuasaannya untuk melakukan apa yang seharusnya ia lakukan.

Gebrakan lain yang membuat Jacinda benar-benar berhasil merebut hati warga Selandia Baru (bahkan hati warga seluruh dunia) adalah kesigapannya dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Selandia Baru tercatat menjadi salah satu negara yang dianggap paling berhasil menghadapi pandemi Covid-19. Saat ini, Selandia Baru sudah mampu mengendalikan Covid-19. Sejak bulan September lalu, Selandia Baru sudah mencabut aturan pembatasan terkait wabah Covid-19. Masyarakat di Selandia Baru juga sudah mulai beraktivitas seperti biasa.

Stadion-stadion sudah boleh disesaki oleh penonton yang ingin menyaksikan pertandingan sepakbola atau rugbi.

Dua hari lalu, misalnya, dalam pertandingan Bledisloe Cup 2020 saat Timnas Rugbi Selandia Baru mengalahan Australia 27-7, stadion Eden Park, Auckland, bahkan disesaki lebih dari 46 ribu penonton.

Hal tersebut tentu tak lepas dari kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah Selandia Baru di bawah komando Jacinda. Mereka begitu keras dan rajin melakukan tes. Rasio tes Selandia Baru tercatat menjadi salah satu yang tertinggi di dunia, yakni 213 per 1.000 penduduk. Sebagai perbandingan, rasio tes Indonesia adalah 9 per 1.000 penduduk.

Selandia Baru juga menerapkan pembatasan aktivitas yang cukup ketat. Mereka mengerahkan 500 tentara untuk memantau sejumlah fasilitas karantina di wilayah-wilayah perbatasan. Pemerintah mengirimkan pesan-pesan panduan protokol kesehatan dan update informasi melalui seluler. Yang cukup mencolok, Selandia Baru bahkan memutuskan untuk menunda pemilu untuk mencegah penularan. Hal yang tentu saja tidak dilakukan oleh negara yang kode teleponnya dua digit di bawah Selandia Baru.

Maka, ketika Presiden Jokowi mem-posting ucapan selamatnya kepada Jacinda Ardern dengan disertai foto saat keduanya sedang bersalaman, ada semacam getir yang menyeruak. Semacam perasaan senewen yang seolah ingin berkata “Ini bisa tukeran pemimpin nggak, sih?”

Pada akhirnya, ada satu hal yang, walau rasanya aneh, namun mau tak mau harus saya yakini. Itu semata demi ketenangan batin saya sebagai warga Indonesia, yakni segala keberhasilan yang diraih oleh Jacinda itu, murni bukan soal mental pemimpin, melainkan memang karena itulah cara yang harus dilakukan oleh Jacinda Ardern agar bisa terpilih kembali menjadi perdana menteri.

Iklan

Jacinda beruntung, pandemi datang jelang pemilu, sehingga ia jadi punya arena untuk membuktikan bahwa ia adalah pemimpin yang bagus.

Hal tersebut membuat saya agak maklum dengan kondisi negara saya tercinta. Negara yang jumlah penambahan kasus harian Covid-19-nya masih terus berada di atas angka tiga ribu.

Saya meyakini, segala keporak-porandaan yang terjadi di masa pandemi ini, itu bukan murni kesalahan Jokowi sebagai pemimpin, itu murni karena persoalan timing saja. Pandemi kebetulan hadir saat Jokowi sudah terpilih kembali menjadi Presiden untuk periode kedua, sehingga hal tersebut kurang menantang bagi Jokowi untuk menjadi arena pembuktian, sebab memang tak ada lagi yang harus dikejar oleh Jokowi.

Coba kalau pandemi melanda tahun 2018 akhir atau 2019 awal sebelum pemilu, niscaya nasib kita pasti nggak jauh beda kayak Selandia Baru.

Jadi, sekali lagi, ini bukan salah Jokowi, ini salah Covid-19 yang memang datangnya agak terlambat.

Kalau Jokowi sih pasti nggak salah. Ha Presiden saya, je

Terakhir diperbarui pada 24 Oktober 2020 oleh

Tags: jacinda ardernjokowi
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO
Esai

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi.MOJOK.CO
Aktual

Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi

7 Maret 2025
3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini MOJOK.CO
Esai

3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini

26 Februari 2025
Afnan Malay: Membedah Hubungan Prabowo-Jokowi Setelah Pemilu dan Janji Program MBG
Video

Afnan Malay: Membedah Hubungan Prabowo-Jokowi Setelah Pemilu dan Janji Program MBG

18 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dosen Profesi Nelangsa, Gaji Kalah sama Ngajar Anak SD (Unsplash)

Gelap Masa Depan Dosen, Lulusan S2 Jogja Mending Ngajar Anak SD di Surabaya yang Lebih Menjanjikan dari sisi Gaji

12 Januari 2026
Sewakan kos bebas ke teman sesama mahasiswa Malang yang ingin enak-enak tapi tak punya modal MOJOK.CO

Mahasiswa Malang Sewakan Kos ke Teman buat Mesum Tanpa Modal, Dibayar Sebungkus Rokok dan Jaga Citra Alim

14 Januari 2026
Jombang itu kota serba nanggung MOJOK.CO

Jombang Kota Serba Nanggung yang Bikin Perantau Bingung: Menggoda karena Tenteram, Tapi Terlalu Seret buat Hidup

12 Januari 2026
Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital: Harga RAM Makin Nggak Ngotak MOJOK.CO

Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal

16 Januari 2026
Gotong royong atasi tumpukan sampah Kota Semarang MOJOK.CO

Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang

16 Januari 2026
Film Semi Jepang Bantu Mahasiswa Culun Lulus dan Kerja di LN (Unsplash)

Berkat Film Semi Jepang, Mahasiswa Culun nan Pemalas Bisa Lulus Kuliah dan Nggak Jadi Beban Keluarga

14 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.