Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Kiat Memberi Nama Anak untuk Tren 2017

Oktavolama Akbar Budi Santosa oleh Oktavolama Akbar Budi Santosa
16 Januari 2017
A A
Kiat Memberi Nama Anak untuk Tren 2017

Kiat Memberi Nama Anak untuk Tren 2017

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tahun 2016 adalah tahun ketika saya menghadiri cukup banyak undangan pernikahan. Tahun lalu memang banyak teman sudah memasuki usia siap nikah. Selamat untuk mereka, satu pertanyaan horor yang langganan muncul saat hari raya sudah terlewati … untuk berganti dengan pertanyaan lain. Yak, Anda sudah tahu itu: kapan punya anak.

Nah berhubung saya teman yang baik, tidak sombong, dan tidak lulus-lulus kuliah, daripada membahas soal kenapa orang-orang kebelet nikah, saya ingin berbagai tips saja.

Kalau Anda-Anda merupakan pembaca setia Mojok, pasti pernah membaca tulisan perdana dari Teh Nurjanah yang berkaitan dengan nama. Ya, tulisan ini menyentil tentang nama-nama anak sekarang yang jelimetnya sejelimet dinasti politik Klaten. Saya sendiri boleh dikata adalah pemilik sekaligus korban dari nama jelimet tersebut. Bukannya tidak mensyukuri pemberian dari orang tua, tetapi dengan kejelimetan bin mbuletnya nama saya ini, sudah sering terjadi beberapa ketidaknyamanan yang membuat, ya, tidak nyaman. Oleh karena itu, karena saya ingin agar di masa depan tidak banyak anak memiliki masalah yang saya rasakan, saya akan berbagi kiat memberi nama anak yang semoga menjadi tren di 2017.

Kiat-kiat ini saya buat sebagai sumbangsih agar masyarakat di negeri ini tidak lagi disibukkan oleh urusan-urusan yang sebenarnya sederhana tapi dibikin rumit hanya karena orang nggak bisa mengeja nama.

Pertama: hindari peletakan huruf “v” dan “x” di tengah nama

Untuk yang pertama ini, saya berkaca pada pengalaman sendiri, utamanya nama awal. “Oktavolama” cukup simpel, kan, sebenarnya? Eits, tapi selama 23 tahun, persentase orang yang mengucapkan nama ini dengan lancar hanyalah 10%. Huruf “v” yang ada di tengah seolah kutukan, membuat siapa pun yang melafalkannya harus mengernyitkan dahi, menajamkan alis, sekaligus bergumam bak anak-anak baru belajar dzikir.

Seringnya orang yang mengucap nama saya harus memberikan perlakuan khusus pada huruf “v”, misal diperpanjang pengucapannya, seperti “Oktavvvngghhhvhvhvolllama”. Ya, macam orang Afrika yang namanya sempat viral di medsos kemarin. Itu masih normal. Bahkan ada yang sampai mengubah setelah mengucap huruf “v”, misal jadi “Oktavodrana” atau “Oktavoladra”. Yang parah bahkan muncul sebutan “Oktavidrana”! Duh Gusti.

Untuk huruf “x” sendiri saya tidak mengalami, hanya pengamatan dari teman-teman saya saja. Tetapi, sungguh tidak seekstrem sampai mengubah terlalu jauh seperti contoh di atas.

Kedua: hindari huruf dobel, ikuti saja khazanah pengucapan di tempat Anda tinggal

Kalau yang satu ini becermin dari mantan gebetan saya. Namanya diambil dari bahasa Arab, artinya bagus sih, tetapi penulisannya benar-benar mengikuti kaedah tajwid yang biasa kita pelajari saat belajar iqra. Kalau pas dua harakat, ya “a” nya dobel. Kalau pas tasjid, ya “s”-nya dobel. Tidak separah si Ovovevewuosas-apa-itu itu sih, tapi tetap saja jelimet. Ending-nya pun dia juga cuma dipanggil “Nis”. Jadi kayak manggil kucing.

Usul saya sih ya, oke ndak papa Anda ambil nama dari bahasa Arab, Inggris, Rusia, atau Mozambik sekalipun, tetapi alangkah baiknya disesuaikan dan dimudahkan agar mudah diucapkan oleh orang awam di sekitar Anda tinggal, terutama orang tua. Karena semakin susah namanya, semakin besar pula kemungkinan akan muncul nama panggilan yang nggapleki. Misal namanya “Pierrezione”, paling-paling kalau tinggal di Bantul dipanggi “Pardi”.

Ketiga: jangan sampai nama anak Anda bisa jadi singkatan yang nyeleneh

Kembali lagi menggunakan nama saya. Nama lengkap “Oktavolama Akbar Budi Santosa”, biasa disingkat jadi “Oktavolama A.B.S.”. Oleh beberapa bapak yang hidup di masa Orba, singkatan “A.B.S.” ini sering diartikan menjadi “Asal Bapak Senang” sambil tertawa cekikan. Waktu kecil saya sih nggak tau artinya, sampai akhirnya jadi mahasiswa baru ngeh. Selain itu “A.B.S.” kadang pula diasosiasikan dengan “Anti Breaking System” atau malah dikira “abs” yang artinya otot. Ndak lucu, ya? Ya maaf.

Sekarang coba bayangkan ini, ada nama “Kevin Fadil Chairudin” atau “Mulyadi Cesar Donatello”, terbayang kan ejekan macam apa yang nanti akan diterima? Karena itu penting menentukan huruf pertama dari setiap suku nama anak Anda nanti. Jangan sampai melahirkan kombinasi yang berpotensi menghadirkan ejekan tak terelakan kalau tak ingin dia di-bully nanti. Tetapi kalau memang tidak mempermasalahkan itu, bisa saja membuat nama anak anda menjadi singkatan yang unik dan justru menghadirkan aura positif.

Iklan

Keempat: simpel tetapi jangan pasaran

Coba sebutkan nama apa saja yang sering dipakai orang Indonesia, jawaban Anda pasti akan menyertakan satu nama “Agus”. Nama ini memang simpel namun begitu magis. Mau agama apa pun, biasa pakai “Agus”, mau pria atau wanita, bisa pula pakai “Agus”. Mau ketimuran atau kebaratan, keduanya banyak ditemui nama “Agus”. Sungguh, nama “Agus” ini harusnya dimasukkan UNESCO sebagai warisan budaya dunia.

Magisnya “Agus” ini tak ayal menjadikannya nama pasaran. Paguyuban atas nama ini pun konon ada (Iya, to, Mas Agus Mulyadi?). Namun ya itu, karena pasaran, sering kali “Agus” memiliki koneksi tak terlihat dengan Agus-Agus lain yang membuat apa yang terjadi pada satu “Agus” akan mempengaruhi “Agus” yang lain. Apalagi kalau “Agus” yang lain membuat sensasi. (Sekali lagi, iya, to Mas Agus Mulyadi?)

Oleh karena itu, usahakan nama anak Anda nanti dibuat simpel saja, tetapi jangan nama pasaran. Ya kalaupun sudah kadung cinta sama nama pasaran ya sudahlah tetapi ingat dibuat simpel saja. “Agus” cukuplah di akta ditulis “A-G-U-S”, ndak usah “A-G-H-U-S” atau “A-G-O-E-S” apalagi “A-A-G-H-O-E-S-Z”. Kasihanilah petugas catatan sipil sekaligus guru-guru yang nanti akan menulis tangan nama anak Anda di rapot kelak.

Sebenarnya masih ada beberapa kiat lagi yang ingin saya tulis dan jabarkan, tetapi kalau kepanjangan bukannya jadi artikel, nanti saya malah bisa disuruh untuk membuat buku Memberi Nama Anak ala Mojok. Semoga dengan kiat singkat ini, urusan nama anak hanya menyusahkan bagi Anda saja selaku orang tuanya saja selaku pencari nama, tidak perlu merembet ke si anak. Karena nama adalah doa, bisa jadi semakin ribet nama Anda, nanti Tuhan juga ribet mengabulkan doa Anda sekalian.

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: agusfeaturednama anakribet
Oktavolama Akbar Budi Santosa

Oktavolama Akbar Budi Santosa

Pengulas mie di @nyaaarimie

Artikel Terkait

Nama Saya Vagina, Nama Aneh dan Vulgar yang Bikin Luka Batin MOJOK.CO
Esai

Nama Saya Vagina, Nama Aneh dan Vulgar yang Bikin Luka Batin

30 Desember 2021
Pojokan

Saran untuk Atta Halilintar yang Bingung soal Nama Anak

23 Oktober 2021
Karena Nama Adalah Doa, Pemuda Atheis Ini Tidak Punya Nama mojokx firal mojok.co
Kolom

Karena Nama Adalah Doa, Pemuda Ateis Ini Tidak Punya Nama

2 Mei 2021
nama bayi 9 Larangan Nama Anak yang Harusnya Semua Orang Sudah Tahu mojok.co
Versus

9 Larangan Nama Anak yang Harusnya Semua Orang Sudah Tahu

18 Februari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita punya pasangan hidup sandwich generation apalagi bonus mertua toxic MOJOK.CO

Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia

5 Februari 2026
Krian Sidoarjo dicap bobrok, padahal nyaman ditinggali karena banyak industri serap kerja dan biaya hidup yang masuk akal MOJOK.CO

Krian Sidoarjo Dicap Bobrok Padahal Nyaman Ditinggali: Ijazah SMK Berguna, Hidup Seimbang di Desa, Banyak Sisi Jarang Dilihat

5 Februari 2026
Mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah PTN Surabaya pertama kali makan di restoran All You Can Eat (AYCE): norak, mabuk daging, hingga sedih karena hanya beri kenikmatan sesaat MOJOK.CO

Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

6 Februari 2026
Pertama kali makan donat J.CO langsung nangis MOJOK.CO

Orang Berkantong Tipis Pertama Kali Makan Donat J.CO, Dari Sinis Berujung Nangis

3 Februari 2026
Asriadi Cahyadi pemilik Dcell Jogja Store, toko musik analog. MOJOK.CO

Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja

4 Februari 2026
karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO

Bagi Pekerja Bergaji Dua Digit “Nanggung” di Jakarta, Menyewa Apartemen di Tengah Kota Lebih Baik Ketimbang Ambil KPR di Pinggiran

9 Februari 2026

Video Terbaru

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.