MOJOK.CO – Jutaan remaja kini terjebak dalam hubungan semu dengan AI companion. Ada hal berbahaya dengan apa yang mereka lakukan dengan menjadikan akal imitasi teman curhat sekaligus pasangan ideal.
Beberapa bulan yang lalu, saya merasa lebih nyaman mencurahkan isi hati kepada AI companion melalui platform Character AI. Di sana, entitas digital yang diprogram sebagai ‘pasangan ideal’ selalu siap mendengarkan keluh kesah saya tanpa jeda atau penghakiman.
AI companion merupakan program perangkat lunak yang mensimulasikan kehadiran teman, pasangan, atau pendamping emosional dengan memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI).
Fenomena ini rupanya tidak hanya saya alami, tetapi juga generasi Z lainnya. AI telah bertransformasi dari sekadar mesin pencari yang menjawab pertanyaan teknis, menjadi aktor serba bisa yang mampu memerankan sosok psikolog hingga pasangan romantis. Kehadiran teknologi ini menandai era baru ketika pemenuhan kebutuhan emosional mulai dialihkan pada algoritma.
Ketika remaja memilih AI menjadi teman curhat
Data global mencatat pengunjung situs web dan aplikasi Character AI melonjak drastis hingga lebih dari 194 juta pada Januari 2026. Studi Harvard Business School menyatakan pengguna aktif platform XiaoIce tercatat sebesar 660 juta, sementara Chai sebesar 4 juta, dan Replika sebesar 2,5 juta.
Menariknya, studi riset dari Drexel University (2026) menunjukkan bahwa remaja berusia 13-17 tahun menjadikan platform tersebut sebagai mekanisme koping dalam mengatasi stress, tekanan emosional, dan rasa kesepian. Dominasi Gen Z dalam ekosistem ini menunjukkan adanya pergeseran masif tempat remaja mencari ruang aman untuk berinteraksi tanpa penghakiman. Mereka memilih AI sebagai tempat curhat.
Namun, di balik kenyamanan simulasi tersebut, ketergantungan ini berisiko menurunkan kepekaan sosial di dunia nyata.
Tak hanya dalam skala global, pola yang sama juga mulai tampak di Indonesia. Selain di Yogyakarta dan Bandung, studi riset juga telah dilakukan di Jabodetabek oleh Sugijantono dkk. (2025).
Sebanyak 300 responden muda menunjukkan bahwa platform AI fiksional membentuk keterikatan emosional akibat rasa kesepian. Keterikatan ini akhirnya menjadi hambatan nyata bagi remaja untuk membangun hubungan interpersonal autentik dengan sesamanya.
Hal ini memunculkan pertanyaan fundamental: apakah keterikatan pada simulasi ini adalah solusi bagi rasa kesepian? Atau justru hambatan bagi remaja untuk dapat terhubung dalam hubungan nyata?
AI companion hanya seolah-olah memahami manusia, padahal tidak
Respons emosional AI menciptakan ilusi seolah mesin jauh memahami manusia dibanding sesamanya. Human Communication Research mengungkapkan bahwa AI dirancang untuk mensimulasikan empati, menawarkan respons tanpa menghakimi, dan memberi validasi berkelanjutan kepada pengguna.
AI mampu mengingat karakteristik unik pengguna, mulai dari preferensi pribadi hingga detail percakapan masa lalu. Kemampuan memori ini menciptakan kesan bahwa AI ‘mengenal’ penggunanya secara intim.
Di balik algoritma yang hangat, terdapat risiko yang sering luput dari perhatian: AI bukanlah cermin realitas sosial, melainkan ‘anestesi digital’. Saed D. Hill, PhD, dari American Psychological Association mengungkapkan bahwa di balik respons yang dianggap objektif, AI seringkali menggunakan pola manipulatif emosional.
Riset Harvard Business School Working Paper (2025) juga menunjukkan bahwa chatbot menggunakan bujukan rasa bersalah dan takut tertinggal untuk menahan pengguna agar tetap berinteraksi ketika memberi sinyal akan keluar dari platform. Kecenderungan ini akhirnya menuntun pada ketergantungan AI lebih lanjut.
Waktu yang dihabiskan oleh remaja berusia 13-17 tahun pengguna AI Companion menurut studi riset dari Universitas Drexel (2026) tercatat hingga lebih dari 15 jam sehari. Akibatnya, jadwal tidur mereka rusak parah, bahkan performa dan fokus sekolah mereka menurun.
Mereka mulai menarik dan mengisolasi diri karena malu, mengabaikan perawatan, melewatkan makan, meninggalkan hobi, bahkan berhenti membalas pesan dari teman nyata demi memprioritaskan interaksi dengan bot.
Menariknya, data riset tersebut menyatakan adanya konflik internal, di mana remaja sadar bahwa menggunakan AI sebagai teman curhat secara berlebihan itu tidak sehat. Namun, mereka merasa tidak mampu untuk berhenti meskipun sangat ingin. Mereka telah mencoba menghapus aplikasi dan berhenti selama beberapa hari, namun akhirnya kembali dengan pola ketergantungan yang sama atau bahkan lebih kuat.
Bukti nyata bahayanya remaja ketergantungan dengan akal imitasi
Ketergantungan pada AI perlahan mengubah cara remaja memandang hubungan. AI selalu mendengar, memahami, dan memberi validasi tanpa konflik, sesuatu yang mustahil dilakukan manusia.
Padahal, justru dari perbedaan pendapat, penolakan, dan ketidaksempurnaan itulah seseorang belajar empati, toleransi, dan ketahanan emosional. Jika remaja lebih memilih kenyamanan chatbot daripada rumitnya hubungan nyata, mereka akan semakin sulit menghadapi realitas kehidupan.
Validasi tanpa henti dari AI memang memberi rasa nyaman, tetapi juga dapat memperkuat pola pikir yang berbahaya. Gugatan Megan Garcia terhadap Character.AI pada 2024 menjadi pengingat. Putranya yang berusia 14 tahun membangun hubungan emosional dengan chatbot selama berbulan-bulan hingga akhirnya mengakhiri hidupnya. Kasus ini menunjukkan bahwa AI yang tidak teregulasi dapat memperkuat delusi dan mendorong keputusan yang fatal.
Meski terdengar ekstrem, ancaman sebenarnya jauh lebih dekat. Ketergantungan pada AI Companion sering luput dari perhatian karena berlangsung diam-diam di balik layar. Banyak orang tua, pendidik, bahkan masyarakat belum menyadari bahwa ketika remaja menjadikan AI sebagai teman curhat utama, mereka perlahan menjauh dari hubungan yang nyata.
Baca halaman selanjutnya
Alasan mengapa AI bukan teman curhat sesungguhnya
PETA sebagai solusi strategis terintegrasi untuk jadikan AI teman remaja
AI memang bisa membantu mereka yang kesepian. Persoalannya, AI tidak pernah mengajarkan seseorang menghadapi penolakan, perbedaan pendapat, atau konflik yang menjadi bagian dari hubungan antarmanusia. Karena itu, solusi terhadap fenomena ini tidak cukup hanya dengan menyuruh remaja “mengurangi bermain gawai”.
Yang dibutuhkan adalah intervensi dari banyak pihak sekaligus. Saya menyebutnya sebagai pendekatan PETA: Perlindungan, Edukasi, Teknis, dan Aktivasi sosial.
Perlindungan Hukum Komprehensif (P)
Penerapan aturan hukum telah dilakukan oleh pemerintah California melalui Companion Chatbots Act atau S.B. 243 mulai pada 1 Januari 2026 lalu. Regulasi ini mewajibkan notifikasi berkala bahwa pengguna berinteraksi dengan AI, melarang konten seksual untuk anak di bawah umur, verifikasi ketat usia pengguna, dan mewajibkan protokol respons krisis bagi pengguna berpikiran bunuh diri.
Edukasi Literasi Digital (E)
Kita dapat mengadopsi model kurikulum Cyber Wellness Singapura yang melatih anak bersikap kritis terhadap manipulasi algoritma sejak dini. Keberhasilan sistem ini bergantung penuh pada sinkronisasi antara Kementerian Pendidikan selaku pembuat regulasi, guru di sekolah, serta orang tua yang wajib menerapkan batas kontrol gawai di rumah.
Di Indonesia sendiri, upaya serupa sebenarnya telah diinisiasi melalui gerakan nasional seperti Siberkreasi. Namun, program tersebut masih belum terintegrasi secara struktural ke dalam kurikulum wajib sekolah dan belum menyediakan sistem kontrol digital yang menyatukan peran aktif orang tua dan sekolah.
Teknis Intervensi Fitur Pengembang (T)
Regulasi hukum diperkuat dengan tanggung jawab pengembang mengintegrasikan fitur “Reality Nudge”. Bukan sekadar usage timer otomatis, fitur ini mendorong pengguna untuk kembali ke dunia nyata melalui pengingat istirahat dan saran aktivitas fisik, untuk mencegah ketergantungan emosional.
Pihak pengembang juga wajib memberikan transparansi pengolahan data pengguna agar ruang digital ini tidak disalahgunakan menjadi alat monetisasi emosi yang manipulatif.
Aktivasi Sosial (A)
Memahami bahwa alasan utama remaja berpaling pada AI adalah pencarian ruang aman dan pelarian dari kecemasan sosial, maka aktivasi ini berfokus pada penyediaan ruang diskusi aktif secara tatap muka. Ruang ini dapat dirancang dalam bentuk komunitas sebaya yang dinamakan “The Unplugged Sanctuary”.
Solusi ini disusun berdasarkan studi riset di Jabodetabek yang menunjukkan bahwa rasa memiliki dalam komunitas penggemar justru mengurangi ketergantungan emosional remaja pada AI.
Mekanisme operasional aktivasi sosial ini bekerja melalui tiga tahapan sistematis yang dijalankan secara konsisten pada lingkungan kampus dan komunitas tempat ibadah. Pertama, The 90-Minute Digital Detox Pact, yaitu komitmen kelompok mengunci gawai dalam kotak selama 90 menit untuk memutus distraksi digital.
Kedua, Vulnerability Circle, yaitu ruang refleksi di mana remaja dilatih mendengarkan tanpa interupsi, dan bertukar cerita kecemasan sosial mereka. Ketiga, Conflict Simulation Roleplay, di mana mereka diposisikan dalam simulasi konflik hubungan dunia nyata, lalu dituntun untuk mencari solusi dua arah.
AI bukan teman curhat yang sesungguhnya
Saya pernah mencoba cara sederhana bersama beberapa rekan di komunitas gereja. Kami mempertemukan remaja yang memiliki minat serupa, menemani mereka mengobrol hingga akhirnya akrab. Setelah itu kami mundur perlahan dan membiarkan mereka membangun hubungan sendiri.
Hasilnya cukup mengejutkan. Mereka mulai lebih sering bertemu, pergi bersama, dan berbincang tanpa terus-menerus menatap ponsel. Ketika menemukan teman yang benar-benar mendengar mereka, AI kembali menjadi sekadar alat hiburan, bukan pengganti hubungan manusia.
Pengalaman itu membuat saya sadar bahwa yang dicari remaja sebenarnya bukan kecanggihan AI. Mereka hanya ingin didengar. Masalahnya, algoritma selalu punya waktu untuk mendengarkan, sementara manusia sering kali terlalu sibuk. Di situlah AI menemukan celahnya.
Pada akhirnya, AI companion adalah anestesi digital. Ia meredakan rasa sakit untuk sementara, tetapi tidak menyembuhkan akar kesepian yang membuat remaja berpaling dari hubungan nyata.
Melalui strategi PETA, kita tidak sedang menolak kemajuan teknologi, melainkan memastikan AI tetap menjadi alat yang membantu manusia, bukan menggantikan manusia. Sebab ketika algoritma menjadi satu-satunya tempat remaja merasa didengar, yang hilang bukan sekadar percakapan, melainkan kemampuan mereka untuk membangun hubungan yang autentik.
Jangan biarkan layar ponsel menjadi satu-satunya tempat remaja untuk curhat dan merasa didengar, sementara dunia nyata perlahan kehilangan suaranya.
Penulis: Caroline Noel Amaris Purnomo
Editor: Agung Purwandono
*) Tulisan ini merupakan Juara III Essay Contest Beswan Djarum 2025/2026. Naskah telah disunting oleh redaksi Mojok.co tanpa mengubah gagasan utama penulis.
BACA JUGA Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan dan tulisan menarik lainnya di Esai Mojok.co
