Di Balik Lanyard Startup Jaksel: Digembleng Target Tinggi, Digaji Pas-pasan

Di Balik Lanyard Startup Jaksel: Digembleng Target Tinggi, Digaji Pas-pasan MOJOK.CO

Ilustrasi Di Balik Lanyard Startup Jaksel: Digembleng Target Tinggi, Digaji Pas-pasan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

MOJOK.COKeluarga dan teman di kampung halaman menganggap saya telah berada di kasta tertinggi seorang perantau dan fresh graduate, bekera di startup Jaksel. Mereka salah.

Kerja di Jakarta terutama di Jakarta Selatan dengan label pusat perekonomian dan bekerja di perusahaan startup adalah kasta kesuksesan seorang perantau. Begitu pandangan sebagian orang terhadap teman atau keluarga saya.

Di mata mereka saya seperti tokoh utama FTV: sarjana yang merantau ke kota besar, berangkat kerja dengan pakaian modis sambil menenteng kopi susu. Lalu duduk di depan laptop dan berbicara menggunakan bahasa separuh Indonesia, separuh Inggris.

‘’Enak yo, saiki kerjo nang jakarta tur kerjone nang kantor, mesti gajine gede (Enak, ya, sekarang kerja di Jakarta dan kantoran. Pasti gajinya besar),” kata salah seorang kerabat ketika kami bertemu saat Lebaran.

Saya yang mendengarnya hanya bisa tersenyum dan mengamini dalam hati. Bukan karena perkataannya benar, melainkan karena saya tidak tahu bagaimana menjelaskan bahwa bekerja di sebuah startup Jaksel tidak otomatis membuat rekening saya ikut naik kelas.

Faktanya, menjadi lulusan S1 yang bekerja di perusahaan rintisan Jakarta Selatan tidak serta-merta membuat saya menjadi crazy rich melalui jalur cepat. Tidak semua startup memiliki investor raksasa yang gemar membakar uang untuk menggaji karyawannya dengan angka fantastis.

Ada satu spesies startup yang belakangan ini menjamur dan menjadi sasaran para fresh graduate seperti saya. Saya tidak mau menyebut istilahnya, takut dibilang SARA, tapi karakter intinya seperti ini: Waktu adalah uang, maka kamu harus siap dalam tekanan. 

Startup ala Jaksel: target maksimal, gaji pas-pasan

Di startup seperti ini, semboyan “waktu adalah uang” bukan sekadar pepatah, melainkan doktrin. Ritme kerja di sini melesat lebih cepat daripada Whoosh. 

Multitasking dan kemampuan bertahan di bawah tekanan bukan lagi nilai tambah, melainkan syarat mutlak. Gelar sarjana yang saya sandang tidak dinilai dari seberapa tebal skripsi yang pernah saya tulis, melainkan dari seberapa cepat saya membalas pesan dan menyelesaikan revisi sebelum matahari terbenam.

Kami harus sigap menerima pekerjaan, cepat mengikuti perubahan, dan selalu siap ketika target datang bertubi-tubi. Jika ada lowongan yang mencari pekerja “mampu bekerja di bawah tekanan”, mungkin orang-orang seperti kamilah bentuk paling harfiahnya.

Di sinilah ironi terbesar menjadi anak rantau yang bekerja di startup seperti ini. Di media sosial, pekerjaan kami memang tampak mentereng. Jika difoto dari sudut tertentu, meja kerja kami bisa terlihat estetik: laptop menyala, botol minum berwarna pastel, meja minimalis, dan lanyard perusahaan yang menggantung di dada.

Namun, di balik penampilan ala pekerja kreatif metropolitan, gaji saya masih berada di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta. Lanyard perusahaan mungkin dapat membuka pintu kantor, tetapi jelas tidak dapat membuka pintu menuju kesejahteraan.

Ayam geprek miskin harga 10 ribuan sebagai fondasi

Dengan gaji yang mungil dan biaya hidup Jakarta Selatan yang tidak mengenal belas kasihan, impian makan siang cantik dengan menu lengkap dari restoran mahal harus dikubur dalam-dalam.

Jangankan makan ala sultan, kebutuhan gizi harian saya lebih sering diselamatkan oleh warteg, bakso Rp12 ribuan, dan aneka makanan kaki lima. Puncak kemegahan gastronomi saya adalah ayam geprek Rp10 ribuan yang oleh teman-teman kantor disebut “ayam geprek miskin”.

Dalam situasi ekonomi seperti ini, ayam geprek murah bukan lagi makanan darurat. Ia adalah fondasi ketahanan pangan pekerja startup.

Jika sedang merasa “have” atau sedikit punya uang atau ingin memberikan self-reward setelah seminggu dikejar target dan tenggat, saya tidak pergi fine dining. Pelarian saya paling jauh adalah membeli martabak manis atau memesan minuman cokelat dengan memanfaatkan promo aplikasi pesan-antar makanan.

Itulah healing paling realistis yang masih bisa ditanggung saldo rekening.

Gaya hidup saya pun jauh dari kesan elegan. Dalam bayangan orang-orang di kampung, mungkin saya berangkat ke kantor menggunakan taksi atau setidaknya ojek online, sambil mengenakan outer dan kacamata hitam.

Kenyataannya, saya berjalan kaki ke kantor.

Bukan karena saya aktivis lingkungan, duta gaya hidup hijau, atau sedang membangun citra sebagai pekerja urban yang gemar berolahraga. Saya berjalan kaki semata-mata untuk memangkas biaya transportasi agar dompet bisa sedikit bernapas.

Berjalan kaki di Jaksel juga membutuhkan keahlian bertahan hidup tersendiri. Saya harus berbagi trotoar dengan pengendara sepeda motor yang kehilangan kesabaran ketika menghadapi kemacetan. Debu jalanan dan aroma knalpot menjadi sarapan kedua saya setiap pagi.

Ketika tiba di kantor, penampilan saya tentu jauh dari kata modis. Kemeja sudah agak kusut, wajah berkeringat, dan rambut tidak lagi tertata. Saya membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk mendinginkan badan di depan AC sebelum melemparkan senyum profesional dan berpura-pura menjadi pekerja kantoran elegan.

Baca halaman selanjutnya

Saat gaji Jaksel tidak Cukup untuk dikirimkan ke orang tua

Saat gaji Jaksel tidak Cukup untuk dikirimkan ke orang tua

Namun, di balik komedi hidup serba hemat itu, ada satu hal yang diam-diam mengiris hati: mengecek mutasi rekening pada akhir bulan.

Sebagai anak rantau bergelar sarjana yang bekerja di “perusahaan Jaksel”, ekspektasi keluarga terhadap saya tentu cukup tinggi. Ada harapan tersirat bahwa saya sudah hidup mapan dan bisa mengirimkan uang kepada orang tua dengan nominal jutaan rupiah setiap bulan.

Realitasnya jauh berbeda. Jangankan mentransfer jutaan rupiah, menyisihkan beberapa ratus ribu rupiah untuk dikirimkan ke kampung saja terkadang terasa seperti keajaiban finansial.

Gaji hanya mampir sebentar sebelum berpindah tangan untuk membayar kebutuhan hidup. Saya pun harus menelan gengsi bulat-bulat dan menerima kenyataan bahwa predikat “anak startup Jaksel” tidak selalu seindah nominal yang tertera di slip gaji.

Sesekali muncul rasa bersalah. Saya sudah kuliah, mendapat gelar sarjana, lalu pergi ke Jakarta untuk bekerja. Namun, setelah semua pencapaian yang terlihat bagus di atas kertas itu, saya belum juga bisa menjadi anak yang diandalkan secara finansial oleh keluarga.

Hal semacam itu tentu tidak bisa diceritakan dengan mudah kepada saudara saat Lebaran. Jauh lebih praktis untuk tersenyum ketika mereka mengira gaji saya di kerja Jaksel besar daripada menjelaskan bahwa sebagian besar pendapatan saya habis hanya untuk bertahan di kota ini.

Kerja di Jaksel beri banyak pelajaran, setara dengan S2 Jurusan Bertahan Hidup

Saya tidak memungkiri bahwa bekerja di startup dengan ritme keras telah memberi banyak pelajaran. Saya menjadi lebih cekatan, terbiasa mengerjakan banyak hal sekaligus, dan cukup terlatih menghadapi tekanan.

Saya dan teman-teman menganggapnya sebagai kawah candradimuka di kisah Gatotkaca. Ilmu yang saya terima, mental baja yang terbentuk, dan efisiensi kerja yang tertanam di otak rasanya setara dengan mengambil kuliah S2 urusan Bertahan Hidup.

Kemampuan bertahan hidup saya barangkali sudah setara dengan orang yang mengambil kuliah S2, hanya saja tanpa gelar tambahan.

Namun, saya mulai curiga bahwa istilah “kawah candradimuka” terkadang hanya menjadi cara agar penderitaan pekerja terdengar lebih gagah.

Pada akhirnya, menjadi anak rantau di Jaksel atau Jakarta Selatan membuat saya terus menjaga keseimbangan antara gengsi lanyard dan kenyataan saldo rekening. 

Saya mungkin belum mampu mentraktir keluarga di restoran mewah atau mengirimkan jutaan rupiah kepada orang tua. Untuk sementara, saya baru bisa pulang membawa cerita tentang kerasnya aspal ibu kota dan rekomendasi ayam geprek miskin.

Sekarang saya juga tahu bahwa lanyard perusahaan bukanlah sertifikat kesejahteraan. Ia hanya menunjukkan tempat saya bekerja, bukan seberapa layak saya dibayar.

Jadi, jika nanti ada saudara yang kembali bertanya apakah gaji saya besar setelah bekerja di startup Jaksel, saya sudah menyiapkan jawaban.

Besar, kok.

Besar keinginan saya untuk segera naik gaji.

Penulis: Dewi Puji Lestari
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Disuruh Pindah Negara, Saya Googling Cara Jadi Warga Selandia Baru dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai

Exit mobile version