Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kepala Suku

Gatot Nurmantyo Kecil Kemungkinan Berlaga di Pilpres 2019

Puthut EA oleh Puthut EA
10 April 2018
A A
KEPALA SUKU-MOJOK

KEPALA SUKU-MOJOK

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Melihat situasi politik di dalam tubuh partai, kecil kemungkinan bagi Gatot Nurmantyo bisa berlaga di pilpres 2019 sebagai capres atau cawapres.

Nama Gatot Nurmantyo masuk ke bursa Pilpres 2019 lewat beberapa survei. Tapi, kenapa kecil kemungkinan mantan Panglima TNI itu untuk ikut ambil bagian dalam hajatan demokrasi penting tersebut?

Gatot sering diisukan punya peluang untuk diusung oleh kubu Gerindra. Namun, Fadli Zon menegaskan: belum ada diskusi soal nama Gatot dalam berbagai perbincangan di kubu Gerindra. Pernyataan itu cukup gamblang. Rasanya tidak mungkin Gerindra yang sejak awal bulat mengusung Prabowo, tiba-tiba memberi peluang kepada orang di luar partai berlambang kepala burung garuda tersebut.

Selain bukan orang yang ikut jatuh bangun membangun dan membesarkan Gerindra, tidak ada korelasi positif antara pencalonan Gatot Nurmantyo dengan perolehan suara Gerindra jika dicalonkan. Jadi apa keuntungan buat Gerindra jika mencalonkan Gatot?

Kubu PKS pun punya daftar calon sendiri. Tentu saja, juga tidak ada nama Gatot Nurmantyo di dalamnya. Hal ini juga wajar. Sudah pasti, PKS akan memprioritaskan nama kadernya sendiri untuk berlaga dalam kancah pemilihan tampuk kepemimpinan tertinggi republik ini.

Jika kemudian terjadi kompromi politik antara Gerindra dengan PKS, lalu dianggap calon dari PKS tidak cukup menyumbang elektabilitas Prabowo, maka kecil pula kemungkinan kedua partai itu mengusung Gatot Nurmantyo sebagai cawapres Prabowo. Pasangan militer dengan militer, rasanya susah untuk dijual ke khalayak pemilih. Setidaknya rentan untuk dihantam.

Dengan logika seperti itu, alternatifnya bisa diberikan kepada sipil. Di situlah Anies Baswedan, Yusril Ihza Mahendra, atau Tuan Guru Bajang (TGB) lebih punya peluang.

Dari kubu Jokowi, resistensi terhadap Gatot Nurmantyo juga cukup besar. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari isu soal berbagai manuver Gatot ketika menjabat sebagai Panglima TNI. Kalaupun toh ada kompromi politik bahwa figur yang dipilih Jokowi bukan dari tokoh partai-partai yang mengusungnya, maka nama-nama yang dipilih besar kemungkinan bukan Gatot. Nama seperti Mahfud MD, Sri Mulyani, Moeldoko, atau yang lain, akan lebih diterima oleh semua partai.

Sementara rasanya susah buat Gatot Nurmantyo untuk mendapatkan tiket dari partai seperti Demokrat, PKB, maupun PAN. Demokrat jelas punya andalan, yakni Agus Harimurti Yudhoyono. Sementara itu, PKB sejak awal sudah menggenjot kampanye mengusung Cak Imin sebagai cawapres. Sedangkan PAN, yang memang agak kekurangan figur dengan tingkat elektabilitas tinggi, sudah mulai mendorong Zulkifli Hasan.

Logika pilpres berbeda dengan pilgub. Beberapa pilgub digunakan oleh partai untuk menjaring kader potensial, dan diharapkan bisa menyuplai suara untuk pilpres dan pileg. Hal itu yang menjelaskan misalnya, kenapa kecil kemungkinan TGB diusung oleh Demokrat. Kalau jadi gubernur didukung. Kalau mau maju di pilpres, nanti dulu.

Partai di Indonesia, ditentukan lebih banyak oleh para pendiri atau penguasa partai. Megawati adalah penguasa PDIP. Prabowo punya otoritas atas Gerindra. Suara Demokrat adalah suara SBY. Mau dideret lagi? Nasdem ya Surya Paloh. PKB ya Cak Imin. Termasuk partai baru, misalnya Perindo, jelas penguasanya adalah Hary Tanoe.

Jadi secara realitas politik dan asas rasionalitas dalam berpolitik, sangat kecil kemungkinan Gatot Nurmantyo meramaikan bursa pilpres 2019. Kalau dia mau maju sebagai capres, salah satu cara terbaik tentu saja masuk ke dalam salah satu partai politik.

Gerindra terbuka jika Gatot Nurmantyo ingin bergabung. PKS juga. Bahkan Nasdem pun siap menerima. Rasanya dengan nama tenar Gatot dan pengalamannya sebagai Panglima TNI, semua partai siap menerimanya. Tentu dengan catatan tidak ujug-ujug masuk lalu mau jadi capres atau cawapres dari partai tersebut.

Setelah berkiprah, berkontribusi, dan masuk dalam jajaran tinggi partai, barulah kemudian bisa berlaga pada pilpres. Tentu saja pilpres 2024.

Iklan

Kok lama? Ya memang. Sebab salah satu seni dalam berpolitik adalah mengelola jiwa kesabaran.

Terakhir diperbarui pada 10 April 2018 oleh

Tags: CaprescawapresFadli ZonGatotgatot nurmantyogerindraJendral gatotpanPilpres 2019pkbPKS
Puthut EA

Puthut EA

Kepala Suku Mojok. Anak kesayangan Tuhan.

Artikel Terkait

Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Wali Kota Agustina Wilujeng ajak anak muda mengenal sejarah Kota Semarang lewat kartu pos MOJOK.CO
Kilas

Kartu Pos Sejak 1890-an Jadi Saksi Sejarah Perjalanan Kota Semarang

20 Desember 2025
Gedung Sarekat Islam, saksi sejarah dan merwah Semarang sebagai Kota Pergerakan MOJOK.CO
Kilas

Upaya Merawat Gedung Sarekat Islam Semarang: Saksi Sejarah & Simbol Marwah yang bakal Jadi Ruang Publik

20 Desember 2025
Pacu Jalur Direcoki Pemerintah Jadi Cringe dan Nggak Seru Lagi MOJOK.CO
Esai

Saat Negara Turut Campur Aura Farming Pacu Jalur, Semua Jadi Terasa Cringe dan Nggak Seru Lagi

14 Juli 2025
Fadli Zon: Narasi Orde Baru dalam Bayang-Bayang Reformasi
Video

Fadli Zon: Narasi Orde Baru dalam Bayang-Bayang Reformasi

12 Juli 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warung nasi padang jual rendang khas Minang di Jogja

Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis

10 April 2026
Jurusan Antropologi Unair kerap diremehkan. MOJOK.CO

Antropologi Unair Diremehkan dan Dianggap “Gampangan”, padahal Kuliahnya Nggak Main-main dan Prospek Kerjanya Luas

9 April 2026
Mahasiswa Jogja nugas di coffee shop

Nugas di Kafe Dianggap Buang-buat Duit, padahal Bikin Mahasiswa Jogja Lebih Tenang dan Produktif

6 April 2026
Gen Z kerja di desa untuk merawat ibu. MOJOK.CO

Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia

10 April 2026
Kelas menengah ke bawah harus mawas diri Kalau pemasukan pas-pasan jangan maksa gaya hidup dalam standar dan tren media sosial MOJOK.CO

Kelas Menengah ke Bawah Harus Mawas Diri, Pemasukan Pas-pasan Gaya Hidup Jangan Pakai Standar dan Tren Media Sosial

6 April 2026
Saya Setuju Orang Jakarta Tajir Tak Betah Slow Living di Desa (Unsplash)

Orang Tajir Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Desa karena Menolak Srawung Itu Omong Kosong Kebanyakan Gagal Betah karena Ulahnya Sendiri

7 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.