Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Kenapa Om Jonru Tidak Ikut Demo Menjatuhkan Jokowi?

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
25 Mei 2015
A A
Membela Logika Silogisme Jonru Ginting

Membela Logika Silogisme Jonru Ginting

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Demo 20 Mei memperingati “Hari Kebangkitan Nasional” tidak memberikan hasil sesuai rencana. Begitu pula keesokan harinya, peringatan 17 tahun Reformasi. Sebanyak—lebih dari—20 juta mahasiswa dari seluruh penjuru kota di Indonesia yang datang ke Jakarta ternyata belum cukup membuat stabilitas negara terganggu layaknya gerakan reformasi 1998. Demo melengserkan Jokowi dari kursi kepresidenan itu akhirnya gagal.

Banyak kekecewaan yang muncul di media sosial, terutama kekecewaan terhadap Om Jonru—salah satu inisiator gerakan “Lengserkan Jokowi di 20 Mei”. Banyak netizen yang mengritik, mengeluh, bahkan tidak sedikit yang menyayangkan ketidakhadiran beliau di tengah-tengah lautan  para demonstran.

Tampaknya, orang-orang yang mengeluhkan ketidakhadiran Om Jonru ini lupa, bahwa ada pepatah klasik Kepulauan Faroe yang berbunyi begini; “Pertempuran dimenangkan oleh para prajurit di garis depan, tapi perang dimenangkan oleh para jenderal di warung kopi sambil update status.”

Paling tidak, sejarah mencatat, Bung Karno saja sebagai presiden pertama tidak pernah sekalipun secara langsung mengangkat atau menembakkan senjatanya di medan pertempuran melawan penjajah. Jadi, kenapa Om Jonru juga harus turun tangan?

Bung Karno jauh lebih berguna bagi bangsa ini sebagai simbol pemimpin bangsa yang merdeka. Kalau Bung Karno harus terjun langsung ke medan pertempuran, itu berisiko membuat bangsa ini kehilangan pemimpinannya. Maka hal itu juga berlaku untuk Om Jonru, yang lebih memiliki manfaat sebagai seorang inisiator daripada seorang eksekutor. Beliau lebih bermanfaat bagi penggemarnya sebagai tokoh inspiratif daripada sekadar turun ke jalan yang berisiko membuat jamaahnya kehilangan pemimpin.

Selain itu, Bung Karno dan Om Jonru juga memiliki kesamaan dalam membangkitkan gairah perlawanan rakyat. Bedanya, Bung Karno membakar semangat rakyat untuk terus berjuang melalui mikrofon, sedangkan Om Jonru berorasi melalui fanpage Facebook atau akun Twitter yang juga bisa membakar begitu hebat.

Itulah mengapa Om Jonru tidak perlu ikut demo bersama para mahasiswa. Tidak perlu orasi di depan Istana Negara atau bahkan sampai langsung ikut jamuan makan malam Pak Jokowi.

Sebagai seorang penulis bestseller dan motivator kepenulisan terkemuka di Indonesia, Om Jonru perlu menjaga diri. Coba, apa yang terjadi dengan jadwal seminar selama setahun dan launching-launching buku beliau jika sampai ditangkap hanya karena dianggap provokator atau korlap demontrasi?

Keselamatan, kesehatan, dan kebersihan fisik maupun jiwa Om Jonru juga perlu dijaga, terutama setelah ada isu bahwa polisi bekerja sama dengan perusahaan sedot wc untuk menyiapkan water canon penghalau demonstran.

Selain itu, dari pertimbangan ekonomi, untuk apa menghabiskan banyak energi untuk tindakan yang kemungkinan berhasilnya begitu kecil? Sebagai seorang ahli marketing di media sosial, yang memiliki ribuan likers dan followers, tentu hal semacam ini sudah Om Jonru perhitungkan dengan matang nan mantap.

Turun langsung ke jalan bukanlah solusi yang menjanjikan. Akan lebih bijak berada di balik layar dengan hanya menginisiasi, menginspirasi, dan kalau perlu sedikit menyulut api. Dengan begitu, Om Jonru bisa menggerakkan banyak orang melalui ide-ide inspiratifnya tanpa perlu beranjak dari hadapan laptop. Seperti pepatah kuno Kepulauan Fiji: “Lempar kentut, sembunyi pantat.”

Toh, sekalipun Om Jonru ikut serta di barisan terdepan para demonstran, tidak ada jaminan juga bahwa kritik, cacian, dan fitnah untuk Om Jonru akan berhenti begitu saja. Sebab apapun yang dilakukan Om Jonru akan terlihat salah di mata para haters. Lha piye? namanya juga haters.

Jika tidak ikut demo, beliau akan disalahkan karena dianggap cuma omong doang. Sekalipun ikut, beliau akan semakin ditertawakan karena cuma memimpin segelintir orang. Atau jika ikut dan demonstrasi ternyata cukup berhasil—bahkan sampai benar-benar membuat Jokowi lengser, beliau tetap saja akan dikritik, “Ah, Jonru ini pasti cuma pencitraan.” Maju kena, mundur kena.

Jadi untuk para haters, kalian harus cukup cerdas dalam mengritik dan menghujat Om Jonru. Kalian perlu berpikir dewasa, memberi kritik yang membangun, positif, dan solutif kepada Om Jonru. Beri kesempatan Om Jonru agar bekerja dalam menyuarakan pendapat kritisnya untuk pemerintahan Jokowi selama sisa masa jabatan ini. Baru juga seumur jagung, sudah main kritik saja kalian ini.

Iklan

Jangan buru-buru mencap Om Jonru gagal hanya dari periode singkat ini saja, masih ada empat tahun ke depan. Artinya, masih ada empat kesempatan di tanggal 20 atau 21 Mei di tahun-tahun mendatang. Yang tentu akan ada terobosan-terobosan hebat lagi ke depannya. Jadi mari kita tunggu, kita awasi, dan kita dukung Om Jonru dalam melaksakan tugas-tugasnya sebagai Kritikus Presiden Republik Indonesia masa bakti 2014-2019.

Terakhir diperbarui pada 1 November 2018 oleh

Tags: DemojokowiJonruMahasiswa
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Tabungan penting, tapi mahasiswa Jogja yang masih harus irit demi makan kesulitan menabung
Sehari-hari

Tabungan Itu Penting, Tapi Mahasiswa Jogja yang Masih Harus Gali Lubang Tutup Lubang Demi Makan Mana Bisa

10 Februari 2026
Asriadi Cahyadi pemilik Dcell Jogja Store, toko musik analog. MOJOK.CO
Sosok

Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja

4 Februari 2026
Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital: Harga RAM Makin Nggak Ngotak MOJOK.CO
Esai

Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal

16 Januari 2026
Bapak-ibu dihina saudara sendiri karena ingin kuliahkan anak di PTN, tapi beri pembuktian. Meski anak jadi mahasiswa di PTN ecek-ecek tapi jadi sarjana pekerja kantoran MOJOK.CO
Kampus

Ortu Miskin Dihina Saudara Kaya saat Ingin Kuliahkan Anak, Meski Kuliah di PTN Ecek-ecek Malah Punya Karier Terhormat ketimbang Anak Saudara

8 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Masjid Menara Kudus yang dibangun Sunan Kudus. MOJOK.CO

Menapaki Minaret Pertama di Indonesia untuk Mendalami Pesan Tersirat Sunan Kudus

19 Februari 2026
Kuliner Jawa terbaik yang penemunya patut diberi ucapan terima kasih. Dari pecel hingga penyetan MOJOK.CO

3 Kuliner Jawa yang Penemunya Harus Diucapin “Terima Kasih”: Simpel tapi Solutif, Jadi Alasan Orang Tak Mati Dulu

16 Februari 2026
Buka puasa di Blok M saat bulan Ramadan

Blok M Jadi Tempat Buka Puasa yang Dianggap Keren, tapi Terancam Gagal Puasa Keesokan Hari

16 Februari 2026
Sarjana nganggur diteror info loker di grup WA keluarga. MOJOK.CO

Grup WhatsApp Keluarga Besar Isinya “Teror” bagi Sarjana Nganggur, Sehari-hari Dikasih Info Loker Aneh-aneh

18 Februari 2026
Mila Sejahtera Bus Sialan, 15 Jam Disiksa Berakhir Demam MOJOK.CO

Rangkaian Penderitaan Naik Bus Mila Sejahtera dari Jogja Menuju Jember: Disiksa Selama 15 Jam, Berakhir Demam Tinggi dan Diare. Sialan!

19 Februari 2026
Jumanah pedagang jamu parem kendil di pasar jangkang Yogyakarta. MOJOK.CO

“Ngopag” ala Lansia: Menikmati Jamu Parem Kendil yang Sudah Berdiri Sejak Tiga Generasi di Pasar Jangkang Yogyakarta

17 Februari 2026

Video Terbaru

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026
Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

14 Februari 2026
Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.