Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Jalan Seturan Raya, Kawasan Paling Ribet di Sleman yang Semakin Ruwet karena Jogja Sendiri

Moddie Alvianto W. oleh Moddie Alvianto W.
2 Oktober 2023
A A
Jalan Seturan Raya Wujud Ruwetnya Jalanan Sleman dan Jogja MOJOK.CO

Ilustrasi Jalan Seturan Raya (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jalan Seturan Raya, gambaran ruwetnya Sleman dan Jogja

Jalan Seturan Raya itu sama kayak Jalan Kusumanegara. Sebuah ruas jalan yang cuma lurus saja. Saya kurang begitu memahami Jalan Seturan Raya itu mulai dari mana sampai mana. Maka, di tulisan ini, mari kita menyepakati bahwa jalanan padat itu start dari Superindo Seturan sampai perempatan tidak simetris sebelum UPN Veteran. Yah, kalau mau lanjut sampai Ringroad saya juga nggak masalah. Namanya kira-kira saja.

Meski memiliki kesamaan, ada satu perbedaan antara Jalan Seturan Raya dan Jalan Kusumanegara, yaitu kondisi aspal. Ketika mengamati aspal, baik di Jogja maupun Sleman, saya seperti merasakan perbedaan yang nyata. Kalau di Jogja, maksudnya daerah kota ya, aspal hanya halus di sekitar daerah di mana gedung pemerintah daerah berdiri. Kalau di Sleman, aspal halus hampir selalu ada di sekitar daerah bisnis.

Jalan Seturan Raya, jelas arena bisnis yang “sangat basah”. Makanya, aspal di sana (hampir) sangat halus. Khususnya di depan kampus STIE YKPN. Sayangnya, aspal yang halus ini seperti menjadi “candu” yang membius pengendara. Seakan-akan pengendara itu merasa harus memuntir kabel gas motor mereka supaya bisa melesat. Padahal, jalanan di sana sangat padat.

Selain kampus dan area bisnis yang memadati, di sana juga banyak gang/jalan kecil. Masalahnya sama seperti di Jalan Kusumanegara. Yaitu pengendara yang kurang waspada ketika keluar dari gang. Saya nggak habis pikir. Apakah mereka keluar dari gang di Seturan dan berharap akan sampai di Gurun Sahara yang sepi? Nggak, dong, yang kamu temui adalah sekumpulan pengendara yang payah sekali dalam menjaga ego mereka. Jadi, baik Sleman maupun Jogja, sama-sama ruwet.

Dua daerah yang sama-sama ruwet perihal kondisi jalanan

Jalan Seturan Raya ada di Sleman, sementara Jalan Kusumanegara ada di Jogja. Iya, 2 daerah ini memang sama-sama menyedihkan kalau membicarakan kondisi jalanan. Mojok sendiri sudah merekam keruwetan itu menjadi sebuah konten IG yang menarik. 

Mojok merekam beberapa ruas jalan di Kota Jogja dan Sleman yang dianggap menyebalkan. Beberapa ruas jalan yang dimaksud, antara lain, Jalan Kaliurang (Sleman), Jalan KH. Ahmad Dahlan (Jogja), dan Jalan Wates (Sleman). Ini kalau nanti ada yang menulis ruas jalan menyebalkan di Bantul, Kulon Progo, dan Gunungkidul artinya DIY memang ruwet WQWQWQ.

Kembali ke konten IG Mojok tadi. Kalau membaca kolom komentar, kamu akan menemukan masih banyak ruas jalan yang bikin sebal seperti Jalan Seturan Raya. Netizen paling sering menyebut Jalan Affandi atau Jalan Gejayan, lalu area depan Terminal Condong Catur, kemudian Jalan Godean yang rusaknya lestari, terakhir Jalan Wonosari yang sering kena momen “buka-tutup jalan”.

Kalau menelusuri lebih lanjut, sebenarnya, masih ada beberapa nama jalan yang ruwet dan menyebalkan. Dan, yang menyebabkan itu semua, rata-rata ya sama, yaitu padatnya kendaraan. Kalau Jalan Godean ada 1 penyebab lagi, yaitu sorotan sinar matahari sore kalau kamu berkendara dari timur ke barat. Kalau 10 tahun saja kamu rutin lewat sana ketika sore, saya yakin kamu sudah jadi mutan yang matanya bisa nyorot laser.

Pertanyaannya, benarkan masalahnya hanya karena kepadatan kendaraan?

Ruwet karena Jogja sendiri

Kata “Jogja” di subjudul ini mengarah kepada Pemerintah Provinsi DIY, ya. Maksud saya, sumber dari segala keruwetan ini ya siapa lagi kalau bukan pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten. Jalan Seturan Raya, Jalan Kusumanegara, hingga Jalan Wonosari itu tidak menyimpan dosa. Mereka menjadi menyebalkan karena tata ruang dan transportasi umum di Jogja sudah kadung jauh dari kata ideal. Ini bukan kata saya, lho.

Mari kita menjelajahi halaman demi halaman di Google. Silakan masukkan long-tail keyword dengan susunan seperti ini: “masalah transportasi umum di jogja”. Kamu akan menemukan beberapa berita terkait masalah transportasi umum di sana. Salah satunya adalah berita dari DPRD DIY sendiri yang rilis pada tanggal 6 Januari 2020.

Judul tulisannya seperti ini: “Sistem Transportasi Perkotaan di DIY Harus Dibenahi”. Artinya, sejak 2020, sudah ada kesadaran bahwa ada masalah di sektor transportasi umum. Bagaimana perkembangannya di 2023? Apakah pembaca yang mukim di jalanan Jogja dan Jalan Seturan Raya antara 2020 sampai 2023 merasakan perubahannya setelah anggota DPRD DIY yang terhormat menyadari ada masalah di sana?

Selain artikel tersebut, ada juga artikel dari Dishub DIY sendiri, yang tayang pada 22 November 2017. Iya, artikel lawas yang akan genap berusia 6 tahun di bulan November 2023 nanti. Judul artikelnya: “Ini Penyebab Warga Semakin Enggan Naik Bus Trans Jogja”. Judul yang sangat baik dari sisi SEO.

Saya tertarik ke paragraf yang bunyinya: “Kepala UPT Trans Jogja Dinas Perhubungan DIY Sumariyoto, Rabu (22/11/2017) menyebutkan penyebabnya adalah jalur Trans Jogja yang bercampur dengan lalu lintas kendaraan lain. Sedangkan pertumbuhan kendaraan di DIY sangat masif, sehingga jalan jadi sering macet. “Saat macet, otomatis waktu tempuh angkutan umum itu juga akan semakin lama.””

Iklan

Sudah hampir 6 tahun artikel itu mengudara, apakah warga Jogja dan Sleman sudah merasakan perbaikan? Selama masa edar artikel itu, apakah Trans Jogja, mengalami perbaikan yang signifikan? Silakan pembaca menilai sendiri. Saya nggak ikut-ikutan.

Pembiaran yang membuat Jalan Seturan Raya runyam

Saya tidak tahu cara pikir dan cara kerja pemerintah. Terutama ketika sejak dulu sudah tahu ada masalah yang terjadi. Lantaran nggak tahu, sebagai warga, saya hanya bisa berasumsi. Sejauh pengamatan dan pengalaman, saya merasa ada aura membiarkan masalah di Jogja dan Sleman.

Contohnya adalah perbaikan Jalan Gito Gati dan Kapten Haryadi. Sudah sejak kapan warga Sleman berteriak minta perbaikan? Baru pada 2023 ini, 2 jalan itu merasakan polesan yang lebih manja. Lalu, masalah sampah, yang sampai tulisan ini tayang, belum ada solusi jangka panjang yang meyakinkan.

Makanya, kalau Jalan Seturan Raya menjadi menyebalkan, jangan mengeluh terlalu gimana gitu. Banyak warga, baik lokal maupun pendatang merasakan bahwa banyak ruas jalan di Jogja dan Sleman itu sangat menyebalkan. Kalau ada banyak suara yang 1 nada akan sebuah fenomena itu pertanda apa? Benar sekali: Tsunami fakta!

Penulis: Moddie Alvianto W.

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Jalan Amarta, Ranjau Darat Seturan Musuh para Ojol di Jogja dan analisis menarik lainnya di rubrik ESAI.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 2 Oktober 2023 oleh

Tags: DIYjalan gejayanjalan gito gatijalan kapten hariyadijalan kusumanegaraJalan Seturan Rayajalan wonosariJalanan JogjaJogjakemacetan di jogjaseturanslemanterminal condong caturupn veteran
Moddie Alvianto W.

Moddie Alvianto W.

Analis di RKI. Tinggal di Yogyakarta.

Artikel Terkait

Ilustrasi Mie Ayam di Jogja, Penawar Kesepian dan Siksaan Kemiskinan (Unsplash)
Pojokan

Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam

19 Januari 2026
Penjual kue putu di Jogja. MOJOK.CO
Ragam

Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa

14 Januari 2026
Kos horor di Jogja.MOJOK.CO
Ragam

5 Tahun Tinggal di Kos-kosan Horor Jogja: Gajiku Lebih “Satanis” dari Tempat Tinggalku

12 Januari 2026
Dosen Profesi Nelangsa, Gaji Kalah sama Ngajar Anak SD (Unsplash)
Pojokan

Gelap Masa Depan Dosen, Lulusan S2 Jogja Mending Ngajar Anak SD di Surabaya yang Lebih Menjanjikan dari sisi Gaji

12 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital: Harga RAM Makin Nggak Ngotak MOJOK.CO

Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal

16 Januari 2026
Ilustrasi Mie Ayam di Jogja, Penawar Kesepian dan Siksaan Kemiskinan (Unsplash)

Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam

19 Januari 2026
Mohammad Zaki Ubaidillah, dari Sampang, Madura dan langkah wujudkan mimpi bulu tangkis di Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan Jakarta MOJOK.CO

Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan

19 Januari 2026
Motor Honda Vario 150 2026, motor tahan banting MOJOK.CO

Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual

15 Januari 2026
InJourney salurkan bantuan pascabencana Sumatra. MOJOK.CO

Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM

17 Januari 2026
Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut MOJOK.CO

Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut

14 Januari 2026

Video Terbaru

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.