Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Sabarnya Warga Jakarta Selatan: Rela Hidup di Gang Sempit, Padat, dan Kumuh demi Berdirinya Ratusan Hektare Lapangan Golf yang Eksklusif dan Mewah

Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis oleh Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis
8 Mei 2025
A A
Jakarta Selatan Simbol Ketamakan, yang Elite Injak Orang Melarat MOJOK.CO

Jakarta Selatan Simbol Ketamakan, yang Elite Injak Orang Melarat MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sebuah ketimpangan sosial yang mengenaskan

Bayangkan mereka harus hidup dengan kondisi rumah yang melekat satu sama lain, gang-gang kecil, ruang hidup yang tidak sehat, dan selokan atau sanitasi air yang alakadarnya. Sebut saja kawasan seperti Kampung Melayu, Bukit Duri, Manggarai, dan Pasar Manggis. 

Ketika melewati permukiman tersebut, rasanya dada begitu sesak dan pengap karena susah sekali bernafas. Sementara itu, di sisi lain, ada sebuah area luas, hijau, asri, dan penuh udara segar. Namun, hanya segelintir orang yang menikmati dan memanfaatkan area dan fasilitas tersebut. Sebuah ketimpangan sosial yang mengenaskan.

Bayangkan, dari 200an hektare lahan golf itu dikonversi jadi permukiman yang layak seperti rusun. Kita bikin asumsi 4 orang per kamar dan 50 kamar per rusun. Kemudian, dibangun total 200 rusun. Hasilnya, bisa menampung sekitar 40.000 penduduk. 

Tapi, realita memang tak selalu berpihak pada yang tak punya materi. Semua hanya imajinasi. Pemerintah selalu berpihak pada yang punya modal, bukan? Dalilnya, toh pajaknya juga untuk kepentingan warga Jakarta!

Tapi pada akhirnya, pemukiman yang padat di beberapa titik kemudian menciptakan persoalan kemacetan lalu-lintas di Jakarta Selatan. Memang, masalah kemacetan ini tidak hanya di Jaksel, semua daerah di DKI dan Kota Penyanggah juga mengalaminya. 

Tapi percayalah, persoalan macet ini erat kaitannya dengan kepadatan penduduk, minimnya infrastruktur jalan (jalan yang kurang lebar), dan membludaknya warga yang mengarah pada titik-titik tertentu yang kategorinya adalah permukiman padat penduduk. 

Teman saya yang orang Jaksel harus sering berdesak-desakan di dalam transjakarta, menahan emosi ketika macet, dan harus bersabar dengan segala tumpahan amarah dari pengguna jalan lainnya.

Simbol ketamakan di Jakarta Selatan

Dengan lahan yang terbatas karena sebagian besar digunakan untuk kepentingan eksklusif, seperti lapangan golf, pembangunan fasilitas umum yang mendukung kehidupan penduduk jadi kian utopis. Lapangan golf yang besar justru menjadi tempat yang kurang produktif dan simbol dari ketamakan.

Selain perkara permukiman dan kemacetan, yang nggak kalah penting adalah terbatasnya ketersedian Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang bisa diakses publik. Lah, Jakarta Selatan kan sudah punya taman terbuka seperti Tebet Eco Park? 

Yah, nggak bisa dong hanya mengandalkan 1 atau 2 RTH saja. Kalau mengacu pada UU nomor. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, sebuah kawasan atau perkotaan harus memiliki minimal 30% RTH dari luas wilayahnya. 

Sementara itu, Jakarta Selatan hanya punya 24,91% RTH dari total keseluruhan wilayah. Ingat ya, 30% itu minimal. Toh kalau kondisinya sepadat Jaksel, harusnya luas RTH yang disediakan bisa lebih luas lagi untuk menjaga kualitas hidup warganya tetap baik.

Pasalnya di tengah kondisi yang serba kompetitif dan penuh depresi, kehadiran RTH sangat membantu warga Jakarta Selatan untuk mengambil jeda. Mereka setidaknya bisa menghirup segarnya udara sebelum nantinya harus berkutat lagi dengan macetnya Jakarta dan sempitnya kos-kosan mereka yang luasnya seperti sebuah kandang!

Mereka tentu nggak punya materi yang cukup untuk memasuki dan menikmati kopi sambil menikmati sore hari di kawasan elite golf itu. Lagi-lagi, mereka harus rela berebut RTH gratisan yang kadang sudah nggak jadi RTH. Hal itu karena kondisinya pun penuh sesak dengan warga daerah lainnya yang juga butuh ruang untuk mengambil jeda.

Persoalan ketimpangan sosial yang akut

Sekali lagi, Jakarta Selatan yang selalu diasosiasikan sebagai kawasan modern, kekinian, dan glamor, ternyata menyimpan persoalan ketimpangan yang akut. Keberadaan lapangan golf memang bukanlah sumber masalah utama, namun ia tetap menjadi simbol ironi yang menggambarkan ketidakadilan sosial yang meluas. 

Iklan

Lapangan golf itu seperti berada di dimensi lain meski dalam satu kawasan. Di sana berisi segelintir orang yang bisa menikmati kenyamanan duniawi. Sementara itu, di sisi lain, warga pinggiran harus rela hidup berdesak-desakan di gang-gang sempit, kumuh, dan penuh polusi di tengah tumpukan sampah.

Lapangan golf yang eksklusif itu seperti menegaskan bahwa di ibu kota, mereka yang miskin harus merelakan ruang hidupnya dipersempit. Dan ruang hijau dan udara segar hanya diberikan kepada mereka yang mampu membeli.

Penulis: Muhammad Iqbal Haqiqi

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Rasanya Jadi Orang Miskin di Kemang Jakarta Selatan, Kawasan Elite yang Isinya Kaum Berduit Sepelekan Perantau Melarat dan catatan menarik lainnya di rubrik ESAI.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 8 Mei 2025 oleh

Tags: Cilandak Golf Coursejakarta selatanJakselkampung kumuh jakselkemanglapangan golf jakarta selatanmanggaraimanggarai jakarta selatanMatoa Nasional Golf CoursePondok IndahPondok Indah Golf CourseSenayan National Golf Club
Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis

Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis

Penyuka nasi goreng.

Artikel Terkait

nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO
Ragam

Nongkrong Sendirian di Kafe Menjadi “Budaya” Baru Anak Muda Jaksel Untuk Menjaga Kewarasan

14 Januari 2026
Mie ayam di Jakarta jadi saksi para pekerja berusaha tetap waras meski penuh beban hidup MOJOK.CO
Kuliner

Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua

14 Januari 2026
Kemang, Saksi Bisu Kepura-puraan Perantau Jawa: Rela Ngomong “Lu-Gue” hingga Paksa Selera Musik demi Bisa Bergaul di Jaksel MOJOK.CO
Ragam

Kemang, Saksi Bisu Kepura-puraan Perantau Jawa: Rela Ngomong “Lu-Gue” hingga Paksa Selera Musik demi Bisa Bergaul di Jaksel

6 Januari 2026
Omong Kosong Pemuja Hujan Musuh Honda Beat dan Vario MOJOK.CO
Otomojok

Pemuja Hujan di Bulan Desember Penuh Omong Kosong, Mereka Musuh Utama Pengguna Beat dan Honda Vario

27 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi "Konsumsi Wajib" Saat Sidang Skripsi

Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi

17 Januari 2026
Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut MOJOK.CO

Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut

14 Januari 2026
Derita perempuan saat naik transportasi umum di Jakarta, baik KRL maupun TransJakarta MOJOK.CO

Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan

17 Januari 2026
Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas, Pemutar Ekonomi Bangsa MOJOK.CO

Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas Abadi yang Menolak Fitur Keselamatan demi Memutar Ekonomi Bangsa

13 Januari 2026
Film Suka Duka Tawa mengangkat panggung stand-up comedy. MOJOK.CO

“Suka Duka Tawa”: Getirnya Kehidupan Orang Lucu Mengeksploitasi Cerita Personal di Panggung Komedi demi Mendulang Tawa

13 Januari 2026
alfamart 24 jam.MOJOK.CO

Alfamart 24 Jam di Jakarta, Saksi Para Pekerja yang Menolak Tidur demi Bertahan Hidup di Ibu Kota

14 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.