Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Hormati Orang Mati, Tak Peduli Apa Pun Agama dan Pilihan Politiknya

Arman Dhani oleh Arman Dhani
2 Juli 2017
A A
dokter tofik mojok

dokter tofik mojok

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Saat Dokter Stefanus Taofik meninggal dunia karena mesti berjaga dua hari berturut-turut, orang normal yang punya empati pasti akan peduli.

Kita kemudian tahu ia wafat bukan karena kelelahan bekerja selama lima hari, melainkan tersebab sindrom Brugada: kelainan yang banyak diderita laki-laki dan menjadi penyebab sudden cardiac death atau kematian mendadak saat tidur. Berita viral yang ada di media sosial kemudian bukan menjurus pada usaha untuk meluruskan kesalahpahaman tersebut, tapi kemudian berkutat pada perdebatan, “Bolehkah kita bersimpati atas kematian seorang yang berbeda agama?”

Iklan

Saat seseorang peduli hanya berdasar keimanan yang sama, itu hal wajar. Barangkali ia tumbuh dalam doktrin agama yang menganggap prioritas kepedulian mula-mula adalah kepada sesama umat. Jika sudah selesai, baru peduli ke umat yang lain.

Tidak ada yang salah dalam pemahaman ini, tapi saya kira ini merepotkan. Kelak jika akan mendonorkan darah, misalnya, barangkali ia mesti meyakinkan PMI untuk hanya mendonorkan darahnya kepada pemeluk agama yang sama. Lantas kelak, jika ia terkena demam berdarah atau kecelakaan (saya berharap semoga tidak), ia pasti akan repot bertanya apakah darah yang akan ia terima dari saudara seiman atau bukan.

Simpati dan empati adalah fitur standar yang dimiliki manusia normal. Tapi, kita tahu, di zaman yang serbakeblinger, kepedulian luar biasa mahal. Ia tidak bisa sembarang diberikan kepada siapa saja. Seseorang di Twitter menjadi terkenal karena ia bertanya agama dokter Stefanus. Ia diolok dan dirisak karena bertanya.

Sebenarnya apa sih salahnya bertanya? Apakah kita perlu mencemooh kepedulian orang lain? Beberapa orang Islam berpikir bahwa prioritas kepedulian semestinya diberikan kepada sesama umat muslim, tapi benarkah demikian? Dalam banyak kisah diceritakan bahwa Nabi demikian peduli dan toleran terhadap non muslim.

Sarjana dan intelektual muslim yang belajar sejarah relasi umat Islam dengan umat lainnya pastilah mengenal nama Mukhayrîq, seorang Yahudi Bani Tsa’labah yang pintar dan kaya raya. Saat terjadi pertempuran antara kaum muslim dan kaum kafir, Mukhayrîq dengan terbuka memerintah pengikutnya untuk membantu Nabi, padahal perang terjadi di hari Sabat, hari suci agamanya.

Baginya, membantu Muhammad dan umat muslim tidak akan menodai hari Sabat. Ia bahkan berpesan kepada pengikutnya, jika ia mati, hendaklah seluruh kekayaannya diwariskan kepada Muhammad.

Saat Mukhayrîq gugur, Nabi bersedih dan berucap bahwa ia adalah yang terbaik bagi kaumnya. Jelas Nabi mengenal Mukhayrîq dan keyakinannya, tetapi itu tidak menghentikannya untuk menunjukkan simpati dan mengangkat derajatnya sebagai seseorang yang terpuji.

Maka, jika Anda berpikir perlu membuat lapisan pertemanan berdasarkan keyakinan, Anda perlu mengingat kisah ini; bagaimana Nabi bisa mencintai, menjaga hubungan, dan memuliakan orang yang beragama lain.

Di lain kesempatan, komitmen Nabi terhadap perbedaan dan penghormatan atasnya ditunjukkan dalam kisah berikut. Dari Qois bin Sa’d dan Sahl bin Hunaif, mereka melihat Nabi sedang duduk. Kemudian rombongan orang Yahudi lewat membawa jenazah. Nabi Muhammad lantas berdiri. Para sahabat bertanya kepada Nabi mengapa ia berdiri. Bukankah yang meninggal adalah orang Yahudi?

Nabi pun menjawab, “Bukankah ia manusia?”

Nabi tidak bertanya kepada sahabat, “Maaf agamanya apa?” Tidak juga membuat kriteria lingkar pertemanan yang membatasi diri. Tentu Nabi hanya memilih sahabat-sahabat terdekat dari kalangan muslimin. Ini fakta yang tak terbantahkan. Tapi, relasinya dengan umat agama lain demikian toleran, peduli, dan hangat.

Kisah demikian tidak hanya terjadi saat mereka telah meninggal. Bagaimana Nabi Muhammad menghormati Raja Kristen Negus juga berserak dalam banyak sirah. Bagaimana Nabi mengizinkan umat Kristen Najran untuk beribadah di masjid bisa pula kita baca di Sirah Nabawiyah.

Lantas, apa alasan kita meragukan kewajiban untuk peduli terhadap sesama manusia, apa pun keyakinannya?

Soal kematian dan jenazah ini, saya ingat kisah Buya Hamka yang bergegas menyetujui permintaan untuk mengimami salat jenazah Bung Karno. Padahal, Bung Karno musuh politik yang pernah menjebloskannya ke bui.

Saya gemas dan marah tiap kali mengingat masifnya penolakan salat jenazah di Jakarta beberapa waktu lalu hanya karena perbedaan pilihan politik. Nabi dan ulama terbaik masa silam menunjukkan bagaimana mereka demikian menghormati orang mati dan tak mau menista orang-orang yang berseberangan dengan mereka.

Apa yang bisa kita pelajari dari ini?

Iklan

Anjir perlu dijelasin banget nih, Bg? Emang pembaca nga bisa mencerna sendiri?

Sayangnya begitu. Banyak orang perlu disuapi penjelasan agar bisa memahami makna dari sebuah kisah. Kelompok inilah yang kerap melabeli orang macam Jonru dan Felix Siauw sebagai cendekia atau ustadz.

Terakhir diperbarui pada 12 Mei 2021 oleh

Tags: AgamaBung Karnobuya hamkaJenazahnabi muhammadYahudi
Arman Dhani

Arman Dhani

Arman Dhani masih berusaha jadi penulis. Saat ini bisa ditemui di IG @armndhani dan Twitter @arman_dhani. Sesekali, racauan, juga kegelisahannya, bisa ditemukan di https://medium.com/@arman-dhani

Artikel Terkait

Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual MOJOK.CO

Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual

20 April 2026
Habis Doa Langsung Goyang- Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri MOJOK.CO

Habis Doa Langsung Goyang: Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri

17 April 2026
AI, ChatGPT, Kecerdasan Buatan Bisa Nggak Cerdas Lagi kalau Gantikan PNS dan Hadapi Birokrasi Fotokopi MOJOK.CO

ChatGPT Bukan Ustaz: Bolehkah Bertanya Soal Hukum Agama kepada AI?

28 Januari 2026
Katolik Susah Jodoh Tolong Jangan Login dan Ambil Jatah Kami MOJOK.CO

Cari Pasangan Sesama Katolik itu Susah, Tolong Jangan Login dan Ambil Jatah Kami

13 November 2025
intoleransi, ormas.MOJOK.CO

Pemda dan Ormas Agama, “Dalang” di Balik Maraknya Intoleransi di Indonesia

19 September 2025
Catatan Kritis Atas Reduksionisme Biologis Pemikiran Ryu Hasan MOJOK.CO

Catatan Kritis Atas Reduksionisme Biologis Pemikiran dr. Ryu Hasan

3 Juli 2025
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Tercatat 1 juta lulusan S1 (sarjana) jadi pengangguran hingga terjebak pinjol karena hidup konsumtif MOJOK.CO

Banyak Lulusan S1-S3 Nganggur Bukan Cuma karena Lapangan Kerja, Tapi Ada Juga Dua Masalah yang Jarang Disadari

19 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026

Punya 30 Kamar Kost Putri Ternyata Tidak Seindah yang Dibayangkan

19 Agustus 2026
War Tiket Upacara 17 Agustus dan Rakyat yang Selalu Dipaksa Berebut MOJOK.CO

War Tiket Upacara 17 Agustus dan Rakyat yang Selalu Dipaksa Berebut

17 Agustus 2026
tol Jogja-Solo

Tol Jogja-Solo: Rumah Tak Kena Pembebasan Lahan, Tapi Tetap Kena Debu dan Bising

22 Agustus 2026
fotografer wisuda

Suka Duka Fotografer Wisuda: Senang Mengabadikan Momen Bahagia Tapi Sial Karena ‘Harga Teman’

23 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.