Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Dilema Genteng Tanah Liat: Sejuk di Jogja, tapi Jadi Horor di Sumatera Barat

Harsa Permata oleh Harsa Permata
11 Februari 2026
A A
Dilema Genteng Tanah Liat: Sejuk di Jogja, tapi Jadi Horor di Sumatera Barat MOJOK.CO

Ilustrasi Dilema Genteng Tanah Liat: Sejuk di Jogja, tapi Jadi Horor di Sumatera Barat. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Rumah beratap genteng tanah liat memang membuat sejuk, tapi bikin trauma keluarga di Sumatera Barat sampai nggak berani tidur di dalam rumah.

Ini sejujurnya bukan untuk mengkritik rencana program gentengisasi pemerintah secara membabi buta. Saya hanya mau bercerita berdasarkan pengalaman pribadi yang cukup membekas terkait urusan atap ini. Sebuah urusan yang mungkin bagi sebagian orang sepele, tapi bagi kami di Sumatera Barat, bisa menjadi urusan hidup dan mati.

Saya berasal dari daerah Solok, Sumatera Barat. Kotamadya Solok ini berjarak sekitar kurang lebih 40 km dari Padang, ibu kota Sumatera Barat. Sedari kecil, saya hidup di rumah yang beratapkan seng. 

Suara rintik hujan yang jatuh ke atap seng adalah musik pengantar tidur kami sehari-hari. Terakhir, memang orang tua saya membangun rumah beratapkan genteng di Kota Padang, tapi sejujurnya, itu sebenarnya di luar tradisi pembangunan rumah masyarakat Sumbar pada umumnya.

Jogja beri inspirasi rumah nyaman pakainya atap genteng tanah liat

Mengapa perpindahan dari seng ke genteng ini bisa terjadi di keluarga kami? Jadi ceritanya begini. Pada tahun 1999, saya diterima sebagai mahasiswa di Jurusan Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM). 

Untuk itu, saya harus pindah dan menetap di Yogyakarta sampai lulus—atau mungkin selamanya? Jogja punya daya tarik yang sulit dijelaskan, yang membuat siapa pun betah berlama-lama di sana.

Jujur, sebelumnya pada tahun 1997, saya sudah pernah main ke Jogja dan menginap selama sebulan di rumah kos teman. Saat itu kami—saya dan dua orang teman saya—agak heran. 

Kami sering bertanya-tanya, mengapa hawa di luar sedang panas terik dan matahari seolah tepat di atas kepala, tetapi di dalam rumah tetap terasa sejuk dan adem? Di kampung saya, kalau matahari terik, atap seng akan menghantarkan panas yang membuat ruangan terasa seperti oven kalau plafonnya tidak tinggi.

Selidik punya selidik, ternyata kata teman yang dari Fakultas Teknik, rahasianya ada pada material atap. Itu karena atap yang digunakan adalah genteng tanah liat. Genteng memiliki sifat termal yang baik; ia tidak langsung menghantarkan panas matahari ke dalam ruangan. 

Hawa panas luar tidak meresap masuk. Kebetulan saat itu Jogja lagi musim kemarau, sehingga hawanya terasa sangat dingin di malam hari dan tetap nyaman di siang hari walaupun matahari bersinar sangat terik. Pengalaman itu membekas di kepala saya sebagai sebuah “kemewahan” kenyamanan.

Intinya, bukan saya yang memengaruhi Ayah saya untuk membangun rumah beratapkan genteng pada tahun 2002-2003 tersebut. Ayah dan Ibu saya memang beberapa kali ke Jogja mengunjungi saya waktu saya kuliah. Selama di sana, mereka menginap di rumah tante saya yang kebetulan sudah lama menetap di Jogja. 

Baca halaman selanjutnya Genteng tanah liat yang bikin trauma di Sumater Barat

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 11 Februari 2026 oleh

Tags: gentenggenteng tanah liatgentengisasipemerintahsumatera barat
Harsa Permata

Harsa Permata

Harsa Permata, Lahir di Aceh Selatan, besar di Solok, dengan atap seng, dan sempat "tersesat" di jalan yang benar saat belajar Filsafat di UGM. Kini menjadi dosen di USD Yogyakarta dan sedang menikmati masa-masa menjadi orang tua sambil sesekali mempraktikkan five inch punch Bruce Lee (ke tembok, bukan ke orang).

Artikel Terkait

Lagu Sendu yang Mengiringi Banjir Bandang Sumatera Barat MOJOK.CO
Esai

Lagu Sendu dari Tanah Minang: Hancurnya Jalan Lembah Anai dan Jembatan Kembar Menjadi Kehilangan Besar bagi Masyarakat Sumatera Barat

6 Desember 2025
Menanti kabar dari keluarga, korban bencana banjir dan longsor di Sumatera. MOJOK.CO
Aktual

‘Kami Sedih dan Waswas, Mereka seperti Tinggal di Kota Mati’ – Kata Keluarga Korban Bencana di Sumatera

1 Desember 2025
Parkir Liar Susah Diberantas, Siapa yang Membekingi?
Video

Parkir Liar Susah Diberantas, Siapa yang Membekingi?

10 Juni 2024
Jawa Ngatain “Polisi Rendang” ke Orang Sumatera. Nggak Sopan! MOJOK.CO
Esai

Rendang Dikira Kalio, Sudah Salah Ngotot Pula: Ketika Orang Jawa Menista Warisan Masakan Padang

18 April 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sukses Bekerja di Kota Itu Ilusi: Pesan untuk Anak Muda yang Meninggalkan Desa MOJOK.CO

Sukses Bekerja di Kota Itu Ilusi: Pesan untuk Anak Muda yang Meninggalkan Desa

23 Maret 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi

Pekerja Jakarta, Rumah di Bekasi: Dituntut Kerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik

19 Maret 2026
Alumnus UT Dapat Cuan dari Tren Foto Newspaper Photobooth di Jalan Tunjungan Surabaya. MOJOK.CO

Alumnus UT Buka Bisnis Foto ala Newspaper di Jalan Tunjungan, Satu Cetak Hanya Rp5 Ribu tapi Untungnya Bisa Sejuta dalam Sehari

25 Maret 2026
Stasiun Tugu Jogja lebih buruk dari Stasiun Lempuyangan. MOJOK.CO

Kapok Naik Kereta Eksekutif karena Turun di Stasiun Tugu Jogja, Keluar Stasiun Langsung Disuguhi “Ujian Nyata”

25 Maret 2026
Ada potensi anomali ketika wisata Jogja diserbu 8,2 juta wisatawan. Daya beli rendah, tapi ada ancaman masalah MOJOK.CO

Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi

19 Maret 2026
Tiyo Ardianto BEM UGM: Transformasi Gerakan Mahasiswa di Tengah Krisis Politik dan Ekonomi

Tiyo Ardianto: BEM UGM dan Transformasi Gerakan Mahasiswa di Tengah Krisis Politik dan Ekonomi

23 Maret 2026

Video Terbaru

Tirta Aji Mulih Deso: Pemancingan Ikan Predator dengan Sistem Catch and Release (CNR)

Tirta Aji Mulih Deso: Pemancingan Ikan Predator dengan Sistem Catch and Release (CNR)

23 Maret 2026
Tiyo Ardianto BEM UGM: Transformasi Gerakan Mahasiswa di Tengah Krisis Politik dan Ekonomi

Tiyo Ardianto: BEM UGM dan Transformasi Gerakan Mahasiswa di Tengah Krisis Politik dan Ekonomi

23 Maret 2026
Catatan Tan Malaka tentang Perburuan Aktivis 1926 yang Terlupakan

100 Tahun Naar De Republiek: Catatan Gelap Tan Malaka

20 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.