MOJOK.CO – Rumah beratap genteng tanah liat memang membuat sejuk, tapi bikin trauma keluarga di Sumatera Barat sampai nggak berani tidur di dalam rumah.
Ini sejujurnya bukan untuk mengkritik rencana program gentengisasi pemerintah secara membabi buta. Saya hanya mau bercerita berdasarkan pengalaman pribadi yang cukup membekas terkait urusan atap ini. Sebuah urusan yang mungkin bagi sebagian orang sepele, tapi bagi kami di Sumatera Barat, bisa menjadi urusan hidup dan mati.
Saya berasal dari daerah Solok, Sumatera Barat. Kotamadya Solok ini berjarak sekitar kurang lebih 40 km dari Padang, ibu kota Sumatera Barat. Sedari kecil, saya hidup di rumah yang beratapkan seng.
Suara rintik hujan yang jatuh ke atap seng adalah musik pengantar tidur kami sehari-hari. Terakhir, memang orang tua saya membangun rumah beratapkan genteng di Kota Padang, tapi sejujurnya, itu sebenarnya di luar tradisi pembangunan rumah masyarakat Sumbar pada umumnya.
Jogja beri inspirasi rumah nyaman pakainya atap genteng tanah liat
Mengapa perpindahan dari seng ke genteng ini bisa terjadi di keluarga kami? Jadi ceritanya begini. Pada tahun 1999, saya diterima sebagai mahasiswa di Jurusan Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM).
Untuk itu, saya harus pindah dan menetap di Yogyakarta sampai lulus—atau mungkin selamanya? Jogja punya daya tarik yang sulit dijelaskan, yang membuat siapa pun betah berlama-lama di sana.
Jujur, sebelumnya pada tahun 1997, saya sudah pernah main ke Jogja dan menginap selama sebulan di rumah kos teman. Saat itu kami—saya dan dua orang teman saya—agak heran.
Kami sering bertanya-tanya, mengapa hawa di luar sedang panas terik dan matahari seolah tepat di atas kepala, tetapi di dalam rumah tetap terasa sejuk dan adem? Di kampung saya, kalau matahari terik, atap seng akan menghantarkan panas yang membuat ruangan terasa seperti oven kalau plafonnya tidak tinggi.
Selidik punya selidik, ternyata kata teman yang dari Fakultas Teknik, rahasianya ada pada material atap. Itu karena atap yang digunakan adalah genteng tanah liat. Genteng memiliki sifat termal yang baik; ia tidak langsung menghantarkan panas matahari ke dalam ruangan.
Hawa panas luar tidak meresap masuk. Kebetulan saat itu Jogja lagi musim kemarau, sehingga hawanya terasa sangat dingin di malam hari dan tetap nyaman di siang hari walaupun matahari bersinar sangat terik. Pengalaman itu membekas di kepala saya sebagai sebuah “kemewahan” kenyamanan.
Intinya, bukan saya yang memengaruhi Ayah saya untuk membangun rumah beratapkan genteng pada tahun 2002-2003 tersebut. Ayah dan Ibu saya memang beberapa kali ke Jogja mengunjungi saya waktu saya kuliah. Selama di sana, mereka menginap di rumah tante saya yang kebetulan sudah lama menetap di Jogja.
Baca halaman selanjutnya Genteng tanah liat yang bikin trauma di Sumater Barat














