Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Fenomena BAB Sembarangan di Jakarta: Seolah-olah Sedang Dianalisis Filsuf Slavoj Zizek

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
8 Oktober 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Filsuf Slavoj Zizek melihat kultur sebuah bangsa dari bentuk klosetnya. Gimana kalau hal itu digunakan untuk membaca kebiasaan BAB sembarangan di Jakarta?

Dalam bayangan orang dusun kayak saya, suka tidak suka, kota Jakarta adalah representasi dari kemajuan Indonesia. Gedung-gedung pencakar langit, perumahan elite yang mewah, sampai gedung-gedung pemerintahan yang berkharisma. Segala macam kemewahan yang ada di Indonesia, bisa dilihat di sana.

Iklan

Oleh karena itu, saya hampir tidak bisa percaya ketika membaca berita bahwa masih ada warga Jakarta yang Buang Air Besar (BAB) sembarangan alias boker sembarangan.

Yap, situ nggak salah baca. Boker sembarangan!

Yawla, informasi itu benar-benar menghancurkan imajinasi saya tentang Jakarta.

Selama ini saya pikir masalah Jakarta itu “cuma” macet, polusi udara, FPI, jebul kota seperti Jakarta punya masalah yang juga sering dihadapi warga Gunung Kidul atau warga Sleman kayak saya. Yakni juga sulit menghadapi warganya yang suka BAB sembarangan.

Temuan ini (iya, temuan warga yang BAB sembarangan), diakui langsung oleh Direktur Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Danis H. Sumadilaga. Dilaporkan dari detikcom, orang-orang yang masih boker sembarangan ini cukup banyak dan merupakan realitas sosial.

(((realitas sosial)))

“Masih banyak. Ya itu realitas yang ada di kita begitu. Jadi memang kita masih punya masalah akses sanitasi,” kata Danis. “Akses sanitasi kita sekitar 70-an %, jadi memang masih banyak belum punya akses yang baik dan aman secara nasional,” tambahnya.

Hal ini semakin ditegaskan dengan keterangan dari Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Terutama tentang kebiasaan warga Tanjung Duren Utara, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, yang boker sembarangan.

“Ya itu memang PR (pekerjaan rumah) kita di Jakarta,” kata Anies Baswedan.

Tentu saja jangan dibayangkan orang-orang “kota” Jakarta ini berjejer-jejer di pinggir kali lalu boker berjamaah seperti di kampung-kampung pelosok Indonesia. Yang dimaksud BAB sembarangan di sini adalah pembuangan kloset mereka kebanyakan tidak ada saptic tank-nya, alias langsung meluncur bebas ke kali. Tokainya jadi bebas gitu. Dari perut langsung berenang ke alam bebas.

Maka tak heran jika Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga Inad Luciawati Rustam Effendi merasa malu dengan kebiasaan masyarakatnya.

“Padahal dari kantor ini (Kelurahan Tanjung Duren Utara) masih terlihat Monas. Saya malu ada warga di sini BAB-nya sembarangan,” kata Inad Luciawati.

Iklan

Fakta ini kemudian bikin saya mengerti. Ya pantes aja sih orang Jakarta pada marah-marah kalau kalinya banjir—terutama yang di daerah Jakarta Barat. Ternyata masalahnya memang sangat fundamental: kali mereka ada tokainya, Njiiir.

Jika melihat hal tersebut, saya jadi teringat akan tulisan Mas Cepi Sabre berjudul “Jokowi, Ahok, dan Kloset yang Ditukar” yang menyorot bagaimana filsuf Slavoj Zizek melihat kultur sebuah bangsa dari cara bokernya. Wabilkhusus, dilihat dari bentuk klosetnya.

Ada tiga kloset alias jamban yang pernah dibaca oleh Zizek.

Pertama kloset yang lubangnya ada di belakang seperti orang-orang Perancis. Alias tokainya akan langsung ilang begitu terjun. Kedua, kloset yang lubangnya ada di depan seperti orang-orang Jerman. Dan orang-orang Inggris yang memakai kloset dengan lubang di tengah.

Dari desain kloset tersebut, dibaca oleh Zizek kemudian, kalau orang Perancis suka dengan kepraktisan. Langsung. To the point. Namanya tokai ya harus segera ilang begitu dibuang.

Sedangkan orang Jerman, lebih demen melakukan observasi dulu. Apa yang mereka makan, sehatkah pencernaan mereka? Oleh karena itu, perlu dilakukan pemeriksaan dini ke tokai mereka sendiri dengan menempatkan lubang kloset di depan.

Lalu orang Inggris yang lebih suka menimbang-nimbang. Memikirkan dulu, sebelum mengambil keputusan. Apakah langsung disentor? Atau dibiarkan mengambang begitu saja?

Menurut Mas Cepi di tulisan tersebut, kloset orang Indonesia pada umumnya adalah desain kloset mancanegara. Lubang di belakang, tapi tidak seperti desain kloset Perancis yang langsung hilang, pada lubangnya diberi sedikit genangan air. Dibuang, tapi juga ditimbang-timbang dulu.

Membaca kembali tulisan tersebut, saya jadi penasaran. Bagaimana misalnya Zizek menanggapi fenomena “boker sembarangan” yang dianggap pemerintah daerah Jakarta sebagai “realitas” ini?

Secara umum, hal yang dikeluhkan oleh Pemerintah DKI Jakarta adalah kesadaran pentingnya septic-tank. Jadi—meski klosetnya di dalam rumah—masih ada kloset di Jakarta yang tidak punya bak penampungan dan langsung disalurkan ke kali atau sungai terdekat. Dibuang ke sana secara serta-merta tanpa perasaan berdosa.

Jika dibaca ala Zizek desain kloset adalah representasi bangsa, maka ketiadaan septic-tank juga seharusnya bisa menjadi gambaran bagaimana kultur masyarakat Jakarta.

Bisa jadi perkara septic-tank di Jakarta ini bukanlah sefilosofis tafsir desain kloset orang-orang Perancis, Inggris, atau Jerman yang di sana tertanam juga kultur bangsa. Di Jakarta hal kayak gini bisa saja cuma sebatas persoalan ekonomis semata—alih-alih persoalan ideologis.

Lha iya dong, gimana cara menyadarkan orang-orang ini mau bangun septic tank kalau urusan sandang, pangan, dan papan saja belum selesai? Jangankan urusan sandang dan papan, kadang-kadang urusan pangan saja belum selesai.

Kayaknya Pemerintah Jakarta bakal sulit meminta masyarakat bisa memikirkan bagaimana cara membuang isi perutnya, jika di antara warganya saja masih ada yang kebingungan untuk mengisi perutnya (data dari UNICEF pada 2017 menyebut Indonesia punya 7,16 juta keluarga yang masih BAB sembarangan).

Jika di negara lain ada septic-tank sebagai penampung, karena urusan isi perut itu urusan masing-masing, maka di Jakarta (dan mungkin Indonesia pada umumnya), urusan buang isi perut adalah juga urusan publik.

Nah, ketika jadi urusan publik, ya itu jadi urusan pemerintah juga. Dan ketika jadi urusan pemerintah, kadang-kadang ini bisa jadi urusan politik juga.

Maka, untuk Ibu Inad Luciawati yang merasa malu dengan kebiasaan boker sembarangan warganya, saran saya, sebaiknya Ibu tak perlu malu begitu.

Begini lho, Bu. Hal seperti ini justru menunjukkan bahwa masyarakat Jakarta sebenarnya punya kelebihan yang sering dilupakan warga Indonesia pada umumnya. Paling tidak perkara ini menunjukkan kalau warga Ibu ternyata tidak begitu suka dengan kehidupan yang individualistik.

Saya malah bersyukur, ternyata warga Jakarta juga ada yang masih sama seperti orang-orang di dusun pelosok Indonesia. Mereka masih suka dengan kebersamaan dan gotong-royong. Gotong-royong buang tokai ke kali—misalnya.

Lagian, ini kan jadi tanda bahwa masyarakat Jakarta, sangat percaya dengan pemerintah daerahnya. Ya iya dong, kalau nggak percaya, ngapain mereka buang tokai ke ruang publik begitu? Ya nggak?

Jika orang Perancis, Jerman, dan Inggris mungkin suka menyelesaikan masalah personal di bilik toiletnya masing-masing karena negara liberal seperti mereka lebih menghargai hak pribadi, maka bagi orang Jakarta, semua perkara harus dimusyawarahkan dulu ke ruang terbuka. Di buang dulu ke luar, agar semua orang bisa menilai dan menghakimi bersama.

Tidak boleh lagi ada urusan privat-privat di negeri ini. Semua harus terbuka. Dari urusan keyakinan agama, pilihan politik, dan sekarang—urusan tokai juga. Dan hal inilah yang bisa kita baca dari kota etalase Indonesia.

BACA JUGA Memulai Revolusi dari Desain Anak Tangga, Bantaran Kali, dan Kloset atau artikel Ahmad Khadafi lainnya.

Terakhir diperbarui pada 8 Oktober 2019 oleh

Tags: BAB sembaranganjakartaSlavoj Zizek
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

kebayoran baru, jakarta selatan, jakarta.MOJOK.CO
Urban

Punya Kos Murah di Kebayoran Baru adalah Kemewahan, Biar Berisik tapi Setidaknya Menyelesaikan 3 Masalah Besar Perantau di Jakarta

3 Juli 2026
Naik BYD Menyusuri Jalanan Jakarta Bikin Saya Jadi Kampungan MOJOK.CO
Otomojok

Pengalaman Menahan Rasa Penasaran di Dalam Kabin Mewah BYD demi Tidak Terlihat Kampungan ketika Menyusuri Jalanan Jakarta

30 Juni 2026
Nasib desainer grafis di desa kabupaten: jasa desain logi dianggap gratisan, pindah Jakarta kaget ternyata cuannya menjanjikan MOJOK.CO
Sehari-hari

Jasa Desain Logo di Desa Kabupaten Dianggap Sepele hingga Jadi Gratisan, Pindah Jakarta Kaget 1 Logo Cuannya Menjanjikan

23 Juni 2026
Kerja di Jakarta, Cara Terbaik Buat Melihat Sisi Buruk Manusia adalah Kerja di F&B.mojok.co
Urban

FnB di Jakarta Bikin Sengsara Pekerjanya: Bisnis Elite tapi Gaji Karyawannya Seuprit, yang Dimiliki Artis bahkan Lebih Tak Manusiawi

2 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif MOJOK.CO

Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif

21 Juli 2026
Pemuda lulusan SMK tidak menyerah mencari kerja dengan modal ijazah SMK demi orang tua MOJOK.CO

Modal Ijazah SMK dan Pengalaman Tak Nyerah Cari Kerja demi Orang Tua, Meski Sering Terima “Penolakan” karena Fisik

21 Juli 2026
Pakai jastip Mie Gacoan di Jombang: bayar lebih mahal untuk menu membagongkan MOJOK.CO

Pakai Jastip Mie Gacoan Ala Orang Jombang Pinggiran: Niat Hindari Kenorakan, Yang Datang Menu Membagongkan

20 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri.MOJOK.CO

Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri

17 Juli 2026
Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan MOJOK.CO

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan

16 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.