Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM

Harsa Permata oleh Harsa Permata
29 Juni 2026
A A
Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM MOJOK.CO

Ilustrasi Dikira "Komunis" tapi Fasih Baca Al-Qur'an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ibu menangis usai saya jadi imam salat

Saya masih percaya Tuhan itu ada, dan saya masih melaksanakan ibadah sebagaimana mestinya. Saya juga masih suka baca buku-bukunya Buya Hamka, seperti Falsafah Hidup, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka’bah, dan lain-lain.

Puncaknya adalah saat saya hampir lulus dan pulang ke kampung halaman. Saya didapuk menjadi imam salat untuk keluarga besar kami. 

Iklan

Saat salam terakhir dan memutar wajah, saya melihat Ibu menangis terharu. Mungkin beliau sempat mengira anaknya sudah benar-benar “hilang” di hutan pemikiran kiri Jogja, namun nyatanya sang anak masih fasih memimpin doa di atas sajadah.

Komunis kok lancar baca Qur’an

Ironi ini sebenarnya mencapai puncaknya di ruang kelas Filsafat Islam. Suatu hari, Bu Dosen tampak terperangah saat saya membaca surat Al-Ma’un dengan makhraj dan tajwid yang fasih. 

Beliau tahu betul reputasi saya di kampus: tukang demo, sering orasi, di kelas juga sering mengajak debat mahasiswa lainnya dengan argumentasi kekiri-kirian, dan spesialis penempel pamflet anti-kapitalisme yang garis keras.

Beliau berujar santai, “Wah, ternyata komunis lancar baca Qur’an juga, ya?”

Saya cuma bisa mengelus dada. Ingin rasanya protes dan menjelaskan bahwa membela hak rakyat tidak otomatis membuat saya jadi pengikut Marx dan Lenin. Tapi ya sudahlah, demi menjaga kerukunan (dan demi nilai A yang akhirnya memang saya dapatkan), saya pilih diam. 

Lagipula, apalah arti sebuah label jika Al-Ma’un masih terpatri di kepala dan bakti pada orang tua masih terjaga?

Setelah lulus, saya pun jadi Guru Agama Islam di sebuah Sekolah Internasional di Jakarta. Sehari-harinya malah sering ketemu dengan para guru dan murid yang memiliki sikap pro-Palestina. 

Memang sih, dulu waktu kuliah, organisasi tempat saya bernaung sempat mengadakan demo menyuarakan kemerdekaan Palestina, saat Amerika Serikat menyerang Irak dan Israel menyerang Gaza serta Tepi Barat.

Poinnya, bagi siapa pun, sebaiknya jangan menghakimi seseorang dari apa yang terlihat. Belum tentu minat baca buku kiri akan menjadikan seseorang komunis atau ateis garis keras. 

Karena pikiran seseorang tidak ditentukan oleh apa bacaannya semata, melainkan bagaimana amalnya dalam kehidupan sehari-hari—ceile, pikiran ustaz saya tak sengaja keluar.

Untuk Ayah (Papa) yang sekarang sudah beda alam dengan saya, terima kasih ya Pa, sudah berdialog dan mengenalkan banyak buku serta perspektif ke saya. InsyaAllah semua yang Papa ajarkan sangat berguna bagi saya dalam menjalani kehidupan yang penuh liku ini.

Penulis: Harsa Permata
Editor: Agung Purwandono

Iklan

BACA JUGA Membaca Serial Upin Ipin Lewat Kacamata Karl Marx: Kenapa Mulut Fizi Pengen Ditabok dan Ehsan Adalah Borjuis Kampung

 

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 29 Juni 2026 oleh

Tags: filsafat ugmKarl MarxKomunispilihan redaksi
Harsa Permata

Harsa Permata

Harsa Permata, penikmat lagu-lagu lama yang gelisah melihat musisi zaman sekarang lebih sibuk mengurusi hati yang patah ketimbang perut yang lapar. Sehari-hari bisa ditemukan di antara tumpukan buku dan koleksi lagu lawas.

Artikel Terkait

Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO
Sehari-hari

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Derita Orang Rembang, Makan Mie Gacoan Harus ke Tuban MOJOK.CO
Catatan

Makan Mie Gacoan adalah Kemewahan bagi Anak Muda Desa, Rela Motoran 2 Jam Demi Makanan yang “Menyiksa” Mulut Mereka

14 Juli 2026
donasi ekonomi.MOJOK.CO
Urban

“Rakyat Bantu Rakyat” Menguat, tapi Jangan Jadi Alasan Pemerintah Lepas Tangan dan Abai Pada Nasib Masyarakat

14 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya MOJOK.CO

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya

18 Juli 2026
Kisah sebuah desa di Kebumen, Jawa Tengah, yang bangkit dari kemiskinan MOJOK.CO

Cerita Desa di Kebumen Bangkit dari Kemiskinan: Punya Rumah Layak Huni, Modal Usaha, hingga Pengembangan Peternakan

14 Juli 2026
Pemuda asal Garut sukses jadi konten kreator perjalanan dengan modal ijazah SD. MOJOK.CO

Nekat Keliling Indonesia Bermodal Ijazah SD, Mantan Pedagang Es Krim Asal Garut Ini Malah Sukses Jadi Konten Kreator Perjalanan

17 Juli 2026
Impact of Asia Limited (IOA) Global Pte Ltd Singapura jajaki kerja sama jangka panjang dengan Jawa Tengah lewat investasi manufaktur hingga pengembangan SDM MOJOK.CO

Peluang Investasi dan Kesempatan Pelatihan di China bagi Anak Muda Jateng

14 Juli 2026
sarjana, ijazah s1, pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO

Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan

20 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.