MOJOK.CO – Di Wamena, Papua Pegunungan, menjadi sarjana kadang bukan soal menyelesaikan skripsi, tapi soal berhasil sampai ke kampus dalam keadaan selamat.
Sebelum menjadi dosen di Ambon, saya pernah mengajar selama hampir dua tahun di Wamena, tidak lama setelah saya menamatkan studi di Jogja. Pengalaman itu membuat saya sadar bahwa teori-teori pendidikan yang terlihat hebat dalam dokumen negara ternyata bisa mendadak terlihat lucu ketika dibawa ke pegunungan Papua.
Dalam dokumen negara, pendidikan tampak tertata rapi. Ada kurikulum, kalender akademik, capaian pembelajaran, indikator kinerja, akreditasi, dan berbagai instrumen evaluasi.
Semuanya disusun sedemikian sistematis sehingga pendidikan terlihat sebagai persoalan teknokratis yang cukup diselesaikan dengan rapat, formulir, dan pergantian istilah kebijakan.
Di kampus lain mahasiswa bolos karena malas bangun pagi, di Wamena karena nyawa jadi taruhan
Namun, Indonesia tidak seluruhnya hidup di dalam dokumen. Di Wamena, Papua Pegunungan saya belajar bahwa kegiatan pembelajaran kadang tidak paralel dengan isi kalender akademik, karena adanya perang suku.
Saat konflik bergejolak, mahasiswa tidak datang ke kampus bukan karena malas atau tidak disiplin, tapi karena mereka masih ingin pulang dalam keadaan selamat.
Dosen, pun sering kali lebih mengandalkan informasi masyarakat daripada surat edaran dari kampus. Kalimat sederhana seperti, “Bapa, situasi tidak aman,” sering menjadi tanda bahwa situasi akan memburuk.
Perkuliahan dihentikan, kampus mendadak kosong, dan semua orang berusaha menghindari kemungkinan terburuk. Pada saat yang sama, sebagian birokrat pendidikan mungkin masih sibuk menghitung sitasi Scopus dan target publikasi internasional.
Setiap tanggal 1 Desember, suasana kampus juga berbeda. Sebagian mahasiswa memilih tidak masuk kuliah karena mengikuti berbagai aksi yang berkaitan dengan peringatan Hari Kemerdekaan atau Hari Bangsa Papua Barat. Di banyak kampus lain, mahasiswa mungkin bolos kuliah karena konser musik, turnamen futsal, atau sekadar malas bangun pagi.
Di Wamena, sebagian mahasiswa tidak hadir karena mereka sedang berhadapan dengan sejarah, identitas, dan keyakinan politik yang hidup di tengah masyarakat mereka. Karena itu, ada satu pertanyaan yang berulang kali muncul di kelas mana pun, mata kuliah apa pun, semester berapa pun:
“Menurut bapa, Papua bisa merdeka atau tidak ee?”
Pertanyaan itu menunjukkan bahwa sebagian calon sarjana ini tidak hanya memikirkan prospek karier atau peluang kerja semata. Mereka sedang bergulat dengan pertanyaan yang lebih mendasar. Tentang bagaimana masa depan politik komunitas mereka sendiri.
Untuk jadi sarjana, mahasiswa di Wamena punya tantangan kalender adat dan komunitas
Semakin lama mengajar, semakin saya memahami bahwa mahasiswa tidak hanya hidup dalam kalender akademik, tapi juga kalender adat dan kalender komunitas.
Salah satu contohnya adalah tradisi duka. Ketika ada anggota keluarga atau komunitas yang meninggal, mahasiswa sering harus pulang ke kampung halaman meskipun sedang kuliah.
Awalnya saya menganggapnya sebagai persoalan prioritas. Belakangan saya memahami bahwa dalam masyarakat komunal di Pegunungan Papua, hadir dalam duka bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan investasi solidaritas.
Negara barangkali percaya masa depan mahasiswa salah satunya ditentukan oleh kehadiran di ruang kuliah, tapi komunitas percaya bahwa masa depan seseorang ditentukan oleh kesediaannya hadir ketika komunitas berduka. Kampus memberikan sanksi akademik bagi yang tidak hadir.
Komunitas memberikan sanksi sosial bagi yang absen. Dan bagi banyak mahasiswa, kehilangan komunitas jauh lebih berbahaya daripada kehilangan beberapa poin kehadiran.
Perjuangan jalan kaki 7 hari demi jadi sarjana di Wamena
Selain itu, yang paling berat juga adalah perjuangan mahasiswa itu sendiri. Sebagian dari mereka yang berasal dari daerah-daerah pedalaman, ketika liburan usai, mereka belum tentu bisa kembali ke kampus.
Bandara dapat ditutup, penerbangan dihentikan, atau situasi keamanan yang tidak memungkinkan.
Akibatnya, mereka harus menunggu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan untuk kembali mengikuti perkuliahan. Ironisnya, pada saat yang sama, seminar-seminar pendidikan nasional sibuk berbicara tentang transformasi digital dan pembelajaran berbasis teknologi.
Diskusi itu penting, tetapi di sebagian wilayah Papua persoalannya jauh lebih mendasar. Mahasiswanya bahkan belum tentu bisa sampai ke kampus.
Ada juga sebagian mahasiswa pedalaman yang memilih jalan kaki dari kampungnya sampai ke Wamena, ketika arus balik mudik karena aktifitas perkuliahan sudah mulai aktif.
Saya pernah bertanya kepada seorang mahasiswa.
“Ko biasanya jalan kaki dari kampung sampe ke Wamena itu berapa lama?”
“Lima sampe tujuh hari, bapa.”
Ia tidak bercanda. Mereka berjalan melintasi pegunungan, membawa bekal seadanya, tidur di perjalanan, lalu melanjutkan langkah keesokan harinya.
Rasanya, sulit menemukan definisi motivasi belajar yang lebih nyata daripada mahasiswa calon sarjana ini yang berjalan selama seminggu hanya untuk mengikuti kuliah.
Menjadi sarjana bukan soal menyelesaikan skripsi, tapi sampai kampus dalam kondisi selamat
Tapi, kenyataan yang paling menampar saya adalah ketika menemukan sebagian mahasiswa yang belum bisa membaca. Mereka telah melewati SD, SMP, dan SMA.
Sistem pendidikan meluluskan mereka pada setiap tahap, tetapi gagal memastikan bahwa mereka benar-benar memperoleh kemampuan paling dasar. Itu bukan kegagalan individu, tapi kegagalan sistemik.
Bukti bahwa pendidikan kita kadang lebih sibuk memastikan peserta didik naik kelas daripada memastikan mereka memperoleh pengetahuan.
Negara bergonta-ganti kurikulum. Nama berubah, jargon berubah, menteri berganti wajah, kementerian berganti slogan.
Namun di Wamena, mahasiswa tetap harus menghindari konflik, menghadiri duka, menghadapi ketegangan politik, menunggu bandara dibuka, berjalan berhari-hari melintasi pegunungan, dan terkadang berjuang melawan keterbatasan literasi yang diwariskan sistem.
Itulah kenapa, setiap kali melihat mahasiswa mengenakan toga, saya tidak melihat sekadar angka IPK atau status sarjana. Saya melihat orang-orang yang berhasil bertahan melawan geografi, konflik, kemiskinan, dan kelalaian negara.
Di Wamena, saya belajar bahwa menjadi sarjana kadang bukan soal menyelesaikan skripsi. Adakalanya, menjadi sarjana adalah soal berhasil sampai ke kampus dalam keadaan selamat.
Penulis: Syamsul Bahri
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius untuk Mengenal Perlawanan Rakyat Prancis dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai.
