Determinasi Ibu Menyusui dan Sebalnya Menghadapi Mom Competition Melahirkan Normal atau C-Section

Determinasi Ibu Menyusui dan Sebalnya Menghadapi Mom Competition Melahirkan Normal atau C-Section MOJOK.CO

Determinasi Ibu Menyusui dan Sebalnya Menghadapi Mom Competition Melahirkan Normal atau C-Section MOJOK.CO

MOJOK.CO – Melahirkan dan menjadi ibu menyusui adalah pengalaman luar biasa. Dan pengalaman menghadapi mom competition itu menyebalkan banget.

“Mulai sekarang harus percaya diri untuk menyusui ya, Bu,” kata bidan yang membantu persalinanku. Percaya diri? Memang butuh kepercayaan diri untuk menyusui anak sendiri? Pikirku saat itu, ibu baru yang minim ilmu.

Beberapa jam setelah lahir, anakku menangis keras. Aku yang bersama keluargaku menginap di ruang perawatan yang alhamdulillah cukup nyaman sangat bahagia mendengar tangisannya. Dan insting kami sama, anakku ingin menyusu.

Sebagai ibu menyusui yang masih pemula, aku masih malu-malu membuka kancing daster di tengah keluarga. Ah, ternyata benar kata bidan, menjadi ibu menyusui butuh kepercayaan diri.

Aku mulai belajar menyusui anakku. Teknik pelekatan yang kupelajari berminggu-minggu dari laman yang memuat how to breastfeed nyatanya tak semudah yang kubayangkan. Apa yang terjadi? Sakit, lecet, dan air susu cuma menetes. Kata kakakku, itu normal. Perjuangan meng-ASI-hi dimulai.

ASI booster mulai dikumpulkan oleh suami, kakak, dan keluargaku. Kakakku menyiapkan makanan untuk membantu produksi ASI sampai aku mampu masak sendiri. Di hari ketiga, kepercayaan diri mulai terasa penuh tapi tetap, air susu belum mengucur deras.

Setelah dipijat, baru terasa nikmatnya menyusi anakku yang sangat lahap. Apa perjalanan selanjutnya lancar? Ternyata tidak. Nafsu makanku ternyata tidak terlalu tinggi seperti kebanyakan ibu menyusui setelah melahirkan. Dan malam harinya, anakku sering menangis. Bahkan beberapa hari dia bisa menangis setiap setengah jam, yang mengakibatkan kami, orang tua newbie tidak tidur semalaman, berpikiran macam-macam, stres.

Kami yang baru belajar berkoordinasi ini mulai mencoba untuk saling memahami dan memberi toleransi. Suamiku memijat punggungku saat aku menyusui sambil sesekali menyuapiku makanan dan minuman. Pekerjaan rumah lebih banyak dikerjakan olehnya. Aku berusaha menambah porsi makanku, berfikir positif, dan menyuplai otakku dengan informasi seputar ASI.

Menetapkan jadwal memompa ASI

Dahsyatnya formula Allah dalam ASI yang diceritakan oleh banyak artikel membuat tekadku kokoh untuk memberikan ASI selama 2 tahun penuh.

“Allah pasti memberi kita anak beserta makanannya,” adalah kata-kata kakakku yang menjadi bekalku untuk selalu yakin dan percaya diri bahwa aku bisa menyusui anakku selama 2 tahun penuh.

History di search engine mulai penuh dengan bermacam-macam artikel tentang pompa ASI untuk persiapan perjuangan menjadi ibu menyusui ketika aku mulai bekerja-ASIP (Air Susu Ibu Perah). Aku mulai dari pompa ASI manual yang paling terjangkau.

Usia anakku baru menginjak 10 hari. Aku pikir ini waktu yang tepat untuk mulai menabung ASIP. Percobaan pertama, aku memerah selama kurang lebih 30 menit dengan hasil 20 ml. Lalu 3 jam selanjutnya, aku mencoba dengan durasi yang sama dan berhasi mendapatkan 20 ml lagi. Seiring waktu, hasil pompa meningkat menjadi 80 ml, 100 ml, dan seterusnya.

Aku mencoba sharing dengan rekan kerjaku yang lebih berpengalaman perihal memompa ASI. Dia merekomendasikan menggunakan pompa elektrik yang disetujui oleh suamiku. Dan benar, double electric pump membuat aktifitas memompa tidak terlalu memakan waktu dan hasilnya alhamdulillah banyak. Sekali memompa dalam durasi 30 menit, aku bisa menghasilkan paling banyak 400 ml.

Cuti melahirkan telah usai, tabungan ASI sudah cukup banyak. Seingatku hampir 40 kantong memenuhi freezer kami. Aku mulai membiasakan diri bangun jam 4 pagi. Setelah selesai memasak, mandi, lalu salat subuh, aku memompa selama 30 menit (5.30 – 06.00) kalau anakku belum bangun, dan biasanya 300 ml pagi hari ini langsung aku masukan ke 2 botol siap minum untuk pagi sampai siang karena ASIP fresh bisa tahan 4-6 jam dalam suhu ruangan.

Di kantor, sesi memompa pertamaku adalah pukul 09.00 – 09.30 dengan hasil sama 300 ml per 2 botol yang aku simpan di cooler bag. Jam istrirahat, kalau tidak ada pekerjaan luar kantor, aku bisa pulang dan DBF (direct breastfeeding) dari pukul 12.00 sampai 13.00. Memompa sesi ke-2 adalah pukul 15.00 sampai 15.30 dengan hasil 300 ml per 2 botol.

Selepas DBF siang, anakku minum ASI yang aku perah hari sebelumnya dan belum disimpan di freezer. Jadi, setiap hasil perahan dari kantor yang kadang 4 sampai 6 kantong, ASI yang diminum esok harinya adalah 2 sampai 4 kantong dan sisanya untuk ditampung di freezer, begitu seterusnya.

Alhasil, belum sampai 3 bulan, freezer-ku sudah penuh dan terpaksa mulai mengeliminasi first in ASIP. Adakalanya aku bisa membuang puluhan kantong karena bahkan tutup freezer sudah penuh. Apakah menjadi ibu menyusui sangat melelahkan? Sudah barang tentu, tapi aku sangat bahagia.

Semua berjalan lancar dan indah dengan dibantu ibuku yang sudah sangat pro dalam urusan per-ASI-an. Ibu membantu mengasuh anakku sampai usia 8 bulan. Selanjutnya, anakku diasuh tetangga sambil diawasi kakakku.

Sedikit kontra memang dengan orang lain yang sebenarnya lebih pro sufor (susu formula) karena praktis dan based on experience anaknya sendiri. Tetapi aku tetap ngeyel dan tetap menyuplai ASIP. Bagaimana agar orang lain sebagai pengasuh anakku yang kontra ASI mau mengikuti kemauanku sebagai ibu menyusui?

Service!

Aku memberikan service yang baik semampuku untuk pengasuh anakku agar anakku mendapat service yang baik pula darinya. Kompensasi di atas standar akan menjadi bukan apa-apa jika dibandingkan dengan keselamatan dan kesehatan anak.

Produksi ASI menurun karena stres

Semua berjalan lancar sampai anakku berusia 1 tahun. Why? Tepat bulan Agustus tahun lalu, nasib pendidikan S2 kami dipertaruhkan. Kami benar-benar harus melewati lubang jarum kalau mau segera lulus. Masa studi kami sudah terlambat 2 tahun.

Kami harus mengejar ketertinggalan tesis kami dalam waktu 1,5 bulan. Mengejar pembimbing, lembur mengerjakan tesis, classroom observation di pesantren sebagai data tesis harus kami lakukan.

Sebagai ibu menyusui, aku bisa dengan mudah kehilangan mood ketika sedang menyelesaian gelar Master. Beban pekerjaan, tanggungan tesis, dan berbagai masalah lain membuat produksi ASI menurun. Bahkan persediaan di freezer menipis.

Adakalanya menjelang jam istirahat, pengasuh anakku mengabariku kalau jatah ASIP sudah habis. Aku harus segera pulang untuk mengantar hasil perahanku di sesi pertama di kantor. Aku selalu bangun tengah malam untuk memohon-mohon pada Allah untuk dikaruniai ASI yang cukup, lalu aku memerah lagi setelahnya. Pagi hari selepas subuh perah lagi. Aku tidak lagi memasak sarapan. Aku memilih membeli makanan matang agar tenagaku tidak habis.

Masalah manajemen ASIP yang bukan FIFO (first in first out) kerap menyerangku. Saat itu, bukannya malah tembah semangat sebagai ibu menyusui, aku malah kesal. Beberapa orang menyalahkan aku yang membuang ASIP di awal-awal menyusui.

Mau bagaimana lagi, freezer-ku sudah penuh. Waktu itu, kondisi kontrakan hanya cukup untuk menggunakan kulkas 2 pintu dengan freezer storage yang muat hampir 200 kantong ASIP.

Beberapa kali aku menangis karena produksi ASIP belum kunjung normal. Masih ditambah deadline sidang tesis, pekerjaan di kantor yang lumayan banyak, belum lagi pekerjaan rumah, rengekan pengasuh, dan cibiran tetangga.

Awal 2021 aku dan suami mendapat NIDN (Nomor Induk Dosen Nasional) yang mengharuskan kami mengajar sekian kelas. Padatnya waktu mengajar membuat proses menyapih menjadi sulit.

Aku sendiri memutuskan menyudahi Weaning With Love (WWL) atau teknik menyapih yang kulakukan setengah hati dan sudah kumulai sejak anakku berusia 22 bulan. Setelah mengurangi kesibukan, proses menyapih mulai berjalan baik, hanya sedikit drama di awal.

Mom competition itu menyebalkan

Sebagai ibu menyusui, aku menyayangkan mom competition yang sering terjadi. Teringat hari pertama aku masuk kerja setelah melahirkan normal.

Temanku yang c-section langsung nyinyir dengan bilang, “Makanya nggak usah ngehina lahiran c-section karena lahiran normal nggak ada apa-apanya dengan c-section.”

Aku sendiri nggak pernah membandingkan atau bahkan menghina proses lahiran. Tiap kondisi ibu pasti berbeda. Dari kalimat temanku itu, kayaknya malah dia sendiri yang meremehkan lahiran normal. Yang lebih ngeselin itu yang bilang gini, “Lahiran normal? Nggak punya duit ya?” Edan.

Seakan-akan melahirkan adalah perlombaan. Mana yang lebih baik. Setelah melahirkan dan menjadi ibu menyusui secara penuh, tema-tema kompetisi seperti ini sering menghampiri. Aku sendiri, sekali lagi, meyakini bahwa mau normal atau c-section, ASI atau sufor, diasuh sendiri atau dititipkan, semua kembali ke diri sendiri.

Apalagi ada banyak ibu yang tidak bisa memilih. Ada yang ingin lahiran normal, tapi nggak kuat, harus c-section. Ada yang hanya bisa memberi sufor karena kondisi. Kita nggak pernah tahu latar belakang seseorang mengambil keputusan. Makanya, mom competition di semua lini itu menyebalkan banget.

Aku sendiri memilih lahiran normal dan ASI eksklusif karena bisa. Bukan karena ingin merasa menang. Lagian kalau ini dilombakan, lalu menang, hadiahnya apa, sih? Bukankah hadiah terbesar itu keselamatan baik ibu dan bayinya selepas melewati proses lahiran?

Ini belum kalau ngomongin enaknya disapih dengan cara gimana. Nanti anaknya besar, berdebat lagi soal milih makanan yang cocok sampai milih TK. Mom competition nggak ada habisnya. Semua ibu menyusui hebat adanya.

Perempuan adalah makhluk paling tabah dan paling tahan sakit. Kita sudah melewati salah satu rasa sakit paling hebat, yaitu melahirkan. Jadi, nggak perlu ada kompetisi karena kita pemenangnya. Jadi, mari berdampingan ibu-ibu pervaginam dan ibu-ibu c-section, ibu-ibu sufor, dan ibu-ibu ASI, kita sama-sama hebat!

BACA JUGA Hak Cuti Haid dan Cuti Melahirkan Itu Merugikan Pengusaha Nggak Sih? dan pengalaman luar biasa lainnya di rubrik ESAI.

Exit mobile version