Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Citra Apes Ali Murtopo dalam Peristiwa Malari

Aris Santoso oleh Aris Santoso
15 Januari 2020
A A
Ali Murtopo Peristiwa Malari

Ali Murtopo Peristiwa Malari

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Dalam kisah Peristiwa Malari, Ali Murtopo benasib apes. Berbanding terbalik dengan citra Jenderal Soemitro, yang digambarkan sebagai penentang Soeharto.

Ada banyak tokoh yang selalu dihubungkan dengan Peristiwa Malari (1974). Setidaknya peristiwa ini melibatkan dua entitas besar: aktivis gerakan mahasiswa dan sejumlah jenderal.

Untuk tokoh gerakan mahasiswa, tentu yang dimaksud adalah Hariman Siregar, legenda hidup yang tak ada habis-habisnya untuk dibahas. Namun kali ini kita sedikit rehat untuk membahas Hariman. Sedangkan dari tokoh militer, selalu merujuk pada dua nama: Ali Murtopo dan Sumitro.

Dari tiga nama tersebut, Ali Murtopo bernasib apes, karena dalam wacana Malari selalu dicitrakan sebagai tokoh antagonis. Soemitro yang juga jenderal, sedikit lebih baik posisinya.

Hal itu bisa terjadi, karena Soemitro dianggap (seolah-olah) sebagai jenderal yang berani melawan Soeharto, meski belum ada fakta valid mendukung asumsi tersebut. Meski demikian Sumitro sudah telanjur memperoleh simpati dari aktivis gerakan mahasiswa, bahkan bagi generasi usai Peristiwa Malari.

Apakah tidak ada ruang kebaikan bagi seorang Ali Murtopo?

Saya teringat pada sebuah acara di CSIS, ketika lembaga yang didirikan Ali Murtopo tersebut, sedang menggelar acara “Mengenang 20 Tahun Meninggalnya Ali Murtopo” (Mei 2004).

Ketika menyampaikan sambutannya, Yusuf Wanandi (salah satu pendiri CSIS juga), sempat menghentikan pidatonya, karena menahan haru dan sempat terisak sebentar. Yusuf Wanandi menyebut “Pak Ali Murtopo adalah pahlawan”.

Penghormatan Yusuf Wanandi pada Murtopo, bisa menjelaskan fenomena unik, bahwa hampir semua tokoh politik di negeri kita—khususnya figur militer—ibarat bulan separuh bayang.

Benar, wajah mereka seperti dua sisi, ada bagian gelap dan terang dalam waktu bersamaan. Kiasan itu bagi Ali Murtopo juga bisa bermakna, dia memiliki pemuja dan haters yang hampir sama banyaknya. Istilah haters memang saya pinjam dari fenomena media sosial sekarang.

Kiasan sisi “gelap” pada Ali Murtopo secara kebetulan juga sesuai dengan perjalanan kariernya, yang sebagian besar berdinas di bidang intelijen.

Justru sisi gelap Murtopo yang menarik perhatian saya, adakah lesson learn dari dirinya, yang aktual bagi generasi sekarang dan mendatang. Salah satunya adalah bagaimana ikhtiar Murtopo untuk meraih capaian yang sebagian sudah kita ketahui.

Ali Murtopo mencapai semua itu dengan keringatnya sendiri, tanpa ada bantuan dari orang tua. Baik generasi yang sudah lewat, terlebih generasi sekarang, tidak akan pernah tahu siapa orang tuanya.

Informasi soal latar belakang keluarga Ali Murtopo, sama gelapnya dengan pencitraannya selama ini. Sangat jauh berbeda dengan figur publik zaman now, yang umumnya kita tahu siapa orang tuanya.

Iklan

Perjuangan hidup Ali Murtopo semakin mengesankan bila dihubungkan dengan realitas sekarang, ketika anak-anak elite negeri merengek-rengek mencari jabatan, dengan cara menumpang nama besar orang tuanya.

Memang benar Ali Murtopo ikut terangkat karier militer dan politiknya, karena dia masuk dalam inner circle Soeharto. Namun harus diingat Soeharto merekrutnya karena kemampuannya, bukan karena Soeharto melihat siapa orang tua Murtopo. Kebetulan saja Soeharto juga seperti itu—yang jadi orang besar—tanpa bantuan orang tua.

Hubungan yang demikian erat antara Soeharto dan Murtopo, juga bisa menjelaskan fenomena kekinian, yakni hubungan antara seorang elite politik dengan para bawahan atau pendukungnya.

Saya berani katakan, hubungan antara Soeharto dan Murtopo, selain dekat secara pribadi, juga memiliki nilai strategis. Baik Soeharto maupun Murtopo boleh disebut komandan tempur sejati. Sekadar mengingatkan, Murtopo adalah perwira generasi pertama dari satuan legendaris (Bataliyon Banteng Raiders), yang langsung dilatih (saat itu) oleh Ahmad Yani.

Artinya, Soeharto melihat potensi yang besar pada diri Murtopo. Sedikit perbandingan dengan Jenderal Sumitro, yang lebih dikenal sebagai perwira intelektual, yang mungkin tidak dimiliki Murtopo.

Bisa jadi Soeharto tidak terlalu butuh perwira tipe intelektual, sehingga Murtopo lebih terpilih. Dan Ali Murtopo sudah “membayar” lunas kepercayaan Soeharto dengan segala kemampuan yang dia miliki.

Tiga alinea terakhir tersebut menjelaskan, bagaimana model pola hubungan antara elite politik dengan para staf atau bawahannya hari ini, yang justru  kembali ke model masa kolonial. Ketika bawahan atau staf terlalu patuh pada atasan.

Seperti mental birokrat pada masa penjajahan dulu, ketika pejabat pribumi sangat patuh dan begitu menghamba pada bule-bule elite kolonial. Ini sangat mirip dengan apa yang biasa kita lihat sekarang. Sang atasan terkena sindroma megalomania, sementara bawahan bermental cecunguk. Klop sudah.

BACA JUGA 44 Tahun Malari dan Catatan Tak Terurai atau tulisan Aris Santoso lainnya.

Terakhir diperbarui pada 15 Januari 2020 oleh

Tags: Ali MurtopomalariOrde BaruSoehartoSoemitro
Aris Santoso

Aris Santoso

Pengamat militer

Artikel Terkait

Nasib buruh usai Marsinah jadi pahlawan nasional. MOJOK.CO
Ragam

Suara Hati Buruh: Semoga Gelar Pahlawan kepada Marsinah Bukan Simbol Semata, tapi Kemenangan bagi Kami agar Bebas Bersuara Tanpa Disiksa

12 November 2025
Kami Berdoa Setiap Hari agar Soeharto Jadi Pahlawan Nasional MOJOK.CO
Ragam

Kami Berdoa Setiap Hari agar Soeharto Jadi Pahlawan Nasional. Sejarawan: Pragmatis dan Keliru

11 November 2025
Suara Marsinah dari Dalam Kubur: 'Lucu! Aku Disandingkan dengan Pemimpin Rezim yang Membunuhku'.MOJOK.CO
Ragam

Suara Marsinah dari Dalam Kubur: ‘Lucu! Aku Disandingkan dengan Pemimpin Rezim yang Membunuhku’

10 November 2025
Alasan Soeharto tak layak dapat gelar pahlawan, referensi dari buku Mereka Hilang Tak Kembali. MOJOK.CO
Aktual

Buku “Mereka Hilang Tak Kembali”, Menyegarkan Ingatan bahwa Soeharto Tak Pantas Dapat Gelar Pahlawan, tapi Harus Diadili

1 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

PNS tetap WFO saat WFH

PNS Lebih Pilih Tetap Pergi ke Kantor saat WFH, Takut Tergiur “Godaan” Kelayapan Malah Berujung Gagal Hemat BBM

8 April 2026
Jurusan Kebidanan Unair tolong saya dari kekecewaan gagal kuliah di Kedokteran. MOJOK.CO

Tinggalkan Mimpi Jadi Dokter karena Merasa Bodoh dan Miskin, Lulus dari Jurusan Kebidanan Unair Malah Bikin Hidup Lebih Bermakna

6 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO

Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran”

7 April 2026
Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah.MOJOK.CO

Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah

5 April 2026
Kelas menengah ke bawah harus mawas diri Kalau pemasukan pas-pasan jangan maksa gaya hidup dalam standar dan tren media sosial MOJOK.CO

Kelas Menengah ke Bawah Harus Mawas Diri, Pemasukan Pas-pasan Gaya Hidup Jangan Pakai Standar dan Tren Media Sosial

6 April 2026
Lulusan farmasi PTS Jogja foto keluarga

Lulusan Farmasi PTS Jogja Bayar Mahal untuk Wisuda, tapi Gagal Foto Keluarga karena Ayah Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa

7 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.