Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal

Rusydi Umar oleh Rusydi Umar
16 Januari 2026
A A
Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital: Harga RAM Makin Nggak Ngotak MOJOK.CO

Ilustrasi Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital: Harga RAM Makin Nggak Ngotak. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – AI menciptakan bencana tersembunyi bagi mahasiswa dan pengguna perangkat digital, terutama laptop, komputer, maupun HP.

 Beberapa bulan terakhir, ada satu keluhan yang makin sering terdengar, terutama di kampus dan ruang kerja digital. Laptop baru terasa cepat panas, aplikasi berat semakin rewel, dan harga upgrade memori bikin kening berkerut. 

Bukan cuma soal merek atau spek. Ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi di balik layar. Sesuatu yang jarang dibicarakan, tetapi dampaknya pelan-pelan terasa: krisis RAM global.

RAM adalah singkatan dari Random Access Memory. Pada dasarnya, RAM adalah memori jangka pendek komputer atau laptop. RAM merupakan tempat penyimpanan data yang diperlukan prosesor komputer untuk menjalankan aplikasi dan membuka file Anda.

Seperti es teh manis, AI menyimpan ongkos tersembunyi

Ledakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat dunia digital tampak semakin canggih. AI dipromosikan sebagai solusi segala hal, dari menulis, menerjemahkan, hingga mengambil keputusan. 

Namun, seperti es teh manis yang kelihatannya segar padahal gulanya mahal, AI menyimpan ongkos tersembunyi. Salah satunya adalah memori. Bukan memori kenangan, melainkan RAM yang kini menjadi rebutan global.

Di dunia server dan data center (pusat data), RAM bukan lagi sekadar komponen pendamping prosesor. Ia justru menjadi pusat permainan. Model AI modern bukan hanya rakus komputasi, tetapi juga lapar memori. 

Tanpa RAM yang besar dan cepat, prosesor secanggih apa pun akan bekerja setengah hati. Maka terjadilah lonjakan permintaan yang tidak wajar dalam waktu singkat.

AI generatif dapat dipahami sebagai hungry memory application, yakni aplikasi yang lebih rakus memori dibanding generasi perangkat lunak sebelumnya. Bukan hanya kecepatan prosesor yang menentukan, tetapi ketersediaan RAM dalam jumlah besar dan stabil. 

Tanpa memori yang cukup, kecerdasan algoritma kehilangan daya gunanya, dan layanan digital mudah tersendat.

RAM yang jadi rebutan dan bencana AI yang tersembunyi

Masalahnya, industri memori tidak bisa bergerak secepat imajinasi Silicon Valley. Membangun pabrik RAM membutuhkan waktu bertahun-tahun, modal besar, dan kepastian pasar. 

Sementara itu, data center AI tumbuh seperti jamur setelah hujan. Setiap perusahaan besar berlomba mengamankan pasokan memori, karena di sanalah uang dan kuasa digital bertumpu.

Di titik ini, pasar bekerja dengan logika paling klasik: siapa yang membayar lebih mahal, dia yang dilayani lebih dulu. RAM yang dulu mudah ditemukan di pasar konsumen kini lebih sering “disedot” ke server AI. 

Margin keuntungan di sana jauh lebih menggiurkan. Akibatnya, konsumen biasa hanya kebagian sisa, dengan harga yang lebih tinggi. Dan sangat mungkin kenaikan harganya makin nggak ngotak alias nggak masuk akal. 

Iklan

Bagi pengguna awam, kenaikan harga ini sering dianggap biasa. “Namanya juga teknologi, pasti makin mahal.” Padahal, ini bukan sekadar siklus produk. 

Ini adalah refleksi dari perebutan sumber daya digital yang nyata. Dunia maya ternyata tidak sepenuhnya maya. Ia bergantung pada benda fisik, pabrik, energi, dan distribusi yang sangat terbatas.

AI hanya gratis di permukaan

Indonesia ikut merasakan dampaknya. Harga laptop, dan handphone (HP) naik, upgrade memori makin mahal, dan perangkat kerja digital menjadi beban tambahan. Bagi UMKM digital, kreator konten, mahasiswa, dan pekerja digital lepas, ini bukan isu abstrak. 

Ini soal menunda beli perangkat, memaksakan spesifikasi lama, atau bahkan tertinggal dari arus teknologi yang katanya inklusif.

Ironisnya, semua ini terjadi ketika AI dipromosikan sebagai teknologi “gratis” dan merakyat. Kita menikmati chatbot, pencarian pintar, dan berbagai layanan tanpa membayar langsung. 

Namun, gratis di permukaan tidak berarti murah di belakang layar. Ada investasi raksasa yang membakar memori dalam skala masif. Ongkosnya tidak hilang. Ia hanya berpindah tangan.

BACA JUGA: Seniman AI Tidak Usah Sok Keren, Bikin Prompt AI Itu Nggak Sesusah Itu!

Lalu muncul pertanyaan yang jarang diajukan dengan jujur: sampai kapan krisis ini akan berlangsung? Banyak analisis menyebut tekanan pasokan memori masih akan terasa dalam beberapa tahun ke depan. 

Bahkan jika pasokan mulai stabil, harga belum tentu kembali seperti dulu. Yang mungkin terjadi hanyalah berhenti naik, bukan turun drastis.

Permintaan AI juga bukan tipe permintaan musiman. Ia tidak berhenti setelah satu siklus. AI kini diintegrasikan ke pencarian, penerjemahan, layanan publik, hingga bisnis kecil. 

Kemewahan terselubung yang hanya dinikmati mereka yang sanggup membayar mahal

Setiap fitur “pintar” menuntut memori tambahan. Selama AI terus diperluas, kebutuhan RAM akan tetap tinggi. Ini bukan ledakan sesaat, melainkan perubahan struktur.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan merenung. Era AI sering dibicarakan dengan bahasa kemajuan, efisiensi, dan masa depan. Tetapi jarang dibahas siapa yang menanggung ongkosnya dan siapa yang siap menghadapi bencana tersembunyi dari AI ini. 

Ketika RAM menjadi langka dan mahal, yang terdampak pertama bukan perusahaan raksasa, melainkan pengguna biasa. Mahasiswa, pelaku UMKM, dan pekerja digital kecil harus menyesuaikan diri dengan keterbatasan yang tidak mereka ciptakan.

Krisis RAM mengingatkan kita pada satu hal penting: teknologi tidak pernah netral. Ia selalu membawa konsekuensi distribusi. Ada yang diuntungkan, ada yang harus menunggu. Ada yang menikmati AI paling mutakhir, ada pula yang hanya bisa mengamati dari kejauhan karena perangkatnya tidak lagi memadai.

Solusi tentu tidak bisa diserahkan sepenuhnya pada pasar. Jika dibiarkan, AI berisiko menjadi kemewahan terselubung, hadir di mana-mana, tetapi hanya benar-benar bekerja optimal bagi mereka yang sanggup membayar mahal. 

Diperlukan kebijakan yang memikirkan keseimbangan antara inovasi dan akses publik, antara efisiensi ekonomi dan keadilan teknologi.

Pada akhirnya, krisis RAM global bukan sekadar cerita tentang komponen komputer. Ia adalah cermin dari peradaban digital yang sedang kita bangun. Setiap lompatan teknologi selalu membawa harga. 

Pertanyaannya bukan lagi apakah kita siap menikmati manfaat AI, melainkan apakah kita siap menanggung ongkosnya bersama, dan siapa yang selama ini diam-diam membayar paling mahal.

Penulis: Rusydi Umar
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut dan artikel lainnya di rubrik ESAI.

Terakhir diperbarui pada 21 Januari 2026 oleh

Tags: AIai generatifArtificial IntelligenceDosenhandphonekomputerlaptopMahasiswamemori komputerRAMumkm digital
Rusydi Umar

Rusydi Umar

Rusydi Umar adalah Kaprodi S2 Informatika di Universitas Ahmad Dahlan yang menulis tentang teknologi, masyarakat digital, dan dampak sosial kecerdasan buatan. Ia tertarik mengulas isu-isu teknologi dari sudut pandang keseharian, terutama ketika hal-hal teknis mulai bersinggungan dengan hidup orang biasa.

Artikel Terkait

Sisi Gelap AI dan Ancaman Imperialisme Digital ala 'Big Tech' MOJOK.CO
Esai

Sisi Gelap AI dan Ancaman Imperialisme Digital ala ‘Big Tech’

25 Februari 2026
Tabungan penting, tapi mahasiswa Jogja yang masih harus irit demi makan kesulitan menabung
Sehari-hari

Tabungan Itu Penting, Tapi Mahasiswa Jogja yang Masih Harus Gali Lubang Tutup Lubang Demi Makan Mana Bisa

10 Februari 2026
Asriadi Cahyadi pemilik Dcell Jogja Store, toko musik analog. MOJOK.CO
Sosok

Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja

4 Februari 2026
celengan investasi, ai.MOJOK.CO
Aktual

Kalau Mau Bersaing di Era AI, Indonesia Butuh Investasi Energi 1 Triliun Dolar AS

30 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

19 Februari 2026
Penerima beasiswa LPDP serba salah, penerima beasiswa LPDP dalam negeri dan LPDP luar negeri diburu

Penerima LPDP Dalam Negeri Terkena Getah Awardee Luar Negeri yang “Diburu” Seantero Negeri, padahal Tak Ikut Bikin Dosa

25 Februari 2026
Vokal kritisi kebijakan uin alauddin makassar, berujung fatal. MOJOK.CO

Pahitnya Jadi Mahasiswa Kritis di UIN Makassar: Berujung Skors, Beasiswa Dicabut, hingga Kecewakan Orang Tua yang Seorang Guru Honorer

24 Februari 2026
Mila Sejahtera Bus Sialan, 15 Jam Disiksa Berakhir Demam MOJOK.CO

Rangkaian Penderitaan Naik Bus Mila Sejahtera dari Jogja Menuju Jember: Disiksa Selama 15 Jam, Berakhir Demam Tinggi dan Diare. Sialan!

19 Februari 2026
produk indomaret, private label.MOJOK.CO

Private Label Indomaret Penyelamat Hidup Saat Tanggal Tua Bulan Ramadan, Murah tapi Tak Murahan

24 Februari 2026
Takjil bingka dari Kalimantan

Seloyang Bingka di Jogja: Takjil dari Kalimantan yang Menahan Saya agar Tetap “Hidup” di Perantauan

23 Februari 2026

Video Terbaru

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026
Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

19 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.