Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Beban Ganda Jadi Pengangguran saat Musim Hujan

Pengangguran itu bukan soal benar-benar nggak kerja, tapi soal status. Apalagi kalau kamu sarjana cumlaude.

Istiqomah Rifkha Aghni oleh Istiqomah Rifkha Aghni
2 Januari 2022
A A
pendidikan, lulusan sarjana nganggur, sulit kerja.MOJOK.CO

Ilustrasi - Susahnya Cari Kerja (Mojok.co/Ega Fansuri).

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sudah lulusan cumlaude, tapi malah terjebak sama status pengangguran di kampung. Berat. Beraaat.

Sebut saja namanya Hesti. Fresh graduate yang baru lulus 4 bulan dari sebuah universitas ternama di Yogyakarta.

Awalnya Hesti merasa kalau hidupnya akan baik-baik saja usai menjadi lulusan berpredikat cumlaude. Nyatanya beberapa surat lamaran yang dikirim ke HRD perusahaan juga belum mendapatkan titik terang. Tak ada satu pun yang ngajakin interview.

Sebagai fresh graduate yang merasa nggak punya passion yang bisa dijual, Hesti masih bingung ke depannya mau menjadi apa. Antara mau wirausaha, kerja di perusahaan seperti teman-temannya, atau fokus jadi pengangguran dengan embel-embel cumlaude saja.

Jadi pengangguran tentu jadi jalan yang pada mulanya tak mau dipilih Hesti. Namun apa daya, karena tumpukan email lamarannya tidak mendapat kepastian, Hesti mulai memutar otak untuk setidaknya kalau jadi pengangguran dia tak perlu merepotkan orang tuanya. Sebuah cita-cita mulia dari seorang anak yang terjebak pada situasi nganggur.

Sebagai pengangguran berstatus cumlaude, Hesti tinggal bersama orang tuanya di Temanggung. Sebuah daerah pertanian. Karena tinggal bersama petani-petani setidaknya Hesti bisa membantu meringankan pekerjaan orang tuanya di kebun sambil mengisi waktu penganggurannya yang penuh atas kekosongan setiap hari.

Naasnya curah hujan yang tinggi menjadi kendala kegiatan bertani Hesti. Sebagai orang yang masih amatiran dalam dunia pertanian, Hesti hanya mampu membantu menyebar pupuk kandang, sesekali membabat rumput, atau menggunting tunas baru pada pohon kopi, itu pun sebentar-sebentar istirahat karena ngos-ngosan.

Maklum, sebagai pengangguran profesional, hal yang begitu-begitu itungannya sudah kerja lembur.

Januari ini menjadi bulan terberat pasca-kelulusannya, bayangkan saja setiap kali Hesti sudah mengumpulkan niat dan bergegas menuju kebun, eh lah kok hujan datang tiba-tiba?

Tanpa ampun. Pagi, pagi menuju siang, dan lebih seringnya siang hingga sore. Hujan terooos. Seolah alam memaksa Hesti untuk benar-benar jadi pengangguran.

Kini Hesti tidak tau lagi apa yang harus dia lakukan sembari menunggu layang lamaran pekerjaannya di-approve.

Meski sudah berbulan-bulan menjadi pengangguran, Hesti tetap bermimpi punya pekerjaan sesuai standar tetangga-tetangganya. Standar tetangga Hesti saat melihat Hesti yang berstatus lulusan cumlaude.

Padahal, apapun kerjaannya Hesti pasti mau. Asalkan halal, nggak berat-berat amat, dan gajinya dua digit. Tidak seperti yang dilakukan Hesti sekarang, aktivitas di kebunnya pun dianggap sebagai bukan pekerjaan, tapi “bantu-bantu orang tua”.

Sudah begitu, bagi Hesti si pengangguran cumlaude, hujan memberikan beban ganda yang cukup menampar hidupnya. Saat di kebun, Hesti merasa bahwa hidupnya tidak muram-muram amat, karena bisa menghabiskan setidaknya 6 jam dalam sehari, tapi bayangkan jika 6 jam itu diisi dengan guyuran air hujan.

Air hujan dari langit itu bikin yang basah bukan cuma CV atau pipi-pipinya Hesti, tapi juga nilai di IPK yang mulai tak dipedulikan, dan kebanggaan lulusan kampus ternama yang akhirnya kelunturan. Habis sudah perasaan Hesti yang kerap ditanyai tetangga.

“Udah lulus cumlaude kok di rumah aja?”

“Katanya lulusan kampus ternama, kok masih pengangguran di rumah aja?”

“Sarjana kok malah di kebun?”

Kadang tetangga emang gitu, niatnya cuma tanya basa-basi, tapi lambe­-nya ngundang anarki.

Meski begitu, saya yakin, Hesti tidak sendirian. Di luar sana, pasti ada Hesti-Hesti lainnya yang juga kena beban ganda akibat curah hujan yang melanda dan sempitnya serapan tenaga kerja.

Sendu di dalam hati tanpa pekerjaan plus cuaca buruk di luar sana yang seolah ngetawain nasib sarjana sebagai pengangguran.

Belum kalau ada masalah genteng bocor, air rob sampai ke rumah, jemuran nggak kering-kering, motor baru dicuci kehujanan lagi, rasanya pengen udahan aja hidupnya tapi kok ya belum siap mati.

Hesti adalah gambaran masyarakat yang tertindas oleh keugal-ugalan yang sistematis. Pekerjaan bagi sarjana, baru dikatakan “kerja” kalau sudah bisa pakai seragam, diundang interview kerja, tempat kerjanya di gedung, atau pindah ke kota besar.

Lalu ketika lebaran, lulusan sarjana ini diharapkan pulang kampung, semua orang merasa pangling, bawa mobil, bawa oleh-oleh yang banyak. Tentu saja diiringi dengan ghibah lezat soal “Hesti-Hesti” lainnya.

BACA JUGA Ketika Status Anak Kuliahan Membuatmu Jadi Alien di Desa atau ESAI lainnya.

Penulis: Istiqomah Rifkha Aghni

Editor: Ahmad Khadafi

Terakhir diperbarui pada 2 Januari 2022 oleh

Tags: Cumlaudehrdinterview kerjanganggursarjana
Istiqomah Rifkha Aghni

Istiqomah Rifkha Aghni

Tinggal di Temanggung.

Artikel Terkait

UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO
Urban

Modal Ijazah S1, Nekat Adu Nasib ke Jakarta: Sudah Bikin Syukuran karena Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Pertama Belum Turun

26 Februari 2026
Ijazah S1 jurusan Sastra Indonesia dari PTN terbaik di Jawa Timur alami penolakan 150 lamaran kerja. Buat pekerjaan freelance aja tidak bisa hingga jadi beban keluarga MOJOK.CO
Edumojok

Sarjana Sastra Indonesia PTN Terbaik Jadi Beban Keluarga: 150 Kali Ditolak Kerja, Ijazah buat Lamar Freelance pun Tak Bisa

21 Februari 2026
Sarjana nganggur diteror info loker di grup WA keluarga. MOJOK.CO
Edumojok

Grup WhatsApp Keluarga Besar Isinya “Teror” bagi Sarjana Nganggur, Sehari-hari Dikasih Info Loker Aneh-aneh

18 Februari 2026
Sarjana pegasuh anak, panti asuhan Muhammadiyah di Surabaya. MOJOK.CO
Urban

Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam

5 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Motor Matic Sering Dibilang Ringkih dan Modal Tampang Doang, tapi Saya Tetap Memilihnya daripada Motor Bebek Mojok.co

Motor Matic Sering Dibilang Ringkih dan Modal Tampang doang, tapi Saya Tetap Memilihnya daripada Motor Bebek

28 Februari 2026
Denza D9 Bikin Alphard Terlihat Tua dan Tidak Menarik MOJOK.CO

Denza D9 Datang, Bikin Alphard Langsung Terlihat Tua dan Tidak Menarik: Pelajaran dari “Mobil China” yang Mengusik Singgasana Sang Raja

28 Februari 2026
Bukber, ASN, kantor.MOJOK.CO

Ikut Bukber Kantor di Acara ASN Itu Bikin Muak: Isinya Orang Cringe dan Seksis yang Bikin Risih, tapi “Haram” Buat Ditolak

22 Februari 2026
Pekerja gila Surabaya yang melamun di Danau UNESA. MOJOK.CO

Danau UNESA, Tempat Pelarian Pekerja Surabaya Gaji Pas-pasan dan Gila Kerja. Kuat Bertahan Hanya dengan Melamun

24 Februari 2026
Mekanisme beasiswa LPDP untuk kuliah di luar negeri masih silang sengkarut, awardee cemas jadi "WNI" MOJOK.CO

Mekanisme dalam Beasiswa LPDP (Masih) Silang Sengkarut: Awardee Cemas Jadi WNI, Negara Punya PR yang Harus Diberesi

23 Februari 2026
Vokal kritisi kebijakan uin alauddin makassar, berujung fatal. MOJOK.CO

Pahitnya Jadi Mahasiswa Kritis di UIN Makassar: Berujung Skors, Beasiswa Dicabut, hingga Kecewakan Orang Tua yang Seorang Guru Honorer

24 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.