Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?

Subkhi Ridho oleh Subkhi Ridho
19 Januari 2026
A A
Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Ketika Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa MOJOK.CO

Ilustrasi Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Ketika Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Beasiswa LPDP yang kini 80 persen dialokasikan untuk bidang Science, Technology, Engineering, dan Mathematics (STEM) memunculkan kekhawatiran: Indonesia sedang membuat pabrik robot tanpa jiwa.

Isu yang merebak sejak pertengahan tahun lalu tentang fokus beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan atau LPDP yang 80 persen alokasinya ke saintek akhirnya menjadi kenyataan. Kamis (15/1/2025), Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan agar 80 persen kuota beasiswa LPDP dialokasikan untuk bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). 

Alasannya: mengejar ketertinggalan Indonesia dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kedengarannya visioner, progresif, bahkan futuristik. Tapi tunggu dulu. Apakah kita sedang membangun bangsa yang cerdas, atau sekadar pabrik robot tanpa jiwa?

Mari kita jujur. Kebijakan ini seperti memutuskan membangun rumah hanya dari beton dan besi, tanpa jendela, tanpa taman, tanpa ruang tamu untuk ngobrol. Kuat, mungkin. Fungsional, bisa jadi. Tapi layak huni? Diragukan.

Kuota beasiswa LPDP seharusnya belajar dari sejarah

Sejarawan sains Lorraine Daston dalam artikel monumentalnya di jurnal KNOW (2017) mempertanyakan bagaimana klasifikasi dan hierarki berbagai jenis pengetahuan disusun dalam sejarah. 

Ia mengajukan pertanyaan krusial: mengapa di Paris abad ke-13, teologi dianggap lebih tinggi dari matematika? Mengapa di Tiongkok era Ming, etika Konfusian lebih prestisius ketimbang manufaktur sutra? Dan mengapa sekarang, sains dan teknologi ditempatkan di atas humaniora?

Daston mengingatkan kita bahwa hierarki ini bukan natural atau alamiah, melainkan dikonstruksi secara sosial dan politik. Dan konstruksi ini selalu mencerminkan kepentingan kekuasaan. 

Ketika negara mengatakan 80 persen beasiswa untuk STEM, negara sedang membuat pernyataan epistemologis dan politik sekaligus: pengetahuan yang “berguna” adalah pengetahuan yang bisa diukur, dihitung, dan dimonetisasi. Sisanya? Kemewahan.

Ini bukan sekadar soal angka atau kuota. Ini soal bagaimana negara mendefinisikan “kemajuan” dan jenis pengetahuan apa yang layak mendapat dukungan publik.

STEM bukan segalanya, segalanya bukan STEM

Tidak ada yang salah dengan STEM. Kita butuh insinyur untuk membangun jembatan, dokter untuk menyembuhkan penyakit, dan ilmuwan data untuk mengelola informasi. Tapi apakah kita lupa bahwa teknologi tanpa etika adalah bom waktu? 

Bahwa jembatan tanpa perencanaan sosial bisa jadi monumen kesia-siaan? Bahwa data tanpa interpretasi humanistik hanya angka kosong?

Sejarah sudah membuktikan. Bom atom diciptakan oleh fisikawan brilian, tapi keputusan menjatuhkannya ke Hiroshima dan Nagasaki adalah soal politik, etika, dan kemanusiaan. 

Facebook dan media sosial dibangun oleh jenius teknologi, tapi dampak polarisasi, hoaks, dan gangguan mental yang ditimbulkannya adalah wilayah sosiologi, psikologi, dan komunikasi.

Daston dalam artikelnya mengkritik narasi “Scientific Revolution” yang eurosentris—gagasan bahwa sains modern Barat menciptakan “Great Divide” yang memisahkan peradaban maju dari yang tertinggal. 

Iklan

Narasi ini menyesatkan karena mengabaikan mutual constitution antara berbagai bentuk pengetahuan. Sains tidak berkembang dalam vakum. Ia berkembang melalui dialog dengan filsafat, agama, seni, dan politik. Ketika kita memutus dialog itu dengan mendominasi STEM, kita justru melemahkan sains itu sendiri.

Dengan mengalokasikan 80 persen beasiswa LPDP untuk STEM, pemerintah secara implisit mengatakan: ilmu sosial dan humaniora tidak penting. Atau setidaknya, tidak sepenting STEM.

80 persen beasiswa LPDP untuk STEM adalah diskriminasi terstruktur

Kebijakan ini adalah diskriminasi terstruktur. Ya, terstruktur. Bukan karena ada yang secara eksplisit melarang mahasiswa sosial-humaniora mendapat beasiswa, tapi karena sistem dirancang sedemikian rupa sehingga peluang mereka mengecil drastis. 

Dari setiap 100 kursi beasiswa LPDP, hanya 20 yang tersisa untuk ratusan ribu mahasiswa ilmu politik, sosiologi, sastra, filsafat, hukum, komunikasi, dan puluhan disiplin ilmu lainnya.

Ini seperti mengatakan kepada generasi muda: “Kalau mau sukses dan mendapat dukungan negara, jangan jadi pemikir, jangan jadi pengkritik, jangan jadi seniman. Jadilah teknisi.”

Ironinya, Indonesia justru sedang mengalami krisis pemikiran kritis. Hoaks merajalela karena literasi media lemah. Korupsi sistemik terjadi karena pemahaman etika dan hukum minim. 

Konflik sosial merebak karena dialog antarbudaya tidak terbangun. Solusinya bukan algoritma machine learning atau reaktor nuklir, tapi pendidikan sosial-humaniora yang kuat.

Daston juga menekankan pentingnya memahami “boundaries” atau batas-batas antara berbagai bentuk pengetahuan. Ketika negara secara artifisial memperkuat batas antara STEM dan sosial-humaniora melalui alokasi 80:20, negara sedang menciptakan silo-silo pengetahuan yang berbahaya.

Padahal, persoalan-persoalan kompleks abad ke-21—perubahan iklim, ketimpangan ekonomi, polarisasi sosial—membutuhkan pendekatan lintas disipliner yang melampaui batas-batas artifisial tersebut.

Baca halaman selanjutnya: Indonesia tertinggal bukan karena kurang insiyur

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 21 Januari 2026 oleh

Tags: beasiwabeasiwa LPDPLorraine DastonLPDPpemikiran kritisSTEM
Subkhi Ridho

Subkhi Ridho

Subkhi Ridho, merupakan dosen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan peneliti pada bidang komunikasi politik, demokrasi dan media digital, islamisme, etnografi digital.

Artikel Terkait

Penerima beasiswa LPDP serba salah, penerima beasiswa LPDP dalam negeri dan LPDP luar negeri diburu
Edumojok

Penerima LPDP Dalam Negeri Terkena Getah Awardee Luar Negeri yang “Diburu” Seantero Negeri, padahal Tak Ikut Bikin Dosa

25 Februari 2026
lulusan LPDP, susah cari kerja.MOJOK.CO
Edumojok

Curhatan Alumni LPDP yang Merasa “Downgrade” Ketika Balik ke Indonesia, Susah Cari Kerja Hingga Banting Setir demi Bertahan Hidup

23 Februari 2026
Penerima beasiswa LPDP prasejahtera asal Ngawi lolos S2 di UGM Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)
Edumojok

Pernah Hidup dari Belas Kasih Tetangga, Anak Muda Asal Ngawi Lolos Beasiswa S2 LPDP UGM padahal Merasa “Tidak Pantas”

23 Februari 2026
Mekanisme beasiswa LPDP untuk kuliah di luar negeri masih silang sengkarut, awardee cemas jadi "WNI" MOJOK.CO
Tajuk

Mekanisme dalam Beasiswa LPDP (Masih) Silang Sengkarut: Awardee Cemas Jadi WNI, Negara Punya PR yang Harus Diberesi

23 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi MOJOK.CO

Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi

26 Februari 2026
Bisnis coffe shop, rumah dekat kafe, jogja.MOJOK.CO

Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

26 Februari 2026
Lagu religi "Tuhan Itu Ada" jadi ajang promosi Klaten lewat musik MOJOK.CO

Adhit & Carlo Jikustik Gandeng Klaten Project Rilis Lagu Religi “Tuhan itu Ada”

25 Februari 2026
User kereta api (KA) ekonomi Sri Tanjung pertama kali naik bus Eka PATAS ketimbang Sumber Selamat. Dari keterpaksaan menjadi ketagihan meski tetap tidak tenang MOJOK.CO

User KA Sri Tanjung Nyoba Bus Eka: Tak Seburuk Naik Kereta Ekonomi, Tapi Pikiran Dibuat Tak Tenang Meski di Kursi Nyaman

2 Maret 2026
KIP Kuliah di Jogja.MOJOK.CO

Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah

27 Februari 2026
Perbandingan pengguna iPhone vs Android (Infinix dan Samsung)

8 Tahun Pakai iPhone, Ternyata Saya Dibutakan Gengsi padahal Android Lebih Praktis dan Nyaman

25 Februari 2026

Video Terbaru

Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

28 Februari 2026
Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.