MOJOK.CO – Saya sangat bersyukur menjadi ASN. Sebagai bentuk rasa syukur itu, saya jualan nasi kuning dan mie asin di kantor.
Menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) mungkin bagi sebagian orang identik dengan satu hal: menerima gaji setiap bulan. Setiap tanggal muda, gaji masuk rekening. Lalu uang dibagi untuk cicilan, kebutuhan rumah tangga, listrik, internet, belanja, tabungan, dan kebutuhan lainnya.
Saya pun begitu. Sebenarnya nggak beda jauh dengan pegawai perusahaan swasta.
Saya adalah seorang ASN Pegawai Negeri Sipil yang bekerja di salah satu instansi pemerintah di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Saya sudah berkeluarga dan memiliki seorang anak.
Istri saya adalah seorang ibu rumah tangga. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya kondisi ini cukup sederhana. Ada satu sumber penghasilan utama yang kami andalkan, yaitu gaji saya sebagai ASN.
Namun, semakin ke sini saya justru berpikir, kenapa menjemput rezeki harus berhenti di satu pintu?
Bagi ASN, in this economy, satu pintu rasanya tidak cukup
Saya rasa banyak orang saat ini merasakan hal yang sama yaitu kebutuhan hidup yang semakin beragam. Harga barang berubah, kebutuhan anak bertambah.
Ada cicilan, biaya pendidikan, kebutuhan rumah, dana darurat, dan berbagai kebutuhan lain yang datang silih berganti.
Karena itu saya mulai berpikir bahwa memiliki satu sumber pemasukan memang tidak salah, tetapi memiliki beberapa sumber pemasukan juga bukan sesuatu yang harus dianggap berlebihan selama dilakukan dengan benar.
Bagi saya, menjadi ASN bukan berarti kehilangan kesempatan untuk mengeksplorasi diri. ASN juga manusia. Bisa punya hobi, belajar bisnis, membuat produk, menulis, investasi bahkan mengembangkan keterampilan diluar pekerjaan.
Tentu semuanya harus dilakukan dengan tetap memperhatikan ketentuan yang berlaku bagi ASN dan tidak menggunakan jabatan atau fasilitas negara untuk kepentingan pribadi. Saya sendiri memilih jalur yang paling sederhana: jualan makanan.
Berawal dari rasa rindu kampung halaman
Saya berasal dari Sambas, Kalimantan Barat. Sementara saat ini saya tinggal dan bekerja di Palangka Raya. Ada satu hal yang sering muncul ketika seseorang tinggal jauh dari kampung halaman: rindu makanan rumah.
Bukan cuma rindu makanannya, tetapi juga rindu suasananya. Saya dan istri kemudian berpikir, kenapa tidak sekalian membuat makanan yang kami rindukan itu?
Istri saya memang punya hobi membuat berbagai macam makanan. Sebelumnya kami juga pernah mencoba berjualan roti.
Dari hobi kecil itu kemudian muncul ide untuk menjual makanan khas Kalimantan Barat. Pilihan kami jatuh pada dua menu yang cukup dekat dengan lidah kami: nasi kuning khas Pontianak dan mie asin khas Singkawang.
Siapa pasarnya? Saya berpikir nggak usah jauh-jauh. Orang-orang yang saya temui setiap hari, yaitu temen-teman kantor.
Masalahnya, kami tidak memiliki toko, nggak tinggal di ruko, bahkan tidak memiliki gerobak untuk jualan. Kami punya modal kami sederhana saja: dapur rumah, kemampuan memasak istri, WhatsApp, dan sedikit keberanian untuk menawarkan dagangan kepada teman-teman kantor.
Saya bertugas sebagai bagian pemasaran sekaligus kurir sementara istri saya bertugas sebagai tukang masaknya.
Saya menawarkan, orang-orang memesan, kemudian saya antar ke mereka. Sesederhana itu alurnya.
Baca halaman selanjutnya
