Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Memang Kenapa Jika Aku Seorang Pelakor? Masalah Buat Kalian?

Arman Dhani oleh Arman Dhani
16 Desember 2017
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

[MOJOK.CO] “Pelakor adalah jalan hidup yang aku pilih secara sadar.”

Maaf-maaf aja nih pembaca mojok. Bukannya aku sedang membela diri atau sedang cari perhatian, tapi aku merasa dipojokkan oleh media dan banyak orang beberapa bulan terakhir. Banyak orang yang menyebut profesiku sebagai pekerjaan nista, sebuah jalan hidup yang hina penuh maksiat. Hidup terkutuk yang merusak hidup mahligai rumah tangga banyak orang.

Berita-berita tentangku kini menghiasi banyak media. “Pelakor buat ibu-ibu khawatir tentang tumbuh kembang anaknya!”, “Ini dia wajah Pelakor yang menggegerkan itu!”, “Netizen anggap wajah Pelakor ini hasil operasi plastik!” Hinaan demi hinaan, cacian dan berbagai label buruk aku terima. Mereka menuduhku sebagai manusia palsu, seseorang yang tak layak hidup karena telah mengubah tampilan diri supaya disukai banyak orang.

Tapi apakah itu benar? Apakah semua ini adalah hal yang bisa diterima? Memang kenapa jika aku jadi Pelakor? Apa salah dan dosaku saat menjadi Pelakor? Apakah dengan menjadi Pelakor membuatku lebih buruk? Apakah kalian merasa jadi lebih suci sementara aku penuh dosa?

Siapa sih yang mau jadi orang ketiga dalam sebuah hubungan? Aku tak pernah mau menjadi orang yang seperti itu. Tapi apa salahku jika kemudian orang-orang memberiku banyak kado, hadiah, untuk menarik perhatianku. Apa salahku jika kemudian pasangan kekasih hancur karena partnernya lebih banyak menghabiskan waktunya bersamaku? Aku tak pernah mau melakukan ini.

Sesungguhnya aku tak pernah berharap dan memilih untuk menjadi seperti ini. Sejak kecil aku hanya ingin dicintai, menjadi pusat perhatian dan kekaguman. Aku tak mengelak jika kalian menuduhku merayu. Dengan segala yang aku miliki, perhatian dan kekaguman adalah hal yang kerap kali tak bisa aku miliki secara tulus.

Orang hanya melihatku karena pesona wajahku, keindahan tubuhku, dan juga suaraku yang dianggap manja menggoda. Tapi mengapa kalian hanya menyalahkanku? Kenapa setiap seseorang suka padaku, mendekatiku, memajang wajahku dalam ponselnya, aku yang selalu disalahkan? Aku tak menggoda mereka, aku bahkan tak pernah memulai hubungan ini. Seringkali aku adalah pihak ketiga yang dikagumi, bukan seseorang yang usil mendekati.

Ibu-ibu menuduhku merusak keluarga mereka. Membuat orang yang mereka cintai mabuk kepayang memikirkanku. Ibu-ibu membenciku karena orang yang mereka sayang tak peduli lagi dengan ibunya. Mereka sibuk memandangiku di layar ponsel, bahkan seringkali sembunyi-sembunyi bicara padaku di layar laptop mereka. Tapi apakah mereka pernah berpikir, mengapa orang yang mereka sayang menyukaiku?

Sementara bapak-bapak kerap kali bersembunyi saat ingin melihatku. Aku tahu di ponsel mereka ada foto dan berbagai video tentangku. Mereka menyembunyikan keberadaanku karena tak ingin dihakimi masyarakat. Mereka menyukaiku tapi terlalu tua untuk menunjukkannya. “Udah tua bangkotan bau tanah kok kelakuannya gitu,” demikian kata orang yang membenciku.

Memang lebih mudah menyalahkan orang lain atas hal yang tak bisa kita pahami. Dalam sebuah hubungan ada banyak perspektif yang perlu kita sadari. Bahwa seseorang tak bisa dengan mudah menjadi suka pada yang lain tanpa alasan. Suka kepada yang lain adalah hal yang wajar, bukan sesuatu yang harus dibenci atau dirayakan dengan kekerasan.

Jika seseorang menyukaiku, bukan berarti aku berniat merebutnya darimu. Jika seseorang mengagumiku, bukan berarti aku yang menggodanya. Jika seseorang menyatakan cinta padaku, bukan berarti dengan sengaja aku ingin merusaknya karenamu. Pernahkah kamu berada di posisiku? Dianggap sebagai benalu, perusak, padahal kita bertemu saja tak pernah!

Orang tak pernah butuh alasan untuk membenci, tapi kerap kali butuh alasan untuk peduli. Pernahkah kalian yang membenciku merasakan betapa susahnya dirayu, dicintai orang yang telah memiliki pasangan, selama 24 jam diawasi, dan kerap kali dipaksa mencintai balik? Aku tak pernah memilih hidup menjadi Pelakor, hidup ini yang memilihku untuk menjadi beda.

Memang salah jika aku molek dan suka menghias diri? Memang salah jika setiap hari aku berlatih berjam-jam untuk mencapai tubuh ideal? Aku melakukannya untuk diriku sendiri, untuk sesuatu yang aku percayai. Aku tak pernah merasa perlu berdandan untuk orang lain atau menjadi menarik untuk orang lain. Aku memilih ini karena memang aku ingin mencintai diriku sendiri.

Pernah aku berjalan di mall, beberapa orang asing mengelilingku, meneriaki aku, lantas memaksaku menuruti permintaan mereka. Baru-baru ini aku keluar dari bandara, tubuhku ditarik oleh orang asing, dijatuhkan, lantas mereka histeris, dengan muka memerah, mata mendelik, meneriakkan namaku seperti aku telah berbuat dosa besar pada mereka.

Iklan

Dalam keheningan malam aku selalu berdoa kepada Tuhan untuk bisa tetap menjalani ini. Salahkah aku? Dosakah mereka yang datang padaku? Sampai kapan aku bisa bertahan dengan semua kebencian yang aku hadapi hari ini? Apakah aku harus terus berjalan, bisakah aku melewati hari tanpa diganggu, diberi hadiah yang aku tak mau, dikerubutin di tempat umum sambil diteriakin? Aku tak sanggup tuhan.

Yah, apapun pembelaanku, pasti kalian tak akan pernah peduli. Memang aku hanya Pelakor, Pelantun Lagu Korea, yang kalian puja di Weekly Idol. Daebak.

Terakhir diperbarui pada 16 Desember 2017 oleh

Tags: drama koreaidol grupK-PopKoreapelakor
Arman Dhani

Arman Dhani

Arman Dhani masih berusaha jadi penulis. Saat ini bisa ditemui di IG @armndhani dan Twitter @arman_dhani. Sesekali, racauan, juga kegelisahannya, bisa ditemukan di https://medium.com/@arman-dhani

Artikel Terkait

Dracin bukan sekadar kisah cinta lebay. MOJOK.CO
Ragam

Kisah Cinta “Menye-menye” ala Dracin bikin Hidup Perempuan Dewasa Lebih Berbunga dari Luka Masa Lalu yang Menyakitkan

6 Januari 2026
Tinggalkan Probolinggo untuk kerja di Korea Selatan demi bantu Ibu. Dapat cuan gede malah dituduh tetangga jual diri MOJOK.CO
Ragam

Nekat Kerja di Korea Selatan demi Bantu Ibu, Dapat Cuan Gede Malah Dituduh Tetangga Jual Diri hingga Tak Mau Pulang Lagi

17 Juni 2025
Kim Soo Hyun, Skandal Pedofil Menjadi Sisi Gelap Korea Selatan MOJOK.CO
Esai

Ketika Oppa Kesayanganmu Terseret Kasus Pedofil: yang Perlu Dipetik dari Skandal Kim Soo Hyun

13 Maret 2025
Sisi Gelap Korean Food di Jogja, Oknum Penjualnya Pakai Cara Nakal yang Bahayakan Pembeli.MOJOK.CO
Kuliner

Sisi Gelap Korean Food di Jogja, Oknum Penjualnya Pakai Cara Nakal yang Bahayakan Pembeli

14 Juli 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Klitih dan Normalisasi Kekerasan: Alarm Bahaya dari Jalanan Jogja MOJOK.CO

Klitih dan Normalisasi Kekerasan: Alarm Bahaya dari Jalanan Jogja

16 Februari 2026
Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium MOJOK.CO

Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan, Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium

16 Februari 2026
Masjid Menara Kudus yang dibangun Sunan Kudus. MOJOK.CO

Menapaki Minaret Pertama di Indonesia untuk Mendalami Pesan Tersirat Sunan Kudus

19 Februari 2026
KA Airlangga, KA Taksaka, Pengalaman 22 Jam Naik Kereta Api Membelah Pulau Jawa MOJOK.CO

Pengalaman Nekat 24 Jam Naik Kereta Api Jogja-Jakarta, Cuma Habis Rp80 Ribuan tapi Berujung Meriang dan Dihina “Miskin”

19 Februari 2026
Imlek 2026 di Candi Prambanan dan Candi Borobudur. MOJOK.CO

Tahun Kuda Api Imlek 2026: Mencari Hoki Lewat Kartu Tarot di Antara Kemegahan Prambanan dan Borobudur

15 Februari 2026
Lulusan S1 UGM bikin skripsi soal perumahan rakyat di Belanda. MOJOK.CO

Skripsi tentang Perumahan Rakyat di Belanda vs Indonesia bikin Saya Lulus dari UGM dengan Predikat Cumlaude

18 Februari 2026

Video Terbaru

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026
Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

14 Februari 2026
Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.