Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Tifatul Sembiring yang Baru Tahu Gus Yahya itu Kiai dan Gus Dur yang Bukan Kiai Abdurrahman Wahid

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
17 Juni 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Perdebatan soal kunjungan KH. Yahya Cholil Staquf belum berakhir. Kali ini Mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Tifatul Sembiring melalui akun twitternya mempertanyakan yang bersangkutan kiai mana? Kejadian yang mengingatkan cerita soal almarhum Gus Dur.

Tidak semua orang tahu semua hal, premis ini seharusnya jadi patokan. Apalagi untuk membaca kicauan Tifatul Sembiring, Mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang mempertanyakan bahwa KH. Yahya Cholil Staquf atau biasa disapa Gus Yahya adalah seorang Kiai.

Pada mulanya, melalui akun twitternya, Tifatul mempertanyakan kunjungan Gus Yahya ke Israel. Ada dua pertanyaan yang diajukan dari kicauannya. Pertama, kunjungan ke Israel ini adalah perintah Presiden Indonesia atau kunjungan pribadi. Kedua, saat bertemu dengan Netanyahu, Gus Yahya sempat bertanya atau enggak kenapa Israel membantai 60 penduduk Gaza dua hari sebelum puasa. Ditambahi dengan tagar manis #MauTauBanget.

Tak pelak kicauan ini menuai banyak balasan. Ada juga balasan yang menganggap pertanyaan ini tidak sopan. Akan tetapi, balasan Tifatul cukup telak:

Oh baru tahu saya, mas Yahya itu seorang Kiai. Kalau boleh tahu mengelola pesantren di mana ya… https://t.co/5k9C28usXO

— Tifatul Sembiring (@tifsembiring) 16 Juni 2018

Apa yang disampaikan Tifatul ini memang tepat. Sebab, beliau memang tidak tahu kalau Gus Yahya adalah seorang Kiai. Ya maklum, para santri terbiasa memanggil Gus Yahya dengan sebutan “Gus” alih-alih “Kiai”. Hal ini tentu membingungkan bagi sosok sekaliber Tifatul. Ini para netizen pembela Gus Yahya gimana sih?

Dalam tradisi santri sebutan-sebutan tersebut tentu membingungkan bagi Tifatul. Misalnya, KH. Abdurahman Wahid dipanggil Gus Dur atau KH. Mustofa Bisri dipanggil Gus Mus, yang sudah kiai besar begitu saja masih dipanggil Gus. Ini namanya tidak konsisten dong, orang seperti Tifatul Sembiring yang tidak punya koneksi ke pesantren-pesantren di Indonesia mana ngerti?

Meskipun Tifatul dulunya adalah Menteri Komunikasi dan Informasi, ya jangan berharap beliau tahu semua hal juga dong. Beliau kan juga manusia. Kan mantan Menteri juga boleh kalau enggak ngerti, termasuk enggak ngerti kalau Gus Yahya adalah seorang Kiai.

Ya, maklum, bisa dibilang posisi Gus Yahya ini macam-macam. Jadi Juru Bicara Gus Dur, penulis kisah-kisah pesantren, Katib ‘Aam PBNU, sampai ngasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang, bersama Gus Mus. Kebanyakan posisi dan diakui oleh masyarakat dan pemerintahan begini tentu bikin pusing Tifatul yang baru bisa diakui oleh Partai Politik.

Ketidaktahuan Tifatul ini jadi mengingatkan akan sebuah cerita mengenai Gus Dur pada era Orde Baru (Orba). Di mana pada zaman segitu, ternyata ada cukup banyak orang juga yang seperti Tifatul, yang mana betul-betul kesulitan memindai seorang Kiai.

Ceritanya saat itu, Gus Dur sudah jadi orang yang diwanti-wanti oleh Presiden Soeharto. Terutama posisinya yang begitu berpengaruh bagi masyarakat kalangan Nahdliyin. Segala macam pengajian Gus Dur bahkan sempat dilarang untuk diselenggarakan. Apapun yang berkaitan dengan Gus Dur dan perkumpulan, sekalipun itu pengajian sempat dilarang.

Sampailah kemudian di sebuah daerah ada pengajian yang akan mengundang Gus Dur. Pada zaman segitu, mengadakan acara apapun harus minta izin ke polisi dan harus pula mendapat restu. Jika tidak, siap-siap dibubarkan acaranya.

“Oh, mau ada pengajian ya? Mana sini suratnya,” kata Pak Polisi.

Oleh panitia, diberikanlah surat izin acara.

Iklan

Di tengah-tengah membaca surat izin tersebut, polisi yang bersangkutan mewanti-wanti si panitia, “Mas, ada instruksi khusus dari pemerintah untuk melarang pengajiannya Gus Dur. Jadi asalkan pengisi pengajian kalian bukan Gus Dur, besar kemungkinan akan diberi izin. Enggak usah khawatir,” kata si polisi.

Tentu saja si panitia acara jadi pucat pasi. Jelas-jelas pengajian ini memang akan mengundang Gus Dur sebagai pengisi acara. Dalam batin panitia yang saat itu ke Polres, bayangan acara bakal batal sudah ada.

“Oke, setelah saya baca-baca isi suratnya, saya izinkan acaranya. Silakan dilanjutkan acara pengajiannya,” kata Pak Polisi.

Tentu saja si panitia ini heran. Katanya tadi tidak boleh kalau mengundang Gus Dur, lha ini acara memang mau mengundang Gus Dur, kok tahu-tahu boleh? Wah, jangan-jangan ini karena karomah Gus Dur, batin si panitia. Sampai kemudian Polisi ini melanjutkan…

“Kalau kamu ngundang Kiai Abdurrahman Wahid sih enggak apa-apa… yang penting jangan Gus Dur saja.”

Si panitia melongo bingung.

Terakhir diperbarui pada 24 Juni 2018 oleh

Tags: Gus Durgus musGus YahyaIsraelpartai keadilan sejahteraPKSraudlatut thalibinTifatul Sembiringtwitteryahya cholil staquf
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Perang Iran Israel Bikin Nggak Waras, Masih Hidup Aja Syukur MOJOK.CO
Cuan

Perang Iran Israel Berpotensi Jadi Krisis Global, Kelas Menengah Ikutin Cara Ini Biar Tetap Waras Selama Bertahan Hidup

5 Maret 2026
Iran, Gejolak Timur Tengah dan Efeknya untuk Indonesia
Aktual

Bukan Nuklir, Air Adalah “Senjata Pemusnah” Paling Mematikan di Perang AS-Iran

4 Maret 2026
Iran, Gejolak Timur Tengah dan Efeknya untuk Indonesia
Tajuk

Gejolak Timur Tengah dan Efeknya untuk Indonesia

2 Maret 2026
Perang Dunia 3 Bukti Manusia Adalah Bajingan Maniak Perang MOJOK.CO
Esai

Perang Dunia 3 Menjadi Bukti Manusia Adalah Bajingan Maniak Perang yang Tidak Belajar dari Kehancuran karena Perang Dunia

24 Juni 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gaji Cuma 8 Juta di Jakarta Jaminan Derita, Tetap Miskin dan Stres MOJOK.CO

Kerja di Jakarta dengan Gaji Nanggung 8 Juta Adalah “Bunuh Diri” Paling Dicari karena Menetap di Kampung Bakal Tetap Nganggur dan Miskin

19 Maret 2026
Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali MOJOK.CO

Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 

17 Maret 2026
Sarjana (lulusan S1) susah cari kerja. Sekali kerja di Sidoarjo dapat gaji kecil bahkan dapat THR cuma Rp50 ribu MOJOK.CO

Ironi Sarjana Kerja 15 Jam Perhari Selama 3 Tahun: Gaji Kerdil dan THR Cuma 50 Ribu, Tak Cukup buat Senangkan Ibu

17 Maret 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi

Pekerja Jakarta, Rumah di Bekasi: Dituntut Kerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik

19 Maret 2026
Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
Suasana Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten. MOJOK.CO

“Jajanan Murah” yang Tak Pernah Surut Pembeli di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten

17 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.