MOJOK.COBagian terbaik dari rencana pemerintah ingin buka bioskop di tengah pandemi adalah alasannya. Yakni, meningkatkan imunitas masyarakat!

Selain munculnya kabar ngeri di mana sebanyak 238 karyawan pabrik LG Electronics di Cikarang positif corona, ada rencana menarik dari Satuan Tugas Penanganan Covid-19, yakni: bioskop bisa segera dibuka dalam waktu dekat.

Waw.

Oke, oke, Satgas Penanganan Covid-19 memang sudah mempersiapkan regulasi protokol kesehatan untuk mendukung rencana ini. Seperti penggunaan masker selama di area bioskop dan jaga jarak minimal 1,5 meter.

Akan tetapi bukan itu bagian terbaiknya. Bagian terbaik dari rencana ini adalah alasannya di baliknya.

Menurut Juru Bicara Satgas, Wiku Adisasmito, masyarakat perlu mendapatkan hiburan di tengah pandemi. Dan dengan menonton film di bioskop, masyarakat bisa merasakan kebahagiaan sehingga imunitas tubuh meningkat.

“Imunitas bisa meningkat karena bahagia. Suasana mental, fisik dari para penonton ditingkatkan. Bioskop cinema salah satu kontributor,” kata Wiku dalam keterangan resminya.

….

….

Keren banget sumpah.

Rencana ini tidak hanya berlaku di Jakarta saja, tapi juga seluruh wilayah Indonesia. Dengan begitu, Satgas rencananya akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk merealisasikan pembukaan bioskop.

Kamu tak perlu penasaran dengan data apa yang bisa pemerintah berikan untuk menjamin bahwa bioskop tak akan jadi klaster baru penyebaran Covid-19. Soalnya memang semua rencana ini didasarkan pakai ilmu titen saja.

Lah iya dong, kalau mau pakai logika goblok-goblokan begini: buruh pabrik sekelas LG Electronics di Cikarang yang sudah menerapkan protokol kesehatan secara ketat aja bisa kebobolan, apalagi kerumunan random yang lagi nonton bioskop?

Baca juga:  Risma Sebaiknya Tak Ikut Urusi Masalah Sampah Jakarta

Karena rekomendasi dari Satgas ini pula, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pun menyambut baik rencana ini. Bahkan menurut Anies, masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan mengingat sudah ada puluhan negara di dunia yang juga sudah membuka bioskopnya.

“Jadi 47 negara saat ini, kegiatan bioskop sudah berjalan seperti biasa. Bahkan di Korea Selatan, selama pandemi termasuk puncak pandemi mereka di sana, bioskop tidak ditutup,” kata Anies Baswedan.

Wah, wah, pemerintah pusat dan Anies kok tumben kompak nih sembrononya.

Mendengar klaim semacam ini, jadi kepengin garuk-garuk kepala deh rasanya. Ya kan kita juga tahu kalau pada Maret 2020 kemarin saja, ketika Korsel sudah mampu memeriksa hampir 400 ribu orang, pemerintah kita baru mampu memeriksa sekitar 6 ribuan orang.

Perbandingan itu sudah menunjukkan beda keseriusan pemerintah kita dengan pemerintah Korea Selatan. Artinya, membandingkan diri sendiri kayak negara semaju Korea Selatan agar bisa diamini soal kebijakan membuka kembali biskop itu kok kayak nggak tahu diuntung ya namanya.

Kok gitu amat yak cara mikirnya?

Padahal, di tempat yang sama (baca: Jakarta) rencana dibukanya bioskop ini pernah dianulir sendiri pada Juli 2020 silam. Saat itu, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mengimbau untuk menunda dulu rencana dibukanya bioskop.

Alasannya? Ya selain penularan Covid-19 yang makin variatif bisa nyebar, ruang bioskop sangat riskan karena berada di ruangan tertutup, kedap udara, dan sedikitnya bakal ada belasan sampai puluhan orang dalam ruangan yang sama.

Baca juga:  Kejeniusan Anies Baswedan Di Balik Anggaran Formula E Lebih Besar dari Anggaran Banjir Jakarta

Kecuali, kalau pemerintah mau menjamin bahwa semua yang masuk area bioskop sudah melakukan swab test, hasilnya negatif, dan pengelola bioskop memeriksa satu demi satu pengunjung yang datang.

Emang mau ribet banget gitu? Kalau sanggup sih ya nggak apa-apa juga sih. Pertanyaannya, mau nggak pemerintah memakai prosedur ribet begitu? Soalnya, urgensi orang bioskop itu kan jauh di bawah orang bepergian naik pesawat, jadi harusnya standar protokol kesehatannya jauh lebih ketat dong.

Satu hal yang perlu dikhawatirkan dari rencana edan ini adalah soal ilusi yang dimainkan oleh pemerintah kita lewat jargon “new normal”-nya. Usaha minimal, tapi ngarepnya capaian maksimal.

Lah ya lihat aja sama kasus positif yang makin diabaikan oleh pemerintah—berikut juga dengan masyarakat. Padahal, kalau mau jujur, kondisi saat ini justru jauh lebih ngeri ketimbang kondisi awal-awal pandemi.

Covid-19 belum teratasi, kasus positif menanjak dari hari ke hari, tapi secara psikologis masyarakat seolah berhasil diyakinkan bahwa penyakit ini sudah benar-benar teratasi. Padahal persebarannya malah makin gila-gilaan dan ngeri-ngeri.

Meski begitu, kita sebaiknya juga patut memberi apresiasi kepada pemerintah dan jajarannya selama pandemi. Karena kalau dengan nonton bioskop pemerintah yakin masyarakat akan makin kuat imunitasnya, mungkin dengan kebijakan absurdnya ini pemerintah sudah merelakan diri untuk jadi bahan tertawaan rakyatnya sendiri.

Because laugh is the best medicine.

BACA JUGA Indonesia Menjadi Salah Satu Negara Terburuk dalam Urusan Penanganan Corona atau tulisan POJOKAN lainnya.