MOJOK.CODenny Siregar pikir, anak STM baiknya ikut pendidikan bela negara bersama TNI. Lah, lah? Nggak belajar dari TNI aja udah berani, apalagi diajari.

Gelombang protes tiada henti soal Revisi KUHP, pengesahan UU KPK, dan RUU lainnya membuat banyak pihak semakin lama semakin terlibat. Termasuk juga dari anak-anak STM. Hal ini yang mungkin menjadi kekhawatiran bagi salah satu pegiat media sosial pendukung Presiden Jokowi, Denny Siregar.

Dengan berani, Denny Siregar meluncurkan “serangan” balasan ke anak-anak STM melalui kekuatan terkuatnya: Akun Twitter. Sebuah respons dari tagar #STMMelawan dan #STMBergerak yang menguasai jagat Twitter Indonesia, sekaligus aksi “tawuran” anak STM ke aparat kepolisian. Gara-gara “serangan”-nya ini pula, tagar #DennySiregarDicariAnakSTM sempat populer di jagat Twitter.

Salah satunya adalah soal persetujuannya dengan konsep bela negara.


Oke, oke, jangan ngegas dulu dengan kata “banci” di sana. Kita bahas itu nanti.

Satu hal yang perlu disorot, Denny Siregar sepertinya lupa dengan nyali anak STM. Lha gimana? Tanpa dibekali dengan pendidikan ala militer saja anak STM sudah berani maju menghadapi tameng-tameng polisi. Tanpa peralatan memadai lagi. Hanya mengandalkan gesper, bambu, helm INK atau KYT. Bahkan ada juga yang cuma modal buku LKS doang.

Bahkan ketika banyak kakak mahasiswa terpental dengan water canon dan risiko kena pukulan pentungan polisi, anak STM bisa dengan enteng tetap menerjang tanpa pikir panjang. Hal ini bukan karena anak STM punya ilmu kebal atau sakti mandraguna, melainkan ya karena emang mereka nggak peduli aja kalau itu berbahaya.

Baca juga:  Om Denny Siregar Dibela Polisi, tapi Polisi Cuma Bisa Ngebela Dirinya Sendiri

Jangan lupakan juga dengan energi mereka yang meluap-luap. Di saat para mahasiswa sudah terengah-engah berada di area konflik, anak-anak STM masih punya stamina luar biasa untuk terus melaksanakan aksi.

Sekarang bandingkan dengan aparat misalnya. Mereka perlu banyak prosedur untuk melakukan serangan. Semua perlu dipikirkan masak-masak. Peralatan juga nggak main-main. Dari tameng, baju anti-huru-hara, dan helm hadiah dealer motor yang dicat. Benar-benar bukan pertarungan yang adil memang.

Tapi anak STM sudah belajar banyak. Terutama ketika mereka melihat kakak-kakak mahasiswa mereka digebukin dan masih tak juga mau didengar aspirasinya (didengar sih iya, dikabulkan, itu yang belum).

Orang-orang seperti Denny Siregar tentu layak skeptis melihat anak-anak STM ini tidak tahu apa-apa soal isu Revisi KUHP. Halah, bocah kemarin sore ini, tahu apa mereka soal Undang-Undang? Wajar sih, Bung Denny kan sudah mengikuti politik tanah air sejak lama. Bahkan mungkin sebelum anak-anak STM ini jadi kromosom.

Tapi pandangan Denny Siregar ini benar-benar sangat bias kelas. Seolah dirinya dan Pemerintah sudah tahu betul apa yang terbaik untuk rakyat (termasuk anak-anak STM), tanpa mau peduli apakah ada rakyat yang setuju atau tidak.

Semua terjadi karena dimungkinan satu hal, orang-orang kayak Bung Denny ini menganggap rakyat Indonesia tak tahu apa-apa, jadi mereka nggak perlu protes. Kalaupun boleh protes, protesnya dianggap angin lalu saja. Begitu protes ini berubah jadi konflik, baru deh ngeluh, “Ealah, ternyata aksinya berujung rusuh. Nggak mutu.” Ya kalau sedari awal protesnya diakomodir, ya nggak bakal rusuh laah. Bijimana seeh?

Padahal ya, apa yang dibahas di Undang-Undang itu menyangkut kehidupan anak-anak STM ini juga ke depan. Beberapa ada yang benar-benar tak paham sedang demo apa. Ini wajar saja. Toh, mereka juga tidak harus paham politik dan perundangan-undangan di usia segitu kok.

Ayolah, coba kita lihat diri kita saat seusia dengan mereka, apakah kita saat itu juga punya pemahaman politik seperti sekarang? Ya kan nggak juga. Proses pengetahuan itu bertahap. Nggak ujug-ujug pinter.

Baca juga:  Imajinasi tentang Mojok yang Benar-Benar Hanya Akan Jadi Imajinasi

Maka, wajar saja kalau cara pandang anak STM sangat sederhana. Mereka tahu sejak dulu citra wakil rakyat itu nggak baik-baik amat. Oleh karena itu, ketika mereka melihat aksi mahasiswa kok nggak kelar-kelar ya berarti patut merasa curiga kalau negara sedang tidak baik-baik saja.

Pandangan sederhana kayak gini sebaiknya juga tak patut untuk diremehkan. Toh, pada kenyataannya ada juga anak STM yang paham kenapa mereka harus demo ke Gedung DPR.

“Kami di sekolah juga diajari PPKn, Kak. Anak sekolah juga tahu pasal-pasal yang nggak penting. Misalnya nih, memang kakak mau ditahan karena pulang di atas jam 10? Terus misal rumah kita di pinggir jalan lalu nongkrong, ditangkap karena gelandangan. Kami memang orang bawah, tapi tahu juga politik,” kata Raka, salah satu anak STM yang ikut aksi seperti dikutip dari IDN Times.

Orang-orang kaya Denny Siregar mungkin menilai mereka tak layak bersanding dengan anak STM, lalu berdebat soal Revisi KUHP dan lain-lain. Levelnya jauh. Yaw ajar, karena memang pengetahuan mereka di usia seperti itu belum penting-penting amat untuk paham. Tapi menganggap kalau semua anak STM nggak paham, ya itu jadi meremehkan jatuhnya.

Lagian, kalau menuruti usulan Bung Denny bahwa anak STM harus dilatih sama TNI, selain bisa membedakan hoaks dan provokasi maka sebenarnya itu jadi buah simalaka.

Lha gimana? Tanpa dibekali kemampuan perang dan pengetahuan intelejen TNI aja anak-anak STM berani nyariin Bung Denny. Gimana coba kalau mereka punya sedikit kemampuan TNI? Opo ora lebih berbahaya, Bung?

Di sisi lain, kalau anak-anak STM ini akhirnya bisa membedakan hoaks dan provokasi dari didikan TNI, followers ente bisa-bisa banyak berkurang lho nanti? Eh.


BACA JUGA Surat Terbuka untuk Buzzer Jokowi atau tulisan Ahmad Khadafi lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles