MOJOK.CO – Perang Iran Israel berpotensi jadi krisis global. Biar tetap waras selama bertahan hidup, ikuti 6 tips finansial dasar ini.
Perang Iran Israel (dan eskalasi di kawasan Teluk) kini kian memanas. Konflik ini sepertinya nggak ada tanda-tanda akan berakhir dalam waktu dekat. Mungkin, secara jarak, konflik tersebut terasa begitu jauh. Tapi kalau urusannya sudah menyentuh tentang jalur energi dan logistik dunia, jarak geografis jadi semacam ilusi.
Potensi krisis di Selat Hormuz
Selat Hormuz adalah rute strategis bagi setidaknya 20% distribusi minyak dunia berada di bawah teoritori Iran. Iran yang terusik, menutup selat tersebut.
Ketika konflik dan ketegangan karena Perang Iran Israel makin meningkat, lalu lintas kapal makin terhambat. Kapal tanker yang ingin melintas Selat Hormuz harus rela “ngetem” di sekitar selat.
Efeknya tentu jadi terasa mulai dari premi risiko yang naik, ongkos logistik dan asuransi kapal membengkak karena situasi perang, dan perusahaan akan mencari rute alternatif lain yang lebih aman. Dampak praktisnya mereka juga akan mengeluarkan biaya perjalanan yang lebih banyak.
Ilustrasinya begini. Situasi Perang Iran Israel bikin ketidakpastian jadi naik, itu mendorong biaya energi dan logistik. Konsekuensinya harga barang jadi meningkat. Selat Hormuz jadi gambaran soal pentingnya kelancaran jalur distribusi. Kita tentu tidak bisa menyalahkan Iran yang menutupnya. Sebab mereka punya alasan.
Gambaran di atas bukan hanya sekadar teori, tapi beneran punya pengaruh signifikan bagi negara-negara seperti Indonesia. Terlebih negara kita ini, adalah importir net dari minyak.
Tentu tersendatnya distribusi minyak bisa berpotensi menciptakan kelangkaan. Harga energi dalam negeri bisa jadi akan naik. Secara bersamaan, Indonesia juga sedang menghadapi inflasi musiman karena musim Ramadan dan Lebaran. BPS melaporkan kalau inflasi Februari 2026 sebesar 0,68% (month-to-month) dan inflasi tahunan sudah menyentuh 4,76% (year-on-year).
Cara bertahan hidup buat kelas menengah ketika Perang Iran Israel bikin krisis
Sebagai kelas menengah, yang terpenting dalam situasi seperti ini adalah cara kita menyikapinya. Mereka yang panik dan memborong minyak atau barang kebutuhan dengan jumlah besar bukan langkah yang bijak.
Sebaliknya, mereka yang denial dan merasa bahwa situasi karena Perang Iran Israel tetap terkendali juga tidak baik. Kepolosan bisa jadi melahirkan kepanikan itu sendiri. Sebab mereka baru sadar ketika kondisi sudah terlanjur sulit.
Yang kita butuhkan adalah strategi yang bisa mengurangi kerentanan atau keterpurukan. Tujuannya supaya hidup tidak langsung jatuh terkapar saat harga energi naik dan inflasi musiman ikut meningkat. Berikut cara-cara yang saya maksud.
#1 Menata dan menyelamatkan arus kas selama krisis karena Perang Iran Israel
Melihat dengan detail segala pengeluaran yang kelihatannya kecil tapi tanpa sadar bikin boros. Misalnya langganan platform streaming, aplikasi, atau belanja online.
Saring kembali mana yang bisa kamu hentikan langganan untuk sementara waktu. Kalau kita bisa memotong 10% sampai 15% dari pengeluaran tersebut selama satu atau dua bulan, kita sudah menciptakan ruang napas untuk pengeluaran.
#2 Tahan keputusan yang boros bahan bakar
Perang Iran Israel yang sedang terjadi erat kaitannya dengan energi dan logistik. Di situasi saat ini, orang yang paling boros adalah yang aktivitasnya selalu bergerak dengan kendaraan pribadi untuk kegiatan-kegiatan kecil.
Satukan agenda, prioritaskan rute yang mengharuskan berkendara, dan pertimbangkan berjalan kaki saat pergi ke tempat-tempat dekat, atau gunakan transportasi umum jika jaraknya jauh. Menghemat bahan bakar bisa jadi salah satu yang melegakan pengeluaran kita saat krisis.
#3 Batasi penggunaan layanan utang, mulai dari pinjol, kartu kredit, hingga paylater
Gunakan kalau memang arus kas yang kita miliki sudah lancar dan disiplin. Hindari penggunaannya untuk menutup lubang utang yang lain. Dalam situasi krisis karena Perang Iran Israel, biaya hidup yang naik bisa jadi mendorong orang untuk tetap konsumtif dengan memanfaatkan layanan utang.
Mereka tergoda dengan slogan “bayar nanti” demi menikmati barangnya saat ini. Persoalannya, kondisi karena Perang Iran Israel seperti saat ini bisa membuat penyedia layanan mematok bunga tinggi tanpa kita sadari. Akibatnya, malah makin membebani. Ketika pendapatan sudah nggak cukup memenuhi kebutuhan rutin, dan utang juga tetap jalan, maka ada yang salah dengan arus kas yang dimiliki.
#4 Hindari segala bentuk instrumen trading yang punya volatilitas tinggi
Yakinlah, masuk ke instrumen seperti saham, kripto, forex, dan instrumen serupa lainnya saat ini hanya bikin kita makin gila karena naik turunnya nggak ngotak. Kalau bukan trader dengan manajemen risiko yang baik, kamu tidak perlu memaksa untuk mantengin harga hanya karena timeline lagi ramai.
Yakinlah, apa yang kita lihat di timeline soal suatu produk bisa jadi hanya praktik pompom (hasutan) biar kita fomo. Lebih baik kita kuatkan pondasi, mulai dari perkuat likuiditas (dompet) dan diversifikasi investasi emas atau reksadana karena kita nggak tahu sampai kapan Perang Iran Israel berlanjut.
#5 Pertebal bantalan pengeluaran melalui tabungan dan dana darurat
Yah ini mungkin terdengar klise, tapi keberadaan tabungan atau dana darurat menghindarkan kita dari perilaku utang. Ancaman keuangan seperti sakit, kendaraan rusak, atau pendapatan terganggu bisa di-backup dengan uang ini.
Jangan sungkan juga untuk biaya proteksi seperti asuransi atau BPJS. Keberadaannya mengurangi beban pengeluaran saat menghadapi kondisi yang tidak diinginkan.
#6 Bagi yang muslim, siapkan Lebaran yang realistis
Mulai dari bikin anggarkan mudik sejak hari ini dan jangan kamu tunda. Lalu, beli kebutuhan jauh-jauh hari dengan jumlah yang wajar sesuai kebutuhan. Batasi pengeluaran sosial yang sering nggak terasa, misalnya titipan oleh-oleh, traktir teman atau saudara, atau pengeluaran lainnya yang nggak wajib. Kita nggak harus menyambut Lebaran dengan sikap royal dan boros.
Perang Iran Israel bikin situasi tidak pasti
Itulah beberapa strategi yang bisa kita lakukan untuk merespons krisis karena Perang Iran Israel. Sebagai kelas menengah, kita memang tidak punya kekuatan untuk menghentikan perang. Tapi, kita masih punya kendali terhadap sesuatu yang paling dekat, yaitu keputusan keuangan dan kebiasaan kita sehari-hari.
Di tengah konflik global dan inflasi yang berpotensi meningkat, kepanikan justru menciptakan ketidakberlanjutan hidup. Sikap tenang dan bijak membuat pikiran kita justru dapat menata prioritas, menjaga keuangan, dan menahan diri dari pengeluaran yang tidak perlu.
Maka, tetap realistis, jangan pesimistik, apalagi panic buying. Intinya adalah supaya kita tetap waras selama bertahan hidup.
Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Menciptakan Rasa Aman Finansial dengan Langkah Sederhana Bernama Menabung dan tips finansial lainnya di rubrik CUAN.
