MOJOK.CO – Bapak 2 anak ini tekun sekali jualan es degan. Ketekunan itu hasilkan omzet 5 juta sehari dan mampu kuliahkan 2 anak di Unair. Inspiratif.
Panasnya Surabaya membuat saya akrab dengan es degan. Harganya yang terjangkau sekaligus menyegarkan bikin minuman ini jadi pilihan utama untuk membasahi tenggorokan. Kebiasaan itu akhirnya membuat saya cukup akrab dengan seorang pedagang es degan yang lokasi jualannya tidak jauh dari Universitas Airlangga (Unair).
Beberapa kali berbincang dengannya, saya jadi menyadari bahwa bisnis sederhana ini ternyata punya perputaran uang yang tidak kecil. Jadi, pedagang tersebut mengaku sudah berjualan sekitar 15 tahun. Dia sudah jualan es degan dari harganya saat itu masih Rp2.500 per cup dan sekarang Rp5.000an per cup.
Jualannya nggak beda dengan pedagang lainnya. Ya es degan dengan dengan berbagai variasi rasa, mulai dari cup normal rasa original seharga Rp5.000 sampai varian rasa seperti susu, alpukat, cocopandan, mangga, madu, dan campuran lainnya seharga Rp7.000. Kalau ingin degan utuh, cukup bayar Rp10.000 sementara degan ijo Rp15.000.
Cerita menarik datang soal omzet. Katanya, pada hari biasa, omzet penjualannya bisa mencapai Rp1 juta hingga Rp2 juta. Bahkan dia mengungkapkan, pada momen tertentu seperti Ramadan, dia pernah mengantongi Rp5 juta dalam sehari.
Hasil kerja keras ini berbuah manis setelah mampu menguliahkan dua anaknya di Unair. Bagi saya ini luar biasa.
Lalu, saya jadi mikir gini. Kira-kira berapa banyak cup degan yang harus si bapak jual supaya mendapat omzet segitu? Terlebih harganya cuma Rp5.000 sampai Rp7.000 per cup?
Seberapa banyak es degan yang harus terjual?
Setelah saya hitung, kalau seluruh pembeli hanya memesan es degan varian original Rp5.000, maka butuh 200 cup untuk mencapai omzet 1 juta dan 400 cup untuk mencapai Rp2 juta. Sementara itu, untuk mencapai omzet Rp5 juta, butuh terjual 1.000 cup. Volume yang sangat besar bahkan untuk penjual yang sudah lama berjualan.
Tapi kita harus ingat, lapak tersebut kan tidak hanya menjual es degan seharga Rp5.000. Ada varian lain yang bisa menunjang kenaikan omzet yang nominalnya sampai jutaan hingga bisa menabung dan menguliahkan dua anaknya ke Unair.
Simulasinya setiap transaksi 100, ada 50 pembeli memesan es dengan original, 35 memesan varian Rp7.000, 10 untuk pembeli degan utuh, dan 5 degan ijo. Maka omzetnya menjadi Rp670 ribu.
Dengan komposisi yang serupa, maka omzet Rp1 juta bisa setara 150-an cup dan Rp2 juta setara dengan penjualan kurang lebih sekitar 300-an cup. Sementara saat omzet mencapai Rp5 juta, maka tidak perlu menjual sampai 1.000 cup. Bisa jadi cukup menjual kisaran 650-750 cup pada hari itu.
Dari sini, saya bisa simpulkan bahwa bisnis es degan memang mengandalkan banyaknya transaksi dalam satu hari. Selain itu, lokasi dagang si bapak juga sangat strategis.
Dia berjualan tidak jauh dari Unair, tempatnya di food court pinggir Jalan Karang Menjangan. Di tempat seperti itu, calon pembelinya tidak hanya datang dari mahasiswa, melainkan juga pekerja dan penduduk setempat. Selain itu, dia juga membuka layanan melalui pesan-antar via ojek online.
Ambil degan dari mana?
Pedagang es degan itu mengatakan bahwa mayoritas dia ambil dari Lumajang, Jawa Timur. Jadi, ada distributor utama yang mengambil dalam jumlah banyak kemudian dia menyalurkan ke pedagang-pedagang.
Untuk setiap butir kelapa, rata-rata bisa menghasilkan sekitar 2,5 cup. Kalau mengacu pada simulasi di atas, kebutuhan bahan baku untuk es degan per cup membutuhkan sekitar sekitar 75–150 butir sehari. Kalau omzetnya menyentuh Rp5 juta, maka kebutuhannya bisa mencapai 300-an buah di hari tersebut.
Menurut penjual tersebut, ini yang membuat keberadaan pemasok tetap menjadi penting. Sebab harga kulak, ketepatan pengiriman, dan kemampuan menyesuaikan stok sangat mempengaruhi keuntungan penjualan.
Modal jualan es degan
Lalu, berapa modal jualan es degan? Secara kasaran, si bapak mengatakan sekitar 6 jutaan (saat awal membuka bisnis ini). Setidaknya untuk keperluan menyiapkan gerobak, peralatan, tempat penyimpanan es, meja, kursi, hingga persediaan bahan baku.
Tapi, yang lebih penting adalah modal untuk dia putar setiap harinya. Dari penuturannya dan membandingkan dengan beberapa referensi lainnya, biaya kulakan kelapa muda di tingkat pedagang bisa berada di kisaran Rp4.000 hingga Rp5.000 per butir. Bahkan, harga yang lebih murah mungkin diperoleh melalui pembelian langsung dari pemasok dalam jumlah besar.
Mengacu pada estimasi omzet sebelumnya, dengan asumsi harga kelapa muda Rp4.000–Rp5.000 per butir dan satu kelapa menghasilkan rata-rata 2 hingga 3 cup, maka kebutuhan modal bahan baku dan kemasan diperkirakan sekitar Rp540 ribu hingga Rp1,2 juta sehari untuk mengejar omzet Rp1 juta sampai Rp2 juta.
Omzet besar, tetapi berapa keuntungan yang dibawa pulang?
Pedagang es degan itu memang tidak menjelaskan rincian mengenai keuntungannya. Namun, saya coba untuk hitung berapa keuntungan yang diperolehnya
Apabila menggunakan komposisi penjualan sebelumnya, dari omzet Rp670 ribu untuk setiap 100 penjualan, biaya bahan baku dan kemasan diperkirakan Rp360 ribu–Rp405 ribu. Artinya, keuntungan kotornya sekitar Rp265 ribu–Rp310 ribu, sebelum menguranginya dengan biaya operasional.
Dengan asumsi biaya operasional Rp180 ribu per hari serta potongan aplikasi pesan antar, maka keuntungan ketika omzet mencapai Rp1 juta diperkirakan Rp176 ribu–Rp242 ribu. Ketika omzet Rp2 juta, keuntungannya bisa mencapai Rp533 ribu–Rp664 ribu. Ketika omzet mencapai Rp5 juta, keuntungan hariannya berpotensi mencapai Rp1,48 juta–Rp1,81 juta.
Berapa total per bulannya? Taruhlah dia berjualan selama 26 hari dan omzet rata-rata Rp1,5 juta sehari, total omzetnya bisa mencapai Rp39 juta. Setelah dikurangi estimasi biaya bahan baku, kemasan, dan operasional, keuntungan bulanannya berpotensi mencapai Rp9,2 juta hingga Rp11,8 juta. Angka ini adalah estimasi yang saya lakukan sendiri. Bisa jadi kurang atau bahkan lebih dari itu.
Meski terlihat sederhana, saya beranggapan bahwa bisnis es degan adalah bisnis yang mengharuskan pemiliknya pintar dalam mengelola persediaan. Kelapa muda memang terlihat tahan lama, tapi tetap saja kalau menyimpannya terlalu lama, kualitas buah akan tetap turun.
Dari jualan es degan sampai menyekolahkan anak di Unair
Cerita menarik lainnya dari si bapak adalah bagaimana ketekunannya selama bertahun-tahun menjual es degan bisa membiayai kedua anaknya kuliah di Unair. Satu anaknya di Fakultas Teknik, sementara satu anak lainnya di Fakultas Hukum.
Rasanya begitu unik. Di sekitar kampus popular dan menjadi pasar potensial dagangannya, hasil usahanya justru bisa menjadi bekal baginya untuk membiayai anak-anaknya menempuh pendidikan di kampus Unair.
Saya tentu tidak menanyakan detail berapa biaya kuliah keduanya anaknya. Atau apakah kebutuhan rumah tangganya tercukupi. Tapi yang jelas, saya menyadari bahwa ternyata usaha kecil tidak selalu berarti perputaran uangnya pun kecil.
Di balik es degan seharga Rp5.000, ada pengelolaan usaha yang membuatnya mampu menguliahkan 2 anak di Unair. Inspiratif!
BACA JUGA 3 Cara Licik Pedagang Es Kelapa Muda yang Membuat Mereka Cepat Meraup Keuntungan, tapi Membahayakan Kesehatan Pembeli dan artikel menarik lainnya di rubrik CUAN.