Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa

Gaji 8 Juta di Jakarta Jaminan Miskin, Kamu Butuh 12 Juta MOJOK.CO

Ilustrasi Gaji 8 Juta di Jakarta Jaminan Miskin, Kamu Butuh 12 Juta. (Mojok.co/Ega Fansuri)

MOJOK.COGaji Rp8 Juta di Jakarta itu nanggung. Kamu akan sulit untuk hidup layak. Idealnya, dapat gaji Rp12 juta meski nggak banyak yang bisa.

Di tulisan sebelumnya, saya mengulas soal gaji Rp8 juta per bulan di Jakarta adalah angka yang nanggung. Jakarta, dengan kompleksitasnya, menghasilkan struktur pengeluaran yang jauh lebih banyak dan bercabang. Sehingga, angka Rp8 juta terlihat layak tapi terasa nanggung. Dengan angka tersebut, kamu harus mengorbankan banyak komponen biaya hidup.

Lalu muncul pertanyaan, “Sebenarnya, berapa gaji ideal untuk hidup layak di Jakarta? Apakah Rp9 juta cukup? Bagaimana dengan Rp10 juta?” 

Untuk menjawab itu, tentu kita nggak bisa langsung menyederhanakannya dengan angka pasti. Perlu kalkulasi berdasarkan ilmu ekonomi supaya angkanya tidak bias. Maka dari itu, kita mulai dengan pertanyaan yang paling mendasar. 

BACA JUGA: Kerja di Jakarta, Tinggal di Bekasi Rasanya Mau Mati di Jalan: Memutuskan Pulang ke Jogja Disambut Derita Baru Bernama UMR Jogja yang Menyedihkan Itu

Apa definisi hidup layak itu sendiri?

Kalau mengacu pada diskursus ekonomi ketenagakerjaan, kehidupan layak punya konsep yang disebut dengan living wage. Istilah ini mengacu pada standar minimum dari pendapatan seorang pekerja yang memungkinkan dirinya dapat memenuhi kebutuhan dasar dan hidup dengan standar yang layak. 

Lebih detail, menurut Global Living Wage Coalition, maka pendapatan tersebut harus bisa memenuhi beberapa kebutuhan. Misalnya, kebutuhan makanan, tempat tinggal, kesehatan, pendidikan, transportasi, dan cadangan untuk kebutuhan tak terduga, seperti tabungan, asuransi, dan investasi.

Jadi, hidup layak tidak sama dengan sekadar bertahan hidup (subsistence). Di dalamnya, sudah harus termasuk pengeluaran terhadap aspek keamanan, martabat, dan ruang untuk masa depan.

Amartya Sen, peraih nobel, memperkuat konsep ini dan kita mengenalnya dengan istilah capability approach. Inti dalam pandangannya, hidup yang sejahtera (layak) bukan sekadar soal pendapatan. Ini juga tentang kemampuan individu untuk mengisi kehidupannya dengan nilai-nilai yang berharga.

Jadi, ukuran hidup layak tidak hanya tentang apakah hari ini bisa makan. Hidup layak juga meliputi apakah seseorang punya kemampuan mengambil pilihan lain dari pendapatan yang dia terima. Mulai dari belajar atau mendalami hobi, mengasah keterampilan, dan mengambil berbagai keputusan tanpa takut nggak bisa makan.

Hidup layak di Jakarta tidak dibatasi oleh angka itu sendiri

Ketika sudah tahu gambaran hidup yang layak di Jakarta, kita akan sadar bahwa nominal angka, apakah Rp8 atau Rp9 juta itu cukup atau tidak, terasa terlalu sederhana. Sebab, yang terpenting adalah apakah angka itu memungkinkan seseorang untuk sesuatu yang disebut Sen sebagai capability, yaitu ruang hidup yang manusiawi.

Masalahnya, prinsip ini tidak terlihat secara konkret dalam kebijakan. Sebab, Indonesia menafsirkan standar konsep Kebutuhan Hidup Layak (KHL) secara dangkal. Secara definisi, KHL adalah kebutuhan pekerja untuk hidup layak secara fisik dalam kurun waktu sebulan. Kata kuncinya adalah “fisik”.

Komposisinya meliputi, makanan, makanan (dengan standar kalori tertentu), tempat tinggal, kesehatan, transportasi, dan beberapa kebutuhan dasar lainnya. Ingat, di sini kita sedang membicarakan Jakarta.

KHL hanya mengakomodasi kebutuhan layak secara fisik, tapi tidak otomatis mengakomodir layak secara manusiawi. Individu pekerja Jakarta bisa jadi memenuhi kebutuhan kalorinya, tapi apakah kalorinya berkualitas? Kemudian, secara kualitas finansial, apakah orang tersebut terbebas dari kecemasan soal masa depan ketika tidak punya tabungan dan ruang untuk berkembang?

Inilah yang saya maksud bahwa Jakarta tidak hanya menuntut penghuninya terpenuhi hanya dari segi fisik. Tapi juga dari sisi manusiawi, meliputi emosi atau mental.

Jakarta bukan hanya kota yang mahal 

Jakarta adalah wujud dari kompleksitas peradaban yang struktur biaya hidupnya bisa dibilang tidak seimbang. Pengeluaran untuk tempat tinggal bisa menelan lebih dari seperempat pendapatan, mobilitas juga memakan banyak waktu dan energi, serta biaya sosial yang tinggi. Semua Itu memang tidak bisa diam-diam menguras habis pendapatan.

Ditambah lagi, KHL yang dikonversikan ke dalam angka berbentuk Upah Minimum Kota, sering ditafsirkan sebagai upah maksimum. Sehingga, banyak dari individu pekerja yang justru mendapatkan pendapatan di bawah standar.

Sekarang kita coba masuk ke dalam persoalan untuk memahami secara lebih konkret bagaimana untuk hidup layak. Saya coba membaginya ke dalam beberapa bagian.

Bertahan hidup di Jakarta

Bagian pertama adalah bertahan hidup. Bagian ini mencakup segala kebutuhan yang kaitannya dengan sesuatu yang mendasar, mulai dari makan, tempat tinggal, dan transportasi. Di Jakarta, komponen ini begitu besar. Biaya kos sederhana saja sudah di atas Rp1 juta hingga Rp3 juta per bulan.

Makan dengan standar hemat bisa menyentuh Rp1,5 juta sampai Rp2 juta per bulan. Transportasi, baik itu KRL, ojek online, atau bensin, dan biaya perawatan kendaraan pribadi, setidaknya menggerus pendapatan Rp500 hingga Rp1 juta per bulan. Bisa kamu lihat, hanya untuk bertahan hidup, seseorang setidaknya menghabiskan bisa lebih dari Rp4 juta per bulan.

Tentang stabilitas 

Bagian ini adalah tentang menjamin bantalan keuangan yang bisa membuat seseorang jadi lebih tenang di Jakarta. Mulai dari punya tabungan, asuransi kesehatan, dan dana darurat. Sederhananya, seorang pekerja idealnya menyisihkan minimal 10 sampai 20% dari pendapatannya untuk bantalan keuangan ini.

Tapi realitanya, banyak pekerja di Jakarta, terlebih perantau sulit untuk menjangkau bagian ini. Sebab, mayoritas dari mereka gajinya sudah habis sebelum akhir bulan. Penyebabnya bisa karena hal yang tidak terduga seperti sakit, motor rusak, keluarga butuh uang, dan lain sebagainya.

Kehidupan sosial di Jakarta

Masih banyak yang menganggap hal ini kurang penting ketika kamu tinggal di Jakarta. Padahal, pengeluaran ini yang bikin seseorang tidak terjebak pada kondisi teralienisasi karena hanya bekerja dan pulang. 

Nongkrong dengan teman, pulang kampung, menikmati makanan enak dan sehat, atau sekadar punya ruang untuk berekspresi agar punya kualitas hidup yang ideal. Kehidupan sosial yang baik juga memberi manfaat membuka pertemanan dan kesempatan baru. Jadi, hal ini sebenarnya penting untuk membangun jejaring.

Pengembangan diri sebaiknya ada budget-nya

Mulai dari kursus keterampilan, pelatihan, membeli buku, menikmati hobi, sekadar mengikuti komunitas. Bagian ini membuat seorang pekerja di Jakarta punya hidup yang lebih berwarna dan bergairah.

Tersedianya ruang untuk menyiapkan masa depan

Bagian ini erat kaitannya dengan berinvestasi. Baik itu di instrumen pasar modal, emas, atau bahkan membeli aset tidak bergerak seperti tanah atau rumah. Bagian ini menjadi penting untuk memastikan seseorang punya masa depan yang sudah terencana. Tidak abu-abu dan hanya hidup dari hari ke hari.

Setelah kita tahu bagian apa saja yang membuat kehidupan jadi layak di Jakarta, selanjutnya adalah berapa gaji yang memungkinkan seorang pekerja dapat memenuhi semua bagian di atas?

Gaji yang “layak” untuk hidup di Jakarta

Ilustrasinya, jika seseorang lajang, pengeluaran perbulan untuk sewa kos layak Rp2,5 juta, makanan sekitar Rp2 juta, transportasi Rp800 ribu, dan kebutuhan harian seperti listrik, pulsa/kuota, dan lain-lain di angka Rp700 ribu. Total, untuk bertahan hidup saja Rp6 juta.

Kemudian, tambahkan tabungan/dana darurat sekitar Rp1,5 juta, sosial dan hiburan Rp1 juta, dan pengembangan diri Rp500 ribu. Total keseluruhan adalah kurang lebih Rp10 juta.

Ini adalah perhitungan hidup layak minimal. Belum cicilan kendaraan atau tanggungan keluarga. Sebab, kalau sudah berkeluarga dan punya tanggungan orang tua, angka ini bisa melonjak hingga Rp12 juta atau lebih.

Dari perhitungan di atas saja kita sudah bisa melihat bahwa gaji Rp8 juta itu beneran terasa nanggung. Karena bisa jadi kamu harus mengorbankan pengeluaran ideal. Bisa jadi tidak punya tabungan, tidak punya biaya untuk rekreasi atau hiburan, dan hidup dari bulan ke bulan.

BACA JUGA: Kerja Gaji 5 Juta di Jakarta Sebenarnya Cukup-cukup Saja. Tapi yang Direnggut dari Kita Lebih Besar, Hidup Jadi Tak Normal

Memperjuangkan hidup layak

Sampai di sini, kita seharusnya tahu kalau upah minimum hanya sebagai jaring pengaman, bukan jadi patokan pendapatan untuk standar hidup yang layak. Jadi akan makin apes ketika ada yang menerima gaji di bawah upah minimum.

Maka, dari hitung-hitungan di atas, berapa gaji yang ideal untuk hidup layak di Jakarta? Jawabannya hanya bisa berdasarkan estimasi, yaitu sekitar Rp10 juta untuk hidup layak bagi seorang lajang. Dan, jauh lebih tinggi untuk seseorang yang sudah berkeluarga dan menuntut hidup yang benar-benar stabil.

Di bawah nominal itu mungkin seseorang bisa hidup, tapi belum tentu benar-benar menjalani dan menikmati kehidupan. Sayangnya nominal Rp10 juta di Jakarta adalah pendapatan yang dianggap sudah sangat besar dan sulit didapatkan oleh banyak perantau yang ada di sana.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Kerja di Jakarta dengan Gaji Nanggung 8 Juta Adalah “Bunuh Diri” Paling Dicari karena Menetap di Kampung Bakal Tetap Nganggur dan Miskin dan analisis finansial lainnya di rubrik CUAN.

Exit mobile version