ADVERTISEMENT

Ketika ASN berharap cuan dari trading, eh, malah usaha penggemukan sapi yang mengantar saya bisa daftar haji bersama istri

Gagal trading, ASN bisa naik haji sama istri dari cuan bisnis sapi MOJOK.CO

MOJOK.CO – Cuan dari usaha penggemukan sapi kalah keren dibanding trading. Tapi, usaha ini malah bisa mengantar saya dan istri mendaftar haji.

Sebagai ASN, saya hanya memiliki satu pintu utama penghasilan, yakni gaji bulanan. Sementara itu, harga kebutuhan hidup terus bergerak naik. Kalau nggak cari uang tambahan, maka penderitaan pasti hadir di depan mata.

ADVERTISEMENT

In this economy, mengandalkan gaji saja rasanya semakin menantang. Menurut keyakinan saya, memiliki penghasilan tambahan bukan lagi sekadar keinginan, melainkan keniscayaan untuk memperkuat kondisi keuangan dan mempersiapkan kebutuhan masa depan

Kesadaran itu membuat saya tertarik mencoba mencari peluang usaha untuk mencari cuan alternatif selain gaji ASN, salah satunya trading saham. Apalagi, media sosial sering kali menampilkan kisah cuan para trader yang berhasil membeli mobil sport, menikmati kehidupan mewah, dan seolah-olah bisa memperoleh uang dengan mudah. 

Melihat semua itu, saya sempat berpikir, apa iya trading bisa memberikan hasil sebesar itu dan menjadi cuan untuk ASN?

Ternyata, kenyataannya tidak semudah yang terlihat di media sosial. Bermodal mengikuti omongan influencer dan analisis yang masih sebatas kira-kira, akhir dari usaha trading saya malah ambyar. Berharap untung, malah buntung. 

Saya baru menyadari bahwa trading membutuhkan pengetahuan, pengalaman, pengelolaan risiko, dan waktu yang cukup untuk mempelajarinya. Jam perdagangan saham yang bertepatan dengan jam kerja sebagai ASN juga menjadi kendala tersendiri bagi saya. Akhirnya, saya mengurungkan niat menjadikan trading sebagai sumber cuan tambahan.

Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa peluang usaha yang terlihat menjanjikan belum tentu cocok dengan kondisi dan kemampuan kita. Mengalihkan fokus mencari inspirasi cuan dari scroll beranda media sosial, saya mulai melihat kembali peluang yang sebenarnya sudah ada di dekat saya. Ternyata, peluang itu berasal dari usaha yang telah dijalankan bapak saya sendiri.

Belajar dari usaha bapak yang juga ASN

Bapak saya dulunya juga seorang ASN. Namun, di luar pekerjaan utamanya, beliau telah puluhan tahun menjalankan usaha penggemukan sapi dengan sistem kemitraan. 

Caranya relatif sederhana. Beliau menyediakan modal untuk membeli sapi, kemudian menitipkannya kepada mitra yang bertugas memelihara dan menggemukkan sapi tersebut. Setelah mencapai waktu dan kondisi yang sesuai, bapak akan menjual sapi untuk kurban pada saat Idul Adha.

Sebenarnya, sejak saya memiliki penghasilan sendiri, bapak sudah menawarkan agar saya ikut mencoba menjalankan usaha tersebut. Namun, saat itu saya merasa kurang tertarik. 

ADVERTISEMENT

Entah mengapa, rasanya usaha tersebut kurang “keren” untuk jadi peluang cuan tambahan di samping gaji ASN. Usaha penggemukan sapi terasa kurang keren dibandingkan trading saham atau bisnis-bisnis lain yang jadi pembicaraan di media sosial.

Belakangan, saya justru menyadari bahwa cara pandang saya waktu itu kurang tepat. Dalam bisnis, tujuan utamanya bukan terlihat keren di mata orang lain, melainkan bagaimana usaha dapat berjalan dengan baik, menghasilkan keuntungan yang wajar, dan bisa kita kelola sesuai kemampuan.

Bapak tidak perlu mengikuti tren bisnis yang sedang populer seperti trading untuk menjalankan usahanya. Beliau sudah memiliki pengalaman, memahami pola permintaan pasar, dan mengenal orang-orang yang dapat dipercaya untuk memelihara ternak. Hal-hal inilah yang kemudian saya sadari sebagai keunggulan yang selama ini tersedia bagi saya.

Kalau sekarang menggunakan istilah yang populer, saya memiliki privilege. Bukan semata-mata karena bapak memiliki usaha, melainkan karena saya bisa belajar langsung dari pengalamannya, mendapatkan gambaran mengenai cara kerja bisnis, dan mengakses jaringan mitra yang telah beliau bangun selama bertahun-tahun.

Daripada terus mencari cuan baru yang belum saya pahami, saya akhirnya membuka kembali obrolan dengan bapak. Saya ingin mengetahui lebih jauh bagaimana usaha tersebut berjalan, mulai dari pembelian sapi, pemilihan mitra, pemeliharaan, hingga penjualannya.

Meninggalkan trading dan memulai usaha dengan modal sendiri

Berdasarkan penjelasan bapak, saya memahami bahwa dalam usaha ini, saya bertindak sebagai pemilik modal. Modal digunakan untuk membeli sapi, kemudian sapi dititipkan kepada mitra untuk dipelihara dan digemukkan selama periode tertentu. Hasil penjualan nantinya dibagi antara pemilik modal dan mitra berdasarkan kesepakatan bersama.

Mitra yang bekerja sama dengan bapak umumnya merupakan petani yang juga memelihara ternak untuk menambah cuan di luar hasil pertanian. Bagi mereka, usaha ini menjadi sumber pendapatan tambahan. 

Sementara bagi saya, kemitraan tersebut memungkinkan saya menjalankan usaha tanpa harus menangani seluruh kegiatan pemeliharaan sapi secara langsung. Sehingga, tetap bisa fokus bekerja sebagai ASN.

Tentu saja, sistem ini bukan berarti saya cukup menyerahkan uang lalu menunggu cuan datang. Kepercayaan kepada mitra memang penting, tetapi komunikasi, pemantauan kondisi ternak, dan kesepakatan pembagian hasil tetap diperlukan agar kerja sama dapat berjalan dengan baik.

Modal awal saya juga tidak sedikit. Berdasarkan pengalaman saya, harga bakalan sapi yang akan digemukkan dapat antara Rp10 juta hingga Rp13 juta per ekor. Tergantung ukuran dan beratnya. Dengan tabungan yang telah saya kumpulkan selama beberapa tahun bekerja sebagai ASN, akhirnya saya memberanikan diri untuk memulai usaha ini dengan membeli empat ekor sapi dan meninggalkan trading secara penuh.

Menemukan mitra yang tepat bukan perkara mudah. Tidak sedikit cerita usaha berakhir dengan perselisihan atau pecah kongsi akibat perbedaan kepentingan. Namun, melalui jaringan bapak, saya tidak perlu memulai semuanya dari nol. Bapak telah mengenal mitra yang dipercaya dan memiliki pengalaman memelihara sapi.

Bahkan, keinginan para mitra untuk memelihara sapi terkadang lebih besar daripada kemampuan kami menyediakan modal untuk membeli ternak. Dari situ, saya semakin memahami bahwa dalam sebuah usaha, modal uang bukan satu-satunya faktor penting. Pengalaman, jaringan, dan kepercayaan juga memiliki nilai ekonomi untuk mengejar “gaji sampingan” selain ASN.

Memahami pasar dan kebutuhan modal

Usaha penggemukan sapi ini memiliki pola yang mengikuti permintaan pasar, khususnya menjelang Idul Adha. Biasanya, sekitar 6 hingga 8 bulan sebelum hari raya, mitra mulai mencari sapi yang akan mereka pelihara dan gemukkan hingga siap dijual.

Jenis sapi yang kami pelihara adalah sapi Bali. Pemilihan ini bukan tanpa alasan. Kami menyesuaikannya dengan permintaan pasar. Berdasarkan pengamatan saya, masyarakat yang ingin berkurban karena harga yang relatif sesuai dengan kemampuan calon pembeli di lingkungan kami, sangat meminati sapi Bali.

Sebagai gambaran, harga seekor sapi yang kami perdagangkan saat mendekati Idul Adha ada di kisaran Rp17,5 juta. Jika shohibul qurban melakukan pembelian secara berkelompok untuk kurban, biaya tersebut setara dengan sekitar Rp2,5 juta per orang apabila ditanggung 7 orang. Bagi calon pembeli, gambaran harga seperti ini membantu mereka memperkirakan kebutuhan biaya kurban.

Selain modal pembelian sapi, dari tabungan selama trading dan gaji ASN, saya juga harus menyediakan biaya vitamin, obat cacing, dan kebutuhan pemeliharaan lainnya. Untuk pakan, mitra memanfaatkan lahan yang telah mereka tanami rumput sehingga kebutuhan hijauan relatif lebih mudah dipenuhi. Dalam praktik yang kami jalankan, pakan yang yang kamu gunakan untuk penggemukan sapi Bali full hijauan berupa rumput.

Model usaha ini mengajarkan saya bahwa peluang bisnis tidak hanya ditentukan oleh harga jual yang menarik. Kita juga perlu memahami kebutuhan pasar, memperhitungkan biaya selama pemeliharaan, serta mengetahui sumber daya yang tersedia. Harga jual yang terlihat besar belum tentu menghasilkan keuntungan yang besar apabila biaya dan risiko tidak diperhitungkan dengan baik.

Setelah meninggalkan trading, saya merasakan cuan tambahan selain gaji ASN

Tahun pertama setelah meninggalkan trading dan mengejar cuan lewat sapi, berjalan cukup menjanjikan. Sapi yang saya titipkan kepada mitra berhasil terjual menjelang Idul Adha. Saya pun mulai merasakan tambahan penghasilan di luar gaji bulanan sebagai ASN.

Saya semringah bukan main. Selama ini, sumber penghasilan saya berasal dari gaji ASN. Kini, ada cuan lain yang berasal dari usaha yang saya jalankan bersama mitra. 

Namun, saya tidak langsung menggunakan hasil usaha tersebut untuk memenuhi keinginan konsumtif. Saya memilih memutar kembali keuntungan untuk menambah modal pembelian sapi pada periode berikutnya.

Pola ini terus saya jalankan selama beberapa tahun. Saya memang tidak langsung bisa menikmati semua keuntungan, melainkan saya pakai untuk mengembangkan usaha secara bertahap. Dengan cara tersebut, jumlah sapi yang dapat saya investasikan perlahan bertambah sesuai kemampuan modal yang tersedia.

Potensi cuan yang tetap menyimpan risiko

Namun, setelah sekitar 5 tahun berjalan relatif lancar, usaha ini menghadapi tantangan yang tidak pernah saya harapkan sebelumnya, yaitu penyakit jembrana. Celaka.

Penyakit jembrana adalah penyakit hewan menular yang khusus menyerang jenis sapi Bali bersumber dari Jembrana disease virus. Karena usaha saya berfokus pada satu jenis sapi, maka dampaknya cukup terasa. 

Dua ekor sapi yang mitra pelihara akhirnya mati akibat penyakit tersebut. Kehilangan dua ekor sapi berarti kehilangan modal yang telah saya keluarkan, sekaligus mengingatkan bahwa usaha yang selama ini berjalan baik tetap memiliki risiko.

Kejadian tersebut tidak membuat saya kapok. Justru saya semakin terdorong untuk memahami dan mengelola risiko dari kesehatan ternak. Saya mulai banyak berdiskusi dengan sesama peternak, dokter hewan, dan mencari informasi dari berbagai sumber untuk memahami langkah pencegahan.

Kami kemudian lebih memperhatikan pengendalian keluar-masuk ternak, karantina untuk sapi yang baru datang, kebersihan kandang, serta pemantauan kondisi kesehatan ternak. Peningkatan imunitas juga menjadi perhatian dalam pemeliharaan.

Tentu saja, upaya tersebut tidak menjamin seluruh risiko akan hilang. Namun, saya belajar bahwa ketika menjalankan usaha, kerugian seharusnya tidak hanya dipandang sebagai uang yang hilang. Kerugian juga perlu menjadi bahan evaluasi agar kita lebih siap menghadapi masalah serupa di masa mendatang.

Tujuh tahun memutar cuan untuk satu tujuan

Selama kurang lebih tujuh tahun menjalankan usaha ini, saya berusaha konsisten memutar kembali cuan untuk menambah modal. Saya tidak menjadikan hasil usaha sebagai alasan untuk menaikkan gaya hidup. 

Sebaliknya, keuntungan tersebut saya arahkan untuk membangun usaha secara bertahap. Ingat, saya harus mencari tambahan pemasukan selain gaji ASN.

Pada tahun-tahun awal, hasilnya mungkin belum terasa luar biasa. Namun, ketika saya terus mengakumulasi keuntungan dan sebagian besar saya kembalikan ke usaha, modal yang tersedia semakin berkembang. Saya juga semakin memahami pola bisnis, kebutuhan mitra, dan risiko yang perlu diperhatikan.

Tahun ini, saya akhirnya menggunakan hasil cuan dari usaha tersebut untuk tujuan yang telah lama saya inginkan: mendaftar haji bersama istri. Alhamdulillah, setelah bertahun-tahun menjalankan usaha dan memutar kembali hasilnya, saya bisa memanfaatkan keuntungan tersebut untuk mewujudkan salah satu tujuan penting dalam kehidupan kami.

Bagi saya, pencapaian ini memiliki makna lebih dari sekadar nominal uang. Ada proses panjang di belakangnya, mulai dari belajar kepada bapak, memberanikan diri menginvestasikan tabungan, membangun kerja sama dengan mitra, menikmati keuntungan pertama, hingga mengalami kerugian akibat kematian ternak.

Tidak hanya jadi cuan tambahan untuk seorang ASN

Yang membuat saya semakin bersyukur adalah tidak hanya saya dan keluarga yang merasakan manfaat dari usaha ini. Selain menjadi tambahan cuan untuk ASN, mitra yang membantu memelihara sapi juga sudah bisa membeli tanah sebagai sumber usaha lainnya. 

Dengan demikian, kerja sama ini bukan sekadar hubungan antara pemilik modal dan pemelihara ternak. Usaha ini juga memberi kesempatan bagi kedua belah pihak untuk mengembangkan kondisi ekonomi masing-masing.

Saya tentu berharap usaha ini dapat terus berjalan dan berkembang. Namun, pengalaman selama 7 tahun membuat saya semakin memahami bahwa keberlanjutan bisnis tidak cukup hanya mengandalkan keberuntungan. 

Untuk semua bisnis, kita akan selalu membutuhkan pengelolaan modal yang disiplin, kemitraan yang sehat, pemahaman terhadap pasar, dan kesiapan menghadapi risiko. Mau kamu ASN atau pegawai swasta, harus tetap mempelajari hal-hal tersebut.

Pada akhirnya, saya belajar bahwa peluang usaha tidak selalu harus dicari jauh-jauh, apalagi hanya karena sedang populer di media sosial seperti trading. Terkadang, peluang terbaik justru sudah berada di dekat kita, tetapi belum terlihat karena kita terlalu sibuk mencari sesuatu yang dianggap lebih menarik.

Dulu, saya menganggap usaha penggemukan sapi kurang keren dibandingkan trading. Sekarang, saya justru bersyukur karena berani kembali belajar dari usaha yang telah bapak rintis. Dari usaha inilah saya mendapatkan tambahan cuan, membangun modal secara bertahap, dan akhirnya bisa mendaftar haji bersama istri.

Bagi saya, inilah makna sebenarnya dari memanfaatkan privilege. Bukan sekadar menikmati kemudahan yang sudah tersedia, melainkan mengubah pengalaman, pengetahuan, dan jaringan yang kita miliki menjadi sesuatu yang produktif dan bermanfaat. Semoga usaha ini terus berkembang, membawa keberkahan bagi keluarga, dan memberikan manfaat bagi mitra yang telah ikut berjuang.

BACA JUGA Cerita Saya Memulai Usaha Rumahan Kecil-kecilan Tanpa Utang Hingga Raup Omzet Puluhan Juta per Bulan, Kamu Mau Coba? dan artikel menarik lainnya di rubrik CUAN.

Terakhir diperbarui pada 22 Oktober 2026 oleh .

Ikhsan Wicaksono

Seorang amtenar pejuang LDM.