Pengalaman Bisnis Laundry yang Cukup Menyedihkan, Berharap Cuan Besar 15 Juta per Bulan tapi Cuma Dapat 3 Juta: Boncos karena Kebocoran-Kebocoran Sepele

Derita Bisnis Laundry: Cuan 15 Juta Hilang karena Kebodohan MOJOK.CO

Ilustrasi Derita Bisnis Laundry: Cuan 15 Juta Hilang karena Kebodohan. (Mojok.co/Ega Fansuri)

MOJOK.COBisnis laundry memang “basah” karena uang bergerak tiap hari. Tapi, kalau nggak teliti, bukannya cuan malah boncos jutaan. 

Banyak orang menganggap bisnis laundry sebagai salah satu usaha yang bakal cuan. Saya mengakui pandangan dan sempat tertarik untuk mencoba peruntungan dalam bisnis ini.

Karena ketertarikan itu, saya akhirnya ngobrol dengan salah satu teman yang sudah menjalani bisnis laundry ini setidaknya 6 tahunan. Secara garis besar, teman saya memberitahu gambaran umum soal bisnis “basah” ini.

Misalnya soal modal, setidaknya dia butuh sekitar Rp70-an juta untuk skala bisnis yang terbilang ekonomis. Kemudian, dia membelanjakan modal tersebut untuk membeli mesin cuci dan mesin pengering masing-masing 5 set. 

Setelah itu, dia membeli setrika uap, meja, timbangan, rak, keranjang, dan sol awal detergent parfum, serta plastik. Lalu, dia membereskan biaya instalasi air, listrik, exhaust, dan pembuangan. 

Kemudian, dari sisi biaya berjalan, baik harian maupun bulanan, pengeluaran untuk bisnis laundry antara Rp6 sampai Rp8 juta per bulan dengan 4 orang karyawan. Omzet kotornya per bulan di Rp15 sampai Rp20 juta dengan tarif laundry Rp5 ribu per kilogram. Estimasi menerima pakaian di minimal 50 kilogram per hari. Terlihat sangat menggiurkan.

BACA JUGA: Bisnis Laundry Rumahan Lebih Banyak Buntung daripada Untung karena Tetangga Sering Ngutang

Mempelajari kebocoran bisnis laundry

Tapi di balik itu, teman saya ini justru sambat soal satu hal, yaitu kebocoran-kebocoran sepele yang bikin profitnya malah makin menipis. Dia bercerita pernah secara perhitungan omzet kotor dapat Rp21 jutaan. 

Jika mengacu ke biaya bulanan, dia menerima profit sekitar Rp13 juta sampai Rp15 juta. Namun, karena ada kebocoran, dia hanya menerima profit Rp3 juta. Gila nggak, tuh. Angka Rp3 juta tentu sangat kecil untuk napas sebuah usaha.  

Ada kasus lain ketika memasuki tahun kedua bisnis laundry berjalan, teman saya ini malah minus. Penyebabnya karena memang laundrynya sepi dan dia gagal menambal kebocoran-kebocoran yang sebetulnya sepele, sesegera mungkin. Yaitu:

#1 Salah menimbang cucian 

Ini kelihatannya sederhana, tetapi sangat menentukan pendapatan. Gambaran boncosnya begini: berat cucian nggak akurat, tarif jadi lebih kecil, sementara biaya operasional hariannya tetap keluar sesuai berat aslinya. Misalnya, cucian pelanggan sebenarnya 10,5 kilogram tetapi yang dicatat karyawan 10 kilo.

Karena tarifnya Rp5 ribu per kilo, selisihnya jadi Rp2.500 ribu untuk satu pelanggan. Nah, masalahnya, teman saya luput dan nggak teliti ketika sedang memulai bisnis laundry miliknya.

Akibatnya, selisih tersebut terjadi berulang di puluhan pelanggan. Selain karyawan, masalah yang sering terjadi datang dari timbangan yang nggak presisi dan aturan pembulatan yang nggak pakem.

#2 Tidak menghitung biaya riil untuk setiap kilogram pakaian 

Jadi, kesalahan teman saya adalah mematok tarif laundry sekian ribu per kilo tanpa menghitung biaya sebenarnya untuk setiap kilo. Dia hanya ikutan harga kompetitor. 

Ibarat menjual mie ayam, penjualnya harus tahu banyak jenis biaya. Misalnya, biaya riil dari seporsi mie ayam dengan segala kondimennya itu berapa. Misalnya Rp5 ribu, kemudian jual Rp10 ribu, maka untung Rp5 ribu.

Sama halnya dengan bisnis laundry. Seseorang nggak bisa sekonyong-konyong menentukan tarif Rp5 ribu per kilo tanpa benar-benar menghitung keseluruhan biaya yang dibutuhkan untuk setiap kilo pakaian.

Jadi, kalau tarifnya Rp5 ribu per kilo, biaya riilnya harus di bawah Rp5 ribu, dong. Dan itu berarti meliputi biaya detergen, parfum, listrik, air, pengering, plastik, tenaga karyawan, penyusutan mesin, biaya sewa, serta operasional lainnya yang nggak terduga. Seluruh komponen itu harus bisa dinominalkan dalam bentuk biaya per kilo.

Nah teman saya di awal bisnis laundry, hanya mempertimbangkan biaya deterjen dan parfum saja yang biayanya sekitar Rp1.500 per kilo. Dia percaya diri nawarin jasa laundry di angka Rp3.500 karena merasa sudah ada margin Rp2 ribu. Padahal keliru dan akhirnya boncos di awal-awal.

#3 Terlalu sering cuci ulang atau rewash pasti merugikan bisnis laundry

Jadi, kejadian cuci ulang biasanya terjadi karena pakaian masih bau apek dan nodanya belum hilang. Teman saya sendiri bilang proses rewash ini wajar. Namun, pemula di bisnis laundry harus menetapkan batas toleransi, yaitu tidak boleh lebih dari satu kali.

Artinya, kalau masih bau, ya ada kuota satu kali lagi untuk cuci ulang. Dan itu dengan catatan pakaian masih bau apek, bernoda, dan masih belum perpindah ke tangan pelanggan. Namun, kalau sudah lebih satu kali cuci ulang, ya pasti bikin boncos.

Cuci ulang artinya ada biaya lagi. Mulai dari listrik, air, dan komponen lain yang takarannya sama dengan 1 kilo pakaian. Makin parah ketika cuci ulangnya karena komplain pelanggan. Sudah pasti kerugiannya nggak hanya dari materi, tapi juga reputasi. 

Pelanggan yang awalnya rutin menyetorkan tiap minggu 50 kilo, bisa kapok. Mereka nggak akan puas. Kehilangan 50 kilo jelas kerugian. Dari sisi pelayanan, rewash ini memang jadi semacam tanggung jawab bisnis laundry.

#4 Pakaian yang tertukar, terbawa, atau bahkan hilang 

Di awal-awal, ini jadi salah satu kebocoran yang bikin bisnis laundry boncos. Jadi, kejadian begini terjadi karena pencatatan nggak rapi, pakaian tercampur, proses sortir nggak teliti, dan akhirnya dapat komplain dari pelanggan. Kalau sudah begini, kerugiannya nggak hanya soal ganti rugi materi, tapi juga berefek pada reputasi dan loyalitas pelanggan.

Secara nominal, bisnis laundry teman saya bisa saja mengganti rugi pakaiannya, tapi setelah itu pelanggannya akan kabur ke tempat lain. Maka, sistem pencatatan dan nota, labeling, kantong terpisah, dan rak berdasarkan nomor order harus rinci dan sistematis. Karyawan harus tahu betul kalau ini jadi salah satu fundamental keberlangsungan bisnis laundry.

#5 Banyak bisnis laundry tidak memperhitungkan biaya perawatan dan penyusutan mesin 

Mesin cuci, pengering, setrika uap, dan timbangan adalah aset utama bisnis laundry. Teman saya saat itu tidak mengestimasi langsung setiap bulan untuk biaya perawatan dan penyusutan. Hanya menghitung saat mesin benar-benar rusak.

Padahal, nilai mesin pasti menurun kalau memakainya setiap hari. Seharusnya, pemilik bisnis laundry mengalokasikan biaya penyusutan setiap bulan.

Ini sering terjadi. Misalnya pengering rusak saat kapasitas pakaian sedang banyak-banyaknya. Efeknya tentu jadi harus membayar biaya perbaikan bahkan membeli baru. Selain itu, pengerjaan jadi terlambat, pelanggan komplain, karyawan ikut kewalahan.

#6 Tidak menghitung paket langganan secara matang 

Jadi, paket bulanan memang menggiurkan karena membuat pelanggan jadi loyal dan uang masuk di awal. Skemanya biasanya begini. Pelanggan ikut bayar paket bulanan dengan misalnya tarif Rp200 ribu per bulan dengan kuota cuci sepuasnya dengan paket lengkap (setrika rapi). Laundry besar biasa melakukan ini dan teman saya mencoba melakukannya.

Dengan Rp200 ribu itu, asumsinya misalnya untuk 40 kilo cucian. Jadi, saat cucian pelanggan di bawah 40 kilo, pemilik bisnis laundry bisa untung. Tapi, akan boncos ketika lebih dari 40 kilo. 

Sebenarnya nggak terlalu jadi masalah ketika kelebihan cucian dari pelanggan itu hanya 1 atau 2 kilo. Masalahnya karena ini hitungannya paket bulanan sepuasnya, pelanggan bisa jadi ngasih beban cucian jauh di atas 40 kilo. Dan lebih parah kalau cuciannya ada bed cover, jaket tebal, boneka, dan cucian aneh lainnya. Akan jauh lebih berat.

Kondisi itu tentu bikin teman saya bisa boncos hingga jutaan dalam sebulan. Akhirnya, dia mengganti skema paket dengan yaitu paket kuota, deposit kilon, dan membership kilogram. Selain itu, teman saya juga memberlakukan pengecualian dan biaya tambahan terhadap jenis cucian yang aneh dan tebal.

BACA JUGA: Sisi Gelap Usaha Laundry yang Nggak Banyak Disadari Pelanggan: Ketahui Supaya Kamu Tidak Kecewa di Akhir

Harus sangat hati-hati kalau mau bisnis laundry

Yah, terlepas dari itu, bisnis laundry memang bisnis basah karena sirkulasi uangnya bergerak setiap hari. Tapi justru karena itu, pemilik bisa jadi nggak sadar kalau ada bagian-bagian yang bocor dan jadi boncos.

Sebab, laundry memang jasa mencuci pakaian orang. Tapi, kalau nggak hati-hati dan teliti, ya bisa jadi keuntungan yang diekspektasikan hanya jadi ilusi karena semuanya luntur oleh bocor-bocor kecil yang nggak segera disadari.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Bisnis Laundry Skala Kecil, Bisnis Paling Menjanjikan, Modal Cuma 15 Juta, Balik Modal Cukup Sebulan Saja! dan analisis bisnis yang menarik lainnya di rubrik CUAN.

Exit mobile version