Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Mengkaji Bus Dakwah, Berfaedah atau Justru Nirfaedah?

Cepi Sabre oleh Cepi Sabre
16 Agustus 2016
A A
Mengkaji Bus Dakwah

Mengkaji Bus Dakwah

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di gerbang surga, Santo Petrus bertemu dengan seorang supir bus dan seorang pendeta. Kepada sang supir, Petrus berkata:

“Selamat, hamba yang setia. Masuk dan tinggallah selamanya di rumah besar di puncak bukit.”

Sang pendeta nyengir membayangkan kalau seorang supir saja diganjar rumah mewah di surga, maka baginya pasti menanti hadiah yang luar biasa, penthouse atau minimal kondo-lah. Tapi Petrus mendatanginya lalu menunjuk sebuah pondok kecil di kaki bukit lalu mengucap:

“Itu bagianmu, Pendeta. Tinggallah di sana sampai akhir zaman.” Mak doweweng, sang pendeta ternganga.

“Begini, anakku,” paham keputusannya dipertanyakan, Petrus menjelaskan, “setiap kali kamu khotbah, orang-orang bobo manis, tapi kalau supir itu bawa bus, orang-orang langsung berdoa.”

Itu anekdot jadul, sudah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, dan versinya bermacam-macam. Salah satunya malah menyebut kalau si pendeta dijebloskan ke neraka (yang bikin versi ini, saya yakin, pasti antek Yahudi, illuminati, dan sebagainya, dan seterusnya). Tidak ada yang menganggap anekdot itu penting kecuali cerita lucu-lucuan saja.

Tapi siapa yang menduga kalau persaingan antara supir bus dan pemuka agama memperebutkan tempat di surga itu dianggap begitu penting oleh pemerintah kota Bandung?

Jadi, menurut Kasubag Sosial Keagamaan Bagian Kesra Kota Bandung, mulai tanggal 2 Oktober nanti Kota Bandung akan mencanangkan gerakan dakwah di dalam bus. Mungkin pemerintah kota Bandung berpikir alangkah gawatnya kalau supir bus mendapat jatah surga yang lebih baik daripada para pemuka agama.

Untuk itu, maka tidak ada terobosan yang lebih baik selain menyatukan pemuka agama dengan supir dalam satu bus yang sama. Biar kompetisinya lebih adil.

Sementara itu Kang Emil –Walikota idola para jomblo se-Bandung Raya yang pernah secara heroik menolak untuk disamakan dengan Erdogan—mengaku kalau belum memberikan izin. Sayang sekali, padahal ini program yang luar biasa kalau kata saya. Anjuran melakukan kebaikan, dari agama yang mana pun, di mana buruknya?

Tapi ada juga yang protes, kok cuma dakwah? Kok cuma umat Islam? Terus mau bagaimana? Mau diisi khotbah –atau istilah siar dari agama lain—juga? Itu bus apa Kementerian Agama? Beragama kok insecure betul.

Saya sendiri tidak khawatir apakah bus itu nantinya cuma diisi dakwah saja atau khotbah saja. Bukan agamanya yang jadi masalah, tapi busnya. Om Latief, Om Kasubag tadi, demi mengetahui bahwa Kang Emil merasa belum ngasih izin, buru-buru meralat dan bilang bahwa program itu cuma untuk bus Damri saja.

Duh. Coba bayangkan kalau nanti orang berbondong-bondong cuma mau naik Damri demi mendengar dakwah di atas bus, bisa bangkrut bus-bus yang lain. Mau protes? Nggak lucu kan kalau nanti ada bus yang dibakar massa karena memprotes bus lain yang menggelar dakwah di sesela beroperasi?

Sebenarnya, kalau mau dipikir dengan kepala dingin, program pemerintah kota Bandung itu bisa saja disinergikan dengan program-program dari Kementerian Dikbud dan Kementerian Pertahanan. Hasilnya bisa luar biasa. Ditambah dukungan dari televisi nasional, alat pemancar gambar yang katanya lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya itu, bakal tambah emejing.

Iklan

Pertama, kalau bicara soal dakwah, maka dakwah di bus yang digagas pemkot Bandung itu akan melengkapi acara-acara dakwah yang sudah menyesaki siaran televisi nasional.

Bayangkanlah mereka yang bersiap berangkat ke sekolah untuk belajar, misalnya, Kimia–yang silabusnya berbunyi “menyadari adanya keteraturan dari sifat hidrokarbon, termokimia, laju reaksi, kesetimbangan kimia, larutan dan koloid sebagai wujud kebesaran Tuhan YME…”—pagi-pagi benar, jam enam pagi, sudah dibekali petuah dari Mamah Dedeh.

Di bus, minimal dua kali sehari, mereka akan mendapa tambahan dakwah. Lalu–untuk menutup hari—sorenya, sekitar jam lima, menonton Rumah Uya, acara eker-ekeran yang selamat dari razia KPI karena ada dakwahnya.

Ini belum kalau ditambah dengan usulan full day school-nya Pak Muhadjir.

Sekolah seharian itu bisa dimulai bahkan dari dalam bus seandainya pemkot Bandung mengembangkan programnya tadi. Menambahkan pelajaran matematika, fisika, biologi, bahkan materi-materi bela negara di dalam bus di samping dakwah, bukan hal yang mustahil untuk dilakukan.

Jadi, orang tua yang takut full day school akan merebut jam bermain anak–padahal kalau anaknya di rumah mereka juga nggak peduli, tetap sibuk dengan gawai dan status fesbuk, bisa update status lebih pagi. Sayangnya ide full day school­ Pak Muhadjir keburu dibatalkan karena Pak Menteri nggak tahan dirisak netizen.

Huh, dasar menteri lembek dan gak tahan banting! Lemah!

Dengan pola seperti ini, saya yakin ini akan menghasilkan anak-anak yang tidak lembek, tahan banting, dan tidak takut kawin di umur tujuh belas. Dan yang paling penting: tidak mudah terpengaruh ajaran Marxisme dari Aristoteles.

Tapi kalau menganggap bahwa program pemkot Bandung tadi adalah pelengkap acara dakwah di televisi, full day school, dan bela negara dirasa terlalu mengada-ada, saya menawarkan dugaan yang lain.

Saya menduga program dakwah di bus ini dibuat untuk menghadapi sesuatu yang lebih dekat. Apalagi kalau bukan Pilkada? Bukan, saya bukan mau bilang kalau ini adalah proyek pencitraan Kang Emil.

Ridwan Kamil termasuk pemimpin daerah yang cenderung adem-ayem, tidak berisik seperti Ahok atau Risma, misalnya. Perkembangan Kota Bandung yang relatif bagus saya rasa adalah juru kampanye terbaiknya. Jadi, ini bukan soal Ridwan Kamil.

Saya menduga usulan bus dakwah ini adalah taktik dari pegawai pemerintah kota Bandung untuk mencegah anak muda kaya raya yang ingin mencalonkan diri sebagai walikota. Dan agar demi terlihat merakyat—seperti rakyat jelata—ia kampanye dengan cara naik bus, lalu difoto dengan wajah yang justru menerbitkan rasa iba, supaya tidak dirisak di media sosial.

Kalau ada yang dakwah di bus, kan sang calon jadi tidak terlihat sendirian, nelangsa, dan seolah-olah berkata: “Remas aku….”

Terakhir diperbarui pada 15 Oktober 2018 oleh

Tags: Bandungbusbus dakwahfeaturedridwan kamil
Cepi Sabre

Cepi Sabre

Artikel Terkait

Ilustrasi naik bus, bus sumber alam.MOJOK.CO
Ragam

Sumber Alam, Bus Sederhana Andalan “Orang Biasa” di Jalur Selatan yang Tak Mengejar Kecepatan, melainkan Kenangan

13 Januari 2026
Orang Medan naik angkot di Bandung. MOJOK.CO
Ragam

Orang Medan Pertama Kali Naik Angkot di Bandung, Punya Cara Tersendiri Meminta Sopir Berhenti Sampai Bikin Penumpang Syok

5 Januari 2026
Alumnus ITB resign kerja di Jakarta dan buka usaha sendiri di Bandung. MOJOK.CO
Sosok

Alumnus ITB Rela Tinggalkan Gaji Puluhan Juta di Jakarta demi Buka Lapangan Kerja dan Gaungkan Isu Lingkungan

12 Desember 2025
S3 di Bandung, Istri PNS Makassar- Derita Jungkir Balik Rumah Tangga MOJOK.CO
Esai

Jungkir Balik Kehidupan: Bapak S3 di Bandung, Istri PNS di Makassar, Sambil Merawat Bayi 18 Bulan Memaksa Kami Hidup dalam Mode Bertahan, Bukan Berkembang

1 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Suzuki S-Presso Mobil Tidak Menarik, tapi Tetap Laku MOJOK.CO

Menjawab Misteri Suzuki S-Presso Tetap Laku: Padahal, Menurut Fitra Eri dan Om Mobi, S-Presso Adalah Mobil Paling Tidak Menarik

26 Februari 2026
Pertama kali merantau ke Jogja: kerja palugada di coffee shop dengan gaji Rp10 ribu MOJOK.CO

Pertama Kali Merantau ke Jogja: Kerja di Coffee Shop 12 Jam Gaji Rp10 Ribu Perhari, Capek tapi Tolak Pulang karena Gengsi

24 Februari 2026
orang tua.MOJOK.CO

35 Tahun Bekerja Keras demi Anak, tapi Kesepian di Masa Tua karena Dianggap Tak Pernah Hadir untuk Keluarga

24 Februari 2026
Mekanisme beasiswa LPDP untuk kuliah di luar negeri masih silang sengkarut, awardee cemas jadi "WNI" MOJOK.CO

Mekanisme dalam Beasiswa LPDP (Masih) Silang Sengkarut: Awardee Cemas Jadi WNI, Negara Punya PR yang Harus Diberesi

23 Februari 2026
Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia MOJOK.CO

Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia

23 Februari 2026
Upaya 1 tahun Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang kerja untuk warga, apa hasilnya? MOJOK.CO

Upaya 1 Tahun Pemkot Semarang Bekerja untuk Warga di Tengah Ragam Tantangan dan Keterbatasan, Apa Hasilnya?

23 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.