Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Balbalan

Giroud dan Chelsea, Martial dan Manchester United: Menjadi Pembeda dan Terjebak Karma ‘Gini Doang Grup Neraka?’

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
3 Desember 2020
A A
Giroud dan Chelsea, Martial dan Manchester United: Menjadi Pembeda dan Terjebak Karma “Gini Doang Grup Neraka?”

Giroud dan Chelsea, Martial dan Manchester United: Menjadi Pembeda dan Terjebak Karma “Gini Doang Grup Neraka?”

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Giroud untuk Chelsea, Martial untuk Manchester United. Semuanya soal giliran menjadi pembeda atau pecundang dalam sebuah laga penting.

Terkadang, kemenangan dalam sebuah laga sepak bola ditentukan oleh satu aksi yang sebetulnya dianggap “tidak penting”. Misalnya proses gol dari sundulan yang seharusnya mudah ditangkap, tembakan yang pelan tetapi menerobos selangkangan kiper, dan lain sebagainya.

Orang sekarang bakal bilang, “Damage-nya nggak ngotak,” ketika kebobolan dengan cara paling komikal seperti itu. Apalagi setelah kiper berjibaku untuk mengamankan ribuan peluang emas yang sebetulnya 98 persen menjadi gol. Sudah terlihat heroik, malah jadi badut gara-gara gol konyol.

Pemain dengan kemampuan membuat “gol menyebalkan” seperti itu sering mendapat predikat “sang pembeda”. Setelah membuang ratusan peluang, dia bisa membuat satu gol yang menentukan karier banyak pemain. Menyebalkan, tetapi keberadaannya sangat dibutuhkan.

Semakin menyebalkan ketika di SATU pertandingan mereka bisa membuat gol indah. Tidak hanya satu, tetapi sampai empat, seperti yang dilakukan Olivier Giroud bagi Chelsea di Liga Champions. Di sisi lain, ketika membuang banyak peluang, kamu mendapatkan contoh dalam diri Anthony Martial bagi Manchester United.

Coba kamu hitung berapa kali nama Giroud dan Martial masuk dalam daftar trending topic media sosial. Jelas masih kalah banyak dibandingkan nama-nama yang sudah biasa menghiasi headline, seperti Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo. Ketika menjadi pembahasan, kedua nama itu malah menjadi bahan meme karena terlalu banyak membuang peluang atau “mandul” dalam waktu yang lama.

Jauh sebelum membuat empat gol bagi Chelsea di Liga Champions, Giroud itu seperti “api dan es” bagi fans Arsenal. Ketika gol-golnya sangat dibutuhkan, dia buang semua peluang emas itu. Bahkan kalau tidak salah, Giroud pernah “mandul” di lebih dari 10 pertandingan.

Sementara itu, harapan fans Manchester United di pundak Martial tidak pernah benar-benar padam. Pada dasarnya, Martial bukan pemain jelek. Dia punya segalanya untuk sukses. Namun, dia punya satu kebiasaan seperti Giroud, yaitu tampil baik di satu pertandingan, untuk kemudian “tenggelam” di fase-fase penting.

Untuk Giroud sendiri, kasusnya terasa sangat aneh. Maksudnya begini, ketika bermain di Piala Dunia 2018, striker Chelsea itu tidak menyumbangkan gol satu pun untuk timnas Prancis. Namun, keberadaannya sangat penting untuk Griezmann dan Mbappe. Saking kesalnya karena kalah bersaing, Karim Benzema menyebut Giroud seperti mobil gokart, sementara dirinya mobil F1.

Pernyataan Benzema terdengar sangat menggelitik, sebuah suara sumbang dari pemain yang iri. Namun, dunia sepak bola memang terkadang “terasa aneh”, apalagi masa sekarang, ketika kontribusi striker tidak hanya bikin gol. Dan di sana, nilai Giroud tetap tinggi.

Saya ingat pernah menulis soal kualitas Martial ketika Manchester United gagal membeli striker di 2019. Mengingat kembali analisis itu, Martial punya kualitas teknis untuk menjadi striker yang berbahaya. Saya menulis seperti ini:

“Anthony Martial seperti punya kemampuan untuk “mengukur gawang”. Semua pergerakannya diperhitungkan untuk membuat peluang secara maksimal. Baik buat dirinya sendiri, maupun buat para rekan di lini kedua. Tidak ada bek yang suka berhadapan dengan striker yang bisa mengukur jarak dan memakan ruang secara maksimal.”

Selain jago menggiring bola, Martial jeli melihat ruang yang berbahaya di kotak penalti lawan. Kemampuan menendang bola dan mengirim umpan juga di atas rata-rata. Ketika lawan memaksa menghentikan lajunya, peluang mendapat penalti juga cukup besar. Di atas kertas, menyesuaikan dengan analisis yang saya buat, Martial adalah striker yang komplet.

Yah, di atas kertas, semuanya terlihat menjanjikan. Namun, pada titik ini, kita gagal mengukur hal-hal non-teknis yang juga penting. Misalnya soal mental dan konsistensi. Padahal, di level tertinggi, tak hanya Chelsea dan Manchester United, tetapi semua klub besar, membutuhkan konsistensi prima dari setiap pemain.

Iklan

Akan ada saatnya ketika Chelsea dibuat frustrasi oleh Giroud karena membuang lima peluang bersih. Ada kalanya juga ketika Martial menjadi juru selamat Manchester United. Sepak bola memang seperti kehidupan itu sendiri, sawang sinawang, situasi di mana kita melihat betapa enak kehidupan orang lain untuk kemudian situasinya berbalik.

Untuk saat ini, fans Chelsea boleh membuat meme Martial yang gagal menceploskan bola ke gawang PSG yang kosong. Kelak, gantian fans Manchester United yang mengolok-olok Giroud karena gagal mencocor bola masuk gawang dari jarak dua meter saja.

Sang pembeda, terkadang memberi daya hidup dalam satu atau dua kejadian krusial saja. Untuk kemudian dia tenggelam dalam banyak penyesalan karena gagal memberi kontribusi lebih. Sudahkah kamu merasa seperti itu dalam kehidupanmu?

Yah, kalau dipikir dari sudut pandang kehidupan, mungkin Martial dan Manchester United lagi menjalani karma “Gini doang grup neraka?”.

Manchester United yang dulu jemawa, sekarang terjebak dalam sebuah grup di mana peluang lolos sama besarnya dengan peluang menjadi pecundang. Pelajarannya, jangan jemawa kalau belum benar-benar menjadi juara. Kalau kalah, soal karma goblok ini bakal dibawa-bawa lagi.

BACA JUGA Anthony Martial Membantu Manchester United Mengukur Gawang dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Terakhir diperbarui pada 4 Desember 2020 oleh

Tags: chelseagiroudLiga Championsliga inggrisManchester Unitedmartial
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Harry Maguire Bek Dungu Manchester United Anti Bullying MOJOK.CO
Esai

Harry Maguire, Bek Dungu Milik Manchester United yang Mengajari Kita Makna Ketahanan Mental dan Cara Melawan Bullying

20 Oktober 2025
Untung Mohamed Salah Nggak Jadi Buruh di Indonesia MOJOK.CO
Esai

Beda Nasib Mohamed Salah dan Pekerja di Indonesia saat Menyuarakan Hak: Menghasilkan Ketimpangan yang Dinormalisasi

6 Januari 2025
Rokok Ilegal identik dengan Liga Inggris, yang Legal Liga Italia MOJOK.CO
Esai

Kenapa, ya, Rokok Legal Identik dengan klub Liga Italia, sementara Rokok Ilegal Lebih Dekat dengan klub Liga Inggris?

9 November 2024
Vidio vs Rp18 Triliun Live Streaming Ilegal Jelang Liga Inggris MOJOK.CO
Esai

Vidio Wajib Cemas. Menjelang Liga Inggris, Keuntungan Live Streaming Ilegal Mencapai Rp18 Triliun!

9 Agustus 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Keluar dari organisasi mahasiswa ekstra kampus (ormek) PMII, dicap pengkhianat tapi lebih sukses MOJOK.CO

Nekat Keluar PMII karena Tak Produktif: Dicap Pengkhianat-Nyaris Dihajar, Tapi Bersyukur Kini “Sukses” dan Tak Jadi Gelandangan Politik

13 Januari 2026
Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Gua Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
2016, Tahun Terakhir Gen Z dan Milenial Merasa Berjaya. MOJOK.CO

2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup

17 Januari 2026
Derita perempuan saat naik transportasi umum di Jakarta, baik KRL maupun TransJakarta MOJOK.CO

Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan

17 Januari 2026
indonesia masters, badminton, bulu tangkis.MOJOK.CO

Indonesia Masters 2026: Cerita Penonton Layar Kaca Rela Menembus 3 Jam Macet Jakarta demi Merasakan Atmosfer Tribun Istora

20 Januari 2026
Sebaiknya Memang Jangan Beli Rumah Subsidi, sebab Kamu Akan Rugi Berkali-kali

Sebaiknya Memang Jangan Beli Rumah Subsidi, sebab Kamu Akan Rugi Berkali-kali

20 Januari 2026

Video Terbaru

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Gua Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.