Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Balbalan

AC Milan, Chelsea, dan Jose Mourinho Sudah Menemukan ‘Core’, Selanjutnya Mengejar ‘Stability’

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
30 November 2020
A A
AC Milan, Chelsea, dan Jose Mourinho Sudah Menemukan ‘Core’, Selanjutnya Mengejar ‘Stability’ MOJOK.CO

AC Milan, Chelsea, dan Jose Mourinho Sudah Menemukan ‘Core’, Selanjutnya Mengejar ‘Stability’ MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Bagi AC Milan, Chelsea, dan Mourinho yang sudah menemukan keseimbangan, tugas terakhir adalah mengejar stability. Banyak klub gagal melaju hingga panggung juara karena gagal mencari stabilitas.

Musim ini, aura yang tertebar terasa berbeda. Banyak tim besar berada dalam persimpangan jalan. Misi yang dikejar, rata-rata sama, yaitu usaha untuk mengejar keseimbangan. Gagal mendapatkan pijakan akan keseimbangan, musim ini, sebuah klub bisa kalah dengan mudah.

Mungkin, bagi beberapa klub, musim ini juga bisa disebut sebagai musim kebangkitan. Setelah sebelumnya berjuang sangat keras ketika berada dalam persimpangan jalan. Ketika sebuah klub berada dalam titik di mana mereka bisa hancur dengan mudah atau sukses setelah menemukan pijakan yang tepat.

Tiga klub yang merasuk dalam pikiran saya adalah AC Milan, Chelsea, dan Tottenham Hotspur bersama Jose Mourinho. Untuk Spurs, saya tekankan kepada keberhasilan Mourinho lepas dari banyak masalah. Dia yang disebut “pelatih dinosaurus” malah seperti “mengajari” banyak pelatih muda “cara dewasa” menyelesaikan masalah.

Yah, pada titik yang sama, pujian juga perlu dialamatkan kepada Stefano Pioli dan Frank Lampard bersama AC Milan dan Chelsea. Pioli sudah menemukan keseimbangan itu sejak akhir musim lalu. Sementara itu, Lampard memberi bukti bahwa kecerdasannya membuahkan hasil, yang bisa dibilang, manis.

AC Milan, Chelsea, dan Spurs bersama Mourinho sudah menemukan core dalam ide yang ingin diterapkan. Kini, mereka tinggal mengejar stability untuk menjadi mesin perang ideal. Menjadi klub yang bisa disebut sebagai penantang di Serie A Italia maupun Liga Inggris.

Harga keseimbangan melambung tinggi

Ketika mengalahkan Fiorentina, AC Milan bermain tanpa Zlatan Ibrahimovic karena cedera. Absennya Zlatan memberi beban yang sesungguhnya tidak ringan. Keberadaan Zlatan tidak hanya menghadirkan aura akan mental pemenang, tetapi juga bermakna penting bagi cara bermain.

AC Milan tidak mengatasi absennya Zlatan dengan cara paling mudah: mengganti pemain A dengan pemain B. Di sini, tidak hanya kedalam skuat yang diuji, tetapi juga manajemen pemain dari Pioli, yang masih digantikan Daniele Bonera karena tengah dirawat setelah positif Covid-19.

Pioli memastikan core dari idenya tetap berjalan ketika pemain penting absen atau ketika situasi pertandingan mengarah menjadi tidak menguntungkan. Rentetan 20 laga tak pernah kalah di Serie A tidak terjadi karena sumbangsih per individu saja. Keseimbangan skuat dan mental state pemain sudah sangat paten.

Jika AC Milan menemukan keseimbangan, pertama-tama lewat kolektivitas kemudian menularkannya ke individu, sedikit berbeda dengan Chelsea dan Spurs-nya Mourinho. Lampard dan Mourinho, pertama-tama, memperbaiki core skuat, yang mana artinya membeli pemain atau “meremajakan” performa, untuk kemudian menularkannya ke kolektivitas tim.

Chelsea dan Spurs membeli pemain dengan sangat baik. Keduanya memperbaiki lini-lini bermasalah, salah satunya pos bek sayap. Chelsea membeli Ben Chilwell yang lebih bisa memberi rasa aman dibanding Marcos Alonso. Begitu juga pos kiper, di mana Lampard mengejar Edouard Mendy menggantikan Kepa. Di pos bek tengah, Thiago Silva menawarkan pengalaman dan mental pemenang.

Sementara itu, ada alasan kuat ketika Mourinho menambah Reguilon dan Matt Doherty, masing-masing untuk mengisi pos bek sayap kiri dan kanan. Dua bek sayap Spurs bisa dibilang tidak pernah stabil selama lima tahun terakhir. Padahal, untuk cara bermain Mourinho, keberadaan dua bek sayap yang kuat ketika bertahan sekaligus agresif saat naik menyerang, sangat penting.

Untuk lini tengah, Mourinho menunjukkan ciri khasnya dengan membeli gelandang dengan spesifikasi yang spesifik; pandai mengalirkan bola, keseimbangan antara bertahan dan menyerang, tidak lari dari pertarungan fisik di lapangan tengah, dan berani melakukan “hal-hal kotor” dari seorang gelandang sentral. Mourinho menemukan semua aspek itu di dalam diri Pierre-Emile Hojbjerg.

Salah satu kedewasaan Lampard adalah mau mengoreksi diri ketika dirinya salah. Hal ini terlihat dari perubahan posisi N’Golo Kante. Musim lalu, Kante bermain lebih ke depan, bukan lagi gelandang bertahan dalam skema 4-3-3 atau 4-2-3-1. Kecenderungannya untuk maju ke kotak penalti masih terlihat di awal-awal musim ini.

Iklan

Lampard menyadari bahwa kebijakannya tidak berbuah manis untuk Chelsea. Pertama-tama, dia mengembalikan Kante ke posisi dan peran paling ideal, yaitu sebagai “basis”, sebagai gelandang bertahan, dengan tugas yang sederhana. Selama lima tahun terakhir, Kante adalah salah satu gelandang bertahan terbaik di Liga Inggris. Tugasnya adalah merebut bola, menutup ruang yang ditinggalkan bek sayap, dan mendistribusikan bola ke pemain lain. Terlihat sederhana, tetapi kompleks.

Kedua, Chelsea berhasil menjadi contoh keberhasilan perpaduan pemain lama dengan pemain baru. Ini tidak mudah dilakukan mengingat pemain baru yang masuk cukup banyak. Mengikat banyak ego menjadi satu simpul yang sama bukan pekerjaan yang mudah, tetapi Lampard berhasil melakukannya.

Hal yang sedikit berbeda terjadi di AC Milan. Pioli berhasil menanamkan kesadaran bahwa kolektivitas adalah segalanya. Kesadaran yang berhasil menarik keluar potensi pemain yang sebelumnya dianggap “biasa saja”.

Ada beberapa pemain AC Milan yang menemukan harapan lagi setelah ikut dalam arus Pioli. Dimulai dari Simon Kjaer, bek tengah yang terbilang biasa saja bersama Atalanta. Diogo Dalot yang jarang mendapat kesempatan bersama Manchester United, menjadi tambahan yang bagus untuk AC Milan.

AC Milan juga memetik buah yang manis dari keberhasilan Pioli membantu proses adaptasi Alexis Saelemaekers. Pemain muda dari Belgia ini tampil sangat stabil sejak paruh akhir musim lalu. Tidak mudah bagi pemain muda untuk bisa langsung menemukan kestabilan ketika bergabung bersama tim besar.

Masalah itu terlihat dalam diri Sandro Tonali. Sempat kesulitan menemukan “pijakan” yang pas, kini Tonali sudah diintegrasikan ke dalam kolektivitas AC Milan. Pioli membantu pemainnya untuk berkembang. Bisa dibilang, manajemen pemain Pioli sangat bagus. Dari performa individu yang mulai stabil, AC Milan menemukan keseimbangannya.

Terakhir, kita tahu kalau terkadang Mourinho adalah pelatih yang bisa ditebak. Ketika melawan tim yang seimbang atau lebih kuat, Mourinho menjadi konservatif. Dia dengan mudah menanggalkan dominasi demi keseimbangan. Ketika berhadapan dengan tim yang lebih lemah, Spurs akan bermain tanpa ampun.

Cara bermain yang sudah ditebak lawan pasti sangat merugikan. Namun, bagaimana jika cara bermain boleh sederhana, tetapi bisa dieksekusi dengan baik sampai-sampai yang monoton itu jadi senjata berbahaya? Pada titik tertentu, ceritanya akan berbeda dan sudah terlihat musim ini.

Musim ini, narasinya adalah perlombaan mengejar keseimbangan. Bagi AC Milan, Chelsea, dan Mourinho yang sudah menemukan keseimbangan, tugas terakhir adalah mengejar stability. Banyak klub gagal melaju hingga panggung juara karena gagal mencari stabilitas.

Seimbang boleh, tapi kalau hanya untuk sesaat, semuanya akan kehilangan arti. Sama seperti mencintai, kalau tidak ada kesetiaan, kesabaran, dan kedewasaan, rasa itu berubah menjadi kebencian dan kehancuran tinggal menunggu waktu saja.

BACA JUGA AC Milan dan Liverpool: Kematangan Ibrahimovic dan Diogo Jota, il Personaggio Principale Menghancurkan Keterbatasan dan tulisan-tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Terakhir diperbarui pada 30 November 2020 oleh

Tags: AC Milanchelseakantelampardliga inggrisliga italiamilanmourinhoSerie AspursTottenham Hotspur
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Harry Maguire Bek Dungu Manchester United Anti Bullying MOJOK.CO
Esai

Harry Maguire, Bek Dungu Milik Manchester United yang Mengajari Kita Makna Ketahanan Mental dan Cara Melawan Bullying

20 Oktober 2025
Untung Mohamed Salah Nggak Jadi Buruh di Indonesia MOJOK.CO
Esai

Beda Nasib Mohamed Salah dan Pekerja di Indonesia saat Menyuarakan Hak: Menghasilkan Ketimpangan yang Dinormalisasi

6 Januari 2025
Kegilaan Cinta Sejati di Napoli: Antara Sepak Bola dan Maradona MOJOK.CO
Esai

Menyaksikan Kegilaan Cinta Sejati di Kota Napoli: Antara Copet, Kota Bau Pesing, Sepak Bola, dan Maradona

31 Desember 2024
Rokok Ilegal identik dengan Liga Inggris, yang Legal Liga Italia MOJOK.CO
Esai

Kenapa, ya, Rokok Legal Identik dengan klub Liga Italia, sementara Rokok Ilegal Lebih Dekat dengan klub Liga Inggris?

9 November 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

self reward.mojok.co

Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan

6 Februari 2026
Salah kaprah pada orang yang kerja di Surabaya. Dikira gaji besar dan biaya hidup murah MOJOK.CO

Salah Kaprah tentang Kerja di Surabaya, “Tipuan” Gaji Tinggi dan Kenyamanan padahal Harus Tahan-tahan dengan Penderitaan

4 Februari 2026
Lolos Unair lewat jalur golden ticket tanpa SNBP. MOJOK.CO

Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP

7 Februari 2026
Pembeli di Pasar Jangkang, Sleman. MOJOK.CO

Salah Kaprah soal Pasar Jangkang yang Katanya Buka Setiap Wage dan Cuma Jual Hewan Ternak

9 Februari 2026
Hidup setelah resign dan menikah. MOJOK.CO

Dihujat ‘Salah Pilih Suami’ usai Menikah karena Terlanjur Resign dari Pramugari, Kini Jadi Pedagang Kopi Keliling

3 Februari 2026
Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers MOJOK.CO

Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers

6 Februari 2026

Video Terbaru

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.