MOJOK.COIbrahimovic dan Diogo Jota, il personaggio principale, dua pemeran utama dalam keberhasilan AC Milan dan Liverpool menghancurkan keterbatasan.

Bersama Tottenham Hotspur, Liverpool tengah memimpin klasemen Liga Inggris. Kedua tim menabung poin yang sama. Spurs duduk di peringkat satu berkat selisih gol yang lebih baik. Sementara itu, di Serie A, AC Milan “melompat” untuk menggeser Sassuolo dari posisi capolista.

Setelah jeda pertandingan antar-negara, baik AC Milan maupun Liverpool dihadapkan kepada beberapa masalah. Untuk sementara waktu, Milan tidak akan dipimpin oleh Stefano Pioli yang positif Covid-19. Sementara itu, “badai cedera” tengah mengoyak skuat Liverpool.

Oleh sebab itu, AC Milan dan Liverpool bermain dengan segala keterbatasan yang tidak bisa ditolak. Pioli adalah sosok pelatih yang berhasil “menenangkan” gejolak di dalam skuat Milan. Pelatih berusia 55 tahun itu menghadirkan keseimbangan. Ujungnya, Milan menjadi lebih konsisten dan sulit dikalahkan.

Beberapa media di Italia yang sempat saya baca mengungkapkan bahwa AC Milan bisa saja limbung ketika tidak ada Pioli di pinggir lapangan. Namun, ketika mengalahkan Napoli dengan begitu meyakinkan, Milan menunjukkan bahwa dari pemain hingga staf sudah menjadi satu unit yang padu. Daniele Bonera, pelatih pengganti sementara, berhasil menjalankan tugasnya dengan begitu apik.

Di Inggris, Liverpool sudah menegaskan mereka tidak akan terlalu fokus membeli bek tengah di Januari 2021 meski badai cedera belum reda. Jurgen Klopp juga menegaskan bahwa skuat ini masih lebih dari cukup untuk melewati kompetisi. The Reds baru akan memprioritaskan membeli bek tengah jika keadaan sudah dirasa terlalu genting.

Liverpool dan Klopp memberi bukti akan ketegasannya. Mereka terlihat tidak panik ketika menghadapi Leicester City. Joel Matip berduet dengan Fabinho, gelandang bertahan yang bisa dimainkan sebagai bek tengah darurat. Mereka bahkan tidak diperkuat Trent Alexander-Arnold yang cedera. Namun, sekali lagi, The Reds begitu tenang menghadapi keterbatasan.

Pada titik tertentu, AC Milan dan Liverpool menunjukkan kekuatan terbesar dari “manusia unggul”, yaitu tahan terhadap tekanan dan sadar akan kemampuan untuk menghancurkan keterbatasan. Kemampuan itu menitis dalam diri Zlatan Ibrahimovic dan Diogo Jota.

Ibrahimovic dan Jota mencetak gol yang identik, yaitu sundulan kepala setelah bergerak mendahului bek tengah lawan. Gol seperti ini adalah favorit saya. Gol yang tidak mudah dilakukan karena memerlukan aksi yang kompleks. Jika eksekutor tidak punya dasar teknik matang, sundulan semacam itu sulit dilakukan.

Terlebih lagi sundulan yang dilakukan Ibrahimovic. Pemain asal Swedia itu mendahului bek Napoli dan menyundul bola dari jarak yang cukup jauh dari gawang. Umpan yang melaju kencang bisa dibelokkan ke tiang jauh menghindari jangkauan kiper Napoli.

Untuk Diogo Jota, saya pernah menulis bahwa pemain ini punya kejelian dan kesadaran akan ruang di antara pemain lain. Ketika bergerak ke depan, Jota pandai menentukan timing untuk berlari ke depan bek lawan. Dengan begitu, meski posturnya kecil, Jota bisa menjangkau bola lebih cepat ketimbang lawan.

Kekuatan Diogo Jota ini tidak terekam statistik. Kemampuan masuk di antara pemain lawan, terutama bek, sangat sulit diantisipasi. Kekuatan yang tidak terekam oleh statistik ini, bagi saya, menjadi kekuatan terbesarnya.

Kekuatan ini membuat Diogo Jota sulit di-marking. Dia bisa memosisikan diri di depan bek lawan untuk menyambut umpan silang atau direct pass dari belakang. Akselerasi tinggi membantunya berdiri di depan pemain lawan. Tubuhnya terlihat ringkih, tetapi ternyata kuat untuk membuat lawan tetap di belakangnya.

Muncul dari titik buta, ditambah teknik menendang bola kelas dunia, membuat Diogo Jota menjadi aset yang bernilai tinggi untuk Liverpool. Untuk pemain berusia 23 tahun, usia awal masuk periode emas, konsistensi yang akan menentukan kariernya bersama Liverpool.

Meski di tulisan ini saya menegaskan pentingnya dua gol sulit Ibrahimovic dan lesatan Diogo Jota, baik AC Milan maupun Liverpool, sebenarnya, mengatasi masalah sebagai sebuah tim. Bonera, diragukan, tetapi bisa memberi bukti bahwa dia memahami ide dasar Pioli. Sementara itu, skuat Liverpool yang sudah begitu matang tahu caranya mengantisipasi kekurangan.

Andrew Robertson, Curtis Jones, James Milner, Fabinho, dan Alisson tampil stabil. Mereka seperti sadar bahwa pemain Liverpool yang absen adalah pemain penting. Mulai dari Virgil van Dijk, hingga Mohamed Salah. Mantra mereka sangat sederhana: ketika tim berada dalam kesulitan, tidak ada yang bisa menyelamatkan nasib selain diri sendiri. Bahkan Roberto Firmino pun “akhirnya” mencetak gol.

Semua elemen berkontribusi. Semua pemain yang dipasrahi tanggung jawab sadar akan makna kepercayaan. Tidak ada pemain yang ingin merepotkan rekannya di atas lapangan. Ketika sebuah tim tidak bermain dengan skuat terbaik, selalu ada potensi sistem yang dibangun tidak akan berjalan.

Pada titik ini, Liverpool menunjukkan bahwa mereka memang manusia unggul. Pengalaman membantu mereka menghancurkan keterbatasan. Sementara itu, di skuat AC Milan, Ismael Bennacer, Theo Hernandez, hingga Jens Petter Hauge memberi solusi. Bisa dikatakan, semua pemain Milan menjadi protagonista dengan Ibrahimovic sebagai il personaggio principale, atau pemeran utama.

Terkadang, keberhasilan sebuah tim dibangun dari hal-hal sederhana: kesadaran akan tanggung jawab, enggan merepotkan rekan di lapangan, dan fokus bermain sebaik mungkin. Ujungnya adalah kemenangan dan keterbatasan menjadi tiada artinya.

BACA JUGA Liverpool Menjadi Manusia Unggul Bersama Jurgen Klopp dan tulisan-tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  Titik Lo Spirito Juventus: Fleksibilitas Sarri dan Kebangkitan Aaron Ramsey