In this economy, mencari pekerjaan itu jadi hal yang sangat susah. Susahnya bukan hanya karena kurangnya lapangan kerja atau syarat pekerja yang terlalu banyak dan kadang tidak masuk akal. Susahnya mencari pekerjaan juga diperparah dengan banyaknya lowongan kerja (loker) palsu alias penipuan yang tersebar di banyak platform pencari kerja. Termasuk di LinkedIn.
Kita semua tahu bahwa LinkedIn adalah salah satu platform pencari kerja terbaik dan paling terpercaya. Kita sampai merasa bahwa tidak mungkin ada penipuan lowongan kerja di LinkedIn. Nyatanya, para penipu tidak kenal tempat. Semua platform, mulai yang populer seperti Jobstreet hingga LinkedIn juga mereka masuki.
Pada September 2026, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengungkapkan bahwa pemerintah telah menurunkan 7908 konten iklan lowongan kerja luar negeri fiktif sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Angka tersebut bukan hanya di LinkedIn saja. Namun angka ini menunjukkan bahwa penipuan berkedok rekrutmen masih menjadi persoalan serius. Itulah mengapa kita harus tetap hati-hati dengan modus operandi para penipu ini.
Ciri-ciri dan modus penipuan lowongan kerja atau loker palsu di LinkedIn
Kita harus mengakui bahwa para penipu lowongan kerja itu sudah pintar-pintar. Loker palsu sudah tidak selalu terlihat asal-asalan. Para penipu bisa menggunakan nama perusahaan terkenal, logo profesional, bahkan mencatut identitas perekrut sungguhan. Agar tidak tertipu, kita harus mengenal ciri-ciri dan modus penipuan loker palsu LinkedIn dan menghindari jebakan phishing.
1. Meminta biaya tertentu atau transfer uang
Ini jadi ciri-ciri utama dan pertama penipuan lowongan kerja palsu di LinkedIn. Modusnya beragam. Ada yang meminta transfer ke rekening pribadi, ada pula yang mengirim tautan pembayaran dengan alasan proses rekrutmen harus segera diselesaikan. Padahal kita tahu, lowongan kerja itu tidak meminta sejumlah uang kepada pelamar kerja. Proses rekrutmen pekerjaan itu gratis dari awal sampai akhir. Kalaupun ada biaya, paling hanya untuk fotokopi dokumen, beli materai, dan sebagainya. Itupun ditanggung langsung oleh pelamar, tidak perlu mengirim uang ke calon pemberi kerja.
Makanya, kalau ada lowongan kerja yang dalam prosesnya tiba-tiba meminta sejumlah uang, sudah bisa dipastikan itu adalah penipuan. Berapapun jumlahnya, mau puluhan ribu, ratusan ribu, atau jutaan rupiah, sudah pasti penipuan.
2. Buru-buru minta pindah ke percakapan pribadi (WA atau Telegram)
Kita patut mencaruh curiga kalau ada perekrut kerja dari LinkedIn yang buru-buru minta pindah ke percakapan pribadi via WhatsApp (WA) atau Telegram. Ini memang tidak melulu berakhir penipuan, tapi perlu hati-hati saja. Sebab obrolan pribadi di WA atau Telegram keamanannya cenderung lebih rendah ketimbang via obrolan di LinkedIn. Kita lebih mudah kena phising, lah.
Makanya, kalau kita sedang ada dalam proses rekrutmen, usahakan ngobrol di LinkedIn saja dulu. Kalaupun meminta pindah obrolan, mending lewat email saja. Barulah ketika proses rekrutmen sudah beres, dan sudah diterima kerja, obrolan via WA atau Telegram bisa lebih aman. Sebenarnya poin ini bukan pasti penipuan, kok. Tapi, perlu kehati-hatian lebih aja, sih.
3. Tawaran gaji tinggi, tapi persyaratannya terlalu mudah
Siapa, sih, yang tidak tertarik dengan gaji tinggi? Semua tertarik, tapi kita juga perlu lihat seperti apa pekerjaannya dan seperti apa persyaratannya. Ada cukup banyak lowongan pekerjaan di LinkedIn yang menawarkan gaji-gaji tinggi di atas UMR. Beberapa ada yang wajar, tapi ada juga yang mencurigakan. Salah satu penyebabnya adalah persyaratan yang terlalu mudah.
Sebagai contoh, ada lowongan pekerjaan sebagai admin di sebuah perusahaan. Tawaran gajinya di atas rata-rata gaji admin, plus ada tawaran bonus. Tapi, persyaratan dan proses seleksinya janggal. Tidak ada tes, tidak ada interview berlapis, bahkan ada yang pakai iming-iming “langsung kerja.” Kita patut curiga kalau ketemu lowongan seperti ini di LinkedIn. Boleh jadi ini adalah penipuan.
4. Domain email tidak resmi atau bukan email resmi kantor
Kalau menemukan lowongan pekerjaan dari sebuah perusahaan di LinkedIn, kita perlu cek email pemberi kerjanya. Kita perlu cek apakah pemberi kerja memakai domain email kantor atau tidak. Misalnya, kalau Mojok buka lowongan di LinkedIn, pasti pemberi kerjanya pakai domain email @mojok.co. Kalau tidak, kita patut menaruh curiga. Jangan-jangan itu adalah penipuan.
Poin ini sebenarnya bukan acuan mutlak untuk tahu apakah sebuah lowongan pekerjaan itu asli atau penipuan. Sebab tidak semua perusahaan punya email resmi atau email kantor. Ada perusahaan-perusahaan kecil yang masih pakai domain gmail. Plus, lowongan kerja di LinkedIn juga tidak melulu dari perusahaan besar. Namun, kita tetap saja harus waspada. Kalau mau lebih teryakinkan, cek juga laman resmi dan media sosial perusahaan, apakah benar mereka sedang buka lowongan. BIar lebih yakin saja.
5. Ada tautan atau link yang mencurigakan
Ini jadi modus pelaku phishing di dunia pencarian kerja di LinkedIn. Pelaku akan mengirim tautan yang terlihat seperti situs karier perusahaan, padahal alamatnya berbeda atau sengaja dibuat menyerupai situs asli. Lalu kita mungkin diminta masuk menggunakan akun LinkedIn, Google, atau email. Halaman tersebut bisa meniru tampilan situs resmi untuk mencuri kata sandi dan informasi akun kita.
Maka dari itu, perhatikan alamat situs sebelum mengeklik atau memasukkan data. Nama perusahaan yang muncul pada halaman belum membuktikan bahwa situs tersebut benar-benar milik perusahaan itu. Intinya, harus punya kehati-hatian lebih dan jangan asal klik tautan, lah.
6. Meminta data pribadi sebelum diterima kerja
Para pencari kerja di LinkedIn memang kerap meminta data pribadi kita saat proses administrasi melamar kerja. Namun, ada perbedaan antara informasi yang diperlukan pada tahap tertentu dan permintaan data sensitif secara prematur. Waspadai perekrut yang meminta foto kartu identitas, data rekening lengkap, kata sandi, kode OTP, atau informasi keuangan sebelum identitas perusahaan dan proses perekrutan terverifikasi.
Data pribadi yang terkumpul bisa mereka salah gunakan untuk penipuan, pengambilalihan akun, atau kejahatan-kejahatan yang lain. Jangan pula mengirim dokumen pribadi melalui formulir yang tidak jelas pengelolanya. Tanyakan mengapa data tersebut diperlukan, siapa yang akan mengaksesnya, dan bagaimana perusahaan melindunginya. Intinya, jangan asal memberikan data pribadi sebelum keterima kerja.
7. Proses rekrutmen yang terlalu mendesak dan buru-buru
Orang kalau sudah desperate soal sulitnya mencari kerja, apalagi setelah berkali-kali ditolak karena usia, pasti akan tergiur dengan embel-embel “langsung kerja” atau “’cepat diterima kerja” yang ada di lowongan kerja di LinkedIn atau di manapun. Mereka akan melakukan apapun untuk daftar dan segera bisa kerja. Padahal, embel-embel ini perlu banget kita waspadai.
Kita semua tahu, proses rekrutmen itu tidak mudah. Ada banyak tahap, mulai dari proses administrasi, tes ini itu, wawancara atau interview berlapis, baru bisa diterima kerja. Idealnya seperti itu. Tapi kalau ada lowongan yang proses rekrutmennya terlalu mendesak dan terburu-buru seperti siang kirim berkas, sore wawancara, besok langsung kerja, kita patut curiga. Apalagi kalau sampai disuruh kirim uang atau dokumen pribadi. Ini sudah pasti penipuan.
Tetap hati-hati dalam mencari kerja
Tujuh poin di atas jadi beberapa contoh penipuan loker atau lowongan kerja di LinkedIn. Meskipun platformnya cukup berkelas, bukan berarti LinkedIn tidak bebas dari para penipu. Kita tentu masih menjumpai beberapa loker yang punya salah satu atau beberapa ciri seperti di atas. Artinya, penipuan loker di LinkedIn masih saja.
Maka dari itu, kita patut hati-hati ketika mencari kerja. Kalau ketemu loker di LinkedIn, jangan mudah tergiur dengan gaji tinggi atau dengan embel-embel “langsung kerja”. Cari tahu dulu seluk-beluknya, cari tahu prosesnya, biar tidak berakhir sebagai korban penipuan.