Banyak orang pernah melihat kolam terpal berisi lele di halaman tetangga, lalu berpikir bahwa budidaya lele sangatlah gampang. Tinggal tebar benih, lalu tunggu panen. Namun, kenyataannya tidak semudah itu, Ferguso. Banyak pemula gagal membesarkan lelenya di awal budidaya.
Bayangkan seorang pensiunan di Sleman yang membeli 500 benih, lalu menaruhnya di kolam terpal kecil tanpa mengganti air. Dua minggu kemudian, separuh lelenya mengambang. Ia menyalahkan benih, padahal kolamnya sesak dan penuh sisa pakan.
Lele memang tahan banting, tetapi ketahanannya punya batas. Budidaya lele berarti mengatur air, pakan, dan kepadatan. Kalau ketiganya diurus dengan benar, lele bisa dipanen dalam 2 sampai 3 bulan. Jika kamu ingin hasil maksimal, benih sehat dan pakan berprotein tinggi wajib hukumnya. Jaga air kolam tetap bersih, atur kepadatan lele sesuai ukuran kolam, lalu beri pakan dua sampai tiga kali sehari.
Siapkan kolam dan benih sebelum budidaya lele
Langkah pertama budidaya lele dimulai dari kolam. Kolam terpal bundar berdiameter 2 meter, dengan luas sekitar 3 meter persegi, merupakan pilihan yang cocok untuk pemula. Letakkan kolam di tempat yang kena matahari pagi dan teduh saat siang. Hindari juga menaruh kolam terlalu dekat rumah, karena baunya bisa mengganggu penghuni dan tamu. Isi air setinggi 80 sampai 100 sentimeter. Diamkan 3 sampai 7 hari agar kaporit menguap dan plankton tumbuh. Pasang jaring penutup agar lele tidak melompat keluar.
Setelah kolam siap, pilih benih ukuran 5 sampai 7 sentimeter dari pembenih yang jelas. Benih sehat bergerak lincah dan berukuran seragam, tanpa luka di kulit. Datangi pembenih pada pagi hari, lalu lakukan aklimatisasi sebelum benih masuk kolam. Langkah ini penting karena selisih suhu air kantong dan kolam bisa membunuh benih. Caranya, apungkan kantong benih di kolam selama 15 menit. Kemudian, campur sedikit air kolam ke dalam kantong. Miringkan kantong dan biarkan benih berenang keluar sendiri.
Untuk kepadatan tebar, patokan 100 ekor per meter persegi aman bagi pemula. Di kolam 3 meter persegi tadi, kamu menebar sekitar 300 ekor. Jangan tergoda menebar lebih banyak. Di kolam yang sesak, ukuran lele tidak seragam dan kamu tidak bisa panen serentak.
Atur pakan supaya lele cepat besar
Setelah benih ditebar, urusan berikutnya adalah pakan. Pilih pelet apung berprotein 30 sampai 35 persen untuk benih. Beri pakan sebanyak 3 sampai 5 persen dari bobot total lele per hari. Bagi porsinya menjadi dua sampai tiga kali sehari, antara pagi sampai sore.
Untuk tahu apakah takarannya sudah sesuai, perhatikan nafsu makan lele. Kalau pakan habis dalam 15 sampai 30 menit, takaranmu pas. Sebaliknya, kalau pelet tersisa di permukaan, kurangi porsi. Kurangi porsi juga saat hujan deras atau suhu air turun, karena nafsu makan lele menurun. Sisa pakan membusuk dan menghasilkan amonia yang meracuni lele.
Karena takaran pakan dihitung dari bobot lele, timbang 10 ekor sampel setiap dua minggu. Dari situ, kamu bisa menghitung ulang takaran pakan. Pelet berkualitas menghasilkan sekitar 1 kilogram daging dari 1 sampai 1,2 kilogram pakan. Peternak menyebut rasio ini FCR. Makin kecil angkanya, makin hemat pakanmu.
Jaga air tetap segar
Dalam budidaya lele, urusan pakan berkaitan erat dengan kualitas air. Lele memang bisa bertahan hidup di air kotor. Tapi untuk lele konsumsi, air kotor bakal memengaruhi ukuran dan kualitas rasa daging lele. Jadi, perhatikan kualitas airnya.
Ganti 20 sampai 30 persen air kolam setiap minggu. Isi ulang dengan air yang sudah diendapkan semalam agar kaporit hilang. Sedot kotoran di dasar kolam dengan selang. Jaga pH di kisaran 6,5 sampai 8,5, dan cek memakai kertas lakmus murah dari toko perikanan.
Selain rutin mengganti air, perhatikan juga perilaku lele. Lele yang naik ke permukaan dan megap-megap menandakan oksigen menipis. Karena itu, ganti sebagian air saat itu juga. Pisahkan lele yang luka atau berbintik putih agar tidak menulari yang lain.
Waktunya panen
Dengan perawatan seperti ini, lele mencapai ukuran 8 sampai 10 ekor per kilogram dalam 2 sampai 3 bulan. Ukuran inilah yang biasa dicari warung pecel lele dan bakaran. Misalnya, kalau 80 persen benih hidup, 300 benih menjadi 240 ekor, atau 24 sampai 30 kilogram lele konsumsi.
Hitungan ini cocok sebagai target percobaan pertama. Puasakan lele sehari sebelum panen agar perutnya kosong dan dagingnya tidak bau tanah. Kamu juga bisa panen bertahap dengan mengambil lele yang besar lebih dulu, sehingga yang kecil punya ruang untuk tumbuh.
Mitos budidaya lele yang perlu kamu hindari
Selain soal teknis, banyak pemula juga mewarisi kebiasaan keliru dari tetangga atau video lama. Berikut lima mitos yang sering menggagalkan panen pertama.
Mitos 1: Lele bisa hidup di air kotor.
Lele memang punya alat pernapasan tambahan yang membuatnya bisa mengambil oksigen langsung dari udara. Karena itu, lele bertahan hidup di air berkualitas rendah, tetapi tumbuhnya lambat. Masalahnya bukan hanya kekurangan oksigen. Kotoran lele dan sisa pakan yang menumpuk di dasar kolam akan terurai menjadi amonia. Di air penuh amonia, lele kehilangan nafsu makan dan gampang sakit. Insangnya rusak, kulitnya mudah luka, dan bakteri lebih gampang menyerang. Di air bersih, lele tumbuh lebih cepat karena energinya dipakai untuk tumbuh, bukan untuk bertahan hidup.
Mitos 2: Pakan apa saja boleh, termasuk limbah dan bangkai.
Lele memang termasuk ikan pemakan segala, sehingga banyak orang menganggap pakan apa pun akan dilahapnya. Padahal, pakan sembarangan membawa bakteri dan membuat daging berbau. Sebagian peternak memberi usus ayam mentah dari pasar, lalu menemukan air kolam keruh. Kandungan proteinnya juga tidak jelas, sehingga lele tumbuh lambat. Pakan murah justru memboroskan modal karena panen molor. Apalagi, pakan menyedot sebagian besar biaya produksi budidaya ikan. Kalau ingin menghemat biaya dengan pakan alternatif, gunakan sebagai tambahan saja, bukan pengganti pelet. Pastikan bahannya segar dan direbus lebih dulu agar bakterinya mati.
Mitos 3: Makin banyak pakan, makin cepat besar.
Perut lele punya batas. Lele mencerna pakan sebatas kapasitas perutnya, dan sisa pakan mencemari kolam. Pakan yang tidak termakan akan tenggelam, membusuk, lalu menambah amonia di air. Akibatnya, lele justru stres dan nafsu makannya turun. Pemberian pakan berlebihan juga membuat nilai FCR membengkak, karena makin banyak pakan yang terbuang untuk menghasilkan jumlah daging yang sama. Jadi, patokan terbaik tetap takaran 3 sampai 5 persen dari bobot lele dan pakan yang habis dalam 15 sampai 30 menit.
Mitos 4: Makin padat, makin untung.
Tebar padat memang bisa dilakukan, tetapi peternak bioflok menebar lebih padat dengan aerasi dan pengelolaan ketat. Mereka memakai aerator yang menyala hampir sepanjang hari, menambahkan probiotik, dan rutin memantau kualitas air. Di kolam terpal biasa tanpa perlengkapan itu, tebar berlebihan memicu kematian massal. Lele saling berebut oksigen dan pakan, sehingga ukurannya jadi tidak seragam. Lele yang lebih besar bahkan bisa memangsa lele yang lebih kecil. Alih-alih untung, kamu malah kehilangan banyak benih.
Mitos 5: Pencatatan tidak perlu, cukup kira-kira.
Banyak pemula merasa budidaya lele di kolam kecil tidak perlu dicatat. Padahal, tanpa catatan bobot dan pakan, kamu tidak tahu apakah kebutuhan pakanmu sudah sesuai atau malah kelebihan. Kamu juga tidak bisa menghitung untung-rugi dengan jelas. Catat semuanya agar kamu punya data. Tidak perlu rumit, cukup buku tulis berisi tanggal, jumlah pakan harian, hasil timbang sampel, jadwal ganti air, dan jumlah lele yang mati.
Selama kebiasaan keliru tadi dihindari, kamu tidak butuh modal besar atau lahan luas untuk budidaya lele. Satu kolam terpal di halaman belakang sudah cukup memadai. Cek air dan takar pakan setiap hari, lalu catat semua angkanya.
Dari catatan itu, kamu tahu kapan pertumbuhan lele melambat, berapa pakan yang terbuang, dan kapan air perlu diganti. Panen pertamamu mungkin tidak sempurna. Sebagian lele bisa kerdil, mati, atau hasilnya kurang dari hitunganmu. Itu wajar. Baca ulang catatanmu, temukan bagian yang meleset, lalu benahi di kolam kedua.