Ternak Lele Jangan Dicari Untungnya, Cari Keringatnya Saja – Terminal Mojok

Ternak Lele Jangan Dicari Untungnya, Cari Keringatnya Saja

Artikel

Hingga per 13 Juni 2021 ketika saya menulis ini, sudah terhitung sekitar satu tahun enam bulan saya dan ayah ngurus ternak lele yang kolamnya dibikin di tempat kosong samping rumah. Hingga saat ini pula, alhamdulillah sudah ada sekitar enam kolam besar dan empat kolam kecil untuk tempat hidup para ikan lele tercinta.

Awal mula dibuatnya keputusan untuk beternak lele adalah sejak ayah saya sudah agak males dan bosen kerja ngantor. Nggak, bukan ayah saya mau resign gara-gara pengin banting sentir jadi pengusaha dan langsung ngece pegawai kantoran. Alasannya, ayah saya pengin sesuatu yang bisa jadi kegiatan rutinan yang agak butuh tenaga sekaligus mengeluarkan keringat.

Cari keringat, sebenarnya bisa dengan cara olahraga, nge-gym, dan beberapa hal lain. Tapi, kata ayah saya, ia jujur bahwa sejak dulu hobinya ialah memelihara hewan. Dulu, ayah saya suka banget melihara ayam, bebek, kambing, dan pokoknya apa saja asal bukan hewan yang berbahaya. Nah, keputusan untuk ternak lele, ialah demi mencoba memelihara hewan yang sejak dulu belum pernah blio pelihara.

Tentang pemilihan lele, blio bilang kalau perawatan untuk pembesarannya nggak terlalu susah. Cukup beri makan rutin dan nggak males untuk menguras kolamnya saja. Maka dari itu, dipilihlah hewan bersungut ini.

Yang bikin saya penasaran adalah niatnya saat bikin kolam lele ini. Kenapa hanya diniatkan buat cari keringat dan kenapa hanya diniatkan untuk memenuhi keinginannya untuk memelihara ikan ini? Kan, saya sebagai anak yang ingin membaktikan ilmu manajemen dan sehari-hari diajarin untuk cari untung jadi agak merasa tidak berguna.

Akhirnya saya tanyakan saja daripada makin penasaran. Jawabannya ya apa lagi kalau bukan dari segi keuntungannya yang kecil. Untuk melihat seberapa kecil keuntungannya tersebut, blio akhirnya bikin itung-itungan sederhana dan langsung menjelaskannya kepada saya.

Begini. Dalam sejumlah kolam tersebut, ayah saya beternak lele kurang lebih sebanyak tujuh ribu sampai delapan ribu ekor. Harga bibit ikan lele biasanya dibanderol dengan harga Rp 150/ekor. Bibit yang dibeli biasanya berukuran 5-7 cm. Kalau ditotal, biaya untuk pengadaan bibit ikan lele yakni sejumlah Rp1.050.000-Rp1.200.000.

Biasanya, waktu yang dihabiskan untuk pembesaran bibit dari ukuran 5-7 cm kurang lebih butuh tiga bulan sampai masuk dalam ukuran ikan lele layak konsumsi. Dalam waktu tiga bulan ini, pemeliharaan ikan nggak diberikan nutrisi, vitamin, atau apapun yang sejenis untuk menambah gendut dan nambah cepet masa waktu panen. Ikan lele yang dipelihara, hanya diberi makan dengan pelet ikan dengan harga Rp315.000-Rp320.000/sak.

Sebenarnya nggak semua pakan ikan lele harganya segitu. Ada banyak variasi. Apalagi saat lele masih dalam kategori bocil alias masih bibit. Itu harga pakannya agak mahal. Tapi, daripada ribet menghitungnya, mending ambil saja yang kisaran harga segitu.

Dari ikan lele bocil sampai layak konsumsi, biasanya butuh kurang lebih dua puluh sak pakan. Kalau dikalikan ya berarti total biaya yang dihabiskan untuk biaya pembesaran ikan sebesar Rp6.300.000-Rp6.400.000. Kalau ditotal dengan biaya awal, artinya biaya yang dibutuhkan untuk proses pembesaran ikan lele adalah sejumlah Rp7.500.000. Dibulatkan aja jadi segitu, biar nggak repot.

Tak berhenti di situ, ada juga biaya listrik, biaya bensin untuk ngidupin pompa air dan kadang harus beli obat ikan lele yang ketika diliat kadang klemar-klemer sebab lagi nggak enak badan. Untuk beberapa biaya ini, kira-kira ya habis sekitar Rp500.000-an lah. Berarti totalnya udah Rp8.000.000

Ini belum menghitung biaya pembuatan kolam, biaya pemeliharaan kolam yang kadang bocor, dan biaya untuk bayar kuli yang bikin kolam. Pokoknya butuh biaya yang agak gede.

Nah, kalau udah panen, waktunya agak cengar-cengir. Anggap aja berat total saat udah layak konsumsi, udah tiga bulan, dikurangi tingkat mortalitas ikan dan udah terjual semua, berat lima kuintal lima puluh kilogram. Kalau di daerah saya, oleh para tengkulak ikan, harga lele sekitar Rp16.000-Rp 17.000/kg.

Kalau udah terjual semua, dengan harga tersebut, dari hasil ternak lele selama tiga bulan adalah sebesar Rp8.800.000-Rp9.350.000. Terlihat besar. Namun harap diingat, itu baru laba kotor. Kalau diitung laba bersihnya ya antara Rp800.000-Rp1.350.000. Kalau diliat lagi, ini masih lumayan besar. Tapi harap diingat lagi, bahwa itu adalah hasil yang didapatkan selama kurang lebih tiga bulan.

Sekarang, bagi aja hasil tersebut dengan tiga. Didapatkan hasil sebesar Rp260.000-Rp450.000/bulan. Ya, hanya segitu hasilnya. Belum lagi kalau harus menghitung tenaga yang dikeluarkan untuk memberi makan sehari tiga kali. Tenaga untuk menguras kolam dan tenaga untuk sering-sering grading agar lele tak sering makan temannya.

Sangat tidak worth untuk beternak lele dengan niatan dapat untung cepat dan dalam jumlah besar. Jujur, sampai saat ini saya masih heran mengapa ternak lele hampir jadi alternatif banyak orang untuk mendapatkan keuntungan besar. Bagi saya, yang alhamdulillah sudah satu tahun lebih ngurusin ikan yang suka makan teman tersebut, sepertinya saran yang bernada ‘ternak lele aja, pasti untung besar’ itu mending dihapus saja.

Sebenarnya bisa sih untung agak besar, asalkan modal yang dikeluarkan, tenaga, dan waktu yang diberikan itu juga besar. Tapi ya, kayaknya jarang deh ada rangorang kaya yang punya banyak duit gabut dan digunakan untuk bikin peternakan lele.

Dan akhirnya, ya saya bisa mengiyakan dan membenarkan alasan kenapa ayah saya mau untuk beternak lele; buat cari keringat aja. Walaupun niatnya agak aneh, tapi alhamdulillah, ayah saya jadi jarang ngeluh soal sakit pinggang, pusing, sakit kepala, dan beberapa hal yang sering terjadi gara-gara kurang aktivitas fisik dan kebanyakan duduk mantengin komputer doang.

Jadi, bagi siapapun yang membaca ini, sekali lagi, kalau mau ternak lele, jangan diniatkan untuk cari untung atau cari duit. Niatkan aja buat cari keringat. Atau biar tambah sehat aja gitu. Sekian~

BACA JUGA 4 Golongan Pelaku Ternak Lele yang Biasa Saya Jumpai dan tulisan Firdaus Al Faqi lainnya.

Baca Juga:  Mengenal Istilah Slow Bar dan Fast Bar pada Kedai Kopi
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.