4 Golongan Pelaku Ternak Lele yang Biasa Saya Jumpai – Terminal Mojok

4 Golongan Pelaku Ternak Lele yang Biasa Saya Jumpai

Artikel

Ternak lele, bagi saya tidak hanya menjadi sarana menambah pundi-pundi pendapatan, tetapi juga sebagai hiburan. Hal yang sering kali saya rasakan saat beternak lele adalah keasyikan ketika memberi makan ikan yang suka makan teman tersebut. Ketika pelet kesukaannya dilempar ke tengah kerumunan lele, langsung saja mereka berebut, mungkin takut nggak kebagian makanan.

Dalam pertarungan ini, ada lele tertentu yang sering menang. Saya nggak tahu kenapa. Pokoknya, kata para peternak dengan jam terbang tinggi, lele memiliki gen yang bagus dan cocok untuk dijadikan indukan. Dia cepat besar dan juga cepat dalam mengambil makanan. Karena adanya lele yang begini, dalam satu kolam pasti ada yang pertumbuhannya tertinggal. Sehingga saya harus sering-sering grading agar si lele yang tumbuh lamban tidak jadi mangsa lele bibit unggul tersebut. Saya jadi punya kewajiban untuk sering menengok kolam dan melihat dengan rinci pertumbuhan ikan-ikan ini.

Tak cukup dua itu. Hal paling menyenangkan lainnya adalah saya berkesempatan untuk bertemu banyak orang yang juga petani lele. Biasanya, saya dan peternak lainnya berkumpul di satu tempat yang telah disepakati untuk mengadakan diskusi perihal dunia per-lele-an. Nah, dari sini, karena sering berkumpul, saya menyadari kalau ada beberapa karakter peternak lele yang berbeda. Tak hanya suku, agama, dan ras saja yang berbeda. Peternak lele pun punya banyak keragaman.

Saya membaginya menjadi empat golongan, ada golongan tradisional, rookie, mediocre, dan juga ace breeder yang saya golongkan menurut perilaku dan metode yang dipakainya.

#1 Peternak tradisional

Golongan pertama ini, sesuai namanya, mereka menggunakan metode tradisional. Mereka biasanya punya lahan kosong yang tidak tahu mau diapain, hingga akhirnya memutuskan untuk dijadikan tempat ternak lele. Mereka biasanya hanya menggunakan terpal yang dibentangkan sepanjang lahan yang kedalaman dan luasnya telah disesuaikan dengan kebutuhan budi daya lele. Tidak pakai beton dan tidak pakai cara-cara modern.

Baca Juga:  Kehidupan SD di Jepang Versi Nobita Itu Bukan Mitos, 6 Hal Ini Buktinya

Terkait dengan perilaku orangnya, biasanya di dalam forum peternak tradisional jarang berbicara dan hanya berada pada barisan belakang. Entah kenapa. Mungkin sudah lelah ngurusin lele bandel yang kadang iseng ngebolongin terpalnya untuk kabur ke alam bebas. Mereka diam saja di belakang dan kadang ngomong sama teman di sebelahnya sambil mengkritik orang di depan yang lagi jelasin masalah lele, “Mau ternak saja kok ya ribet kayak gitu.”

Ini terjadi karena setahu saya, mereka tidak pernah menghitung seberapa besar pakan yang diberikan, apa saja asupan tambahan, dan obat yang akan diberikan ketika lele sakit. Pokoknya kasih makan saja, lele sudah gede, langsung jual. Simpel, namun sering kena kritik balik oleh peternak lainnya yang menggunakan cara berbeda.

Yang paling bikin heran dari para peternak tradisional ini adalah ikan lele mereka jarang kena masalah. Entah sakit atau mati. Saya lihat, budi daya mereka masih lancar-lancar saja walaupun hanya memberi makan tanpa dihitung. Sebabnya, mungkin, mereka memang cocok dan berbakat untuk kerja di air.

#2 Peternak rookie

Ini adalah golongan yang saya termasuk di dalamnya, rookie alias pemula dan belum tahu apa-apa tentang dunia per-lele-an. Ketika dalam forum diskusi, peternak tipe ini biasanya paling banyak tanya. Yah namanya juga tidak tahu apa-apa, maklum sering-sering tanya. Biasanya pertanyaan tidak jauh-jauh seputar seberapa besar pakan yang harus diberikan dari minggu pertama hingga minggu ketika lele sudah siap panen, ketika menguras itu harus bagaimana, saat grading lele itu bagaimana, dst.

Baca Juga:  Ternak Lele adalah Kita yang Mulai Pragmatis

Dan kebanyakan peternak pemula ini biasanya juga masih bingung dengan pilihan antara ternak lele pakai kolam terpal yang sudah siap pakai atau pakai kolam beton yang butuh waktu lama dalam membuatnya. Ini didasari pertimbangan lebih enak mana antara dua pilihan tersebut. Pokoknya masih kosong pengetahuan tentang dunia lele, deh.

#3 Peternak mediocre

Nah, untuk golongan peternak ketiga ini, biasanya mereka adalah peternak yang nanggung. Mereka nanggung dalam belajar budi daya lele, namun tetap saja menjalankannya. Dalam forum, kadang mereka bertanya dan kadang juga diam tanpa kata-kata. Jam terbangnya lumayan tinggi, tapi nggak tinggi-tinggi banget. Mengerti beberapa cara menghitung dan teori dalam dunia lele, tapi kadang tidak diterapkan. Pokoknya serba nanggung untuk jenis peternak mediocre ini.

Biasanya juga ada alasan kalau mereka tidak hanya ternak lele, melainkan juga ternak hewan-hewan lainnya. Tapi ya sama saja, nanggung semua. Skala usahanya tidak gede-gede banget, tapi juga tidak kecil-kecil banget. Mereka juga kadang cerita kalau usaha lelenya pernah gagal, tapi juga pernah untung besar. Dan ya stuck di situ, di tengah-tengah, di kadang-kadang, dan serba nanggung lah.

Enaknya untuk peternak yang begini, mereka punya beberapa pengetahuan dalam ragam peternakan. Untuk cari-cari info ternak apa yang lumayan menguntungkan, mereka bisa jadi sumber informasi yang baik. Karena pengetahuannya tidak sebatas dalam satu bidang. Tapi ya itu tadi, pengetahuannya setengah-setengah.

#4 Ace breeder

Inilah golongan yang paling baik dan tepat untuk saya dalam dunia per-lele-an. Golongan ini biasanya aktif dalam mengisi diskusi dan memberitahukan semua pahit manis dalam dunia ternak lele. Mereka juga sering membagikan pengalaman, menjawab banyak sekali pertanyaan, dan memberikan saran-saran yang berharga bagi seluruh jenis petani lele. Pokoknya lengkap banget pengetahuannya.

Baca Juga:  Ternak Lele Jangan Dicari Untungnya, Cari Keringatnya Saja

Mereka mengerti kalau lele sakit harus diberi apa, pemberian protein tambahan untuk lele, proses grading yang tepat, penghitungan PH dari air yang cukup itu seberapa, kalau menguras kolam itu enaknya bagaimana, dan pengetahuan-pengetahuan lainnya.

Terkait metode budi dayanya, mereka sudah menggunakan budi daya modern. Ketika saya berkunjung ke salah satu ace breeder ini, peralatan di sana sudah lengkap dan kolamnya juga banyak. Mereka juga menyediakan bibit lele yang masih mirip berudu hingga menyediakan penyewaan indukan lele. Pengaturan pembuangan airnya juga sangat tertata.

Dalam beternak, mereka biasanya juga mempelajari jurnal-jurnal dan sering tanya-tanya sama dosen perikanan. Pokoknya mereka berada pada top level dalam dunia budi daya lele. Saking jagonya dan saking tingginya jam terbang mereka, ketika berkunjung ke rumah dan melihat lele-lele saya, mereka tahu kalau ada lele yang kekenyangan dan kelaparan. Mereka juga langsung paham kalau pakan dari lele kadang kurang dan kadang berlebihan. Katanya, dihitung dari hari pertama hingga ia datang menengok kolam. Ciri-ciri lele lambat tumbuh dan juga lele yang cepat tumbuh, mereka juga tahu. Pokoknya golongan ace breeder ini sangat canggih, deh.

BACA JUGA Perancang Sandal Gunung Jepit Layak Masuk Surga karena Karyanya Sangat Berguna dan tulisan Firdaus Al Faqi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.