Arsip Artikel: Aisyah Amira Wakang
771 ArtikelJurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.
Sepatu Rusak: Saksi Bisu dari Atlet Sepak Bola Putri di Jogja yang Penuh Nyali dan Nilai Mahal yang Mereka Pelajari
Sepak bola putri jadi olahraga “mahal” di Jogja. Di sanalah pembentukan karakter terjadi, nyali diuji, fisik terlatih, hingga prestasi mengikuti.
Nyesel Ikuti Perintah Ibu Kuliah Jurusan Guru, Setelah Lulus Jadi Susah Cari Kerja
Seorang pemuda di Kalimantan Tengah merasa tak tahu diri karena jadi sarjana nganggur. Ketimbang jadi beban keluarga, pilih kerja jadi buruh tambang agar orang tua tak kecewa.
Bahagianya Mahasiswa Amikom Yogyakarta, Bisa Lulus Cepat dan Nggak Pusing Mencari Kerja bahkan Sebelum Wisuda
Penyesalan alumni yang tak memilih Universitas Amikom Yogyakarta sejak pertama. Bangga bisa lulus cepat dan nggak sulit kerja.
Muslihat Penulisan Ulang Sejarah Mei 1998: Memberikan Penghargaan kepada Soeharto dan Menyangkal Bukti Pemerkosaan
Tak cukup memberikan gelar pahlawan kepada Soeharto, negara juga menyangkal bukti pemerkosaan pada Mei 1998. Pak Menteri mau merivisi atau menghapus sejarah?
Merelakan Kuliah S3 usai Lolos CASN adalah Pilihan Realistis di Tengah Kondisi Negeri yang Semrawut, meski Penempatan Tak Sesuai Harapan
Kuliah S3 bisa nanti-nanti, tapi lolos CASN belum tentu datang dua kali. Pikir ulang kalau kamu hanya mengejar gelar profesor.
8 Tahun Mengendarai Yamaha Mio Bekas Motor Kakak, Sudah Nggak Cocok buat Pergi Wisata dan Sering Bawa Sial tapi Tetap Berharga
Catatan perjalanan saya bersama Motor Yamaha Mio 2011 yang sudah mengabdi selama 8 tahun dan lebih banyak membawa petaka, tapi ada alasan sendiri saya tak menjualnya.
Menyangkal Pemerkosaan Massal 1998 adalah Bentuk Pelecehan Dua Kali: Fadli Zon Seharusnya Minta Maaf, meskipun Maaf Saja Tak Cukup
Menteri Kebudayaan Fadli Zon seharusnya memohon ampun terhadap korban pemerkosaan massal dalam peristiwa kerusuhan Mei 1998 karena pernyataannya yang nirempati.
Pertama Kali Anak Desa Nongki di Tempo Gelato Malah bikin Canggung karena Dikira Tempat Diskotik Sampai Pilih Varian Aneh
Cerita orang desa pertama kali ke Tempo Gelato. Coba-coba varian rasa yang ramah di lidah malah berujung kecewa padahal harganya mahal.