“Sulit untuk tidak sampai pada perasaan bahwa Cristiano Ronaldo meneriakkan namanya sendiri saat bersanggama.”

Kesan di atas ditulis Daniel Taylor, kolumnis The Guardian, setelah menonton film dokumenter “Ronaldo” arahan Anthony Wonke. Kesimpulan Daniel sepertinya tidak berlebihan. Dalam dokumenter yang diluncurkan tahun 2005 itu, terlihat betul Cristiano menganggap bumi berputar mengelilingi dirinya. Betul-betul.

Ketika mengomentari agennya, Jorge Mendes, misalnya, Cristiano omong begini: “Dia yang terbaik. Dia Cristiano Ronaldo-nya dunia agen sepak bola.”

Film itu, kata Daniel, menerang-benderangkan ego raksasa Cristiano.

Maka tidaklah mengherankan bila banyak orang yang geleng-geleng kepala, kurang suka, antipati, benci, enek, atau bahkan jijik melihat polahnya, baik di dalam maupun luar lapangan. Lagaknya membuat banyak orang sulit menahan diri untuk tidak mencibir: Mulai dari rambut yang hampir tidak pernah lepas dari gel, gaya yang congkak ketika merayakan gol, kebiasaannya marah-marah ketika rekan-rekannya tidak menuruti kehendaknya, sampai kemampuannya yang dianggap tidak pernah lebih baik dari Lionel Messi, dan sederet catatan miring lainnya.

Cristiano sendiri menginsafinya. “Sebagian orang membenciku, sebagian lain mencintaiku,” katanya. “Mungkin mereka membenciku karena aku terlalu hebat.”

Bagaimanapun, Cristiano juga layak dicintai. Ia salah satu pesebakbola terbaik saat ini. Bukan perkara mudah untuk menginjakkan kaki di sepatu yang sekarang dikenakannya. Ia meraihnya dengan keringat, darah, dan air mata jauh di atas rata-rata yang dapat ditanggung orang kebanyakan. Ia seorang pejuang dan petarung.

“Aku selalu ingin menjadi yang terbaik. Inilah kelemahanku,” ujarnya.

Dengan segenap keindahan yang pernah ditorehkan kakinya, juga prestasi-prestasi hebatnya di level individu, klub, dan negara, ia telah menyihir jutaan penggemar untuk jatuh hati kepadanya. Selain, banyak juga orang yang muak dengan segala kerendahan hati dan kepalsuan Messi sehingga berpaling kepada Ronaldo.

Baca juga:  Semifinal Liga Champions Bayern Munchen vs Real Madrid: 2 Skenario yang Mungkin Terjadi

Bahkan seorang pendeta pun bisa menggandrunginya. Salah satu fragmen paling menarik dalam dokumenter “Ronaldo” adalah prosesi pembaptisan keponakannya. Begitu selesai, si pendeta bertanya kepada sang megabintang, “Boleh selfie sebentar?”

Di bagian lain, ada adegan seorang gadis berlari menembus batas polisi, berteriak menyeberangi lapangan sambil berteriak histeris memanggil-manggil nama Cristiano. Petugas keamanan menangkapnya. Gadis itu gemetar, menangis, menjerit-jerit seperti para gadis di konser The Beatles di Stadion Shea.

Ronaldo akhirnya menghampiri, memeluk si gadis dan mencoba menenangkan. Si gadis terlihat solah-olah ingin pingsan. Di hadapan wartawan televisi beberapa saat kemudian, masih belum kehilangan histerianya, si gadis berkata—lebih tepatnya meraung, “Dia tahu aku ada! Dia tahu aku ada!”

“Apa yang dia katakan?” tanya seorang wartawan.

“Dia minta saya tetap tenang dan berhenti menangis.”

“Lalu?”

“Saya minta dia follow saya di Twitter.”

Tentu ada jutaan contoh lain betapa Ronaldo dielu-elukan. Jika hari ini tiba-tiba ia nongol di Pasar Tanah Abang, bukan tidak mungkin omzet para pedagang di sana akan turun drastis karena para pelanggan lebih memilih mengerubunginya daripada berbelanja—atau para pedagang itu langsung tutup lapak sendiri demi menyalaminya.

Ratusan juta penggemar Ronaldo bahkan rela melakukan apa saja demi sang idola. Mulai dari memakai jerseynya, membela habis-habisan jika sang panutan dicerca, hingga (yang laki-laki) menirukan potongannya—dari gaya rambut sampai bentuk badan. Tapi untuk yang terakhir, karena urusannya tidak sepele, menuntut latihan super keras, banyak orang yang memilih menyerah—tidak perlu punya badan sekekar Cristiano, cukup memakai jersey dan meniru gaya rambutnya saja.

Baca juga:  3 Alasan Mengapa Real Madrid Tidak Membutuhkan Neymar

Ronaldo sepertinya merasakan kegelisahan para fansnya. Sebagai orang yang merasa menjadi pusat semesta, ia tentu bisa merasakan duka-lara penggemarnya. Berbeda dengan Messi yang bolak-balik gagal juara bersama Argentina tapi bersikukuh membintangi iklan salah satu produk sampo yang berjargon “Juaranya Anti-ketombe”, Ronaldo memilih memasarkan produk yang bisa menjawab cita-cita fansnya yang setengah mati ingin punya badan kekar dan perut enam-kotak.

Produk itu bernama sixpad.

Betapa murah hatinya Cristiano, ia menyediakan jalan pintas yang aduhai untuk para pemujanya. Tanpa perlu bersusah-payah sit up atau latihan lain menempa otot abdomen, cukup dengan menempelkan sixpad di perut, bukan sulap bukan sihir, kotak-kotaklah perut Anda.

“Kupikir ini produk revolusioner,” kata Ronaldo. “Ketika kulihat produk ini, aku melihat diriku sendiri. Kalau kau mau punya badan sehat seperti badanku, kupikir ini bisa membantumu.”

Ini kesempatan emas yang tak boleh disia-siakan para pecinta Ronaldo di manapun berada—atau pembenci yang diam-diam iri terhadap otot perutnya. Segeralah mencoba sixpad dan rasakan sendiri keajabainnya.

Tapi jangan berharap lebih. Sixpad hanya memungkinkan Anda punya otot perut dan lengan dan paha seperti Cristiano. Ia tidak menjamin Anda akan dapat pacar baru.

*Artikel ini kali pertama tayang di Tirto.id

Komentar
Add Friend
No more articles