• 281
    Shares

MOJOK.CO Sejarah kata jancuk punya beragam latar belakang, mulai dari bahasa Belanda, bahasa Jepang, hingga bahasa Arab!

“Kalau sudah Cak-nya, maka ndak komplet kalau tidak ada Jancuk-nya. Maka Jokowi adalah Jancuk. Apa itu Jancuk? Jantan, cakap ulet, dan komitmen, Saudara-saudara.”

Kalimat di atas keluar dari mulut pembawa acara dalam sebuah acara kampanye Jokowi di Surabaya. Sontak, teriakan “Jokowi jancuk” langsung menggema di udara, seolah ingin mengamini kata-kata si pembawa acara tadi.

Agak absurd, sih, tapi ya sudah—mau gimana lagi, ya kan?

Penggunaan kata jancuk di daerah Jawa Timur memang ibarat aku dan kamu—selalu bersatu. Meski tergolong kata kasar dan sering dijadikan umpatan, nyatanya kata jancuk juga bisa digunakan untuk menunjukkan kedekatan antara si penutur dengan lawan bicaranya. Bahkan, kata ini bisa memiliki makna yang netral-netral aja seperti ungkapan, “Piye, Cuk, kabarmu?”

Kata ini juga bisa bermakna positif, seperti, “Jancuk, aku enthuk hadiah, cuuk.” Atau bisa dimaknai, “Syukurlah, aku dapat hadiah.”

Maraknya penggunaan kata jancuk ini pun menggelitik beberapa orang kurang kerjaan: sebenarnya, dari mana kata jancuk itu berasal, sih? Kenapa harus jancuk? Apakah karena kalau Jan Ethes itu sudah dipakai sebagai nama cucu Presiden??? Hmmm???

Usut punya usut, sejarah kata jancuk memang telah dicari tahu oleh banyak orang kurang kerjaan sebelum ini.

Pertama-tama, perlu kita ketahui bahwa kata jancuk memiliki persamaannya sendiri, yaitu jancok, diancuk, diancok, cuk, dan cok. Dalam KBBI, kata ini memang tidak ditemukan. Namun, mengacu pada kamus daring Universitas Gadjah Mada, kata ini bermakna sialan, keparat, brengsek, atau—dengan kata lain—merupakan ekspresi kekecewaan, umpatan, dan keheranan.

Baca juga:  Momen-Momen Lucu Saat Debat Capres-Cawapres edisi Pertama

Lantas, dari mana kata jancuk ini berasal? Setidaknya, tercatat ada lima versi sejarah kata jancuk yang beredar di masyarakat.

Pertama, sejarah kata jancuk disebut erat kaitannya dengan nama pelukis Belanda yang—uniknya—tak pernah menginjakkan kaki di Indonesia. Loh, loh, kok bisa???

Pelukis Belanda yang satu ini bernama Jan Cox dan sedang berada di masa-masa ketenarannya. Kala itu, pasukan Belanda di Surabaya datang untuk melucuti tentara Jepang dengan mengendari tank. Salah satu tank yang mereka memiliki bertuliskan “Jan Cox”.

Ya, ya, ya, kebiasaan menuliskan nama seseorang atau sesuatu di badan tank, pesawat, maupun bom, konon sering dilakukan para tentara  semasa Perang Dunia II. Banyak orang memprediksikan bahwa awak operator tank M3 A3 Stuart ini sangat menyukai pelukis Jan Cox, sampai rela mengukir namanya di badan tank tadi.

Yaaaah, mirip-mirip kamu yang dulu pakai nama Facebook “Mrs. Bieber Forever” gitu, laaaah~

Naaah, akibat nama Jan Cox tadi, prajurit Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Surabaya pun mulai mengidentifikasi tank musuh dengan nama Jan Cox itu sendiri. Jadi, setiap kali tank Belanda datang, mereka akan berseru, “Jan Cox! Jan Cox!” sebagai tanda peringatan bahaya.

Namun, kisah lain seputar sejarah kata jancuk di zaman penjajahan Belanda juga muncul. Konon, kata ini berasal dari kata yantye ook dalam bahasa Belanda, yang bermakna kamu juga. Dulu sekali, remaja Surabaya disebut sering mencemooh warga Belanda (savage!!!) dengan istilah di atas, yang dieja hingga berbunyi seperti “yantcook”. Lama-kelamaan, kata ini berubah bunyi menjadi jancok atau dancok.

Kedua, sejarah kata jancuk terilhami dari bahasa Jepang.

Jangan dulu bayangkan anime yang tokohnya berseru imut, “Moe moe kyun!”—kata jancuk ini kabarnya berasal dari kata sudanco yang dulu sering digunakan pada masa penjajahan Jepang. Sering dipakai untuk menegur romusha, kata sudanco ini sendiri bermakna “Ayo, cepat!”, yang kemudian menimbulkan kekesalan para pemuda. Akhirnya, kata bahasa Jepang ini pun bernasib sama seperti kata yantye ook: diplesetkan, hingga berbunyi menjadi dancok.

Ketiga, sejarah kata jancuk sudah dimulai bahkan sejak kedatangan bangsa Arab.

Baca juga:  TKN Jokowi: Baju Putih Itu Suci dan Baik, BKN Prabowo: Baju Putih, Tapi Hati Hitam

Dalam bahasa Arab, kata da’ berarti “meninggalkanlah kamu”, sedangkan assyu’a berarti “kejelekan”. Saat digabung, kedua kata ini membentuk kata da’suk yang berarti “tinggalkanlah keburukan”.

Wah, maknanya bagus sekali—kenapa bisa berubah jadi umpatan jancuk, ya? Entahlah, tapi memang kata da’suk tadi disebut-sebut sebagai awal mula jancok di Surabaya.

Keempat, jancuk berarti umpatan—sebagaimana mestinya.

Di Surabaya, beredar keyakinan bahwa kata jancuk mulanya merupakan akronim dari “Marijan ngencuk” (ngencuk: berhubungan badan). Istilah ngencuk inilah yang kemudian juga digunakan sebagai bentuk umpatan, setelah berubah bentuk menjadi dancuk, jancuk, ataupun jancok.

Kelima, sejarah kata jancuk erat kaitannya dengan istilah bahasa Jawa.

Badan penelitian Jaseters pernah menyebutkan bahwa jancuk adalah gabungan dari kata jan dan cak. Seperti pada nama Jan Ethes, kata jan di sini bermakna sangat, benar-benar. Sementara itu, kata cak dalam bahasa Jawa Timur berarti kakak. Alhasil, gabungan kata jancuk menimbulkan makna “Kakak, kamu sangat kelewatan.”

Dari beragam data sejarah kata jancuk, belum dapat dipastikan mana yang paling akurat. Bisa saja, semuanya benar-benar benar (nah loh, bingung nggak?) dan menjadi cikal bakal terbentuknya kata jancuk yang hakiki.

Yah, yang penting mah sekarang kita bisa pakai kata jancuk dengan sebebas-bebasnya, ya?

  • 281
    Shares


Loading...



No more articles