Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Jokowi Memang Gagal Paham, Marah-Marah Itu Jatahnya Prabowo

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
4 Februari 2019
A A
Jokowi Tai-Chi Master MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Pak Jokowi ini memang gagal paham. Malah pakai marah-marah ketika kampanye. Marah-marah itu sudah jatahnya Pak Prabowo dan pihak oposisi yang manis itu.

Akhir pekan itu harusnya diisi dengan piknik. Ya paling nggak bermalas-malasan di sofa sambil nonton Netflix. Heran, ini Jokowi malah marah-marah. Sampai-sampai, si petahana itu disebut menyerupai oposisi. Detik bahkan bikin tulisan dengan judul “Jokowi Rasa Oposisi”. Ini Kakungnya Jan Ethes apa nggak paham ya? Marah-marah kan jatahnya Prabowo.

Bermain peran di sebuah drama itu kan sudah dibagi-bagi. Siapa yang jadi protagonis, siapa yang jadi antagonis, siapa yang jadi pemain pembantu seperti Fadli Zon dan Hasto Kristianto. Kalau masing-masing pemeran menyerobot peran temannya, gimana jadinya pementasan itu? Rusak. Kacau. Makanya, Pak Jokowi, Anda itu nggak boleh ngambil peran Prabowo.

Ketika berkampanye di Surabaya dan Semarang, pas dapat gelar Presiden Jancuk, ahh maaf, maksud saya Cak Jancuk, Pak Jokowi menyerang kubu Prabowo. Nggak secara langsung, sih. Tapi ya situ semua paham di Pilpres 2019 ini kalau A pasti menyerang B, vice versa, ketika melontarkan kritik, atau dalam kasus ini: marah-marah. Ancene jancoegh tenan!

Lha ini Pak Jokowi sudah gagal paham. Ketika bersilaturahmi dengan Paguyuban Pangusaha Jawa Tengah di MG Setos, Semarang, Jokowi nyindir soal narasi “Indonesia Bubar dan Punah”. Katanya, kalau serem-serem begitu jangan ajak rakyat Indonesia. Tidak berhenti sampai di situ, beliau menyinggung soal selang darah di RSCM yang dipakai 40 kali.

“Jangan ada ngomong lagi nanti selang darah dipakai 40 kali. Jangan sampai ada ngomong lagi tempe setipis ATM,” nyinyir petahana. Pak Jokowi menutup dengan beat Ratna Sarumpaet dan sindiran konsultan asing yang dipakai Prabowo.

“Yang dipakai konsultan asing. Nggak mikir ini memecah belah rakyat atau tidak, nggak mikir mengganggu ketenangan rakyat atau tidak, ini membuat rakyat khawatir atau tidak, membuat rakyat takut, nggak peduli. Konsultannya konsultan asing. Terus yang antek asing siapa?” kata Jokowi di De Tjolomadoe, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Minggu (3/2).

Pada titik tertentu, Pakdhe ini lebih lucu ketimbang Komika yang udah bikin pentas tunggal keliling Indonesia. Pedes lagi marah-marahnya.

Tapi ini Jokowi gagal paham, sih. Sebagai petahana, yang nyalon bersama seorang kiai lagi, seharusnya bersikap santun. Cerita saja soal pencapaian kerja ketika kampanye. Bisa juga cerita program yang akan dilakukan ketika nanti menang Pilpres 2019. Kalau kubu oposisi kan nggak bisa yang begituan, cerita pencapaian. Makanya, produksi marah-marah itu yang dipakai. Masak Pak Jokowi nggak paham, sih?

Gun Gun Heryanto, pakar komunikasi politik berpandangan bahwa perubahan gaya petahana tidak sekadar bentuk kepanikan atau kekhawatiran. Bagi Gun Gun, ini sebuah bentuk rasa percaya diri.

“Saya lihat keduanya ada, kenapa? Pertama sebagai incumbent Jokowi ini punya self-confident, mungkin memiliki kekuatan riil politik, sekarang sebagai incumbent tak salah juga kalau punya kepercayaan diri.”

Kalau bicara ahli beladiri, yang ditunjukkan Jokowi saat ini adalah seperti seseorang yang menguasai Tai-Chi. Kamu ingat film Tai-Chi Master (1993) yang dibintangi Jet Li?

Jet Li digambarkan sebagai biksu yang cabut dari biara. Setelah dihajar habis-habisan oleh kawannya, Jet Li belajar Tai-Chi, sebuah ilmu beladiri yang mementingkan keseimbangan energi chi. Beladiri yang juga dikenal sebagai “pukulan halus” ini terlihat lambat dalam gerakan. Bahkan, ada yang menyebutnya sebagai senam.

Latihan Tai-Chi dikondisikan untuk tenang karena beladiri ini mengalir bersama gerak lawan. Tai-Chi menggunakan kekuatan lawan untuk memukul diri mereka sendiri. Jet Li mempelajari “pukulan halus” untuk mengalahkan kawannya, yang jago ilmu beladiri kasar. Pada akhirnya, memanfaatkan serangan lawan, Jet Li menang. Protagonis biasa begitu. Lakon menang keri.

Nah, yang dilakukan Jokowi itu sebenarnya seperti Tai-Chi Master. Ia memanfaatkan serangan-serangan kasar Prabowo lewat “pukulan halus”. Lha wong hanya mengembalikan serangan-serangan kok. Bukan menyerang secara frontal pakai bahan baru.

Tapi ya memang, konsep wagu seperti sudah kadung disepakati bahwa opisisi selalu oppose atau ‘menentang’ atau ‘melawan’. Sementara itu petahana nggak boleh. Petahana harus halus, apalagi Pak Jokowi orang Solo yang dikenal halus.

Nah, maka dari itu, Pak. Jangan terlalu banyak marah-marah, nanti kesirep sama taktik opsisi. Biarlah kubu Pak Prabowo yang marah-marah. Kalau nggak marah-marah mereka cuma bisa mengartikan tanda-tanda alam. Kasihan, nanti jadi ahli nujum, bukan oposisi di Pilpres 2019.

Terakhir diperbarui pada 4 Februari 2019 oleh

Tags: jokowikonsultan asingPilpres 2019praboworatna sarumpaet
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Disuruh Pindah Negara, Saya Googling Cara Jadi Warga Selandia Baru MOJOK.CO

Disuruh Pindah Negara, Saya Googling Cara Jadi Warga Selandia Baru

29 Juli 2026
Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius Mengenal Perjuangan Rakyat Prancis MOJOK,CO

Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius untuk Mengenal Perlawanan Rakyat Prancis

1 Juni 2026
Museum Ibu Marsinah jangan berhenti sebagai simbol, tapi negara harus serius pikirkan kesejahteraan kaum buruh MOJOK.CO

Museum Ibu Marsinah Jangan Berhenti sebagai Simbol, Tapi Kesejahteraan Buruh Harus Benar-benar Dipikirkan

18 Mei 2026
Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
kapitalisme terpimpin.MOJOK.CO

Bahaya Laten “Kapitalisme Terpimpin” ala Prabowonomics

21 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Lansia menjual aksesori kemerdekaan di Malioboro, Yogyakarta. MOJOK.CO

Kisah Istri Pensiunan BPN Turun ke Jalanan untuk Jual Aksesori Kemerdekaan di Masa Tua demi Hadiahkan Cucu

18 Agustus 2026
Melalui hidangan Buntil Salmon, Sasanti Restaurant menghadirkan telisik gastronomi dan permakultur yang memberi pengalaman mengesankan dalam mengeksplorasi kekayaan kuliner Nusantara. (Nusaplant)

Melalui Buntil Salmon, Sasanti Restaurant Tak Hanya Bicara Rasa tapi Pertemuan Kekayaan Pangan dan Flora Nusantara

21 Agustus 2026

Sarjana BK Kebingungan Tentukan Arah Masa Depan: Tak Otomatis Jadi Guru BK, Jadi Dosen pun Susah

19 Agustus 2026
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X memimpin Upacara Peringatan HUT ke-81 RI di Gedung Agung.(MOJOK.CO)

Pesan Kemerdekaan Sri Sultan: Jogja Dibangun Tanpa Tergesa, tapi Juga Tidak Berhenti Melangkah

17 Agustus 2026
perubahan desil membuat penjual ayam potong menderita

Perubahan Desil Tak Masuk Akal Membuat Penjual Ayam Potong Menderita

21 Agustus 2026
No Na, Klakson Telolet, dan Nasionalisme yang Nggak Harus Serius MOJOK.CO

No Na, Klakson Telolet, dan Nasionalisme yang Nggak Harus Serius

17 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.