Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Alasan Tulisan Dokter Jelek: Bukan Biar Nggak Kebaca Pasien

Ajeng Rizka oleh Ajeng Rizka
4 Januari 2020
A A
tulisan dokter jelek alasannya penjelasan apoteker berobat pasien rumah sakit mojok.co

tulisan dokter jelek alasannya penjelasan apoteker berobat pasien rumah sakit mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Tulisan dokter yang jelek memicu kecurigaan dari pasien yang berlebihan. Ada dugaan tulisan dokter sengaja dijelek-jelekin biar pasien nggak bisa baca resepnya, terus si pasien bakal balik lagi buat dikasih obatnya lagi. Sungguh kecurigaan yang sesat.

Entah di usia berapa saya sadar kalau kebanyakan tulisan dokter memang jelek. Di saat yang bersamaan apoteker dan orang-orang di klinik nggak pernah bermasalah dengan resep yang saya teruskan dari dokter. Ketika itu saya yakin mereka pakai sandi rumput yang berbeda dengan apa yang saya pelajari saat Pramuka. Saya pun berjanji nggak akan pernah peduli dengan secarik kertas yang diberikan dokter, mencoba membacanya bakal membuat saya tambah demam.

Yang lebih fatal adalah ketika tulisan dokternya jelek dan nggak bisa dibaca oleh orang-orang di klinik. Pernah ketika sedang melakukan perawatan saluran akar di klinik gigi, dokter memutuskan saya melakukan untuk foto rontgen sembari jarum-jarumnya masih tertancap di gusi saya sebagai penanda akar. Alhasil saya buru-buru ke ruang radiologi karena mulut saya harus selalu mangap.

Sialnya saya perlu melewati antre dua pasien dulu. Sambil menunggu dipanggil, saya menutup mulut saya dengan tisu tebal dengan perasaan ketar-ketir. Ya takut ngiler lah, malu banget.

“Ageng… Ageng… eh, Ajung!”

Sumpah saya yakin banget mbak-mbak resepsonis ruang radiologi maksudnya memanggil nama saya. Tapi dia bahkan nggak bisa baca tulisan “Ajeng” di secarik kertas yang berisi instruksi dari dokter. Saya langsung angkat tangan, tapi saya cuma bisa bahasa monyet karena nggak bisa ngomong. Sambil masih mangap dan ditutupi tisu, saya nunjuk-nunjuk kertasnya. Di tengah air liur yang makin membuncah akhirnya ibu-ibu radiologi yang budiman menyelamatkan saya.

“Maksudnya Ajeng kali, Mbak!”

Allahuakbar padahal nama saya termasuk pasaran lho, bisa-bisanya salah baca. Seketika saya masuk ruang radiologi dan dapat penanganan.

Untungnya kebanyakan dokter, apoteker, dan orang-orang di bidang kesehatan sudah kompak dan kejadian seperti saya nggak perlu terulang. Mengenai alasan kenapa tulisan dokter jelek sebenarnya nggak mungkin receh. Mana ada dokter sengaja bikin pasiennya nggak bisa baca resep. Kalau tujuannya gitu, dokter dan apoteker tinggal pakai kode-kode warna sekalian huruf-huruf yang ada di tabel periodik, beres.

Sayangnya alasan dokter tulisannya jelek adalah karena mereka terburu-buru. Hal ini diungkapkan salah seorang kawan dokter di Facebook. Banyaknya dokumen tentang pasien yang harus dilengkapi dokter benar-benar menciptakan kebiasaan menulis diseret-seret dan tampak nggak bisa dibaca. Total sembilan dokumen formulir yang seharusnya dilengkapi dokter anestesi demi mengurus satu pasien saja. Bayangkan kalau sehari dokter itu mengurus lebih dari sepuluh pasien, apa nggak keriting jari-jarinya?

Makanya biar cepat selesai, dokter juga harus cepat menulis. Jadilah tulisan yang nggak keruan, bahkan beberapa kata cuma jelas di huruf bagian depan dan belakangnya aja. Terpujilah para dokter yang kelihatan tetap cool padahal kerjaannya banyak dan merepotkan. Saya rasa memang sudah saatnya teknologi menjembatani kerja dokter. Wong kasir-kasir kedai makanan saja sekarang tinggal klik bisa keluar struk belanja kok.

Seharusnya ada aplikasi khusus atau bahkan alat yang mempermudah dokter dalam mengisi dokumen pasien. Kalau perlu tinggal klik, langsung tercetak resep buat diberikan ke apoteker. Yakinlah, nggak akan ada sejarahnya pasen bikin spekulasi aneh-aneh lagi soal tulisan dokter yang jelek. Kasus salah baca tulisan dokter yang saya alami juga semoga nggak kejadian lagi deh.

BACA JUGA Kisah Saat Berjaga di Bangsal Paru atau artikel lainnya di POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 4 Januari 2020 oleh

Tags: apotekerrumah sakittulisan dokter
Ajeng Rizka

Ajeng Rizka

Penulis, penonton, dan buruh media.

Artikel Terkait

perawat.mojok.co
Ragam

Perawat, “Pahlawan Kemanusiaan” yang Tak Dimanusiakan: Beban Kerja Selangit, Gaji Sulit

6 Oktober 2025
Lika-Liku Dunia Apoteker: Sekolahnya Mahal, Gajinya Lumayan, tapi Sering Ketemu Pelanggan yang Ajaib apotek
Liputan

Lika-Liku Dunia Apoteker: Sekolahnya Mahal, Gajinya Lumayan, tapi Sering Ketemu Pelanggan yang Ajaib

9 Mei 2024
Getirnya Gen Z Jogja Jadi OB Rumah Sakit Cuma Digaji Rp800 Ribu: Jangankan Punya Rumah, Buat Ngopi Aja Mikir-Mikir.MOJOK.CO
Ragam

Getirnya Gen Z Jogja Jadi OB Rumah Sakit Cuma Digaji Rp800 Ribu: Jangankan Punya Rumah, Buat Ngopi Aja Mikir-Mikir

7 Mei 2024
takut naik lift.MOJOK.CO
Ragam

Pengalaman Pertama Naik Lift, Orang Desa Panik dan Malu di RS JIH Jogja sampai Buka Google Dulu

16 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

MY Lawson, aplikasi membership yang beri ragam keuntungan ke pengguna MOJOK.CO

Sensasi Pakai MY LAWSON: Aplikasi Membership Lawson yang Beri Ragam Keuntungan Ekslusif buat Pelanggan

10 Januari 2026
Sisi Gelap Bisnis Es Teh Jumbo, Tak Cuan Bisnis Melayang MOJOK.CO

Dua Kisah Bisnis Cuan, Sisi Gelap Bisnis Es Teh Jumbo yang Membuat Penjualnya Menderita dan Tips Memulai Sebuah Bisnis

15 Januari 2026
Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa. MOJOK.CO

Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan Kuliah S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa

12 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO

Nongkrong Sendirian di Kafe Menjadi “Budaya” Baru Anak Muda Jaksel Untuk Menjaga Kewarasan

14 Januari 2026
Ngerinya jalan raya Pantura Rembang di musim hujan MOJOK.CO

Jalan Pantura Rembang di Musim Hujan adalah Petaka bagi Pengendara Motor, Keselamatan Terancam dari Banyak Sisi

12 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.