Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Ketahanan Pangan Kita Sedang dan Akan Selalu Baik-Baik Saja

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
1 Oktober 2018
A A
pangan mojok.co

Ilustrasi sumber makanan (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pilpres semakin dekat, banyak isu yang seharusnya biasa saja kemudian menjadi begitu penting untuk diangkat. Ketahanan pangan, misalnya. Dari mulai tempe setipis ATM, sampai isu beras, bawang, daging dan cabai.

Entah kenapa, setiap kali media banyak mengulas perkara ketahanan pangan, ingatan saya hampir selalu terlempar pada ibu saya. Bagi saya, ibu saya adalah makhluk yang cukup peka dan punya pergulatan batin yang nyata terhadap ketahanan pangan di Indonesia.

Hampir sebagian besar hidup ibu saya dihabiskan dalam keadaan miskin. Dalam kondisi seperti itu, hanya kreativitas maha tinggi yang membuatnya tetap bisa bertahan dan bisa membesarkan anak-anaknya.

Sebagai seorang penjual sarapan, ibu saya tentu saja nglothok dengan dunia sayur mayur yang merupakan salah satu pilar ketahanan pangan bangsa.

Kondisi ketahanan pangan kita sejatinya hampir tak pernah bermasalah. Ia baik-baik saja. Namun entah, selalu ada masa yang membuatnya terasa begitu gawat.

Salah satu bukti bahwa ketahanan pangan kita masih baik-baik saja tentu saja adalah masih beredarnya dengan luas sayur genjer di pasar tradisional. Tanaman sayur yang kalau dimakan bisa bikin orang jadi komunis ini adalah salah satu sayur dengan harga yang paling murah.

Harga satu unting atau satu ikat genjer ini hanya seribu rupiah. Sekali lagi, seribu rupiah. Harga yang bahkan orang termiskin pun tak ragu untuk congkak dan memborongnya.

Sayur genjer ini selalu menguatkan pandangan saya, bahwa ketahanan pangan masyarakat Indonesia memanglah luar biasa.

Betapa genjer yang sebenarnya hanyalah tanaman liar yang tumbuh di antara barisan padi pun bisa diolah menjadi masakan yang lezat dengan harga yang sangat rakyat.

Saya jadi ingat dulu sewaktu nyinyirin mbak Puan karena menyuruh orang miskin diet. Sebuah pernyataan yang bukan saja ngawur, tapi merendahkan kemampuan survival orang Indonesia.

Lha gimana nggak, orang Indonesia itu, ketika pepaya dan cabai busuk dirasa sayang untuk dibuang, mereka dengan segala kreativitasnya membuatnya menjadi saos yang punya citarasa tinggi.

Ketika balungan yang dagingnya cuma sak uplik itu dirasa sayang untuk dibuang, mereka meraciknya menjadi sajian soto dan mie dengan kuah kaldu yang kental dan menggugah selera.

Ketika ampas tahu dirasa sayang untuk dibuang, mereka mengolahnya menjadi tempe gembus yang rasanya tak kalah legit ketimbang tempe kedelai.

Ketika biji nangka dirasa sayang untuk dibuang, mereka merebusnya dan memakannya sebagai kudapan yang luar biasa nikmat lagi bergizi.

Iklan

Ketika nasi basi dirasa sayang untuk dibuang, mereka mengolahnya menjadi karak ataupun kerupuk gendar yang rasanya aduhai gurih menendang lidah.

Dan bahkan ketika beling atau lampu neon dirasa sayang untuk dibuang, mereka dengan serta merta ndadi atau kerasukan agar itu beling masih tetap bisa dimakan.

Kepada para ibu yang dengan segala kreativitas paling hebatnya mampu mengolah aneka makanan dari sumber yang tidak pernah diduga. Kepada para ibu yang bisa membagi satu buah indomie kuah menjadi tiga. Dan kepada para ibu yang bisa mengatur sebuah laku penghematan yang luar biasa. 

Kalian luar biasa.

Dan kepada para orang-orang yang masih saja terus menggoreng isu-isu seputar ketahanan pangan yang sedari jaman Pak Harto sampai jaman Pak Jokowi sebenarnya baik-baik saja, kalian juga luar biasa.

Luar biasa wagunya.

Terakhir diperbarui pada 15 Oktober 2019 oleh

Tags: genjerKetahanan Pangansayur
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

lulusan s2 pilih slow living agar siap hadapi perang dunia 3. MOJOK.CO
Sosok

Lulusan S2 IT, Rela Tinggalkan Gaji 2 Digit demi Jadi Peternak di Desa agar Siap Hadapi Perang Dunia 3

3 Maret 2026
Pangan dari Tanaman Liar: Budhe Somplak dan Upaya Merawat Alam lewat Pertanian Berkelanjutan
Video

Pangan dari Tanaman Liar: Budhe Somplak dan Upaya Merawat Alam lewat Pertanian Berkelanjutan

10 Juli 2025
Ketika Iksan Skuter Rindu Sayur Masakan Ibu. MOJOK.CO
Kilas

Ketika Iksan Skuter Rindu Sayur Bayam Masakan Ibu

24 Juni 2023
Cerita Janu, Alumnus UNY yang Jualan Sayur di Sleman Usai S2 di Inggris. MOJOK.CO
Kilas

Cerita Janu, Alumnus UNY yang Jualan Sayur di Sleman Usai S2 di Inggris

9 April 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Yang paling berat dari mudik lebaran ke kampung halaman bukan pertanyaan kapan nikah atau dibandingkan di momen halal bihalal reuni keluarga, tapi menyadari orang tua makin renta dan apa yang terjadi setelahnya MOJOK.CO

Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Pamitan ke Perantauan

6 Maret 2026
Perjalanan Memaafkan: Dendam ke Orang Tua karena Tak Diizinkan Kuliah di UGM, Jadi Luruh karena Bekal “Ndeso” Bikinan Ibu MOJOK.CO

Perjalanan Memaafkan: Dendam ke Orang Tua karena Tak Diizinkan Kuliah di UGM, Jadi Luruh karena Bekal “Ndeso” Bikinan Ibu

4 Maret 2026
Pemuda Kediri Nekat kerja di luar negeri (Selandia Baru) sebagai Tukang Cukur. MOJOK.CO

Pemuda Kediri Nekat ke Selandia Baru sebagai Tukang Cukur usai Putus Cinta dan Ditolak Ratusan Lamaran Kerja

10 Maret 2026
Menulis tulisan opini bisa mengasah kemampuan berpikir kritis MOJOK.CO

Bagaimana Tulisan Berbasis Opini Membentuk Diskusi Publik

5 Maret 2026
Jogja macet saat mudik Lebaran

Sebagai Warlok, Saya Tidak Sedih karena Tak Bisa Mudik tapi Jengkel Satu Indonesia Pindah ke Jogja

9 Maret 2026
Orang "Gagal" yang Dihina Hidupnya, Buktikan Bisa Lolos CPNS hingga PNS. MOJOK.CO

Dulu Kerap Dihina, Ditolak Kampus Top hingga Nyaris DO dan Beasiswa Dicabut, Kini Buktikan Bisa Lolos Seleksi CPNS

10 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.