Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Di Tangan Didi Kempot, Patah Hati Tak Perlu Ditangisi, Justru Harus Dijogeti

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
18 Juli 2019
A A
didi kempot
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kebesaran nama seorang musisi itu relatif. Ada musisi yang bagi beberapa orang adalah musisi besar, sedangkan bagi sebagian yang lain adalah musisi yang biasa-biasa saja. Namun demikian, ada satu parameter yang sering saya pakai untuk bisa menentukan seorang musisi itu benar-benar besar atau tidak.

Cara yang paling mudah tentu saja adalah dengan melihat dia punya acara radio yang khusus memutar lagu-lagu dia apa tidak. Sesederhana itu.

Rhoma Irama adalah musisi besar, itulah kenapa banyak radio yang punya acara khusus lagu-lagu Rhoma. Di Magelang, nama acaranya adalah Gulama (Lagu-lagu Rhoma Irama). Begitu pula dengan Dewa 19 yang di salah satu radio di Magelang punya Bumidewa, atau ada Koes Plus yang punya Khusyuk (Koes Plus esuk-esuk).

Nah, Didi Kempot adalah satu musisi yang sah untuk saya anggap besar. Di Magelang ada satu acara radio yang khusus memutar lagu-lagu Didi Kempot, namanya Dikempongi, alias Didi Kempot Wayah Wengi. Di Jogja, dia punya dot.id (dibaca dot aidi) yang merupakan singkatan dari Didi Kempot Idolaku. Belakangan saya ketahui, di banyak daerah lain, ada banyak acara radio yang Khusus memutar lagu-lagu Didi Kempot saja.

Karena itulah, tak berlebihan jika kita menyebut Didi adalah musisi besar.

Didi Kempot di mata saya adalah adalah musisi yang menghidupi. Ia musisi yang ketiban rejeki karena bisa nguripi banyak musisi lainnya. Ia benar-benar sosok yang menjadi representasi paling faktual tentang konsep “Urip iki urup”

Lagu-lagu Didi Kempot banyak yang kemudian dikoplokan dan kemudian dimainkan oleh banyak orkes dangdut. Banyak pula lagu-lagunya yang kemudian dicover oleh para musisi Youtube.

Tak terhitung berapa biduan dan penyanyi yang berkibar dan mendapatkan penghidupan gara-gara lagunya Didi Kempot. Dari Nella Kharisma, Ratna Antika, Rena KDI, sampai Abah Lala.

Didi Kempot tak punya banyak fans, setidaknya bila dibandingkan dengan musisi besar lainnya, sebab bagi banyak pendengarnya, lagu-lagu Didi Kempot sudah seperti kawan sendiri, karena saking seringnya didengarkan. Hubungannya bukan lagi antara idola dan penggemar, melainkan hubungan seorang kawan dengan kawan karib.

Kalau di Bikini Bottom, ada prinsip “Hidup Seperti Larry”, yakni hidup dengan menerima tantangan. Saya kira lagu-lagu Didi Kempot mengajari sesuatu yg lebih dari itu, “Hidup Seperti Didi”, yakni hidup dengan menerima kenyataan.

Dalam acara Ngobam, sebuah acara wawancara oleh penyiar Radio Hard Rock Gofar Hilman bersama Didi Kempot beberapa waktu lalu di Solo, saya menyaksikan sendiri betapa Didi Kempot adalah sosok yang memang benar-benar besar.

Kepanjangan Ngobam yang mana adalah “Ngobrol Bareng Musisi” menjadi sangat tidak relevan saat yang diwawancarai adalah seorang Didi Kempot. Kepanjangan yang tepat tentu saja adalah “Ngobrol Bareng Maestro”, sebab memang Didi Kempot bukan sekadar musisi, dia adalah legenda.

Wedangan Gulo Klopo yang menjadi venue wawancara Didi Kempot dengan Gofar Hilman berubah wujud menjadi lautan manusia. Acara yang oleh panitia diperkirakan hanya dihadiri oleh maksimal 300 orang ternyata dipenuhi lebih dari 1500 orang.

didi kempot

Iklan

Saking ramainya, sampai sebagian besar yang hadir tak kebagian jatah kursi dan harus berdiri sepanjang acara demi menyaksikan acara wawancara yang diselingi dengan konser Didi kempot tersebut.

Saya menjadi satu dari ribuan orang yang hadir di sana. Tujuan saya satu, menyaksikan magis seorang Didi Kempot saat menyanyikan lagu-lagu sedihnya.

Saya menyaksikan sendiri betapa ribuan orang yang hadir di Wedangan Gulo Klopo itu berjoget dan menyanyi bersama dalam satu komando lirik.

Hampir semua lagu yang dinyanyikan oleh Didi Kempot malam itu dihafal liriknya oleh seluruh penonton yang hadir.

Malam itu, Didi Kempot kembali membuktikan, bahwa di tangannya, patah hati bisa menjadi hal yang menggembirakan. Menjadi hal yang tak perlu ditangisi, tapi justru harus dijogeti.

Terakhir diperbarui pada 18 Juli 2019 oleh

Tags: Didi Kempot
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Video

Stasiun Balapan, Terminal Tirtonadi, dan Warisan Besar Musik Jawa.

2 Maret 2023
Alasan Google Doodle Tampilkan Didi Kempot 26 Februari MOJOK.CO
Hiburan

Alasan Google Doodle Tampilkan Didi Kempot 26 Februari

26 Februari 2023
Warisan Penting Didi Kempot untuk Musisi Indonesia Zaman Kiwari MOJOK.CO
Esai

Warisan Penting Didi Kempot untuk Musisi Indonesia Zaman Kiwari

26 Februari 2023
Didi Kempot, Agus Mulyadi, dan Asal Mula Julukan The Godfather of Broken Heart
Sosok

Didi Kempot, Agus Mulyadi, dan Asal Mula Julukan ‘The Godfather of Broken Heart’

26 Februari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas, Pemutar Ekonomi Bangsa MOJOK.CO

Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas Abadi yang Menolak Fitur Keselamatan demi Memutar Ekonomi Bangsa

13 Januari 2026
Saya Memutuskan Kuliah di Jogja Bukan Hanya untuk Cari Ilmu, tapi Juga Lari dari Rumah

Saya Memutuskan Kuliah di Jogja Bukan Hanya untuk Cari Ilmu, tapi Juga Lari dari Rumah

12 Januari 2026
Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut MOJOK.CO

Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut

14 Januari 2026
Kos horor di Jogja.MOJOK.CO

5 Tahun Tinggal di Kos-kosan Horor Jogja: Gajiku Lebih “Satanis” dari Tempat Tinggalku

12 Januari 2026
Sewakan kos bebas ke teman sesama mahasiswa Malang yang ingin enak-enak tapi tak punya modal MOJOK.CO

Mahasiswa Malang Sewakan Kos ke Teman buat Mesum Tanpa Modal, Dibayar Sebungkus Rokok dan Jaga Citra Alim

14 Januari 2026
franz kafka, pekerja urban, serangga.MOJOK.CO

Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

15 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.