MOJOK.COPemberian gelar pahlawan tanpa tanda jasa untuk guru menyisakan pertanyaan bagi saya. Apa tolok ukurnya? Karena gaji kami kecil, gitu?

Sejak menjadi guru 16 tahun silam, saya sering bertanya-tanya tentang gelar “pahlawan tanpa tanda jasa” yang kami sandang. Betapa gagahnya julukan itu sehingga kami seolah-olah sejajar dengan Pangeran Diponegoro atau Cut Nyak Dien. Tentunya Cut Nyak Dien asli, bukan yang KW. Bedanya, foto kami tak pernah terpajang di dinding kelas atau mengisi buku sejarah.

Terus apa tolok ukurnya hingga kami dicap sebagai pahlawan? Jika ukurannya mencerdaskan anak bangsa, saya pikir—jika memang ada—jasa kami tak besar-besar amat. Setujukah Anda jika bayi 14 bulan bisa berjalan gara-gara jasa ibu dan bapaknya? Jika setuju, latihlah bayi yang masih 6 bulan untuk berjalan. Berhasilkah?

Artinya, semua ada masanya, juga ada sebab-sebab lainnya. Bob Sadino, Ibu Susi Pujiastuti, maupun Mark Zuckerberg adalah sederet jenius yang tidak banyak membutuhkan campur tangan guru. Guru di sekolah, maksud saya.

Jika kami dianggap pahlawan karena mengemban tugas berat tetapi bergaji kecil, bukankah juga banyak pekerjaan yang lebih berat dengan gaji yang lebih kecil? Manol-manol pasar itu berangkat sebelum Subuh, mengangkat berkuintal-kuintal sayur, beras, dan barang-barang lainnya di pasar tradisional, mengabaikan rasa sakit akibat kejetit, serta berjasa bagi bergulirnya ekonomi bangsa. Coba tanya berapa penghasilannya?

Para petani penggarap sawah, yang kadang di tengah malam melewati pematang, memeriksa saluran air agar bisa mengaliri sawahnya, tak peduli pada ular-ular yang berkeliaran, tak pernah tahu panennya akan berhasil atau gagal, serta tak pernah tahu harganya tinggi atau anjlok; bukankah juga pantas menyandang gelar pahlawan pangan bangsa? Belum lagi para nelayan yang bertarung dengan ombak samudera, sopir mikrolet yang terdesak kehadiran ojek, ojek yang tersaingi ojol, atau ojol sendiri yang (akhirnya) dianggap sepele. Lulus SMA kok jadi ojol? Atau jangan-jangan, lulusan SMA yang jadi ojol itu akibat kesalahan gurunya?

Baiklah, saya nggak mau dicap pengkhianat oleh rekan-rekan seprofesi saya gara-gara tulisan ini. Jadi, saya akan coba sampaikan pendapat yang lazim saja tentang guru, sosok paling berjasa dalam mencerdaskan anak bangsa. Atas jasa besarnya itu, ia rela bergaji kecil. Pendapat ini ada benarnya, kok, paling tidak seperti cerita saya ini:

Setelah 4 tahun menjadi guru, saya berniat menikahi kekasih saya—wanita yang sekarang jadi ibu dari dua anak saya—setelah 6 bulan mengenalnya. Kami menjalin LDR karena ia bekerja di luar kota. Singkat cerita, kami semakin cocok. Kami bicarakan dua hal yang menurut saya sangat prinsip sebelum berumah tangga, yakni tinggal bersama setelah menikah dan gaji.

Sebagai penganut aliran kuno, saya ingin setelah menikah kumpul dengan istri. Artinya, ia harus keluar dari pekerjaan lamanya, tapi tetap bisa bekerja, asal di sini bersama saya. Saya bersyukur karena ia menyetujui permintaan saya.

Baca juga:  Driver Grab dan Gojek Berat Mengaspal, Istri “Dibuat Kerja” Bikin Masker

Masalah gaji ini yang agak berat. Beranikah ia menanggung hidup dengan gaji guru saya? Tapi itu urusan dia. Urusan saya kan mengatakannya dengan sejujur-jujurnya. Diterima syukur, ditolak ajur. Hehe.

Berdasarkan cerita dan foto-foto yang ia kirim—foto asli, bukan yang ada di hape atau medsos seperti saat ini—saya menduga penghasilannya 4 hingga 5 kali lebih besar dibanding gaji saya. Dugaan saya, berdasarkan busana yang ia pakai, tempat-tempat yang ia singgahi, tipe hape yang ia miliki, dan restoran yang berani ia kunjungi, kami berbeda. Ketika pertimbangan makan saya adalah kenyang dan murah, ia sudah berani makan di restoran yang, selain menggunakan sendok dan garpu, juga ada pisau untuk mengiris daging di piringnya.

Pada hari yang saya tentukan, saya sebutlah nominal gaji saya. Tahu apa jawabnya? Diawali dengan tawa kecil, ia bilang, “Halah, masa menghidupi seorang istri saja nggak cukup?” Sebuah jawaban yang bikin saya nyenyak tidur, meski juga mengunci janji bahwa seorang suami harus cukup dengan satu istri.

Setelah resmi kunikahi, sampailah pada hari pertama ia menerima gaji saya. Kuberikan gaji dalam keadaan amplop yang masih tertutup. Kubiarkan ia membukanya, membaca angka pada slip gaji, dan menghitung lembar-lembar isinya. Yang terjadi berikutnya: ia tersenyum memandang saya dengan air mata mengalir di pipinya, tanpa bicara apa-apa. Saya pastikan ini bukan tangis haru, tapi sedih.

Dan benar saja, beberapa saat berikutnya, setelah saya keluar dari kamar, kudengar ia telepon kakaknya, “Gaji suamiku kuweciiiil!” Untung yang kecil gaji saya, bukan lainnya.

Jangan khawatir, saya tidak sedang membuka aib keluarga, kok. Saya menulis ini atas persetujuan istri juga.

Gaji kecil ini serius dan tidak mengada-ngada. Kalau nggak percaya, lihatlah parkiran SMA atau SMK, lalu bandingkan motor-motor yang berjajar di sana. Anda bisa lihat, motor siswa hampir selalu lebih bagus dan baru dibanding gurunya. Kalau ada satu dua guru menunggangi motor baru, pasti saat distarter bunyinya bukan drem drem drem, melainkan dit dit dit. Artinya? Masih kredit.

Alasan yang kedua adalah tentang jasa. Anda pasti ingat sama lagu Oemar Bakri-nya Bang Iwan. Lagu legendaris yang salah satu liriknya berbunyi “Bikin otak orang seperti otak Habibie” ini benar-benar melambungkan derajat guru ke awang-awang.

Alasan ini sebenarnya sah-sah saja, terlebih jika Anda perhatikan guru-guru di tingkat dasar. Guru-guru di SD bukan hanya mengajari murid-muridnya untuk membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga cara memegang pensil yang benar. Belum lagi jika ada murid yang ngompol di kelas—gurulah yang membersihkan.

Baca juga:  Ketiduran di Kuburan karena Ulah Ojol Gaib

Masalah berbeda akan dijumpai pada guru-guru SMP. Mengajari anak di usia menuju remaja ini ampun-ampun beratnya. Anak-anak seusia ini kalau diperlakukan baik-baik, mokong-nya luar biasa. Guru-guru yang lugu atau fresh graduate—yang masih idealis dengan pendidikan harus demokratis—harus siap menjadi bulan-bulanan siswa. Guru juga harus pinter-pinter mengendalikan emosi. Jika kebablasan, siap-siap saja diperkarakan orang tua siswa.

Sebenarnya yang lebih ringan adalah guru tingkat atas; SMA atau SMK. Secara perilaku, anak-anak SMA/SMK mulai matang meski di kelas 10 masih ugal-ugalan—seperti yang terjadi beberapa waktu lalu pada Pak Joko Susilo dari Kendal. Namun bukan berarti tugas guru benar-benar ringan. Selain tugas utama mengajar, guru harus memberi perhatian lebih pada perilaku siswa terhadap lawan jenisnya, apalagi jika sekolahnya luas atau bertingkat. Guru harus terus mengingatkan dan rajin patroli agar sekolah tak dapat malu di kemudian hari.

Wah, sepertinya pembahasan saya melenceng dari keterangan awal. Tadi, kan, saya mempertanyakan gelar pahlawan tanpa tanda jasanya. Kok sekarang jadi menyepakatinya?

Jadi begini, Saudara. Menjadi pahlawan atau tidak itu tergantung diri kita masing-masing. Guru yang berjiwa pahlawan itu banyak. Namun, yang bermental karyawan atau bahkan preman juga tak kalah banyak. Guru yang keberatan dengan gelar pahlawan tanpa tanda jasa itu banyak. Namun yang bangga dan merasa terhormat dengan julukan tersebut jauh lebih banyak.

Ambil contoh begini: ada guru yang mengajarnya asal-asalan, yang penting masuk kelas, memanggil sekretaris kelas untuk memindahkan tulisan dari buku guru ke papan tulis, sementara dirinya sendiri asyik main hape, membagikan video atau gambar atau tautan via WA yang ia dapat dari grup lainnya, hingga jam pelajaran berganti.

Atau, ada guru yang mewajibkan siswa membeli buku paket padanya, meminta siswa membaca halaman sekian, memberinya tugas di halaman sekian, tugasnya wajib dikumpulkan, dan pada pertemuan selanjutnya, tugas itu dikembalikan tanpa koreksi, hanya diberinya paraf atau tanda tangan.

Atau, ada guru yang begitu ketat saat mengawasi ujian. Siswa gerak sedikit langsung dipelototi. Pulpennya jatuh dicurigai. Padahal dia sendiri ketika bikin soal juga copy-paste di sana-sini.

Atau, ada guru yang begitu galak memarahi siswa yang tidak mengerjakan tugas,  yang datang terlambat, yang terlambat mengumpulkan tugas. Sementara, saat dirinya terlambat, ia bisa melenggang masuk kelas tanpa rasa bersalah. Itu pun masih sanggup menghukum siswa lain yang (misalnya) datang satu menit sesudahnya. Kan kampret!

Jadi fair sajalah. Guru nggak perlu membangga-banggakan diri sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Guru juga nggak harus terbebani dengan pujian yang sama. Paling tidak, jika Anda menjadi guru, semuda apa pun umur Anda, orang-orang sudah cukup “menyanjung” Anda dengan panggilan Pak atau Bu.

Begitu ya, Pak, Bu?