Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Gelar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa untuk Guru: Gara-Gara Gaji Kecil?

Muhamad Arif Yusuf oleh Muhamad Arif Yusuf
27 November 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Pemberian gelar pahlawan tanpa tanda jasa untuk guru menyisakan pertanyaan bagi saya. Apa tolok ukurnya? Karena gaji kami kecil, gitu?

Sejak menjadi guru 16 tahun silam, saya sering bertanya-tanya tentang gelar “pahlawan tanpa tanda jasa” yang kami sandang. Betapa gagahnya julukan itu sehingga kami seolah-olah sejajar dengan Pangeran Diponegoro atau Cut Nyak Dien. Tentunya Cut Nyak Dien asli, bukan yang KW. Bedanya, foto kami tak pernah terpajang di dinding kelas atau mengisi buku sejarah.

Terus apa tolok ukurnya hingga kami dicap sebagai pahlawan? Jika ukurannya mencerdaskan anak bangsa, saya pikir—jika memang ada—jasa kami tak besar-besar amat. Setujukah Anda jika bayi 14 bulan bisa berjalan gara-gara jasa ibu dan bapaknya? Jika setuju, latihlah bayi yang masih 6 bulan untuk berjalan. Berhasilkah?

Artinya, semua ada masanya, juga ada sebab-sebab lainnya. Bob Sadino, Ibu Susi Pujiastuti, maupun Mark Zuckerberg adalah sederet jenius yang tidak banyak membutuhkan campur tangan guru. Guru di sekolah, maksud saya.

Jika kami dianggap pahlawan karena mengemban tugas berat tetapi bergaji kecil, bukankah juga banyak pekerjaan yang lebih berat dengan gaji yang lebih kecil? Manol-manol pasar itu berangkat sebelum Subuh, mengangkat berkuintal-kuintal sayur, beras, dan barang-barang lainnya di pasar tradisional, mengabaikan rasa sakit akibat kejetit, serta berjasa bagi bergulirnya ekonomi bangsa. Coba tanya berapa penghasilannya?

Para petani penggarap sawah, yang kadang di tengah malam melewati pematang, memeriksa saluran air agar bisa mengaliri sawahnya, tak peduli pada ular-ular yang berkeliaran, tak pernah tahu panennya akan berhasil atau gagal, serta tak pernah tahu harganya tinggi atau anjlok; bukankah juga pantas menyandang gelar pahlawan pangan bangsa? Belum lagi para nelayan yang bertarung dengan ombak samudera, sopir mikrolet yang terdesak kehadiran ojek, ojek yang tersaingi ojol, atau ojol sendiri yang (akhirnya) dianggap sepele. Lulus SMA kok jadi ojol? Atau jangan-jangan, lulusan SMA yang jadi ojol itu akibat kesalahan gurunya?

Baiklah, saya nggak mau dicap pengkhianat oleh rekan-rekan seprofesi saya gara-gara tulisan ini. Jadi, saya akan coba sampaikan pendapat yang lazim saja tentang guru, sosok paling berjasa dalam mencerdaskan anak bangsa. Atas jasa besarnya itu, ia rela bergaji kecil. Pendapat ini ada benarnya, kok, paling tidak seperti cerita saya ini:

Setelah 4 tahun menjadi guru, saya berniat menikahi kekasih saya—wanita yang sekarang jadi ibu dari dua anak saya—setelah 6 bulan mengenalnya. Kami menjalin LDR karena ia bekerja di luar kota. Singkat cerita, kami semakin cocok. Kami bicarakan dua hal yang menurut saya sangat prinsip sebelum berumah tangga, yakni tinggal bersama setelah menikah dan gaji.

Sebagai penganut aliran kuno, saya ingin setelah menikah kumpul dengan istri. Artinya, ia harus keluar dari pekerjaan lamanya, tapi tetap bisa bekerja, asal di sini bersama saya. Saya bersyukur karena ia menyetujui permintaan saya.

Masalah gaji ini yang agak berat. Beranikah ia menanggung hidup dengan gaji guru saya? Tapi itu urusan dia. Urusan saya kan mengatakannya dengan sejujur-jujurnya. Diterima syukur, ditolak ajur. Hehe.

Berdasarkan cerita dan foto-foto yang ia kirim—foto asli, bukan yang ada di hape atau medsos seperti saat ini—saya menduga penghasilannya 4 hingga 5 kali lebih besar dibanding gaji saya. Dugaan saya, berdasarkan busana yang ia pakai, tempat-tempat yang ia singgahi, tipe hape yang ia miliki, dan restoran yang berani ia kunjungi, kami berbeda. Ketika pertimbangan makan saya adalah kenyang dan murah, ia sudah berani makan di restoran yang, selain menggunakan sendok dan garpu, juga ada pisau untuk mengiris daging di piringnya.

Pada hari yang saya tentukan, saya sebutlah nominal gaji saya. Tahu apa jawabnya? Diawali dengan tawa kecil, ia bilang, “Halah, masa menghidupi seorang istri saja nggak cukup?” Sebuah jawaban yang bikin saya nyenyak tidur, meski juga mengunci janji bahwa seorang suami harus cukup dengan satu istri.

Setelah resmi kunikahi, sampailah pada hari pertama ia menerima gaji saya. Kuberikan gaji dalam keadaan amplop yang masih tertutup. Kubiarkan ia membukanya, membaca angka pada slip gaji, dan menghitung lembar-lembar isinya. Yang terjadi berikutnya: ia tersenyum memandang saya dengan air mata mengalir di pipinya, tanpa bicara apa-apa. Saya pastikan ini bukan tangis haru, tapi sedih.

Dan benar saja, beberapa saat berikutnya, setelah saya keluar dari kamar, kudengar ia telepon kakaknya, “Gaji suamiku kuweciiiil!” Untung yang kecil gaji saya, bukan lainnya.

Jangan khawatir, saya tidak sedang membuka aib keluarga, kok. Saya menulis ini atas persetujuan istri juga.

Gaji kecil ini serius dan tidak mengada-ngada. Kalau nggak percaya, lihatlah parkiran SMA atau SMK, lalu bandingkan motor-motor yang berjajar di sana. Anda bisa lihat, motor siswa hampir selalu lebih bagus dan baru dibanding gurunya. Kalau ada satu dua guru menunggangi motor baru, pasti saat distarter bunyinya bukan drem drem drem, melainkan dit dit dit. Artinya? Masih kredit.

Alasan yang kedua adalah tentang jasa. Anda pasti ingat sama lagu Oemar Bakri-nya Bang Iwan. Lagu legendaris yang salah satu liriknya berbunyi “Bikin otak orang seperti otak Habibie” ini benar-benar melambungkan derajat guru ke awang-awang.

Alasan ini sebenarnya sah-sah saja, terlebih jika Anda perhatikan guru-guru di tingkat dasar. Guru-guru di SD bukan hanya mengajari murid-muridnya untuk membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga cara memegang pensil yang benar. Belum lagi jika ada murid yang ngompol di kelas—gurulah yang membersihkan.

Iklan

Masalah berbeda akan dijumpai pada guru-guru SMP. Mengajari anak di usia menuju remaja ini ampun-ampun beratnya. Anak-anak seusia ini kalau diperlakukan baik-baik, mokong-nya luar biasa. Guru-guru yang lugu atau fresh graduate—yang masih idealis dengan pendidikan harus demokratis—harus siap menjadi bulan-bulanan siswa. Guru juga harus pinter-pinter mengendalikan emosi. Jika kebablasan, siap-siap saja diperkarakan orang tua siswa.

Sebenarnya yang lebih ringan adalah guru tingkat atas; SMA atau SMK. Secara perilaku, anak-anak SMA/SMK mulai matang meski di kelas 10 masih ugal-ugalan—seperti yang terjadi beberapa waktu lalu pada Pak Joko Susilo dari Kendal. Namun bukan berarti tugas guru benar-benar ringan. Selain tugas utama mengajar, guru harus memberi perhatian lebih pada perilaku siswa terhadap lawan jenisnya, apalagi jika sekolahnya luas atau bertingkat. Guru harus terus mengingatkan dan rajin patroli agar sekolah tak dapat malu di kemudian hari.

Wah, sepertinya pembahasan saya melenceng dari keterangan awal. Tadi, kan, saya mempertanyakan gelar pahlawan tanpa tanda jasanya. Kok sekarang jadi menyepakatinya?

Jadi begini, Saudara. Menjadi pahlawan atau tidak itu tergantung diri kita masing-masing. Guru yang berjiwa pahlawan itu banyak. Namun, yang bermental karyawan atau bahkan preman juga tak kalah banyak. Guru yang keberatan dengan gelar pahlawan tanpa tanda jasa itu banyak. Namun yang bangga dan merasa terhormat dengan julukan tersebut jauh lebih banyak.

Ambil contoh begini: ada guru yang mengajarnya asal-asalan, yang penting masuk kelas, memanggil sekretaris kelas untuk memindahkan tulisan dari buku guru ke papan tulis, sementara dirinya sendiri asyik main hape, membagikan video atau gambar atau tautan via WA yang ia dapat dari grup lainnya, hingga jam pelajaran berganti.

Atau, ada guru yang mewajibkan siswa membeli buku paket padanya, meminta siswa membaca halaman sekian, memberinya tugas di halaman sekian, tugasnya wajib dikumpulkan, dan pada pertemuan selanjutnya, tugas itu dikembalikan tanpa koreksi, hanya diberinya paraf atau tanda tangan.

Atau, ada guru yang begitu ketat saat mengawasi ujian. Siswa gerak sedikit langsung dipelototi. Pulpennya jatuh dicurigai. Padahal dia sendiri ketika bikin soal juga copy-paste di sana-sini.

Atau, ada guru yang begitu galak memarahi siswa yang tidak mengerjakan tugas,  yang datang terlambat, yang terlambat mengumpulkan tugas. Sementara, saat dirinya terlambat, ia bisa melenggang masuk kelas tanpa rasa bersalah. Itu pun masih sanggup menghukum siswa lain yang (misalnya) datang satu menit sesudahnya. Kan kampret!

Jadi fair sajalah. Guru nggak perlu membangga-banggakan diri sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Guru juga nggak harus terbebani dengan pujian yang sama. Paling tidak, jika Anda menjadi guru, semuda apa pun umur Anda, orang-orang sudah cukup “menyanjung” Anda dengan panggilan Pak atau Bu.

Begitu ya, Pak, Bu?

Terakhir diperbarui pada 30 November 2020 oleh

Tags: driver ojolgaji kecilHari Guru Nasionalpahlawan tanpa tanda jasaperan guru
Muhamad Arif Yusuf

Muhamad Arif Yusuf

Artikel Terkait

Bisa kuliah di ITB berkat beasiswa ojol. MOJOK.CO

Menangis di Hadapan Bapak yang Sehari-hari Ngojol agar Diizinkan Kuliah di ITB, Gadis Malah Dapat Beasiswa dari Pekerjaan Sang Ayah

24 Juni 2026
Menormalisasi memberi bintang 5 ke driveri ojek online (ojol) meski tidak memuaskan. Bintang 1 bikin rezeki mereka seret MOJOK.CO

Ngasih Bintang 5 ke Driver Ojol meski Tidak Puas Tak Rugi-rugi Amat, Tega Hukum Bintang 1 bikin Sengsara Satu Keluarga

2 Mei 2026
kurir dan driver ShopeeFood. MOJOK.CO

Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka

28 April 2026
Beri tip ke driver ojol. MOJOK.CO

Kasih Tip Rp5 Ribu ke Driver Ojol Tak Bikin Rugi tapi Bikin Hidup Lebih Bermakna di Tengah Situasi Hidup yang Kacau

28 April 2026
Bukan Cuma Gaji Kecil, Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja Juga Mesti Siap dengan Budaya Pekewuh yang Memperlambat Kerjaan Mojok.co

Penyesalan Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja: Selain Gaji Kecil, Budaya Pekewuh Ternyata Memperlambat Kerjaan

22 Maret 2026
Sarjana (lulusan S1) susah cari kerja. Sekali kerja di Sidoarjo dapat gaji kecil bahkan dapat THR cuma Rp50 ribu MOJOK.CO

Ironi Sarjana Kerja 15 Jam Perhari Selama 3 Tahun: Gaji Kerdil dan THR Cuma 50 Ribu, Tak Cukup buat Senangkan Ibu

17 Maret 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026 MOJOK.CO

Memaknai “LAKU” dalam Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026: Sejauh Mana Bermanfaat dalam Ekosistem Sastra

19 Agustus 2026
Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap MOJOK.CO

Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap

21 Agustus 2026
Lulus S3 dan Jadi Peneliti, Hidup Saya Malah Bergantung pada Honor Riset yang Tak Kunjung Cair MOJOK.CO

Lulus S3 dan Jadi Peneliti, Hidup Saya Malah Bergantung pada Honor Riset yang Tak Kunjung Cair

19 Agustus 2026
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X memimpin Upacara Peringatan HUT ke-81 RI di Gedung Agung.(MOJOK.CO)

Pesan Kemerdekaan Sri Sultan: Jogja Dibangun Tanpa Tergesa, tapi Juga Tidak Berhenti Melangkah

17 Agustus 2026
Pesan veteran Indonesia di momen kemerdekaan. MOJOK.CO

Dari Veteran Indonesia ke Generasi Muda yang Pesimis Rayakan Kemerdekaan: Bacalah Buku Sejarah!

19 Agustus 2026
Alma Odai "Cucurella" Diburu Fans, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu MOJOK.CO

Alma Odai “Cucurella” Diburu Fans di Srikandi Merdeka Cup, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu

22 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.