MOJOK.COKenapa, Jokowi dan para pembantunya, tidak mencegah saja ketimbang mengobati? Sekarang datang dengan retorika manis dan diksi yang terpilih. Telat.

Di sebuah rapat terbatas dengan topik penanganan pandemi corona di Jawa Timur, Jokowi memberi peringatan:

“Pertama, saya ingin mengingatkan kepada kita semuanya agar memiliki sebuah perasaan yang sama bahwa kita sedang menghadapi krisis kesehatan dan sekaligus ekonomi. Perasaan harus sama. Jangan sampai ada perasaan kita normal-normal saja. Berbahaya sekali,” kata Jokowi dengan mimik muka begitu serius.

Setelah kalimat berbunga itu, beliau melanjutkan dengan:

“Sekali lagi saya minta kita memiliki perasaan yang sama bahwa kita sekarang pada posisi krisis kesehatan dan ditambah ekonomi. Sehingga kita mengajak masyarakat agar memikiki perasaan yang sama, kita memilik sebuah masalah, yaitu Covid-19.”

Membaca kalimat peringatan dari Bapak Jokowi, Presiden Indonesia, perut saya bergejolak. Apakah Bapak yang Baik ini lupa alasan pandemi corona di Indonesia ini sudah masuk dalam tahap “krisis”. Kita yang masih punya waktu untuk merenung di tengah kecemasan seharusnya tahu kenapa krisis kesehatan dan ekonomi bisa terjadi.

Semuanya berasal dari respons santai pemerintah sendiri. Ketika virus corona belum dinyatakan sebagai pandemi oleh WHO. Ketika virus corona baru merebak di Cina saja. Respons santai dan cenderung meremehkan bergaung keras sekali di media sosial. Kini, Jokowi mengingatkan kita kalau krisis di depan mata.

Please, Pak. Kita sudah tahu. Kita sudah paham. Bapak Jokowi yang tiba-tiba ngomong begitu malah seperti pahlawan kesiangan. Pahlawan yang datang ketika sebuah rumah sudah hampir habis dilalap api. Sebuah sindrom kepahlawanan yang terdengar begitu menyebalkan di tengah situasi seperti ini.

“Awas, di sana ada lubang. Kalau jatuh kamu bisa mati.”

Baca juga:  Elektabilitas Jokowi Naik? Tunggu, Siapa Dulu yang Bikin Surveinya

Telat, orangnya sudah kadung jatuh ke lubang dan sekarat. Telat, kita tahu masalah pandemi corona di Indonesia tidak ada solusinya.

New normal yang dipaksakan pun kita sudah tahu adalah sebuah cara halus dari pemerintah untuk “lanjutkan roda ekonomi”. Ketika curva pandemi corona masih menuju puncak gemilang cahaya, new normal itu terdengar sama seperti kalimat: “Kalau kamu kena lalu mati, ya sudah. Nanti giliran orang lain.”

Kalimat-kalimat sureal Pak Jokowi tersebut sukses mengingatkan kita akan respons meremehkan para pembantunya, para menteri. Jangan-jangan memang, Pak Jokowi dan para pembantunya mengidap sindrom pahlawan atau dikenal juga dengan istilah hero complex. Membiarkan krisis terjadi lalu datang dengan retorika manis.

Kata “complex” merupakan ketidaksadaran yang berkisar pada pola memori, emosi, persepsi, dan keinginan tertentu. Sesuai penjelasan psikoanalis dari Carl Jung, hal ini terbentuk dari pengalaman dan reaksi atas pengalaman individu. Lebih lanjut, complex sangat dipengaruhi ketidaksadaran kolektif yang bisa diteruskan melalui keluarga, peristiwa-peristiwa khusus, atau aneka simbol dalam budaya masyarakat.

Hero complex merupakan kondisi ketika seseorang mencari pengakuan dengan cara beraksi seperti pahlawan. Ia berusaha menciptakan keadaan di mana mereka bisa menjadi juru selamat dan mendapat pujian.

Tidak jarang orang dengan hero complex melakukan hal-hal melanggar hukum demi memenuhi keinginannya. Beberapa pihak dengan profesi terkait keamanan dan nyawa manusia dilaporkan berpotensi mengalami hero complex seperti pemadam kebakaran, perawat, polisi, dan petugas keamanan, dan…politisi.

Nggak cuma Pak Jokowi yang seperti menjelma layaknya Captain Indonesia. Ada Pak Terawan, yang baru turun tangan ketika jumlah kasus pandemi corona di Jawa Timur tembus 10.000. Saling piting antara Tri Risma dan Khofifah sudah terjadi selama beberapa minggu seiring lonjakan kasus corona di Jatim. Ke mana Pak Terawan selama ini?

Baca juga:  PSBB Yes, Karantina Wilayah No: Bagaimana Memahami Cara Berpikir Pemrentah agar Tidak Gila Lebih Cepat

Ketika jumlah kasus sudah sedemikian tinggi, tiba-tiba datang dengan narasi “turun tangan”. Apakah Pak Terawan nggak berani mengingatkan para pemimpin daerah yang malah saling tabrak ketika seharusnya fokus ke kesehatan rakyat? Bukankah lebih cepat diingatkan, langkah penanganan lebih cepat pula diambil?

Jujur saja, saya ketakutan….

Pak Jokowi mengingatkan kita “agar memiliki sebuah perasaan yang sama bahwa kita sedang menghadapi krisis kesehatan dan sekaligus ekonomi”. Bagaimana nanti, ketika new normal jalan secara penuh dan banyak tempat wisata, perkantoran, dan sekolah buka kembali, jumlah kasus corona mengalami klimaks yang tidak terbayangkan?

Di satu sisi, Pak Jokowi mengingatkan, dengan begitu bijak ditambah diksi yang terseleksi, tapi di sisi lain nuansa meremehkan pandemi corona masih terjadi. Jangan sampai, beberapa bulan ke depan, ketika jumlah kasus tidak terlacak dan terkontrol, Bapak akan bilang:

“Kan, sudah saya bilang. Sudah saya ingatkan.”

Padahal, kita tahu, alasan virus corona bisa masuk ke Indonesia karena kebebalan pemerintah. Mereka yang anti-sains, dia yang menyamakan virus dengan jenama sebuah mobil, dia yang sombong karena orang Indonesia suka makan angkringan, dia yang bilang berdoa saja sudah cukup.

Jokowi dan para pembantunya, seakan-akan menjadi sekumpulan pahlawan yang datang ketika rakyat sudah kadung sekarat. Kenapa, para pengidap sindrom pahlawan ini tidak “mencegah” ketimbang “mengobati”? Ketika kita semua tahu kalau “para pahlawan” ini bahkan tidak tahu caranya mengobati “kerusakan” yang sudah terjadi.

BACA JUGA Pukulan Berat Jokowi Ditinggal Dua Menteri Saat Pandemi atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.